Teilen

Bab 26

last update Zuletzt aktualisiert: 31.01.2026 22:46:00

Di sana, aku melihat kilatan permintaan maaf yang sangat samar, dan sesuatu yang lain, yaitu sebuah janji bahwa urusan kami belum selesai.

"Nara, nanti sore kerjakan tugas yang saya kirim lewat email. Saya mau hasilnya besok pagi," ucap Argan dingin, kembali ke mode dosen killer-nya.

"Baik, Pak," jawabku lirih.

Mereka berdua berjalan menjauh, meninggalkan aku sendirian di koridor yang dingin. Melihat punggung mereka yang serasi, rasa mulas di perutku kembali datang, kali ini disertai rasa sesak
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 152

    Brak!Brak!Brak!Pintu kamar ini digedor sangat keras dari arah luar menggunakan pukulan tangan kosong. Suara gedoran kasar itu langsung membuat kedua bahuku terlonjak kaget ke arah atas. Argan segera melepaskan pelukan tangannya dan berdiri tegak menghadap lurus ke arah daun pintu."Kami dari pihak kepolisian wilayah setempat! Buka pintu kamar ini sekarang juga, atau kami dobrak paksa!"Suara teriakan pria bernada sangat berat terdengar lantang menembus celah bawah pintu kamar kami. Pihak berwajib ternyata sudah berhasil melacak rute pelarian sepeda motor pinjaman Argan siang ini.Suara gedoran di pintu kayu ini terdengar semakin keras. Aku langsung melangkah mundur untuk menjauhi arah pintu kamar. Tubuhku bergetar hebat karena merasa sangat panik pada siang hari ini.Argan justru berjalan pelan mendekati daun pintu kayu tersebut. Pria tinggi itu sama sekali tidak menunjukkan raut wajah ketakutan. Dia memutar kunci pintu dan langsun

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 151

    "Saya bakal kirim beberapa orang, buat amanin rumah Ibu siang ini juga."Mendengar janji Argan tersebut, aku mengangkat kepalaku untuk menatap punggung lebarnya dari arah belakang. Pria ini menggunakan uang dan kekuasaannya untuk menyelesaikan masalah keluargaku di kampung halaman. Tindakan penyelamatannya ini membuatku merasa semakin tidak bisa lepas dari kendali tangannya."Iya, Bu. Orang suruhan saya bakal bawa Bapak, ke rumah sakit paling bagus di sana." Argan kembali menjawab ucapan ibuku dari seberang telepon."Biaya perawatan sama rumah sakitnya, biar saya yang bayar lunas hari ini."Beberapa saat kemudian, Argan mematikan sambungan telepon itu dengan usapan jari jempolnya. Dia memasukkan ponsel pintarku ke dalam saku celana kain berwarna hitam miliknya. Pria berotot itu membalikkan badan dan berjalan kembali mendekati posisiku di atas kasur."Bapak kamu udah siuman dari pingsannya, Nara. Kamu nggak usah nangis ketakutan lagi sekarang."

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 150

    Ucapan Argan barusan, terdengar seperti sebuah janji manis yang memuat jebakan tersembunyi. Pria ini seolah memang memanfaatkan skandal kehancuranku, agar aku bergantung sepenuhnya pada uang miliknya. Teori medis tentang kelainan perilakunya, seketika kembali muncul di dalam otak sadarku sore ini.Dia sengaja membuatku terisolasi dari dunia luar, dan membiarkan aku kehilangan semua sumber penghasilan mandiri. Dengan kondisi lemah seperti ini, aku tidak akan memiliki pilihan lain, selain terus menuruti semua permintaan fisik darinya."Bapak sengaja biarin masalah ini makin besar, biar aku cuma bisa bergantung sama uang Bapak, kan?"Aku menuduhnya secara langsung di dalam kamar, tanpa menutupi rasa curigaku lagi kepadanya. Argan tidak memberikan jawaban suara sama sekali, untuk merespons pertanyaanku barusan. Sudut bibir pria itu, hanya tertarik sedikit ke atas dan membentuk sebuah lengkungan senyum tipis.Dia lalu menggeser posisi duduknya menjadi semakin

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 149

    Selama menempuh perjalanan kabur ini, aku memeluk pinggang Argan dengan sangat erat. Kedua lenganku melingkar rapat, tepat menempel di atas perut ratanya yang berotot keras. Hembusan angin siang hari yang kencang, terus menerpa wajahku dari balik kaca helm ini."Mereka pasti laporin kejadian perkelahian kalian, di jalan raya tadi, Pak."Aku berteriak cukup keras di dekat telinganya, agar suaraku bisa terdengar mengalahkan suara angin."Felicia pasti bikin laporan palsu, soal penculikan atau penyerangan fisik. Wanita itu mau bikin aku, masuk ke dalam ruang tahanan polisi hari ini juga."Argan membalas ucapanku barusan, tanpa menolehkan kepalanya ke arah belakang sama sekali.Sebab mendengar penjelasan dari Argan, rasa takutku menjadi semakin membesar berkali-lipat. Nasibku benar-benar sudah hancur sepenuhnya, karena dituduh menjadi wanita simpanan dosen kampus. Sekarang, aku juga harus ikut kabur menghindari kejaran pihak kepolisian setempat.

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 148

    Aku memeluk kedua lututku dan menangis sendirian di tempat yang sangat kotor ini. Suara tangisanku tertahan di dalam tenggorokan agar tidak terdengar oleh orang luar. Tiba-tiba, suara deruman mesin sepeda motor terdengar mendekati posisiku bersembunyi.Kendaraan roda dua itu berhenti total tepat di depan mulut gang sempit ini. Aku mendongakkan kepalaku sedikit untuk melihat identitas pengendara motor tersebut dari jauh. Seorang pria turun dari atas jok motor dan langsung melepaskan helm hitamnya ke arah bawah.Wajah pria itu terlihat sangat tampan meskipun seluruh kulitnya dipenuhi oleh keringat. Pria tinggi berotot itu adalah Argan yang berhasil melacak keberadaanku siang ini."Nara, akhirnya aku berhasil nemuin lokasi kamu di sini." Argan berjalan cepat mendekati tubuhku yang masih berjongkok di atas tanah."Bapak ngapain ke sini? Nanti orang-orang bisa rekam kita berdua lagi, Pak Argan."Aku langsung mundur satu langkah untuk menjauhi posisi tub

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 147

    “Ini dia nih cewek gatal yang godain dosen kampus kita!" teriak mahasiswi berambut keriting itu ke arah kamera ponselnya."Buka aja maskermu, Mbak! Biar semua orang tahu wajah asli pelakor kampus ini," timpal mahasiswi lain yang berdiri tepat di sebelah kananku.Gadis kedua itu langsung menarik lengan kiriku dengan tarikan yang sangat kuat. Tarikan paksa tersebut membuat pergelangan tanganku terlihat sangat jelas oleh sorotan kamera ponsel mereka. Gelang perak mahal pemberian Argan itu memantulkan cahaya matahari siang ini dengan terang."Wah, lihat nih! Dia beneran pakai gelang mahal yang ada di foto akun gosip itu.""Pasti dia jual diri buat dapetin barang semahal ini dari Pak Argan," ucap seorang pria yang ikut merekam dari arah belakang punggungku.Mereka sengaja mengarahkan kamera ponsel itu sangat dekat ke arah mataku. Beberapa orang lain juga ikut mengerumuni posisiku dari arah belakang dan samping bangunan minimarket. Tubuhku gemetar hebat

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status