Chapter: Chapt. 8Maya menelan ludah, sementara tubuhnya masih gemetar di pelukan Anton.Napas pria itu hangat dan berat di ceruk lehernya, sementara bibir kasarnya terus menyesap kulit mulus yang berdenyut di bawahnya.Anton tampak tidak buru-buru.Ia justru menikmati setiap reaksi kecil yang lolos dari tubuh Maya, desahan tertahan, getaran di paha, dan cara jari-jari mungil itu mencengkeram kemeja putihnya seolah mencari pegangan.“Om… ah…”Anton mengangkat wajahnya sebentar.Matanya menggelap, penuh rasa lapar, tapi penuh kendali.Ia menunduk lagi dan merebut bibir Maya dalam ciuman yang dalam dan dominan.Lidahnya mendorong masuk tanpa meminta izin, mengeksplorasi, menghisap, dan menggigit pelan bibir bawah Maya sampai wanita itu tersengal.Ciuman itu bukan lembut. Ia menuntut.Anton menekan tubuh Maya ke dinding kamar, satu lututnya menyisip di antara paha Maya, memaksa gaun sutra merah itu tersingkap sedikit lebih tinggi.Tangan kekarnya turun ke punggung Maya, mencari ritsleting gaun. Dengan sat
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: Chapt. 7"Ta-tapi, Om. Aku... aku belum siap kalau sekarang. Pesta... pesta bukannya udah mau mulai?" tanya Maya dengan gagap.Anton tak langsung menjawab. Jemari tangannya yang kokoh terangkat, menyapu helai rambut basah Maya yang menempel di leher jenjangnya.Sentuhan kasar namun perlahan itu mengirimkan gelombang sengatan dingin yang menjalar lurus ke tulang belakang Maya."Saya tahu kapan harus menagih hak saya, Maya," bisik Anton serak, hingga hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Maya yang membara."Ganti pakaian kamu. Saya tunggu di bawah dalam waktu lima belas menit. Jangan membuat saya menunggu."Tanpa menunggu balasan, Anton berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.Maya merosot pelan di tepi ranjang, lalu meremas kain sutra di pangkuannya sambil berusaha menata detak jantungnya yang bergemuruh liar.Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah jalanan kota yang masih dibasahi sisa ai
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: Chapt. 6Jam menunjukkan angka tujuh malam.Maya berdiri di tengah kamar tamunya yang luas, baru saja menyela sisa-sisa tetesan air di tubuhnya usai mandi malam.Rambut panjangnya yang masih setengah basah terurai berantakan di atas bahunya yang polos dan terbuka.Hanya selembar handuk putih tebal yang membebat ketat dada hingga sebatas paha mulusnya, memperlihatkan lekuk tubuh rapuhnya yang begitu terbuka.Klik.Suara engsel pintu yang terdorong tanpa ketukan terdengar memecah sunyinya ruangan."Aaa!" jerit Maya spontan seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan, refleks berbalik membelakangi pintu.Namun, di detik berikutnya, ingatan tentang perjanjian terlarang di ruang kerja Anton tadi siang langsung menghantam kesadarannya.Darah di tubuhnya serasa berdesir dingin, mengingatkannya bahwa kepemilikan atas raga ini bukan lagi mutlak miliknya.Maya menelan ludah dengan susah payah, berbalik pelan seraya menundukkan wajahnya yang terasa membakar."Ada... ada apa, Om?" bisik Maya dengan suara
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Chapt. 5Keheningan pekat seketika membungkus ruang kerja serba kayu jati itu.Maya masih berlutut di lantai dingin, menengadahkan wajahnya yang sembap dengan sepasang mata membiru menatap pria tegap di hadapannya.Anton tak segera menjawab penawaran pasrah itu.Ia perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya, melangkah memutari meja hingga kini berdiri tepat menjulang di depan tubuh mungil Maya.Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap keponakan menantunya yang seperti domba pasrah di ujung tanduk."Kamu bilang bersedia kerjakan apa aja asalkan saya mau berdiri di pihak kamu, kan?"Suara bariton Anton mengalun begitu rendah, sarat akan tekanan intim yang membuat bulu kuduk Maya seketika meremang.Pria dewasa itu membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga aroma parfum maskulin berselimut kayu cendana menusuk tajam ke indra penciuman Maya."Penjara itu dingin, Maya. Dan di mata hukum, kamu sama sekali nggak punya posisi tawar buat membela diri," bisik
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Chapt. 4"Tutup pintunya, Maya. Duduk di depan saya," perintah Anton saat tiba di dalam ruang kerjanya.Maya memutar badannya perlahan, mendorong pintu jati itu hingga terkunci rapat dengan bunyi klik pelan yang memicu kembali debar di dadanya.Dengan tungkai yang masih terasa lemas, ia melangkah mendekati meja kerja Anton lalu menduduki salah satu kursi kulit di hadapan pria tersebut."Om, tolong aku, Om. Aku beneran takut dipenjara," bisik Maya dengan suara parau yang amat rapuh.Namun, Anton tak langsung menjawab, melainkan menyilangkan jemari tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sembap.Sorot mata kelam sang pengacara kondang itu terasa begitu pekat dan peka, menelusuri raut wajah pucat Maya tanpa menyisakan celah."Sebelum saya bicara soal bantuan, saya mau tahu cerita yang sebenarnya dulu," tutur Anton datar namun sarat akan penekanan."Ceritakan ke saya gimana kronologi kecelakaan malam itu, Maya. Jangan ada satu pun detail yang kamu tutupi dari s
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Chapt. 3Maya melepaskan pegangan tangannya pada pakaian ganti itu dengan tergesa-gesa, melangkah mundur satu tapak untuk menjauhkan diri dari Anton."Ma-maaf, Om... aku ganti baju dulu di dalam," bisik Maya pelan seraya menundukkan wajahnya dalam-dalam.Anton mengamati raut wajah Maya yang memerah pasrah, lalu menarik kembali tangannya dengan gerakan yang teratur dan tenang."Kamar mandi ada di sebelah kanan. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam," balas Anton datar seraya berbalik melangkah keluar kamar.Pria itu sempat menghentikan langkahnya sebentar di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa menatap mata Maya."Setelah ini langsung tidur. Besok pagi tugas kamu sudah menunggu di bawah," sambungnya tegas sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu rapat-rapat.Dua hari berlalu dengan amat cepat di bawah atap megah milik Anton yang sunyi.Maya mulai terbiasa dengan rutinitas barunya sebagai seorang pelayan, menyapu lantai marmer hingga mengelap perabotan mahal milik Anton.Selama empat puluh delapa
Last Updated: 2026-08-31