LOGINDokter Hadi berteriak sangat keras untuk menuduh Argan memalsukan dokumen penting. Pria berkacamata itu berusaha memprovokasi kerumunan warga perumahan elit ini lagi."Bapak-bapak jangan percaya sama buku cokelat itu! Pria ini pasti nyogok orang dalam buat bikin surat nikah dadakan sore ini."Namun, Pak RT justru menutup buku nikah tersebut dan menyerahkannya kembali ke tangan Argan. Ketua lingkungan ini menghela napas panjang lalu menggelengkan kepalanya menatap Dokter Hadi."Maaf, Mas Hadi, tapi stempel timbul dan tanda tangan kepala KUA ini kelihatan asli banget. Kami warga perumahan nggak punya wewenang buat nuduh dokumen keluaran negara ini hasil editan."Pak RT memberikan keputusan sepihak yang langsung mematahkan semua usaha provokasi Dokter Hadi. Warga lainnya juga mengangguk setuju karena takut terkena masalah hukum jika sembarangan menuduh."Terus video pelabrakan mahasiswi di TikTok itu gimana ceritanya, Pak RT? Masa istrinya sendiri dit
"Istri? Kamu jangan coba-coba bohongin warga perumahan ini lagi, Mas!"Pak RT memecah keheningan itu dengan nada suara yang sangat meragukan kebenaran ucapan Argan. "Kami semua udah tahu jelas, kalau perempuan ini cuma mahasiswi simpanan kamu aja."Ketua lingkungan elit ini menambahkan kalimat penolakan atas pernyataan dosen pembimbingku barusan.Argan berhasil melepaskan lengannya dari pegangan para pemuda perumahan tersebut dengan hentakan kuat. Pria itu merapikan pakaian kemejanya yang sedikit berantakan akibat dorongan keributan tadi. Dia lalu memutar badannya dan berjalan pelan mendekati posisiku di sudut ruangan."Saya sama sekali nggak berbohong soal status pernikahan kami berdua, Pak RT. Nara Anindya ini adalah istri sah saya secara hukum agama dan juga negara."Argan mengumumkan kebohongan besar itu dengan raut wajah yang sangat meyakinkan. Tangan kanannya merangkul pinggangku dan menarik tubuhku agar menempel langsung pada pinggangnya. Ak
Aku mencoba menjelaskan keadaanku kepada mereka dengan suara yang bergetar hebat."Nggak usah banyak alasan kamu, pelakor! Warga di bawah udah nungguin kamu buat minta penjelasan."Pemuda kedua ikut memegang lengan kananku dan memaksa tubuhku berdiri tegak.Mereka berdua menyeret tubuhku keluar dari dalam ruangan kamar mewah ini. Kakiku terpaksa melangkah mengikuti tarikan tangan mereka berdua menyusuri lorong lantai dua. Aku tidak bisa melepaskan diri karena tenaga kedua pria ini sangat besar."Sakit, Mas! Tolong jangan tarik tanganku terlalu keras kayak gini."Aku mengeluh karena pergelangan tanganku terasa sangat nyeri akibat cengkeraman mereka."Makanya kamu jalan yang benar, Mbak! Nggak usah coba-coba buat kabur lagi dari kita."Pemuda berbaju hitam itu membalas keluhanku tanpa melonggarkan pegangan tangannya sedikit pun.Kami bertiga terus berjalan menuruni susunan anak tangga menuju lantai bawah rumah. Mataku langsung me
Ibu-ibu yang ikut masuk mulai berteriak memanggil namaku dengan kata-kata yang sangat kasar."Cari di semua kamar lantai bawah dan langsung naik ke lantai dua sana!"Pak RT memberikan instruksi kepada para pemuda untuk segera menggeledah ruangan rumah mewah ini.Sebab mendengar perintah penggeledahan itu, rasa panik berukuran sangat besar langsung memenuhi seluruh isi kepalaku. Tubuhku langsung merangkak mundur menjauhi pagar kaca agar keberadaanku tidak terlihat dari bawah. Lututku terasa sangat lemas saat mencoba berdiri tegak di atas permukaan karpet lantai dua ini."Kalian semua cepat keluar dari rumahku sekarang juga! Tindakan penggeledahan ini namanya pelanggaran wilayah pribadi orang lain!"Argan menarik kerah kemeja salah satu pemuda dan melempar badannya ke arah luar pintu utama."Kami punya hak penuh buat ngurus lingkungan kami sendiri dari perbuatan kotor kalian berdua!"Pak RT membalas teriakan Argan tanpa menunjukkan rasa
Teriakan kasar seorang pria dari arah luar terdengar memekakkan telingaku sampai ke lantai dua. Suara langkah kaki banyak orang juga terdengar berjalan paksa memasuki area taman depan rumah."Nah, warga perumahan udah mulai hilang kesabaran di luar sana," ucap Dokter Hadi sambil merapikan kerah bajunya.Argan langsung memutar badannya dan menatap lurus ke arah pintu utama rumah yang terbuka. Pria tinggi itu mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menghadapi amukan massa secara langsung.Sementara itu, aku hanya bisa bersembunyi ketakutan di lantai dua sambil menutup telingaku menggunakan kedua telapak tangan.Suara langkah kaki puluhan orang itu terdengar semakin mendekati arah pintu utama rumah. Aku menekan dadaku sendiri dari balik pagar kaca lantai dua bangunan ini. Jantungku berdetak sangat kencang karena takut melihat amukan massa warga perumahan tersebut.Argan berdiri tegak menghalangi akses masuk di ambang batas pintu kayu jati. Tubuh bes
Mataku menyipit dari lantai dua untuk mencoba membaca logo di bagian atas kertas itu. Logo di kertas tersebut terlihat sangat persis dengan lambang resmi kampus tempatku menuntut ilmu.Argan langsung mengambil kertas itu menggunakan tangan kanannya dan membaca isinya secara teliti. Otot di sekitar leher pria tinggi itu langsung menegang setelah membaca paragraf pertama dokumen tersebut."Ini surat pemecatan resmi dari pihak rektorat kampus buat Nara, kan?"Argan memastikan isi surat tersebut dengan suara baritonnya yang menggema di ruang tamu."Tepat sekali tebakanmu itu, Argan! Pihak kampus nggak mau nunggu sidang kode etik besok pagi karena tekanan netizen terlalu besar."Dokter Hadi tertawa pelan saat membenarkan fakta pemecatan kampus tersebut secara langsung."Dekan fakultas langsung tanda tangan surat pemutusan studi itu siang ini juga. Gadis miskin itu udah resmi bukan mahasiswi kampus kita lagi mulai detik ini."Sebab mendenga







