Mag-log in"Aku sangat sadar, Mas Elang," sahut Alina, matanya menatap Elang penuh ketegasan. "Justru sekarang pikiranku jauh lebih jernih dari sebelumnya. Aku tidak akan pernah menarik ucapan itu. Surat gugatan cerai akan segera sampai di tanganmu." "Tidak! Mas tidak akan pernah setuju buat cerai!" tolak Elang keras kepala. "Mas tidak akan membiarkan kamu lepas begitu saja dan membawa rumah itu! Kita tidak akan pernah cerai!" Dewa tidak lagi memberi ruang bagi Elang untuk meluapkan amarahnya. Pria itu maju beberapa langkah, mencengkeram lengan atas Elang dengan pegangan yang amat kuat dan tidak bisa dibantah. "Cukup, Mas Elang. Suara Mas sudah terlalu berisik di sini," ucap Dewa dingin. Elang berusaha menghentakkan tangannya untuk melepaskan cengkeraman Dewa, tetapi tenaga adiknya jauh lebih kuat dari yang ia perkirakan. "Lepas, Dewa! Jangan pegang-pegang aku!" "Aku minta Mas keluar baik-baik sebelum aku panggil pihak keamanan untuk menyeret Mas dari gedung ini," ancam Dewa tanpa mengu
"Mas Elang benar-benar sudah gila," gumam Alina seraya menggelengkan kepala. Matanya menatap Elang dengan pandangan yang benar-benar asing, seolah pria di hadapannya bukan lagi sosok yang pernah ia nikahi bertahun-tahun lalu. "Otakmu cuma diisi dengan uang, agunan rumah, dan kecurigaan busukmu sendiri." "Memang itu kenyataannya!" seru Elang dengan suara keras, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di area rumah sakit. "Kamu sengaja menahan tanda tangan dokumen agunan rumah warisan itu karena mau membuat bisnis Mas bangkrut, kan?! Kamu mau Mas berlutut di depan kamu?! Rumah itu memang milik orang tuamu, tapi setelah kita menikah, harta itu adalah bagian dari aset keluarga yang harus diselamatkan!" "Rumah itu milikku, Mas!" tegas Alina tanpa ragu sedikit pun. "Hak waris peninggalan almarhum orang tuaku tidak ada hubungannya dengan utang bisnis kamu! Aku tidak akan pernah sudi menandatangani surat apa pun demi menutup borok keuagan kamu!" "Kamu harus tanda tangan, Alina!" tuntut El
Elang tidak memosisikan kakinya untuk bergeser sedikit pun. Sorot matanya dipenuhi arogansi, menatap penuh permusuhan pada Dewa sebelum melirik tajam ke arah Alina yang berbaring kaku di ranjang pasien. Kebencian dan ego pria itu tampak meluap, mendominasi atmosfer kamar rawat inap yang semula tenang. "Cukup, Mas Elang! Keluar dari sini!" suara Alina bergetar, beradu dengan napasnya yang patah-patah akibat emosi yang membakar dadanya. Elang menyunggingkan senyum sinis. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada, menunjukkan penolakan terang-terangan atas perintah istrinya. "Kamu menyuruh Mas keluar?" tanya Elang dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Di depan adik iparmu ini, kamu berani membentak Mas seperti itu, Alina?" Dewa melangkah maju satu tapak, memotong jarak antara Elang dan ranjang Alina. "Mbak Alina sudah minta Mas keluar. Jangan buat keributan lagi di sini." "Kamu tidak usah ikut campur, Dewa!" potong Elang cepat, mengibaskan tangannya ke udara dengan nada m
Di dalam ruang rawat yang sunyi, Dewa masih merengkuh tubuh Alina rapat-rapat, membiarkan tangis wanita itu mereda di atas dadanya. Namun, keheningan hangat itu mendadak terpecah oleh suara ketukan dari arah pintu. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan itu membuat tubuh Alina tersentak kaku. Kepanikan seketika menjalar di wajah pucatnya. Dengan jemari yang gemetaran, Alina buru-buru melepaskan pelukan Dewa dan mendorong dada pria itu pelan. "Siapa yang datang, Wa?" bisik Alina panik dengan napas tersengal. Matanya bergerak liar menatap pintu. "Memangnya ada yang tahu aku di sini?" Dewa langsung menoleh tajam ke arah pintu. Rahangnya menegang rapat. Bayangan percakapan panas di telepon tadi langsung melintas di kepalanya. Pikiran Dewa tertuju pada satu nama. Apakah itu Elang yang nekat muncul? Dewa memegang kedua bahu Alina, menatap wanita itu dengan sorot mata menenangkan namun tegas. "Kamu kembali ke ranjang dulu, ya. Biarkan aku yang buka pintunya." Alina mengangguk pelan, bergegas mel
Dewa berdiri tegak di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat, masih memegangi tiang infus dengan sebelah tangannya. Matanya tidak lepas menatap garis pintu, mendengarkan gemericik air dari dalam yang perlahan mereda. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lama, dipenuhi kekhawatiran yang menumpuk di dadanya. Pintu kamar mandi mendadak bergeser terbuka pelan. Alina melangkah keluar dengan amat hati-hati, memegangi pinggiran kusen pintu untuk menopang tubuhnya yang masih sangat lemas. Namun, saat kakinya baru saja berpijak pada ubin koridor kamar mandi yang licin oleh sisa uap air, keseimbangannya mendadak hilang. Tumpuan kakinya yang masih lemah menyerah, membuat tubuhnya limbung dan merosot jatuh ke bawah. "Alina!" Dengan refleks cepat, Dewa melepaskan tiang infus dan menjatuhkan lututnya ke lantai. Lengannya yang kokoh langsung menyambar pinggang Alina, menyangga punggung wanita itu tepat sebelum tubuhnya menghantam ubin dingin. Dewa merengkuh Alina erat ke dalam pelukannya,
Dewa melangkah cepat menyusuri koridor Rumah Sakit Medika menuju area Instalasi Gawat Darurat. Begitu sampai di depan meja perawat, seorang suster yang mengenakan seragam putih langsung menyapa dan menghentikan langkahnya."Pak Dewa?" panggil suster tersebut.Dewa menoleh halus. "Iya, Suster. Bagaimana kondisi pasien atas nama Alina?""Bu Alina sudah dipindahkan ke ruang rawat inap di lantai tiga, Kamar 308, Pak. Kondisinya sudah stabil dan beliau baru saja siuman beberapa menit yang lalu," terang suster itu ramah.Mendengar kabar itu, ketegangan di wajah Dewa seketika mencair. Helaan napas lega terembus dari bibirnya. "Terima kasih, Suster."Tanpa membuang waktu, Dewa langsung menuju lift dan naik ke lantai tiga. Langkah kakinya terdengar teratur saat menelusuri lorong kamar rawat inap yang tenang. Ia berhenti tepat di depan pintu Kamar 308, menahan napas sejenak sebelum memutar gagang pintu secara perlahan.Klek.Pintu terbuka tipis. Dari ambang pintu, Dewa berdiri diam menatap ke d







