LOGINAku dan Rama sudah berpacaran selama sepuluh tahun. Saat aku merawat ibunya yang sakit meskipun diriku sendiri sedang demam tinggi, dia malah menemani Sinta yang patah hati sambil mabuk-mabukan. Saat aku dimarahi habis-habisan oleh bos di kantor, dia malah sibuk menjaga Sinta yang sedang sakit karena haid. Ketika kabar duka tentang kematian ibuku datang, aku mencoba menghubunginya, tetapi ponselnya mati. Setelah berusaha mencari kesana kemari, aku baru tahu kalau dia sedang ada di acara kelulusan Sinta. Akhirnya, aku menyerah. Namun, Rama tidak mau melepasku. Dia memohon dengan mata sembab agar aku memberinya satu kesempatan lagi.
View More“Ahh… sakit, Pak…” rintih gadis itu setengah sadar, suaranya serak dan hampir tak terdengar. Tubuhnya sedikit meliuk, berusaha menjauh dari rasa perih yang menusuk.
“Maaf, saya akan pelan-pelan,” ujar sang pria dengan suara tenang, meski sorot matanya jelas menyimpan kegelisahan. Reihan kembali duduk di samping Alya, menahan kain kompres di lengan gadis itu sambil berusaha menjaga tangannya tetap stabil. Dari dekat, kondisi Alya benar-benar memprihatinkan. Ia terbaring lemah dengan pakaian robek, sementara Reihan menunduk di atasnya. Dilihat sekilas, posisi itu bisa menimbulkan salah paham. Tapi kenyataan di baliknya jauh lebih gelap. Beberapa menit sebelumnya, Alya dibegal di jalanan sepi dekat kampus. Motor dan ponselnya dirampas, dan para pelaku sempat menyeretnya ke semak gelap untuk melecehkannya. Beruntung, Reihan sang dosen muda sekaligus kepala prodi di kampus Alya kebetulan lewat dan menghentikan mereka sebelum terlambat. Karena shock dan luka yang cukup parah, Reihan membawa Alya ke rumahnya yang paling dekat. Sekarang, jam hampir menuju angka 10, di ruang tamu remang dengan udara dingin menusuk, Reihan berusaha merawatnya sebisanya. Alya mencoba membuka mata, tapi pandangannya berputar. Napasnya tersengal, tubuhnya hampir tidak sanggup bergerak. Reihan menatap sobekan besar di baju bagian bahu gadis itu. Kain hangat di tangannya terhenti. Reihan menarik napas pelan, berusaha tetap tenang meski rasa khawatirnya jelas terlihat. “Alya…” panggilnya pelan. Gadis itu hanya memberi respons berupa gerakan mata, seperti anggukan kecil yang hampir tak terlihat. Reihan menelan ludah, suaranya tetap datar meski pikirannya penuh kekhawatiran. “Bajumu… sudah terlalu kotor dan sobek. Kita harus ganti. Kalau tidak, lukamu bisa makin iritasi.” Alya tidak menjawab. Hanya diam, tubuhnya sedikit bergetar karena dingin, juga rasa terkejut yang masih belum sepenuhnya hilang. “Alya … kamu dengar saya?” Reihan menunduk sedikit, memastikan gadis itu benar-benar sadar. Alya akhirnya mengangguk perlahan. “Saya gak ada baju ganti, Pak.” Reihan bangkit, pandangannya masih fokus pada Alya yang setengah melamun. “Saya pinjami baju saya, tunggu sebentar. Kamu minum dulu tehnya ya.” Reihan berbalik dan pergi ke arah kamar, dan begitu pria itu hilang di balik lorong, Alya menarik napas pelan dan mencoba bangun sedikit. Setelah mencoba beberapa kali dengan tenaga seadanya, akhirnya Alya berhasil duduk lebih tegak. Tangan gemetarnya meraih cangkir teh di meja. Saat menyesapnya, kepalanya sedikit tertunduk. Matanya