Share

Part 4 Membuka Topeng

Author: Rat!hka saja
last update Last Updated: 2022-10-26 23:32:21

Dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Mas Adi membawaku pulang. Bukan pulang ke rumah kami, melainkan ke rumah utama tempat kakek dan kedua mertuaku tinggal bersama beberapa asisten rumah tangga. Telapak tanganku basah membayangkan seperti apa nantinya respon mereka saat aku mengutarakan hal yang kupendam ini.

Kakek dan ayah mertuaku menyambutku dengan senyum lembut. Ibu mertuaku, seperti biasa dia tampak ogah-ogahan dan memasang senyum palsu ketika aku meliriknya. Mungkin takut jika ayah mertua dan suaminya tahu jika selama ini ia tidak menyukaiku. 

"Apa kata dokter, Nak?" tanya kakek sembari mengusap puncak kepalaku.

"Sudah lebih baik, Kakek. Dokter cuma minta banyak istirahat agar lekas pulih," ujarku apa adanya seperti yang disarankan dokter kandunganku.

Ayah mertuaku mengusap dadanya lega. "Alhamdulillah, dijaga dengan baik ya Nak … cucu ayah. Rasanya sudah tidak sabar mau menimangnya," ungkapnya dengan tersenyum lebar. Namun entah mengapa hatiku berdenyut ngilu mendengarnya.

"Aku ke kamar dulu, capek, mau tidur," kata Mas Adi.

Baru selangkan dia beranjak, tiba-tiba kuhentikan langkahnya. Pria dengan wajah khas keturunan Tionghoa itu menoleh menatapku dengan malas. Jelas ia kesal, tapi tatapan kakek dan ayah membuatnya kembali putar badan dan hendak menggendongku. Mereka semua tersenyum, tapi hanya sesaat karena aku menepis tangannya.

"Ada apa?" tanya Mas Adi yang tampak tegang. 

Sepertinya dia mulai sadar jika aku tidak bersedia melakukan permintaannya saat masih di rumah sakit tadi. Ya, dia meminta agar aku berpura-pura tidak ada masalah di antara kami. Tidak bisa!

Kuhembuskan napas perlahan dan menatap mereka berempat. Dulu aku tidak pernah memikirkan hal ini. Tapi perahu yang dinahkodai Mas Adi sebagai kepala rumah tangga, kini telah ia nodai. Aku tidak bisa bertahan dengannya lagi. Tidak semua wanita bisa bertahan dengan penghianatan.

"Kakek, Ayah, Ibu, saya mau minta cerai sama Mas Adi," ucapku yang membuat mereka menunjukkan reaksi berbeda tapi sama maknanya.

Kakek membelalak seperti orang yang dipatuk ular karena kedua kakinya itu bergerak. Ayah terperanjat sampai meninggalkan alas duduknya lalu menatapku dan putranya bergantian. Sementara ibu mertuaku … sulit untuk menjelaskannya, antara senang atau pura-pura pilu. Satu-satunya yang tak berekspresi hanya Mas Adi. Pria itu bergeming.

"Nak, Risa … perceraian itu bukan hal main-main," kata kakek dengan telunjuk mengarah tepat ke wajahku. 

"Begitu juga dengan perselingkuhan," balasku dengan turut membalas tatapan kakek. 

Kini wajahnya lebih syok dibanding saat kuungkapkan niatku bercerai dengan cucunya. Bibirnya berkatup rapat dan bergetar. Sepertinya tersinggung dengan ucapanku. Jika tidak, sudah pasti dia takut kalau aku sampai tahu permainannya selama ini.

Dua hari lalu saat ibu mertuaku menghubungi kakek, aku mendengar pembicaraan mereka. Aku juga tahu kalau selama ini mereka diam-diam menjalin hubungan di belakang ayah mertuaku. Rasanya tak layak mendengar petuah darinya. 

Aku muak dengan semua ucapan manis dan nasihat bijaknya selama ini. Luntur sudah kesegananku padanya. Apa tidak ada orang lain selain menantunya sendiri? 

"Perselingkuhan?" Pertanyaan ayah menyadarkanku.

Sejenak keningku berkerut. Benakku bertanya-tanya, bukankah kemarin ibu mertua sudah menyampaikan pada ayah tentang Devi? Apa mungkin ayah tidak percaya putranya selingkuh?

"Aditya tidak mungkin berselingkuh, Nak. Ayah tidak pernah mengajarinya seperti itu," ucapnya dengan suara bergetar. 

