共有

Chapt. 23

作者: Miss E
last update 公開日: 2026-09-23 23:15:53

Mata Anton yang berkilat gelap mengunci pandangan Maya yang masih terkulai pasrah di atas meja kayu mahoni.

Pria itu menyapu sisa kebasahan di bibirnya, lalu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, tangannya bergerak menurunkan ritsleting celananya.

Suara besi yang ditarik itu bergema dingin di dalam ruang kerja yang terkunci rapat.

"Lihat saya, Maya," perintah Anton dengan suara bariton yang begitu berat dan gersang.

Maya berusaha mengumpulkan kesadarannya yang berserakan. Dengan mata sayu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 23

    Mata Anton yang berkilat gelap mengunci pandangan Maya yang masih terkulai pasrah di atas meja kayu mahoni.Pria itu menyapu sisa kebasahan di bibirnya, lalu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, tangannya bergerak menurunkan ritsleting celananya.Suara besi yang ditarik itu bergema dingin di dalam ruang kerja yang terkunci rapat."Lihat saya, Maya," perintah Anton dengan suara bariton yang begitu berat dan gersang.Maya berusaha mengumpulkan kesadarannya yang berserakan. Dengan mata sayu dan napas yang masih tersengal, ia mendongak.Di hadapannya, milik Anton sudah tegang sempurna, memamerkan ukurannya yang besar dan kekar. Ketakutan dan gairah seketika beradu hebat di dalam dada Maya, membuat jantungnya berdegup gila-gilaan.Tanpa memberikan jeda untuk bernapas, Anton mencengkeram kedua paha mulus Maya, menarik pinggul wanita itu hingga berada tepat di tepi meja.Ia melebarkan kedua paha Maya serong ke samping, memamerkan celah basah yang masih berdenyut-denyut akibat klimaks

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 22

    Napas Maya yang memburu berembus panas di permukaan leher Anton. Ciuman dalam dan mendominasi di atas meja kayu mahoni itu perlahan berubah tempo.Anton tidak lagi memagutnya dengan lembut; pria itu melumat bibir merah Maya dengan tekanan yang menuntut, menyesap lidah manis wanita muda itu begitu dalam hingga suara kecupan basah bergema licin di dalam ruang kerja yang terkunci rapat."O-Om... hnnggh..." Maya melenguh pasrah, jemari lenturnya mencengkeram erat pundak tegap Anton, berusaha mencari pegangan di tengah gelombang gairah yang mendadak menyapu kesadarannya.Anton tidak memberikan ruang untuk bernapas. Senyum puas terukir di sudut bibirnya saat merasakan ketundukan mutlak dari wanita muda di kungkungannya.Tangan tegap Anton merayap turun ke pinggir gaun tidur sutra tipis yang dikenakan Maya. Tanpa terburu-buru, ia menyingkap kain halus itu perlahan, seolah menikmati setiap detik kepanikan dan kepasrahan Maya yang terkumpul menjadi satu.Srrrtt...Kain sutra itu terlepas melew

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 21

    Anton mengunci pintu ruang kerjanya dari dalam, lalu memutar kunci kuningan tersebut dua kali. Suara besi yang saling mengunci itu seolah menjadi batas tegas yang memisahkan Maya dari dunia luar—sekaligus memutus sisa jalan untuk melarikan diri.Maya bergeming di tengah ruangan. Matanya yang sembap bergerak gelisah, memperhatikan interior ruang kerja Anton yang bernuansa gelap dan intimidatif.Rak-rak buku hukum menjulang hingga ke langit-langit, sementara meja kayu mahoni yang amat besar di tengah ruangan dipenuhi oleh tumpukan berkas perkara—termasuk dokumen investigator mengenai kecelakaan murni yang menimpa Riko."Om... kenapa pintunya dikunci?" bisik Maya parau. Suaranya terdengar begitu rapuh, tenggelam di antara ketegangan yang merayap cepat.Anton tak menjawab. Pria tegap itu melangkah mendekatinya dengan irama tenang, persis seperti seekor pemangsa yang menikmati setiap detik kepanikan mangsanya.Langkah kakinya yang mantap di atas karpet tebal membuat dada Maya kempas-kempis

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 20

    "Ma-maafkan aku, Om. Aku--"Ucapan Maya mendadak terhenti di tenggorokan begitu Anton terus melangkah maju mendekatinya.Pria tegap itu berjalan dengan gerakan lambat namun pasti, memancarkan aura intimidasi yang membuat Maya refleks mundur beberapa tapak hingga punggung mulusnya membentur dinding koridor yang dingin.Anton berhenti tepat di hadapannya, menjulang begitu tinggi hingga bayangannya sepenuhnya mengurung tubuh kecil Maya.Sorot mata kelamnya menatap lurus ke dalam manik mata Maya yang berair dan bergetar hebat oleh rasa panik."Sejak kapan kamu belajar mencuri dengar di depan pintu ruang kerja saya, Maya?" bisik Anton dengan suara baritonnya yang amat rendah dan berbahaya.Maya menelan ludah dengan susah payah.Menyadari bahwa berbohong di hadapan pria secerdas Anton adalah hal yang sia-sia, Maya akhirnya menghembuskan napas patah-patah dan menjawab dengan jujur."A-aku nggak sengaja, Om, aku cuma mau lewat tapi..." Maya menunduk sejenak, membiarkan setitik air mata melunc

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 19

    "Bicara, Teddy," ucap Anton langsung tanpa basa-basi, begitu tiba di ruang kerjanya.Di seberang telepon, terdengar hembusan napas berat dari Teddy, rekan kerja tepercayanya sekaligus mitra senior di firma hukum milik Anton."Ton, saya baru saja mendapatkan laporan perkembangan terbaru dari tim investigator independen yang kita utus ke lokasi kejadian kecelakaan Riko," tutur Teddy dengan nada bicara yang amat serius.Anton merogoh meja kerjanya, mengambil sebuah pulpen mahal berlapis emas, lalu memutar-mutarnya di antara jemarinya yang tegap dengan gerakan teratur."Apa temuan mereka?""Dugaan awal polisi yang menyebut ini kecelakaan murni akibat rem blong biasa sepenuhnya salah," jawab Teddy menekan setiap kata."Tim kita menemukan adanya bekas irisan halus yang disengaja pada selang minyak rem mobil Riko. Ini bukan sekadar aus atau kerusakan teknis biasa, Ton. Ada dugaan kuat tindakan sabotase."Gerakan jemari Anton yang memutar pulpen seketika terhenti. Rahang tegas sang pengacara

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 18

    Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca dapur kediaman Anton yang megah, membiaskan cahaya di atas permukaan meja granit dan deretan piring keramik yang sedang dibersihkan oleh Maya.Gemercik air yang mengalir teratur dari keran menjadi satu-satunya suara yang menemani lamunannya.Tubuh Maya masih terasa agak pegal.Jejak kelelahan dan rasa panas dari puncaknya keintiman brutal semalam masih membayang jelas di ingatannya, membuat rona merah seketika menyapu pipinya setiap kali ia teringat bagaimana Anton memperlakukannya tanpa ampun di atas seprai hitam itu.Tiba-tiba, sepasang lengan kekar dan hangat melingkar erat di pinggang mungilnya dari belakang.Punggung Maya seketika menegang saat dada tegap Anton menempel rapat pada tubuh belakangnya.Sebuah ciuman bernada posesif mendarat basah di leher jenjangnya, membuat Maya tersentak kaget hingga piring basah di tangannya hampir saja tergelincir jatuh ke dalam bak cuci.Maya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status