MasukSelama menempuh perjalanan kabur ini, aku memeluk pinggang Argan dengan sangat erat. Kedua lenganku melingkar rapat, tepat menempel di atas perut ratanya yang berotot keras. Hembusan angin siang hari yang kencang, terus menerpa wajahku dari balik kaca helm ini."Mereka pasti laporin kejadian perkelahian kalian, di jalan raya tadi, Pak."Aku berteriak cukup keras di dekat telinganya, agar suaraku bisa terdengar mengalahkan suara angin."Felicia pasti bikin laporan palsu, soal penculikan atau penyerangan fisik. Wanita itu mau bikin aku, masuk ke dalam ruang tahanan polisi hari ini juga."Argan membalas ucapanku barusan, tanpa menolehkan kepalanya ke arah belakang sama sekali.Sebab mendengar penjelasan dari Argan, rasa takutku menjadi semakin membesar berkali-lipat. Nasibku benar-benar sudah hancur sepenuhnya, karena dituduh menjadi wanita simpanan dosen kampus. Sekarang, aku juga harus ikut kabur menghindari kejaran pihak kepolisian setempat.
Aku memeluk kedua lututku dan menangis sendirian di tempat yang sangat kotor ini. Suara tangisanku tertahan di dalam tenggorokan agar tidak terdengar oleh orang luar. Tiba-tiba, suara deruman mesin sepeda motor terdengar mendekati posisiku bersembunyi.Kendaraan roda dua itu berhenti total tepat di depan mulut gang sempit ini. Aku mendongakkan kepalaku sedikit untuk melihat identitas pengendara motor tersebut dari jauh. Seorang pria turun dari atas jok motor dan langsung melepaskan helm hitamnya ke arah bawah.Wajah pria itu terlihat sangat tampan meskipun seluruh kulitnya dipenuhi oleh keringat. Pria tinggi berotot itu adalah Argan yang berhasil melacak keberadaanku siang ini."Nara, akhirnya aku berhasil nemuin lokasi kamu di sini." Argan berjalan cepat mendekati tubuhku yang masih berjongkok di atas tanah."Bapak ngapain ke sini? Nanti orang-orang bisa rekam kita berdua lagi, Pak Argan."Aku langsung mundur satu langkah untuk menjauhi posisi tub
“Ini dia nih cewek gatal yang godain dosen kampus kita!" teriak mahasiswi berambut keriting itu ke arah kamera ponselnya."Buka aja maskermu, Mbak! Biar semua orang tahu wajah asli pelakor kampus ini," timpal mahasiswi lain yang berdiri tepat di sebelah kananku.Gadis kedua itu langsung menarik lengan kiriku dengan tarikan yang sangat kuat. Tarikan paksa tersebut membuat pergelangan tanganku terlihat sangat jelas oleh sorotan kamera ponsel mereka. Gelang perak mahal pemberian Argan itu memantulkan cahaya matahari siang ini dengan terang."Wah, lihat nih! Dia beneran pakai gelang mahal yang ada di foto akun gosip itu.""Pasti dia jual diri buat dapetin barang semahal ini dari Pak Argan," ucap seorang pria yang ikut merekam dari arah belakang punggungku.Mereka sengaja mengarahkan kamera ponsel itu sangat dekat ke arah mataku. Beberapa orang lain juga ikut mengerumuni posisiku dari arah belakang dan samping bangunan minimarket. Tubuhku gemetar hebat
"Kita nggak perlu culik dia jauh-jauh ke luar kota, Hadi. Hukuman sosial dari netizen di negara kita jauh lebih kejam daripada siksaan fisik."Sebab mendengar ucapan wanita itu, jantungku kembali berdetak jauh lebih cepat. Ancaman hukuman sosial di Indonesia biasanya berujung pada pemutusan status dari pihak kampus. Wanita berambut panjang itu lalu mengeluarkan ponsel pintar dari dalam tas mahalnya.Dia mengetik sesuatu di layar sentuh ponselnya dengan gerakan jari yang sangat cepat. Kemudian, Felicia melemparkan benda elektronik tersebut melewati celah kursi depan. Ponsel mahal itu jatuh tepat di atas permukaan kain celana di pangkuanku."Coba kamu baca postingan terbaru di akun gosip kampus kita itu, Nara."Tanganku mengambil ponsel itu dengan pergerakan otot yang masih sedikit gemetar. Mataku langsung membaca sebuah unggahan foto di layar terang tersebut. Unggahan itu baru saja dibagikan oleh akun gosip kampus yang memiliki puluhan ribu pengikut.
Mendengar tawaran uang tersebut, Felicia justru tertawa keras di tengah jalanan sepi ini. Suara tawanya terdengar sangat mengerikan, dan membuat bulu kuduk di leherku berdiri seketika. Wanita cantik ini benar-benar tidak peduli lagi dengan uang atau harta kekayaan mantan kekasihnya.Tawanya bergema memantul di antara bangunan rumah kosong di sekitar jalanan ini. Felicia memandang rendah ke arah tubuhku yang sedang gemetar ketakutan menahan tangis. Dia sepertinya sudah merencanakan penculikan ini dengan sangat matang sejak siang tadi bersama Dokter Hadi."Kamu pikir, harga diri aku bisa dibeli pakai uang receh kamu itu, Argan?" Felicia menggelengkan kepalanya pelan sambil terus memegang senjata api di tangan kanannya."Aku sama sekali nggak butuh uang kamu sekarang. Aku cuma mau lihat kalian berdua menderita, persis kayak rasa sakit yang aku rasain kemarin.""Terus kamu mau lakuin apa sekarang, Felicia? Kamu mau nembak aku di pinggir jalan raya begini?" ta
"Enak aja kamu bilang gitu! Gadis miskin di dalam mobil itu, juga jadi sumber masalah utamanya, Argan."Wanita berambut panjang itu menunjuk ke arah mobilku, menggunakan tangan kirinya dengan gerakan cepat. Wajahnya terlihat sangat memerah karena menahan amarah yang meledak-ledak pada siang hari ini."Hadi, cepat bawa perempuan itu keluar dari mobil sekarang juga!" perintah Felicia kepada pria berkacamata di sebelahnya.Dokter Hadi langsung menganggukkan kepalanya satu kali, menyetujui perintah dari wanita tersebut. Pria itu berjalan cepat melewati bagian depan mobil, menuju arah pintu penumpang. Dia mendekati letak posisiku bersembunyi dengan senyuman yang sangat menyebalkan di bibirnya.Tangannya langsung menarik tuas pintu mobil dari arah luar, menggunakan gerakan yang sangat kasar. Tarikan kasarnya membuat badan mobil sedikit berguncang ke arah samping. Pria berkacamata ini terlihat sangat marah karena tidak bisa membukanya secara langsung."Na







