Share

Bab 82

Author: Itsmoore
last update Last Updated: 2026-02-12 13:59:14

Argan membenamkan wajahnya di puncak kepalaku, hidungnya menyusup ke sela-sela rambutku yang baru saja disisirnya rapi. Dia menghirup wangi sampo stroberi milikku dalam-dalam, mencari ketenangan dari aroma manis yang menguar di sana.

Tangan besar Argan yang melingkar di pinggangku mulai bergerak pelan, mengusap punggungku naik turun dengan tempo yang lambat dan konstan. Usapan itu terasa sangat hangat menembus kain kaos oblong tipis yang kukenakan, memberikan efek relaksasi pada otot-o

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 137

    Mas Vickry terlihat sedikit ragu, saat mendengar penjelasan singkatku barusan. Namun, dia tidak melontarkan pertanyaan tambahan, mengenai bau parfum dan baju kebesaran itu lagi. Pria itu kembali memfokuskan pandangannya, pada tumpukan kertas kontrak di tanganku."Cepat tanda tangani berkas itu sekarang juga, agar aku bisa segera pulang." Dia menyodorkan sebuah pena tinta hitam, langsung ke arah wajahku.Aku mengambil pena hitam itu menggunakan tangan kananku dengan cepat. Setelah itu, aku meletakkan tumpukan kertas kontrak, ke atas permukaan dinding kayu. Papan pintu ini aku gunakan sebagai alas keras, untuk menulis tanda tanganku.Tanganku bergerak lancar menggoreskan tinta hitam, di atas materai kertas tersebut. Tanda tanganku terbentuk sempurna, di bagian bawah halaman terakhir dokumen ini. Aku menyelesaikan syarat perusahaan penerbitan itu, dalam waktu kurang dari satu menit."Ini dokumen kontraknya sudah aku tanda tangani semua, Mas."Aku menyerahkan kembali tumpukan kertas itu,

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 136

    Ketukan pelan terdengar menyentuh papan kayu pintu kamarku sebanyak tiga kali.Tok. Tok. Tok."Nara, ini aku Vickry. Buka pintu kamarmu ini sebentar."Suara pria itu terdengar melewati celah udara di atas daun pintu kamarku. Kedua kakiku langsung membeku dan menghentikan seluruh pergerakanku seketika di atas lantai. Aku berdiri mematung di dalam kamar sambil menahan napasku sendiri sekuat tenaga."Apa yang mau dilakukan atasanku ini, di depan pintu kamarku pada jam selarut ini?" tanyaku di dalam hati.Aku sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikit pun untuk membalas panggilannya tadi."Nara, aku tahu kamu masih bangun. Aku bisa melihat cahaya lampu, dari layar komputermu tadi."Mas Vickry kembali berbicara dari area luar kamarku dengan nada suara mendesak."Lampu layar itu memantul, lewat celah bawah pintu ini," tambah pria itu lagi.Tanganku perlahan memutar tuas kunci pada gagang pintu kayu ini. Terdengar bunyi klik pelan, saat besi pengunci itu terbuka sepenuhnya. Setelah itu, ak

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 135

    Aku segera mengusap sisa air mata di pipiku menggunakan punggung tangan kanan. Setelah itu, tubuhku langsung bergerak merangkak mendekati letak tas hitam tersebut di atas lantai.Tanganku membuka ritsleting tas dan menarik keluar laptopku dari dalam sana. Layar monitornya kembali menyala terang saat aku membuka penutupnya ke arah atas. Laptop ini rupanya langsung terhubung dengan jaringan internet nirkabel di kosanku.Kemudian, kotak masuk pesanku langsung memperbarui data terbarunya secara otomatis. Sebuah kotak pesan baru muncul tepat di bagian tengah layar monitor. Pengirim pesan tersebut adalah Mas Vickry, atasanku di tempat kerja.Pria itu rupanya mengirimkan sebuah surel balasan pada jam selarut ini. Mataku langsung membaca teks yang tertulis tebal pada baris subjek surel tersebut."Atasanku memberikan balasan resmi, atas draf kontrak yang direvisi, oleh Argan tadi," ucapku pelan.Tanganku mulai menggerakkan kursor menggunakan panel sentuh di bawah papan ketik. Isi pesan teks it

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 134

    Tanganku mendorong bidang penampang panel pagar besi itu, membuka lebar celah akses perlintasan masuk, bagi ukuran ketebalan bahu tubuhku. Aku melangkahkan engsel kakiku berjalan menembus masuk, memotong batas area tanah halaman bangunan kos, yang sangat minim dan sepi dari aktivitas suara manusia."Aku harus menghindari, penempatan posisi letak titik parkir, pada deretan badan sepeda motor bermesin ini, agar tempurung lutut tubuhku tidak membentur material logam kerasnya."Lensa mata telanjangku melihat ada beberapa unit kendaraan bermesin roda dua, merupakan barang milik para penghuni kamar lainnya, terparkir sejajar memenuhi sebagian luas lahan semen. Aku berjalan mengubah memutar rute perpindahan kaki, melangkah melewati celah dimensi ruang yang sempit, di antara tumpukan badan fisik mesin kendaraan tersebut."Otot paha dan engsel persendian betisku, harus mengangkat beban gravitasi massa tubuhku, dengan ritme frekuensi langkah yang terasa sangat berat."

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 133

    "Sesi sentuhan kulit kita di vila tadi, adalah sebuah bentuk perpisahan sementara, untuk keselamatan dirimu.""Kamu sedang mempersiapkan strategi perlindungan, sebelum potensi konflik fisik yang jauh lebih besar, datang menyerang posisi kita?""Analisis kognitifmu itu memiliki, tingkat akurasi yang sangat tepat, pada situasi ancaman malam ini."Dada bidang Argan bergerak naik turun, menghirup udara dingin dari celah ventilasi mesin pendingin ruangan. Suasana kembali dipenuhi oleh keheningan audio, yang hanya diisi oleh suara deruman mesin pembakaran mobil."Tugas utamamu besok pagi adalah, melanjutkan proses penyusunan skripsi, serta penyelesaian naskah novel eksplisitmu.""Aku akan memusatkan seluruh sisa energiku, pada papan ketik perangkat komputer ini, di dalam kamar kosku.""Sikap kepatuhan absolut seperti itu, sangat aku butuhkan dari sistem perilaku otakmu, untuk saat ini."Kendaraan roda empat ini terus melaju lurus, melintasi

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 132

    Mobil yang dikemudikan Argan, melaju menuruni area jalan bukit, dengan tingkat kecepatan mesin sangat tinggi. Ban karet mobil bergesekan sangat keras, dengan permukaan aspal jalan raya, pada malam hari yang sepi ini. Kendaraan roda empat ini terus melaju, murni tanpa mengurangi angka kecepatan rotasi ban.Aku duduk mematung dalam diam, tepat di atas kursi penumpang, di sebelah kiri posisi kemudi. Kedua belah lenganku memeluk tas laptop, dengan cengkeraman sepuluh jari, yang sangat erat. Tas berisi perangkat kerjaku itu, menempel kuat pada area depan dadaku.Otot leherku berputar sedikit ke kanan, untuk melihat profil wajah Argan secara langsung. Pria ini menatap lurus ke depan, dengan tingkat fokus penglihatan retina, yang sangat tajam. Arah pandangan mata cokelatnya sesekali berpindah, menuju cermin pantul di sisi luar pintu mobil.Tangan kirinya memegang setir bundar, sementara tangan kanannya meraih ponsel pintar, dari konsol tengah. Argan mengecek layar meny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status