Masuk
"Kamu itu bukan siapa-siapa! Kamu cuma gadis miskin yang beruntung dipilih kakek jadi istriku. Kalau perutmu sakit, ya urus sendiri. Siapa suruh kamu hamil! Aku sudah berkali-kali bilang kalau aku belum siap jadi ayah, aku masih mau seneng-seneng!" bentaknya dengan telunjuk yang berkali-kali mendorong kepalaku.
Rasanya sakit sekali mendengar ucapannya. Haruskah aku balas kalau memang dia tidak sanggup jadi ayah, kenapa harus membuang benihnya di dalam rahimku? Ingin sekali aku berteriak jika rasa pil kontrasepsi yang dibelikannya itu sangat pahit. Sepahit kata yang meluncur dari lidahnya.
"Kenapa diam? Tumben?!" bentaknya lagi.
Belakangan ini kami memang kerap kali adu mulut. Selain perangainya yang berubah kasar, suamiku juga kadang semaunya. Sementara aku sendiri kadang merasa jika kehamilanku ini membawa perubahan besar dalam kondisi tubuh dan mentalku.
Aku mendongak membalas tatapannya. Sekuat tenaga kutahan agar genangan di pelupuk mata tidak jatuh dan malah menunjukkan kelemahanku di hadapannya. Nyaris kebal telingaku mendengar kata-kata hinaan darinya.
Kadang aku berpikir apa yang membuat pria 23 tahun ini berubah? Ke mana perginya cinta kasih yang dulu ia beri? Jika saja tidak demam dan pusing seperti saat ini, mungkin aku memilih pergi ke rumah teman atau tetanggaku. Setidaknya di sana mereka akan membiarkanku berbaring sejenak dengan tenang.
"Mas, lebih baik setelah aku melahirkan, kamu ceraikan saja aku. Kamu nikah dengan kekasihmu yang selama setahun ini kamu sembunyikan. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu selingkuh?" tanyaku ingin tahu seperti apa reaksinya.
Wajahnya pias dengan mata membelalak. Kaki kanannya mundur selangkah dan tangan kirinya mencoba menggapai tembok. Jelas ia terkejut karena aku tahu. Mungkin ia akan lebih terkejut lagi jika kukatakan padanya bahwa selingkuhannya sendiri yang datang ke hadapanku siang tadi.
Wanita dengan pakaian yang menonjolkan semua lekuk tubuhnya itu mengaku sedang hamil anak suamiku. Kulitnya yang seputih susu selalu ia pamerkan. Kemudian tanpa malu ia minta izin untuk jadi madu.
Belum lagi kesombongan wanita selingkuhannya itu melangit. Tatapan sengit wanita itu memindai diriku dan membandingkan dengan dirinya. Wanita rumahan yang seringkali mengenakan daster batik selutut dengan wanita yang mengenakan dress mahal, ketat dan cukup memajang aset tubuhnya. Begitu juga kedudukan orang tuanya yang diabanggakan disaat diriku hanya seorang yatim piatu.
"Kamu…."
"Iya aku tahu. Dia sendiri yang datang ke sini, Mas. Dia bilang sama aku kalau kalian menjalin hubungan. Dia bilang betapa hebatnya kamu di ranjang. Dia bilang sensasi-sensasi yang kalian lalui setiap kalian bercinta. Dia bilang kalian saling memberi kepuasan dengan banyak gaya sampai rasanya melayang ke nirwana," ungkapku dengan tatapan yang seakan ingin menusuknya.
Mas Adi tidak tahu saja jika siang tadi aku seperti ditusuk berkali-kali. Belum lagi semalam dia pulang larut dalam keadaan mabuk dan membuatku letih mengurusnya. Sekarang dia pulang dengan tangan kosong dan amarah yang dilampiaskan padaku. Harusnya di sini aku yang marah, bukan dia.
"Tanpa malu ia bilang kalau kalian suka bermain di mobilmu. Adrenalinnya terpacu, selain posisinya, ada sensasi mendebarkan takut ketahuan pengguna jalan. Dia juga bilang, kalau aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya, karena kamu selalu memujinya seperti itu. Tapi dari semua penuturannya itu, satu hal yang paling menyakitiku. Kamu bilang sama selingkuhanmu itu kalau anak yang aku kandung ini … bukan anakmu. Benar begitukah, Mas? Jawab!" sentakku.