Itu mungkin benar, karena selama ini suamiku memakai topeng. Putra kebanggaan dan cucu kesayangan kalian, kenyataannya membawa aib besar ke dalam keluarga yang terhormat ini. Jika aku tidak peduli, mungkin sudah kuumbar pada seisi desa agar mereka memihakku. Namun aku masih waras, bukan seperti itu caranya membalas. 

Aku ingin harga yang pantas atas rasa sakit ini. Bukan dengan uang, melainkan dengan melunturkan keserakahan dan kesombongan mereka. Sejauh ini aku hanya menahan diri demi Tuan Hendrawan Santoso.

Kembali aku menoleh padanya yang menatapku sendu lalu kulirik Mas Adi yang tertunduk. Mungkin ia juga lelah untuk selalu menyembunyikan hal ini. Apalagi kekasihnya yang tengah hamil itu selalu menerornya. 

"Risa."

"Maaf Ayah, sudah kupikirkan matang-matang keputusan ini. Mas Adi selingkuh dengan wanita bernama Devi. Wanita itu hamil anak Mas Adi dan dia … dia datang menemuiku untuk dijadikan madu. Mereka sudah menjalin hubungan sejak lama, putramu menghianatiku. Lantas, untuk apa kupertahankan pria yang tidak … menghargaiku? Dia menusukku dari belakang dengan berzina! Dia mengumbar hal-hal burukku di matanya, kepada selingkuhannya. Dia hina wanita yang dijadikannya istri," jawabku tanpa takut. Untuk apa? Sebentar lagi fakta akan terkuak.

"Risa, bukankah kita sudah sepakat un-"

"Sepakat? Kapan? Hanya kamu yang ingin, aku tidak! Sampai kapan pun aku tidak sudi dimadu. Ceraikan aku dan kamu bisa menikah dengan selingkuhanmu itu, Mas. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padanya kalau … anak yang kukandung bukan anakmu?" Mas Adi gelagapan.

Plak!!!

Kali ini bukan pipiku yang menerima telapak tangan itu, melainkan Mas Adi. Semoga saja dia sadar jika kena tampar itu rasanya sakit. Bukan hanya di pipi, tapi sampai ke hati. Dia baru saja menerima tamparan dari ayah yang selalu memanjakannya.

"Benar yang dikatakan menantuku, Adi? Jawab ayah!" bentaknya. 

Sejak mengenalnya, ini pertama kali aku melihat ayah mertuaku marah. Jika Mas Adi adalah pria yang gila akan gaya dan penampilan, lain halnya kedua pria itu. Ayah adalah pria yang sangat menjaga kehormatan keluarganya yang terpandang. Apalagi sebentar lagi ia hendak mencalonkan diri sebagai kepala desa agar beberapa tahun berikutnya, dia bisa mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Lain halnya kakek yang gila citra, suka memamerkan kekayaannya sebagai juragan sapi terkaya di kabupaten ini.

Mas Adi masih diam, namun perlahan dagunya bergerak. Ia berlutut memeluk kaki ayahnya memohon pengampunan. Sekalipun nanti ia mengaku khilaf dan memberikan segudang alasan, aku takkan goyah untuk berpisah darinya. 

Mas Adi menatapku, tapi aku buang muka. Guci mahal ibu mertua saat ini lebih menarik bagiku. Sengaja kulakukan agar dia sadar jika dia tidak bisa memaksa apalagi mengaturku lagi. 

Hilang sudah rasa hormatku padanya sejak ia mengingkari anak dalam kandunganku. Dia yang selingkuh, tapi aku yang dituduh. Suatu saat dia akan menjadi manusia amat menyesali tutur katanya.

"Risa, kumohon …." Mas Adi bergumam lirih.

"Kalau Mas tidak menceraikanku, akan kubongkar aib ini agar kamu dan kekasih gelapmu itu diarak keliling dan dirajam. Kamu mau?" Dia membelalak. Begitu ketiga orang lainnya yang kembali terkejut akan ucapanku. 

"Mereka tidak akan percaya," sanggah kakek yang masih saja membela cucu kesayangannya itu.

Kupejamkan mata sesaat dan mengambil secarik kertas dari sakuku. Kuletakkan kertas putih berlogo rumah sakit itu di atas meja. Ayah mertua yang lebih dulu meraih dan membacanya. Tangannya bergetar meremas tepinya hingga kertas itu terlepas dan jatuh mengenai Mas Adi.

"Kita sudah hancur karena ulah cucu kesayanganmu ini, Ayah." Tuan Santoso mendongak menatap putranya yang menghela pasrah. 