kosong, masih memantulkan shock yang belum benar-benar hilang. Teh hangat itu membantu, tapi hanya sebatas membuat tenggorokan tidak terlalu kering. Tak sampai satu menit, suara langkah Reihan kembali terdengar. “Alya, saya cuma ada kaos dan celana training,” ujar Reihan sambil memberikan pakaian itu. “Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan.” Tanpa banyak basa basi, Alya menerimanya. “Saya pinjam toilet sebentar ya, Pak.” Alya mencoba berdiri, tapi lututnya langsung goyah. Ia buru-buru memegang sandaran sofa, napasnya pendek. Reihan refleks maju, tangannya menahan lengan Alya sebelum gadis itu sempat jatuh, lalu berkata singkat, “Saya bantu.” Alya mengangguk pelan. Saat ini, ia seolah telah melupakan status mahasiswa dan dosen itu karena kondisi tubuhnya. Jika tidak, sudah pasti ia tidak akan berani seperti ini dengan dosennya. Mereka berjalan perlahan menuju toilet. Tangan Reihan masih terus menahan bahu Alya, seolah memberi topangan pada tubuhnya yang lemas. Di depan pintu, Reihan berhenti. “Kalau mau bersihkan badan, di dalam ada air hangat. Kalau pusing atau butuh bantuan, panggil saya,” katanya, suaranya tetap tenang meski jelas masih menahan cemas. Alya memeluk pakaian ganti itu erat-erat. “Iya, Pak… terima kasih.” Reihan mengangguk sedikit, lalu mendorong pintu toilet terbuka untuknya. Di dalam, Alya menatap cermin sambil melepas bajunya perlahan. Tubuhnya penuh memar, rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya masih kosong menahan shock. Alya menghela napas pasrah, lalu mulai membersihkan tubuh seadanya. Begitu selesai, ia langsung memakai pakaian yang diberikan oleh sang dosen. Pakaian itu menggantung longgar di tubuhnya, tapi justru membuatnya merasa sedikit terlindungi, ketimbang bajunya sebelumnya yang telah robek. Sejenak Alya merasa bersyukur karena ia masih selamat dari kejadian itu. Meskipun rasanya sulit dipercaya karena yang menolongnya justru dosen yang terkenal dingin, berwibawa, dan menjaga jarak interaksi dengan semua mahasiswanya. Setelah selesai, Alya melangkah keluar dari toilet dengan napas yang masih berat. Namun baru satu langkah, ia langsung terhenti kaku. Beberapa warga berdiri memenuhi ruang tamu, wajah-wajah mereka penuh kecurigaan. Pembicaraan langsung mengarah padanya, menusuk tanpa ampun. “Nah itu, perempuannya bahkan sudah pakai bajunya Pak Reihan. Kalau sudah begini, mau alasan apa lagi, Pak?” seru seorang pria, alisnya terangkat sinis saat melihat Alya yang mengenakan kaos kebesaran milik Reihan. “Sudahlah, Pak. Banyak warga lihat bapak gendong perempuan itu masuk rumah tengah malam,” timpal yang lain. “Bapak ini dosen, apa nggak malu?” “Pak Reihan, lebih baik terima saja konsekuensinya,” suara yang paling lantang itu akhirnya keluar dari pria berperut buncit yang berdiri di tengah kerumunan. Pak RT. Wajahnya tegang, nada bicara menggurui. “Kalian harus dinikahkan. Kalau tidak, nama komplek ini yang tercemar.” Reihan menghela napas panjang, tapi belum sempat bicara, Alya langsung menegakkan tubuhnya dan berjalan sedikit terseok ke arah ruang tamu meski lututnya masih lemah. “Tidak!” suaranya pecah, namun tegas. Semua kepala langsung menoleh padanya. “Sa–saya dan