Mas Adi limbung. Tubuh kekar itu mulai bergerak tak menentu. Tubuhnya yang gelagapan adalah bukti nyata.
Jari-jarinya mengusap dahi, pipi, mulut dan dagunya hingga beralih ke tengkuk. Jakunnya naik turun, sepertinya susah payah ia menelan saliva. Matanya tadi yang sudah setajam elang kini bersembunyi karena ia mulai menunduk menatap ujung kaki kami berdua.
"Tega sekali kamu, Mas…. Apa masih kurang kesabaranku selama ini menerima siksa lahir dan batin darimu? Lidahmu yang tajam, tanganmu yang kejam, lalu begitu tega kau fitnah aku dengan tuduhan seperti itu. Di mana letak nuranimu?" tanyaku nyaris berbisik. Selama ini kututupi semua tingkah kurang ajarnya.
Mas Adi menoleh menatapku. Dia bungkam. Ingin rasanya kucakar wajah yang tak tahu malu itu.
Aku maju selangkah dan berujar, "Kalau tubuhku divisum sejak enam bulan lalu, kamu pasti sudah tinggal di balik jeruji. Kalau hatiku ini bisa menjerit dan seisi desa ini tahu sakit yang aku rasa, kamu pasti dikutuk setiap kali mereka melewatimu. Kapan kamu mau sadar, Mas? Apa setelah kamu nikah sama selingkuhanmu itu, kamu juga akan memperlakukan dia sama seperti kamu memperlakukanku?"
"Diam kamu!!" bentak Mas Adi.
Kebengisan yang terlukis di wajahnya yang kata orang sedesa ini wajah paling rupawan. Jika saja ada sedikit keberanian, ingin sekali kukatakan pada mereka jika pria paling tampan di desa ini adalah kuli rumputnya kakek. Bukan cucu kesayangan Juragan Santoso.
Suamiku ini dikatakan rupawan hanya karena didukung penampilan dan isi dompetnya. Sebagai cucu kesayangan Tuan Santoso, dia punya fasilitas yang membuat iri banyak orang, termasuk para sepupunya yang lain. Mungkin karena hanya dia cucu laki-laki kakek.
"Kamu sudah berani ya bicara kurang ajar sama suami? Aku ini suami kamu, harusnya kamu tunduk dan tidak membatah ucapanku!" katanya lagi seakan kembali menunjukkan arogansinya.
"Kalau begitu, jawab aku, Mas. Apa kurangku selama ini? Kamu melarangku ini dan itu … aku patuh. Aku tidak keluar rumah selain sama kamu atau ibu. Kalaupun dengan orang lain, pasti dengan anggota keluarga kamu yang lain dan tidak pernah berduaan. Belanja saja kamu suruh pembantu kakek yang ke pasar dan bawa belanjaan kebutuhan kita ke rumah ini. Dia bahkan kamu minta membersihkan rumah ini padahal itu bukan pekerjaannya," jelasku mendesis.
"Karena aku ingin memperlakukan kamu seperti ratu yang tidak perlu susah kerja dan repot melakukan pekerjaan rumah!" balasnya dengan mengangkat dagu.
"Ratu? Aku ingin sekali menertawakan pikiran bodohmu, Mas. Ratu seperti apa yang kamu maksud? Ratu yang kamu kurung dan kamu kekang? Kamu pikir perhiasan dan pakaian bagus bisa membuat seseorang sepertiku bisa bahagia? Kamu salah besar, Mas," ujarku dan kali ini tidak bisa kubendung tangisan.
Runtuh sudah pertahananku untuk tegar, kesabaranku terkikis. Sebenarnya bagaimana kerja otak yang bergelar suami ini? Kupikir dia seorang sarjana, maka pikirannya akan jauh lebih baik dan bijak. Nyatanya?
"Harusnya kamu bersyukur, semua orang di sini iri ingin berada di posisi kamu. Cucu menantu juragan sapi yang membuat gadis-gadis dan wanita-wanita yang bahkan sudah menikah ingin jadi madumu. Lihat, saat kamu menghadiri hajatan, mereka pasti bersikap manis denganmu, bukan? Bahkan yang aku dengar, banyak ibu-ibu yang memperlakukan kamu seperti istri pejabat," tuturnya berbangga diri.
