Share

Part 3 Saya Minta Divisum

Penulis: Rat!hka saja
last update Terakhir Diperbarui: 2022-10-18 21:18:22

Bagai dihantam palu, aku gemetar. Sekujur tubuhku rasanya mati rasa. Wanita itu baru saja mengatakan sebuah rahasia besar yang membuatku sesak. 

Bagaimana bisa mereka berdua setega itu pada keluarga sendiri? Telingaku tidak mungkin salah tangkap. Ibu mengulanginya sampai dua kali. Entah apa yang dikatakan kakek, yang jelas aku tahu mereka berdebat.

Tidak terbayang olehku apa yang akan terjadi pada Mas Adi jika tahu fakta ini. Ibu dan kakek menyimpan rahasia yang mengejutkan. Mungkin jauh lebih mengejutkan dari gempa bumi. Tekadku untuk pergi dari keluarga ini semakin bulat. Aku tidak tahan lagi berada di antara mereka.

Tidak lama akhirnya panggilan telpon antara ibu dan kakek berakhir. Ibu mendumel mengatakan kakek tua bangka yang tidak tahu diri dan hanya mau enaknya saja. Setelah itu ibu malah memuji kakek. Sungguh aku tidak mengerti kinerja otak Nyonya Eda. Baru saja ia mencibir, sedetik kemudian ia memuji.

"Halo Mas, aku di rumah sakit. Menantu kita masuk rumah sakit karena pendarahan. Mas tenang dulu, calon cucu kita baik-baik saja. Hanya saja … aku bingung, Mas. Sepertinya Adi mencium sesuatu yang buruk tentang menantu bungsu kita ini," kata ibu mertua. Aku tak tahu sejak kapan dia menelpon lagi. 

Sejenak hanya keheningan dan hanya deru napasku yang kudengar. Ibu mertua sepertinya diam mendengarkan ayah mertua bicara cukup panjang. Dalam bayanganku, mungkin ia sedang mencibir suaminya. 

"Adi yakin kalau itu bukan anaknya. Dan apa Mas tahu? Anak dalam kandungannya Risa itu perempuan kata dokter. Bapak pasti akan kecewa berat. Kalau bukan laki-laki, mana bisa anak kita dapat warisan lebih banyak? Bapak sendiri yang bilang kalau cucu laki-lakinya akan dapat tanah di Magelang. Cicit laki-laki yang akan dapat warisan lebih banyak, salah satunya adalah peternakan sapi miliknya." Ucapan ibu lagi-lagi menusuk hingga ke tulang. Yang penting baginya hanya uang.

Benarkah anak dalam kandunganku ini seorang putri? Aku tidak pernah mempermasalahkan jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan, anakku tetaplah darah dagingku yang akan kupastikan kebahagiaannya. Tidak akan kubiarkan anakku tumbuh dalam keluarga toxic ini. Aku harus cerai dengan Mas Adi. Biar saja dia menikah lagi, aku tidak peduli.

"Mas… sebenarnya… ada hal lain yang ingin ibu sampaikan. Ini soal Adi, anak kita," kata ibu mertua yang rasanya ingin membuatku muntah. Suaranya yang mendayu dengan bujuk rayu menyakiti telingaku.

"Dia beberapa bulan ini dekat sama Devi. Si Devi, anaknya camat kampung sebelah. Adi bilang kalau… nanti saja aku bilang setelah sampai di rumah, Mas," sambungnya lagi. Sungguh aku penasaran seperti apa tanggapan ayah mertuaku saat tahu kelakuan putra yang dibanggakannya itu.

"Begini Mas… entah ini benar atau tidak, tapi sepertinya Adi pacaran sama Devi. Terus … Devi hamil." Ibu mertua kembali diam cukup lama hingga kurasa telingaku gatal ingin tahu.

"Tapi bagaimanapun anak dalam kandungannya itu calon cucu kita. Kalau kita berbesan dengan seorang camat, derajat keluarga kita akan semakin terpandang. Lihat saja, sejak Adi menikah sama Risa, yang ada hanya susah. Bapak itu terlalu memanjakan cucu menantunya. Tidak lama lagi keponakanmu juga akan menikah Mas, jangan sampai kita disalip untuk dapat cucu laki-laki." Ingin rasanya aku berteriak dan mengusir ibu mertuaku keluar dari kamar rawat inapku ini. 

Tanganku mengepal kuat meremas selimut. Tak lama kudengar ibu keluar dari kamar setelah kedatangan dokter. Masih sempat kudengar mereka berbasa-basi sejenak sampai akhirnya kudengar pintu yang kembali ditutup.

Jemari lembut menyentuh kening dan pergelangan tanganku. Aroma etanol dan parfum yang wangi mengusik indra penciumanku. Aku pura-pura baru tersadar karena sentuhan di kulitku.

"Ibu Carisa bisa mendengar suara saya dengan baik?" tanya dokter wanita yang kutaksir lebih muda dari ibu mertuaku. Wajah cantiknya dibingkai jilbab yang terlilit rapi di lehernya. 

Aku mengangguk karena rahangku masih sakit. Kulirik perawat yang sudah tidak asing bagiku karena sudah beberapa kali bertemu jika aku memeriksakan kandungaku ke rumah sakit ini. Dokter itu mulai memeriksa kondisiku dan perlahan aku merasa lebih baik atas pertanyaan, anggukan maupun senyumnya. 

"Do-dokter, saya ingin mi-minta tolong. Saya minta divisum, saya ini korban KDRT. Bukan kali ini saja … saya diperlakukan kasar seperti ini. Siksaan lahir batin sudah sering saya dapatkan, Dok. Mungkin … karena sejak awal … suami saya terpaksa menikahi saya atas permintaan kakeknya." Dokter itu mengangguk. 

Kutarik napas dan kembali mengumpulkan tenaga. Walau berbisik, kuyakin dia bisa mendengarku. "Saya ingin melakukannya demi … melindungi kandungan saya ini, Dok. Setidaknya sekali saja, suami saya diberi … ketegasan. Saya bisa menerima perlakuannya, tapi saya tidak bisa membiarkan seorang pun … menyakiti anak saya, termasuk ayahnya sendiri," bujukku pada dokter wanita ini. 

Aku yakin dia mengerti dan bisa melakukannya tanpa sepengetahuan keluarga. Kalaupun ketahuan, dokter bisa menyebutkan alasan lain terkait medis. Lebam di tubuhku tentu tidak bisa berbohong, termasuk bekas tamparan di pipiku. 

"Baiklah, tapi saya harap Anda benar-benar beristirahat total. Pendarahan yang Anda alami ini nyaris saja membuat Anda kehilangan bayi Anda. Tolong hindari hal-hal yang membuat Anda lelah dan stres. Tekanan darah Ibu Carisa cukup tinggi dan itu tidak baik untuk kondisi ibu hamil. Saya yakin, sebagai calon ibu, Anda kuat karena kekuatan itu hadir dari harapan besar untuk memberikannya kehidupan yang lebih baik," ujarnya dengan lembut menyapa rungu. 

Aku tergugu dan mengangguk berkali-kali. Setidaknya ada orang asing yang memahami hal yang aku rasakan. Dokter itu bertanya usiaku, mungkin mengira aku menikah dibawah umur. 

"Usianya 20 tahun, Dok," jawab perawat karena aku kesulitan menjawab. 

Sudut bibirku sobek dan pipiku kram. Sepertinya suamiku memukulku menggunakan tenaga dalam. Menggerakkan tangan dan kepalaku saja sulit. 

Perawat yang mengenakan seragam biru muda itu turut mengusap sudut matanya. Aku jadi penasaran seperti apa penampilanku sekarang? Sejak aku membuka mata dan membalas tatapannya, mata perawat itu berkaca-kaca.

"Ada keluhan lain, Ibu Carisa? Ada keluhan sakit di bagian tertentu, mungkin?" tanyanya berbisik. "Jangan takut, katakan saja."

"To-tolong bukti visumnya dirahasiakan, Dok, Sus. Saya takut jika bukti itu dihilangkan dan saya malah dianggap pembohong. Mereka bisa saja memutar balikkan fakta," pintaku. 

Ah … ada gunanya juga nonton sinetron. Jika biasanya ibu-ibu yang menonton akan mengomel melihat pemeran utamanya tertindas, tidak denganku. Aku justru penasaran bagaimana cara membalas dan membuat tokoh antagonisnya mendapat hukuman.

Benakku terus saja bertanya pada siapa aku harus minta tolong untuk mengurus perceraianku dengan Mas Adi. Jika tidak diizinkan bercerai dengannya dan lepas dari keluarga ini, akan aku bongkar rahasia kakek dan ibu mertuaku. Aku harus kuat meskipun terpaksa menjadi wanita jahat yang tega mengancam keluarga sendiri. Hidup lebih lama lagi bersama mereka bisa membuatku gila.

"Tunggu saja Nyonya Eda, kau tidak sudi punya menantu sepertiku bukan? Aku juga sama, tidak pernah berharap punya ibu mertua sepertimu," gumamku setelah dokter dan perawat keluar. Gemuruh di dadaku rasanya ingin segera meledak dan berbuah kebebasan. Bisakah?

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Lisani
gemes.... rasanya pengen ulek.
goodnovel comment avatar
Nona Pelangi
buruan kasih bukti, biar tidak berkutik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 118 Kenangan Surabaya

    Tak pernah kusangka akan kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Bandara Internasional Juanda punya makna khusus dalam hidupku. Di tempat ini, aku bertemu pria yang kini menjadi suamiku.Riswan benar-benar memberiku kejutan. Baru saja mendarat, aku dan Agam disambut oleh petugas bandara yang dulu membantu kami saat aku kehilangan dompet. Aku sampai terheran-heran melihat Agam menyapanya lebih dulu. Ternyata Agam mengingatnya dengan baik.“Kita mau ke mana, Mas?”Aku penasaran saat kendaraan roda empat yang kemudikannya berbelok ke kiri. Arah itu bukan menuju ke tempat tinggal Mas Dadang dan Mbak Hera. “Bengkel.”“Bengkel?” Aku mengernyit. Apa mobil ini mau diperbaiki dulu? “Apa mobinya rusak, Mas?”“Bukan, Ibu. Kita mau ketemu Kakek yang punya bengkel tempat dulu Agam sama ayah peltama kali ketemu. Agam mau bilang, kalau Agam sekarang, sudah punya mobil seperti mobilnya ayah dulu,” ujar A

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 117 Bulan Madu

    “Ayah sama ibu, bulan madunya lama nggak?” tanya Agam.“Tidak, kok, Nak. Nanti, kalau Agam sudah puas liburan sama Kakek Hendrawan, Agam liburan sama ayah dan ibu juga,” ujar Riswan yang duduk memangku Agam.“Libulan ke mana, Ayah?”“Ayah mau ajak Agam ke Surabaya. Kita ziarah kubur eyang di sana. Kita ke tempatnya Papa Aditya sama Mama Devi, sama ke rumahnya Paman Dadang,” jelasnya menanggapi sederet celotehan Agam.Aku tersenyum mendengar ajakan suamiku. Sebelum kami menikah, Riswan memang sudah mengutarakan hal itu. Ia bahkan ingin mengajakku dan Agam bernostalgia ke kontrakan tempat kami tinggal dulu. Termasuk beberapa tempat di mana dulu Agam dan Riswan pernah bertemu.“Ayah, kalau nanti Agam sudah besal, Agam mau jadi polisi kayak Om Lian,” ungkapnya antusias.“Agam harus rajin belajar, makan yang sehat sama rajin olehraga. Kalau badannya Agam pendek terus tidak sehat, t

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 116 Malam Pengantin

    Belum apa-apa, tubuhku rasanya sudah remuk. Aku tahu kalau keluarga Riswan itu terpandang di kota ini. Namun, tetap saja aku tidak menyangka jika acara resepsi kami dihadiri sekitar 2000 undangan.Hal itu aku sadari setelah mengingat paman dari Riswan yang tidak lain ayah dari Akham, adalah walikota. Pantas saja tamu acara mencapai ribuan.“Terima kasih sudah mau jadi istriku. Belum pernah mama sama papa senyum selebar itu,” bisik Riswan.Aku menoleh dan kulihat senyum kedua mertuaku. Keduanya tampak begitu bahagia menyambut tamu yang naik ke pelaminan. Pandanganku beralih pada Bu Uma dan Tuan Hendrawan yang menjadi pendamping dari pihak keluargaku.Aku turut berdoa agar Bu Uma mau luluh dengan lamaran pria itu. Baik Aditya maupun Kemal sama-sama tidak keberatan. Keduanya bahkan setuju jika keduanya menikah dan membentuk keluarga yang utuh.Di sudut lain, kulihat keluarga Riswan berbaur dengan Aditya dan Devi. Keduanya menjadi saksi bah

