"Kalau bukan karena aku, mana bisa kamu liburan ke luar negeri seperti ini. Untung saja kamu menikah dengan aku yang punya adik pilot. Kamu harusnya berterima kasih dan lebih bersyukur sebagai istri." Alina menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan tali koper mereka. Di tengah keramaian ruang tunggu bandara, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Elang tanpa beban. Alina mendongak, menatap suaminya yang berdiri tegak sibuk melihat ponsel, tanpa membalas tatapannya sama sekali. "Iya, Mas. Tentu saja aku juga bersyukur kok," sahut Alina, berusaha tersenyum tipis. Elang melirik sekilas, lalu berdecit pelan. "Syukur itu ditunjukkan dengan sikap, Alina. Bukan cuma di mulut. Kamu aja antre beli kopi lama sekali. Padahal gerainya dekat." Elang menunjuk gerai di seberang mereka dengan dagunya. Alina menatap dua cup kopi di tangannya. "Tadi antreannya agak panjang, Mas. Bikin kopinya juga butuh waktu." "Alasan terus. Intinya kamu yang lambat." Elang menyambar salah sat
Last Updated : 2026-07-14 Read more