"Tanpa tahu kalau aku menikahi pria jahat," gumamku yang membuatnya melotot. Mungkin tidak terima dengan gelar baru yang kuberikan.
Selepas ucapanku, hanya terdengar suara keras dari telapak tangan suamiku yang mendarat di pipi kiri ini. Perih menjalar dan masih membuat telingaku mendengung. Tega sekali dia memukulku saat aku mengandung anaknya.
"Apa kamu bilang?!" Suaranya menggelegar bagai gemuruh petir di atas sana.
"Kamu sudah dengar tadi Mas … yang aku katakan, PRIA JAHAT!" timpalku mendesis. Kuharap ia sedikit menyadari apa yang telah ia perbuat.
Sekilas kilat menyambar dan aku terkejut. Disaat yang sama telingaku mendengung untuk kedua kalinya. Sudut bibirku berdenyut perih dan aku gemetaran merasakan tamparannya.
"Tahu diri jadi istri, apalagi kamu cuma gadis desa yang terpaksa saya nikahi," bisiknya yang membuat dadaku ikut berdenyut pedih.
***
Assalamualaikum Pembaca Setia Goodnovel. Terima kasih sudah klik dan menambahkan ke pustaka ... novel ketigaku di platform ini. Novel ini berpartisipasi dalam Kontes 'Perempuan Indonesia Masa Kini' dan aku juga berharap dukungan dari teman-teman pembaca dengan turut memberikan ulasan dan vote bintang lima. Terimakasih....🙏
Tak pernah kusangka akan kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Bandara Internasional Juanda punya makna khusus dalam hidupku. Di tempat ini, aku bertemu pria yang kini menjadi suamiku.Riswan benar-benar memberiku kejutan. Baru saja mendarat, aku dan Agam disambut oleh petugas bandara yang dulu membantu kami saat aku kehilangan dompet. Aku sampai terheran-heran melihat Agam menyapanya lebih dulu. Ternyata Agam mengingatnya dengan baik.“Kita mau ke mana, Mas?”Aku penasaran saat kendaraan roda empat yang kemudikannya berbelok ke kiri. Arah itu bukan menuju ke tempat tinggal Mas Dadang dan Mbak Hera. “Bengkel.”“Bengkel?” Aku mengernyit. Apa mobil ini mau diperbaiki dulu? “Apa mobinya rusak, Mas?”“Bukan, Ibu. Kita mau ketemu Kakek yang punya bengkel tempat dulu Agam sama ayah peltama kali ketemu. Agam mau bilang, kalau Agam sekarang, sudah punya mobil seperti mobilnya ayah dulu,” ujar A
“Ayah sama ibu, bulan madunya lama nggak?” tanya Agam.“Tidak, kok, Nak. Nanti, kalau Agam sudah puas liburan sama Kakek Hendrawan, Agam liburan sama ayah dan ibu juga,” ujar Riswan yang duduk memangku Agam.“Libulan ke mana, Ayah?”“Ayah mau ajak Agam ke Surabaya. Kita ziarah kubur eyang di sana. Kita ke tempatnya Papa Aditya sama Mama Devi, sama ke rumahnya Paman Dadang,” jelasnya menanggapi sederet celotehan Agam.Aku tersenyum mendengar ajakan suamiku. Sebelum kami menikah, Riswan memang sudah mengutarakan hal itu. Ia bahkan ingin mengajakku dan Agam bernostalgia ke kontrakan tempat kami tinggal dulu. Termasuk beberapa tempat di mana dulu Agam dan Riswan pernah bertemu.“Ayah, kalau nanti Agam sudah besal, Agam mau jadi polisi kayak Om Lian,” ungkapnya antusias.“Agam harus rajin belajar, makan yang sehat sama rajin olehraga. Kalau badannya Agam pendek terus tidak sehat, t
