ログイン“Kenapa, Ning? Dia seperti itu cuma sama kamu saja, kok…” Bening memukul-mukul dada Banyu pelan, dan Banyu malah tersenyum menggoda. “Jangan banyak gerak…kamu gak takut…?Namun, ucapan Banyu tidak sinkron dengan apa yang dilakukan, ia sama sekali tidak berniat mundur. Ia justru menghentakkan pinggulnya tipis ke atas, sengaja membuat Bening merasakan reaksi alami tubuhnya yang makin tak terkontrol. Desahan rendah lolos dari tenggorokan Banyu tepat di ceruk leher Bening.“Mas Banyu... nakal banget, sih!” bisik Bening tersekat, meremas bahu Banyu saat ciumannya merambat makin berani turun ke area tulang selangkanya yang terbuka.“Nakal sama calon istri sendiri, tidak apa kan, Ning?” balas Banyu serak, suaranya berat penuh gairah.Tangan Banyu yang berada di bawah cardigan Bening bergerak makin berani. Jemari kokohnya merayap naik menelusuri pinggang, meremas lembut kurva pinggul Bening yang terasa begitu kenyal dan pas di genggamannya. Setiap remasan Banyu di area sensitif itu membua
Banyu tak menyahut lagi dengan kata-kata. Sorot matanya melunak, dipenuhi kehangatan yang jujur. Ia mengangkat tangan Bening yang berada di dalam genggamannya, membawa punggung jemari wanita itu ke bibirnya. Kecupan hangat yang bertahan cukup lama di sana membuat Bening terenyak, merasakan desiran halus yang mendadak merambat cepat memenuhi dadanya. Gedung utama kedai kopi itu terletak cukup jauh di belakang mereka. Gazebo kayu yang mereka tempati berdiri terisolasi di antara deretan pohon pinus tinggi, dinaungi atap jerami tebal yang menutupi area duduk dari pandangan luar. Hembusan angin pegunungan yang berhembus pelan membawa hawa dingin yang makin menusuk kulit.Banyu bangkit dari posisi duduknya di seberang meja. Ia berpindah tepat ke samping Bening, mengikis jarak hingga paha mereka bersentuhan rapat tanpa celah. “Dingin, Ning?” tanya Banyu rendah, suaranya berat dan serak menyatu dengan deru angin di sekitar mereka.Bening mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. “Iy
Suara deru mesin mobil yang merapat di pelataran rumah memutus tatapan Bening dari punggung Hanung. Banyu keluar dari balik kemudi, penampilannya masih rapi dengan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga ke siku. Iasempat bertukar sapa singkat dengan Hanung di teras sebelum pandangannya menyapu area taman samping dan mengunci sosok Bening yang berdiri kaku di dekat bangku kayu.Banyu melangkah menghampiri Bening yang masih duduk di bangku taman. Ada kerutan tipis di dahinya yang menunjukkan rasa ingin tahu.“Kamu dari tadi di sini?” tanya Banyu, suaranya rendah dan mengikis keheningan taman.Bening mengulas senyum tipis. “Iya, Mas. Tadi cuma merapikan tanaman Mamanya Mas Banyu sebentar. Banyak daun yang mulai menguning…”Banyu mengamati raut wajah Bening dengan tatapan menyelidik. Ia menangkap ada sedikit gestur canggung yang berusaha disembunyikan wanita itu, terlebih setelah melihat interaksinya dengan Hanung dari kejauhan tadi.“Om Hanung bilang apa saja ke kamu?” selidi
Bening perlahan menurunkan tangannya. Napasnya masih terasa sedikit tertahan saat tatapannya mengunci raut wajah Hanung. Senyum tipis yang terukir di bibir pria di hadapannya memang terasa familier—mirip dengan bayangan pemuda penolong empat belas tahun silam di desa Lurih.Namun, keterkejutan Bening buru-buru menyusut, berganti dengan rasa canggung yang makin tak tertahankan.“Om... Om Hanung serius?” bisik Bening, suaranya terdengar sangsi. “Soal... kejadian empat belas tahun lalu itu?”Hanung menyandarkan punggungnya di sandaran bangku taman, menyilangkan kaki seraya menatap lurus ke arah dedaunan yang berguguran. “Menurutmu aku kelihatan sedang bercanda?”Bening terkekeh kalau ingat dulu, ah…malu sekali kalau diingat. “Aduh,,,saya malu jadinya, ternyata orang itu Om-nya Mas Banyu”“Kok malu? Lucu, lho… ternyata gadis kecil yang manis itu sekarang menjadi calon istri keponakanku. Malah sempat diperebutkan kedua keponakanku lagi!” celotehnya “Kamu tahu tidak, di antara semua anak-an
“Bening... namamu sangat indah. Ingat padaku, tidak?”Suara berat yang mendadak muncul di belakangnya membuat Bening terperanjat kaget. Hanung sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Gunting tanaman di tangan Bening hampir saja terlepas dari genggaman.“Hati-hati, itu bisa membuatmu terluka,” ucap Hanung pelan dengan nada datar. Tangannya hendak mengambil gunting dari tangan Bening tapi Bening tak memberikannya, tindakan reflek karena terkejut.“Ti-tidak perlu. Terima kasih” ucap Bening.Sepulang dari rumah sakit tadi, Banyu mendadak harus bergegas ke kantor kabupaten untuk mengurus berkas administrasi terkait skorsing jabatannya. Hanung memilih pulang lebih dulu menggunakan taksi. Begitu sampai di rumah dan melihat Bening sedang sendirian merapikan tanaman di taman samping, pria itu langsung melangkah menghampirinya.“Om Hanung... mana Mas Banyu?” tanya Bening pelan seraya menetralkan rasa terkejutnya, pandangannya mencari ke segala arah.“Banyu pergi ke kantor kabupaten. Ada uru
“Apa maksud Om dengan ingat siapa dia?” Banyu bertanya tanpa bisa lagi menahan rasa penasarannya. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat saat mobil mulai bergerak membelah jalanan pagi.Namun, Hanung hanya tersenyum tipis. Ia membuang pandangannya keluar jendela, enggan bersuara begitu roda mobil makin jauh meninggalkan pekarangan rumah keluarga Sardjono seolah sengaja meninggalkan teka-teki di benak Banyu.Melihat pamannya memilih bungkam, Banyu menghembuskan napas pendek. Ia memusatkan fokus pada jalanan di depannya sebelum kembali membuka suara.Dia paling tidak suka ketenangannya diusik, ahkan oleh Hanung.“Kalau Om berniat membahas masa lalu ibu Bening dengan Papa... kami semua sudah menyelesaikannya,” ucap Banyu tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun menuntut.“Semua hanya salah paham.”Hanung menyeringai tipis tanpa mengubah posisinya yang menatap ke luar jendela. “Baguslah kalau salah paham itu sudah terselesaikan,” gumamnya pelan. “Kamu tidak perlu repot menjelaskannya
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu