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 115 Terselamatkan

    Aku mendengar suara pintu terbuka. Penasaran, aku akhirnya menguntai langkah. Mengapa tak ada sapaan salam dari orang itu?Kernyitan dahiku makin dalam. Ada dua bayangan orang di jendela yang saling berhadapan. Tapi siapa mereka? Mengapa tidak langsung masuk saja?Aku menghampiri pintu dan menggapai gagangnya. Akan tetapi, runguku menangkap obrolan lamat-lamat dari teras. Menahan gerak dan mengurung niatku menarik daun pintu yang tidak tertutup rapat.Mengintip dari celah pintu, mataku mencoba fokus. Menyusuri sepatu dan seragam yang sudah tak asing lagi, aku menghela lega. Ternyata Rian dan Gaby. Wajar jika mereka di sini, bukankah pasangan itu juga sahabat Riswan?"Sayang, aku kangen," ungkap pria berseragam itu.Wanitanya terkikik geli mengalungkan tangan di pundak suaminya. Tatapan penuh cinta tergambar jelas di mata dokter tomboi itu. "Kangen banyak atau sedikit?" tanyanya dengan bibir yang mengerucut."Aku tidak tahu, tidak pernah kuhi

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 114 Terbang ke Hatimu

    “Carissa!” Aku menelan saliva karena sulit menjelaskannya. Aku tidak ingin meraup simpati atau belas kasihan darinya.Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memotretnya. Sepertinya ia kirimkan pada sekretarisnya. Namun, tatapannya tak pernah lepas padaku.Aku pun menyadari jika ia membutuhkan jawabanku. Bukan sekedar basa-basi. Lebih tepatnya, ingin tahu pasti.“Aku nggak jadi pesan yang tadi, Yang. Tiba-tiba aku kepengen martabak yang ada di kompleknya bunda,” celutuk wanita hamil di meja samping.“Tadi kan kamu bilang kepengen banget, Yang,” balas suaminya garuk-garuk kepala heran.“Iya, tapi tadi. Sekarang udah nggak. Aku malah pusing cium aroma mie goreng yang di sana,” jelas wanita itu dengan wajah kusutnya. Suaminya menghela napas panjang sembari memijat kepalanya.“Semoga kelak aku lebih sabar dari pria itu,” gumam Riswan.Pasangan itu beranjak dan Riswan kembali bertanya, “Apa semua wanita hamil sesensitif itu?”“Kadang kala, Mas,” sahutku apa adanya.Belum sempat aku menjelaska

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 113 Pertanyaan Menyakitkan

    “Aku senang karena kita tidak harus pingitan.”Ungkapannya itu membuat langkahku terhenti. Pernikahan kami memang akan dilangsungkan lima hari lagi. Namun, pria yang satu ini sepertinya belum sadar sama sekali dengan misi rahasia yang diberikan para orang tua padaku.“Kenapa?” tanyanya sembari menoleh.“Kenapa Kak Riswan senang?”“Ketemu kamu saja rasanya masih kangen karena belum bebas mau peluk. Kalau tidak ketemu kamu seharian, aku galau,” akunya gamblang.Tak ayal, pipiku pasti sudah memerah. Pria yang satu ini ternyata pandai menggombal juga. Tidak kalem sama sekali seperti penilaian para abg yang menjadi penyerbu Toko Tita’s Outfit.“Kak Riswan kalau masih ada keraguan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku tidak masalah. Tapi tolong jangan sakiti Agam.” Kali ini, langkahnya yang terhenti.“Apa maksud kamu? Kamu pikir, setelah berada ditahap ini, aku bakalan ragu? Terus mundur ninggalin kamu sama Agam?” tanyanya lalu menggeleng.Kedua tangannya memegang bahuku. Tidak kuat, t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status