เข้าสู่ระบบ"Kita nggak perlu culik dia jauh-jauh ke luar kota, Hadi. Hukuman sosial dari netizen di negara kita jauh lebih kejam daripada siksaan fisik."Sebab mendengar ucapan wanita itu, jantungku kembali berdetak jauh lebih cepat. Ancaman hukuman sosial di Indonesia biasanya berujung pada pemutusan status dari pihak kampus. Wanita berambut panjang itu lalu mengeluarkan ponsel pintar dari dalam tas mahalnya.Dia mengetik sesuatu di layar sentuh ponselnya dengan gerakan jari yang sangat cepat. Kemudian, Felicia melemparkan benda elektronik tersebut melewati celah kursi depan. Ponsel mahal itu jatuh tepat di atas permukaan kain celana di pangkuanku."Coba kamu baca postingan terbaru di akun gosip kampus kita itu, Nara."Tanganku mengambil ponsel itu dengan pergerakan otot yang masih sedikit gemetar. Mataku langsung membaca sebuah unggahan foto di layar terang tersebut. Unggahan itu baru saja dibagikan oleh akun gosip kampus yang memiliki puluhan ribu pengikut.
Mendengar tawaran uang tersebut, Felicia justru tertawa keras di tengah jalanan sepi ini. Suara tawanya terdengar sangat mengerikan, dan membuat bulu kuduk di leherku berdiri seketika. Wanita cantik ini benar-benar tidak peduli lagi dengan uang atau harta kekayaan mantan kekasihnya.Tawanya bergema memantul di antara bangunan rumah kosong di sekitar jalanan ini. Felicia memandang rendah ke arah tubuhku yang sedang gemetar ketakutan menahan tangis. Dia sepertinya sudah merencanakan penculikan ini dengan sangat matang sejak siang tadi bersama Dokter Hadi."Kamu pikir, harga diri aku bisa dibeli pakai uang receh kamu itu, Argan?" Felicia menggelengkan kepalanya pelan sambil terus memegang senjata api di tangan kanannya."Aku sama sekali nggak butuh uang kamu sekarang. Aku cuma mau lihat kalian berdua menderita, persis kayak rasa sakit yang aku rasain kemarin.""Terus kamu mau lakuin apa sekarang, Felicia? Kamu mau nembak aku di pinggir jalan raya begini?" ta
"Enak aja kamu bilang gitu! Gadis miskin di dalam mobil itu, juga jadi sumber masalah utamanya, Argan."Wanita berambut panjang itu menunjuk ke arah mobilku, menggunakan tangan kirinya dengan gerakan cepat. Wajahnya terlihat sangat memerah karena menahan amarah yang meledak-ledak pada siang hari ini."Hadi, cepat bawa perempuan itu keluar dari mobil sekarang juga!" perintah Felicia kepada pria berkacamata di sebelahnya.Dokter Hadi langsung menganggukkan kepalanya satu kali, menyetujui perintah dari wanita tersebut. Pria itu berjalan cepat melewati bagian depan mobil, menuju arah pintu penumpang. Dia mendekati letak posisiku bersembunyi dengan senyuman yang sangat menyebalkan di bibirnya.Tangannya langsung menarik tuas pintu mobil dari arah luar, menggunakan gerakan yang sangat kasar. Tarikan kasarnya membuat badan mobil sedikit berguncang ke arah samping. Pria berkacamata ini terlihat sangat marah karena tidak bisa membukanya secara langsung."Na
Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Argan langsung menarik tuas pembuka pintu pengemudi. Pria tinggi berotot itu keluar dari dalam mobil dan berdiri tegak di jalanan. Dia langsung menutup pintu logam mobilnya dengan bantingan dorongan yang sangat keras.Aku melihat pria tampan itu berdiri gagah menghadapi dua orang berbadan besar. Argan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada otot wajahnya siang ini. Padahal, dua pria di depannya sedang memegang erat tongkat kayu pemukul kasti."Kamu sangat berani, melawan kami berdua, tanpa menggunakan senjata." Preman berjaket hitam itu tersenyum mengejek lurus ke arah wajah Argan."Aku hanya butuh kedua tanganku, untuk menghancurkan susunan tulang rahang kalian." Argan membalas ejekan lisan pria itu dengan nada suara sangat merendahkan.Sebab amarahnya terpancing ejekan, preman itu langsung mengayunkan tongkat kayunya tinggi-tinggi. Pria berbadan besar tersebut memukul lurus ke arah kepala dosen pembimbingku. Nam
Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti."Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat. Kami benar-benar terjebak karena jalanan ini cukup sempit untuk memutar balik badan mobil. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari celah jalan keluar dari sana."Mobil suruhan Felicia yang lain, juga sudah menutup jalan, dari arah belakang." Aku melaporkan kondisi jalan di belakang kami dengan suara yang bergetar hebat."Mereka sengaja menjebak kita berdua, tepat di tengah jalan sempit ini, Nara."Kondisi kami berdua saat ini benar-benar terkepung dari arah depan maupun b
Argan membuka selot pintu besi itu menggunakan gerakan tangan yang cekatan. Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan susunan anak tangga berkarat di luarnya. Udara panas siang hari kembali menyentuh kulit wajahku seketika.Tiba-tiba, dobrakan sangat keras menghancurkan pintu kayu kamarku sepenuhnya. Daun pintu itu jatuh menabrak lantai keramik dengan suara yang sangat bising. Aku menoleh sedikit dan melihat beberapa pria berbadan besar masuk ke kamarku."Itu mereka berdua, sedang mencoba kabur, lewat pintu belakang!" teriak Dokter Hadi sambil menunjuk lurus ke arah kami berdua."Tangkap mahasiswi miskin itu, dan seret dia, ke hadapanku sekarang!"Felicia memberikan perintah langsung dari arah lorong luar kamar kosku. Mendengar teriakan wanita itu, rasa takutku kembali membesar memenuhi dadaku. Argan langsung mendorong punggungku keluar menuju tangga besi dengan cepat."Turun lewat tangga ini, dan jangan melihat ke belakang lagi, Nara." Pria