Belum apa-apa, tubuhku rasanya sudah remuk. Aku tahu kalau keluarga Riswan itu terpandang di kota ini. Namun, tetap saja aku tidak menyangka jika acara resepsi kami dihadiri sekitar 2000 undangan.Hal itu aku sadari setelah mengingat paman dari Riswan yang tidak lain ayah dari Akham, adalah walikota. Pantas saja tamu acara mencapai ribuan.“Terima kasih sudah mau jadi istriku. Belum pernah mama sama papa senyum selebar itu,” bisik Riswan.Aku menoleh dan kulihat senyum kedua mertuaku. Keduanya tampak begitu bahagia menyambut tamu yang naik ke pelaminan. Pandanganku beralih pada Bu Uma dan Tuan Hendrawan yang menjadi pendamping dari pihak keluargaku.Aku turut berdoa agar Bu Uma mau luluh dengan lamaran pria itu. Baik Aditya maupun Kemal sama-sama tidak keberatan. Keduanya bahkan setuju jika keduanya menikah dan membentuk keluarga yang utuh.Di sudut lain, kulihat keluarga Riswan berbaur dengan Aditya dan Devi. Keduanya menjadi saksi bah
Aku mendengar suara pintu terbuka. Penasaran, aku akhirnya menguntai langkah. Mengapa tak ada sapaan salam dari orang itu?Kernyitan dahiku makin dalam. Ada dua bayangan orang di jendela yang saling berhadapan. Tapi siapa mereka? Mengapa tidak langsung masuk saja?Aku menghampiri pintu dan menggapai gagangnya. Akan tetapi, runguku menangkap obrolan lamat-lamat dari teras. Menahan gerak dan mengurung niatku menarik daun pintu yang tidak tertutup rapat.Mengintip dari celah pintu, mataku mencoba fokus. Menyusuri sepatu dan seragam yang sudah tak asing lagi, aku menghela lega. Ternyata Rian dan Gaby. Wajar jika mereka di sini, bukankah pasangan itu juga sahabat Riswan?"Sayang, aku kangen," ungkap pria berseragam itu.Wanitanya terkikik geli mengalungkan tangan di pundak suaminya. Tatapan penuh cinta tergambar jelas di mata dokter tomboi itu. "Kangen banyak atau sedikit?" tanyanya dengan bibir yang mengerucut."Aku tidak tahu, tidak pernah kuhi
“Carissa!” Aku menelan saliva karena sulit menjelaskannya. Aku tidak ingin meraup simpati atau belas kasihan darinya.Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memotretnya. Sepertinya ia kirimkan pada sekretarisnya. Namun, tatapannya tak pernah lepas padaku.Aku pun menyadari jika ia membutuhkan jawabanku. Bukan sekedar basa-basi. Lebih tepatnya, ingin tahu pasti.“Aku nggak jadi pesan yang tadi, Yang. Tiba-tiba aku kepengen martabak yang ada di kompleknya bunda,” celutuk wanita hamil di meja samping.“Tadi kan kamu bilang kepengen banget, Yang,” balas suaminya garuk-garuk kepala heran.“Iya, tapi tadi. Sekarang udah nggak. Aku malah pusing cium aroma mie goreng yang di sana,” jelas wanita itu dengan wajah kusutnya. Suaminya menghela napas panjang sembari memijat kepalanya.“Semoga kelak aku lebih sabar dari pria itu,” gumam Riswan.Pasangan itu beranjak dan Riswan kembali bertanya, “Apa semua wanita hamil sesensitif itu?”“Kadang kala, Mas,” sahutku apa adanya.Belum sempat aku menjelaska
“Aku senang karena kita tidak harus pingitan.”Ungkapannya itu membuat langkahku terhenti. Pernikahan kami memang akan dilangsungkan lima hari lagi. Namun, pria yang satu ini sepertinya belum sadar sama sekali dengan misi rahasia yang diberikan para orang tua padaku.“Kenapa?” tanyanya sembari menoleh.“Kenapa Kak Riswan senang?”“Ketemu kamu saja rasanya masih kangen karena belum bebas mau peluk. Kalau tidak ketemu kamu seharian, aku galau,” akunya gamblang.Tak ayal, pipiku pasti sudah memerah. Pria yang satu ini ternyata pandai menggombal juga. Tidak kalem sama sekali seperti penilaian para abg yang menjadi penyerbu Toko Tita’s Outfit.“Kak Riswan kalau masih ada keraguan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku tidak masalah. Tapi tolong jangan sakiti Agam.” Kali ini, langkahnya yang terhenti.“Apa maksud kamu? Kamu pikir, setelah berada ditahap ini, aku bakalan ragu? Terus mundur ninggalin kamu sama Agam?” tanyanya lalu menggeleng.Kedua tangannya memegang bahuku. Tidak kuat, t