Hendrawan Santoso memejamkan mata dan kedua tangannya mengepal kuat. Mungkin menahan diri tidak menghajar putranya sendiri. Ayah mertua sudah geram dan jika saja Mas Adi menyela, mungkin kali ini dagunya akan dicengkram. Persis seperti yang dilakukannya padaku sore itu.

Juragan sapi itu kini beralih menatap cucunya, Aditya Herdiano Santoso. Tangannya terulur meminta kertas yang sudah ronyok itu. Setelah membacanya, pria tua itu menatapku heran sekaligus bingung. Kutarik tisu basah dari dalam tas dan kuhapus riasan wajahku. 

"Ini bekas tamparan di pipiku tiga hari yang lalu, Kakek. Cucu Kakek memintaku memakai bedak yang tebal agar menyamarkan bekas tangannya. Tadinya kupikir dia akan meminta maaf, tapi dia justru menggerutu dan mengatakan aku lelet. Seandainya saja dia yang hamil dan membawa bayi dalam perutnya ke mana-mana, kuyakin tidak akan ada satu hari pun kalian bisa merasa tenang." Kuhapus air mata yang tiba-tiba saja jatuh.

Kulihat ibu mertuaku mengepalkan tangannya. Sepertinya tidak terima karena aib putranya kubongkar. Ya ampun, bagaimana jika aibnya yang kuumbar di depan suami dan anaknya?

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Lisani
Bukan jamannya lagi diam kalau ditindas. Masih ada kok pak polisi yang bisa bantu
goodnovel comment avatar
babyblack
Topeng suami baik ditanggalkan, tahu rasa suami macam ini memang patut ditinggalkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 118 Kenangan Surabaya

    Tak pernah kusangka akan kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Bandara Internasional Juanda punya makna khusus dalam hidupku. Di tempat ini, aku bertemu pria yang kini menjadi suamiku.Riswan benar-benar memberiku kejutan. Baru saja mendarat, aku dan Agam disambut oleh petugas bandara yang dulu membantu kami saat aku kehilangan dompet. Aku sampai terheran-heran melihat Agam menyapanya lebih dulu. Ternyata Agam mengingatnya dengan baik.“Kita mau ke mana, Mas?”Aku penasaran saat kendaraan roda empat yang kemudikannya berbelok ke kiri. Arah itu bukan menuju ke tempat tinggal Mas Dadang dan Mbak Hera. “Bengkel.”“Bengkel?” Aku mengernyit. Apa mobil ini mau diperbaiki dulu? “Apa mobinya rusak, Mas?”“Bukan, Ibu. Kita mau ketemu Kakek yang punya bengkel tempat dulu Agam sama ayah peltama kali ketemu. Agam mau bilang, kalau Agam sekarang, sudah punya mobil seperti mobilnya ayah dulu,” ujar A

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 117 Bulan Madu

    “Ayah sama ibu, bulan madunya lama nggak?” tanya Agam.“Tidak, kok, Nak. Nanti, kalau Agam sudah puas liburan sama Kakek Hendrawan, Agam liburan sama ayah dan ibu juga,” ujar Riswan yang duduk memangku Agam.“Libulan ke mana, Ayah?”“Ayah mau ajak Agam ke Surabaya. Kita ziarah kubur eyang di sana. Kita ke tempatnya Papa Aditya sama Mama Devi, sama ke rumahnya Paman Dadang,” jelasnya menanggapi sederet celotehan Agam.Aku tersenyum mendengar ajakan suamiku. Sebelum kami menikah, Riswan memang sudah mengutarakan hal itu. Ia bahkan ingin mengajakku dan Agam bernostalgia ke kontrakan tempat kami tinggal dulu. Termasuk beberapa tempat di mana dulu Agam dan Riswan pernah bertemu.“Ayah, kalau nanti Agam sudah besal, Agam mau jadi polisi kayak Om Lian,” ungkapnya antusias.“Agam harus rajin belajar, makan yang sehat sama rajin olehraga. Kalau badannya Agam pendek terus tidak sehat, t

