Se connecter"Iya, wanita itu datang, dan memberikan ancaman langsung."Aku menjawab pertanyaannya sambil berjalan pelan mendekati letak kasur."Bagaimana Bapak bisa tahu, kejadian di dalam perpustakaan itu?" tanyaku meminta penjelasan darinya."Aku menyuruh penjaga perpustakaan, untuk terus memantau pergerakanmu," jelas Argan sambil berdiri dari atas kursi kayunya.Argan melangkah mendekati posisiku berdiri di tengah ruangan sempit ini. Pria itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang sangat serius. Rahang bawahnya kembali mengeras untuk menahan emosi yang sangat besar."Felicia sudah bertindak terlalu jauh, dari batas kesabaranku." Argan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat."Wanita itu menunjukkan foto kita, saat berada di lorong kampus." Aku melaporkan bukti yang Felicia bawa kepadanya siang ini."Foto gelang perak itu, bisa menjadi masalah besar, bagi kita berdua.""Aku sudah melihat, rekaman kamera keamanan, tentang
Fika berjalan pergi meninggalkanku sendirian di depan ruang kelas. Aku langsung melangkah menuju gedung perpustakaan pusat yang ada di sebelah fakultas. Suasana perpustakaan selalu sepi sehingga sangat cocok untuk berkonsentrasi menulis.Aku masuk ke perpustakaan dan mencari tempat duduk kosong di sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang pas, aku segera mengeluarkan laptopku. Tanganku menekan tombol daya untuk menyalakan perangkat elektronik tersebut.Layar laptopku menyala dan menampilkan dokumen skripsi yang belum selesai. Aku mulai mengetik lanjutan bab dua yang sempat tertunda tadi malam. Jari-jariku bergerak menekan tombol papan ketik dengan ritme yang stabil."Aku harus menyelesaikan, lima halaman skripsi ini, siang ini juga." Aku memberikan target kerja pada diriku sendiri.Sekitar satu jam berlalu, aku berhasil mengetik tiga halaman penuh berisi teori. Penjelasan Argan tentang kondisi medisnya sangat membantuku menyusun analisis ini. Aku bisa me
Saat terbangun, tanganku langsung meraba bagian samping bantal tidur. Aku mencari keberadaan ponsel pintar milikku di atas kasur tipis ini. Jari-jariku berhasil menyentuh benda elektronik tersebut dengan cepat.Aku menghidupkan layar ponsel untuk melihat penunjuk waktu. Angka di layar menunjukkan pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit. Lalu, mataku melihat sebuah pemberitahuan dari aplikasi bank di layar utama."Uang royaltiku sudah masuk, ke dalam rekening bank, pagi ini." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum sangat lebar."Jumlah uang ini sangat cukup, untuk melunasi biaya kuliahku, semester ini."Perasaan lega langsung memenuhi seluruh bagian dadaku seketika. Ancaman putus kuliah akhirnya benar-benar hilang dari hidupku. Aku segera beranjak bangun dari atas kasur untuk bersiap pergi ke kampus.Kemudian, aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk pergi kuliah. Kemeja putih dan celana kain hitam menjadi pilihanku pagi ini. Aku juga memasukkan lap
Mas Vickry terlihat sedikit ragu, saat mendengar penjelasan singkatku barusan. Namun, dia tidak melontarkan pertanyaan tambahan, mengenai bau parfum dan baju kebesaran itu lagi. Pria itu kembali memfokuskan pandangannya, pada tumpukan kertas kontrak di tanganku."Cepat tanda tangani berkas itu sekarang juga, agar aku bisa segera pulang." Dia menyodorkan sebuah pena tinta hitam, langsung ke arah wajahku.Aku mengambil pena hitam itu menggunakan tangan kananku dengan cepat. Setelah itu, aku meletakkan tumpukan kertas kontrak, ke atas permukaan dinding kayu. Papan pintu ini aku gunakan sebagai alas keras, untuk menulis tanda tanganku.Tanganku bergerak lancar menggoreskan tinta hitam, di atas materai kertas tersebut. Tanda tanganku terbentuk sempurna, di bagian bawah halaman terakhir dokumen ini. Aku menyelesaikan syarat perusahaan penerbitan itu, dalam waktu kurang dari satu menit."Ini dokumen kontraknya sudah aku tanda tangani semua, Mas."Aku menyerahkan kembali tumpukan kertas itu,
Ketukan pelan terdengar menyentuh papan kayu pintu kamarku sebanyak tiga kali.Tok. Tok. Tok."Nara, ini aku Vickry. Buka pintu kamarmu ini sebentar."Suara pria itu terdengar melewati celah udara di atas daun pintu kamarku. Kedua kakiku langsung membeku dan menghentikan seluruh pergerakanku seketika di atas lantai. Aku berdiri mematung di dalam kamar sambil menahan napasku sendiri sekuat tenaga."Apa yang mau dilakukan atasanku ini, di depan pintu kamarku pada jam selarut ini?" tanyaku di dalam hati.Aku sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikit pun untuk membalas panggilannya tadi."Nara, aku tahu kamu masih bangun. Aku bisa melihat cahaya lampu, dari layar komputermu tadi."Mas Vickry kembali berbicara dari area luar kamarku dengan nada suara mendesak."Lampu layar itu memantul, lewat celah bawah pintu ini," tambah pria itu lagi.Tanganku perlahan memutar tuas kunci pada gagang pintu kayu ini. Terdengar bunyi klik pelan, saat besi pengunci itu terbuka sepenuhnya. Setelah itu, ak
Aku segera mengusap sisa air mata di pipiku menggunakan punggung tangan kanan. Setelah itu, tubuhku langsung bergerak merangkak mendekati letak tas hitam tersebut di atas lantai.Tanganku membuka ritsleting tas dan menarik keluar laptopku dari dalam sana. Layar monitornya kembali menyala terang saat aku membuka penutupnya ke arah atas. Laptop ini rupanya langsung terhubung dengan jaringan internet nirkabel di kosanku.Kemudian, kotak masuk pesanku langsung memperbarui data terbarunya secara otomatis. Sebuah kotak pesan baru muncul tepat di bagian tengah layar monitor. Pengirim pesan tersebut adalah Mas Vickry, atasanku di tempat kerja.Pria itu rupanya mengirimkan sebuah surel balasan pada jam selarut ini. Mataku langsung membaca teks yang tertulis tebal pada baris subjek surel tersebut."Atasanku memberikan balasan resmi, atas draf kontrak yang direvisi, oleh Argan tadi," ucapku pelan.Tanganku mulai menggerakkan kursor menggunakan panel sentuh di bawah papan ketik. Isi pesan teks it