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 116 Malam Pengantin

    Belum apa-apa, tubuhku rasanya sudah remuk. Aku tahu kalau keluarga Riswan itu terpandang di kota ini. Namun, tetap saja aku tidak menyangka jika acara resepsi kami dihadiri sekitar 2000 undangan.Hal itu aku sadari setelah mengingat paman dari Riswan yang tidak lain ayah dari Akham, adalah walikota. Pantas saja tamu acara mencapai ribuan.“Terima kasih sudah mau jadi istriku. Belum pernah mama sama papa senyum selebar itu,” bisik Riswan.Aku menoleh dan kulihat senyum kedua mertuaku. Keduanya tampak begitu bahagia menyambut tamu yang naik ke pelaminan. Pandanganku beralih pada Bu Uma dan Tuan Hendrawan yang menjadi pendamping dari pihak keluargaku.Aku turut berdoa agar Bu Uma mau luluh dengan lamaran pria itu. Baik Aditya maupun Kemal sama-sama tidak keberatan. Keduanya bahkan setuju jika keduanya menikah dan membentuk keluarga yang utuh.Di sudut lain, kulihat keluarga Riswan berbaur dengan Aditya dan Devi. Keduanya menjadi saksi bah

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 115 Terselamatkan

    Aku mendengar suara pintu terbuka. Penasaran, aku akhirnya menguntai langkah. Mengapa tak ada sapaan salam dari orang itu?Kernyitan dahiku makin dalam. Ada dua bayangan orang di jendela yang saling berhadapan. Tapi siapa mereka? Mengapa tidak langsung masuk saja?Aku menghampiri pintu dan menggapai gagangnya. Akan tetapi, runguku menangkap obrolan lamat-lamat dari teras. Menahan gerak dan mengurung niatku menarik daun pintu yang tidak tertutup rapat.Mengintip dari celah pintu, mataku mencoba fokus. Menyusuri sepatu dan seragam yang sudah tak asing lagi, aku menghela lega. Ternyata Rian dan Gaby. Wajar jika mereka di sini, bukankah pasangan itu juga sahabat Riswan?"Sayang, aku kangen," ungkap pria berseragam itu.Wanitanya terkikik geli mengalungkan tangan di pundak suaminya. Tatapan penuh cinta tergambar jelas di mata dokter tomboi itu. "Kangen banyak atau sedikit?" tanyanya dengan bibir yang mengerucut."Aku tidak tahu, tidak pernah kuhi

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 114 Terbang ke Hatimu

    “Carissa!” Aku menelan saliva karena sulit menjelaskannya. Aku tidak ingin meraup simpati atau belas kasihan darinya.Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memotretnya. Sepertinya ia kirimkan pada sekretarisnya. Namun, tatapannya tak pernah lepas padaku.Aku pun menyadari jika ia membutuhkan jawabanku. Bukan sekedar basa-basi. Lebih tepatnya, ingin tahu pasti.“Aku nggak jadi pesan yang tadi, Yang. Tiba-tiba aku kepengen martabak yang ada di kompleknya bunda,” celutuk wanita hamil di meja samping.“Tadi kan kamu bilang kepengen banget, Yang,” balas suaminya garuk-garuk kepala heran.“Iya, tapi tadi. Sekarang udah nggak. Aku malah pusing cium aroma mie goreng yang di sana,” jelas wanita itu dengan wajah kusutnya. Suaminya menghela napas panjang sembari memijat kepalanya.“Semoga kelak aku lebih sabar dari pria itu,” gumam Riswan.Pasangan itu beranjak dan Riswan kembali bertanya, “Apa semua wanita hamil sesensitif itu?”“Kadang kala, Mas,” sahutku apa adanya.Belum sempat aku menjelaska

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 113 Pertanyaan Menyakitkan

    “Aku senang karena kita tidak harus pingitan.”Ungkapannya itu membuat langkahku terhenti. Pernikahan kami memang akan dilangsungkan lima hari lagi. Namun, pria yang satu ini sepertinya belum sadar sama sekali dengan misi rahasia yang diberikan para orang tua padaku.“Kenapa?” tanyanya sembari menoleh.“Kenapa Kak Riswan senang?”“Ketemu kamu saja rasanya masih kangen karena belum bebas mau peluk. Kalau tidak ketemu kamu seharian, aku galau,” akunya gamblang.Tak ayal, pipiku pasti sudah memerah. Pria yang satu ini ternyata pandai menggombal juga. Tidak kalem sama sekali seperti penilaian para abg yang menjadi penyerbu Toko Tita’s Outfit.“Kak Riswan kalau masih ada keraguan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku tidak masalah. Tapi tolong jangan sakiti Agam.” Kali ini, langkahnya yang terhenti.“Apa maksud kamu? Kamu pikir, setelah berada ditahap ini, aku bakalan ragu? Terus mundur ninggalin kamu sama Agam?” tanyanya lalu menggeleng.Kedua tangannya memegang bahuku. Tidak kuat, t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status