Pak Reihan tidak berbuat mesum!” bantah Alya lagi, kedua tangannya meremas ujung kaos kebesaran yang ia pakai. “Saya habis dibegal dan hampir dilecehkan, lalu … Pak Reihan menolong saya …” Namun, tatapan warga itu sama sekali tak menunjukkan rasa percaya. “Kalau memang dibegal, harusnya dibawa ke rumah sakit atau kantor polisi. Bukan malah ke rumah laki-laki yang bukan siapa-siapanya,” sahut ibu-ibu berkerudung ungu, matanya menatap Alya tajam dari atas ke bawah. Seorang lelaki tua yang sedari tadi menatap kaos kebesaran di tubuh Alya dan kemeja sobeknya yang tergeletak di sofa menggeleng pelan. “Beginilah jadinya kalau sudah malam-malam bawa perempuan, lalu perempuan itu pakai baju Bapak. Orang mau percaya dari mana?” Pak RT mengangkat tangan, menyuruh semua diam. “Pokoknya sudah jelas. Untuk menjaga nama baik komplek ini, kalian harus dinikahkan. Tidak ada opsi lain.” Alya membeku. Napasnya terputus-putus, tubuhnya sempat goyah. “Pa—Pak… itu nggak benar…” bisiknya, hampir menangis. Reihan akhirnya berdiri lebih dekat, memberi jarak antara Alya dan kerumunan. “Kita nggak bisa menang lawan mereka, Alya,” ujar Reihan dengan suaranya rendah. “Semakin kita bantah, semakin mereka yakin kita menyembunyikan sesuatu. Warga sini memang keras.” Alya menggeleng kecil, napasnya patah, “Tapi… Pak… kita nggak…” “Saya paham, tapi sekarang kita gak bisa berbuat apa-apa,” sahut Reihan lagi, tapannya tampak serius ke arah Alya. “Alya… untuk sekarang, kita ikuti dulu kemauan warga. Nggak apa-apa ya?” Alya terpaku. “Maksudnya… kita harus… menikah?” Reihan menarik napas panjang, lalu akhirnya menjawab dengan tegas, “Ya. Itu satu-satunya cara biar keadaan nggak makin kacau.”Namun kini, saat kami kembali berdiri bersama, aku justru menjadi orang yang patut dia sanjung.Rama juga tidak menyangka bahwa orang yang akan bertemu dengannya adalah aku.Dia memandangiku dengan linglung, agak kehilangan kendali. "Wulan, aku pikir kamu nggak akan pernah mau menemuiku lagi ....""Apakah dokumen game baru kalian sudah siap?" Aku tidak menanggapi ucapannya.Rama mengangguk, "Sudah."Sepanjang jalan, dia terus mencari bahan obrolan, "Game baru dari Perusahaan Mandala Surya itu kamu yang buat, ya? Kamu ... lebih hebat dari yang kubayangkan!"Game baru yang aku kembangkan itu memang sukses besar di pasar, hingga semua orang di industri game mengetahuinya."Terima kasih atas pujiannya. Kita nggak sedekat itu. Sebaiknya Anda panggil saya Bu Wulan, Pak Rama."Aku pun tidak menyangka, saat bertemu dengannya lagi, hatiku bisa sedemikian tenang.Rama tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya dia menahannya, lalu mengajakku masuk ke dalam studio.Sinta juga bekerja di stu
Hanya saja, saat malam tiba dan dunia sunyi, kenangan masa lalu kadang terlintas. Saat itu, tidak bisa dipungkiri perasaan campur aduk pun muncul.Aku tidak ingin masalah yang sudah usang itu terus memengaruhi suasana hatiku. Aku bekerja lebih keras, nyaris tinggal di kantor.Ketua tim baru di kelompok kami bercanda, "Kak Wulan, jangan terlalu ambisius, ya. Kasihan rambutmu nanti!"Ketua tim itu bernama Candra Lukito, lima tahun lebih muda dariku, wajahnya tampan dan tubuhnya tinggi. Rekan-rekan kerja mengatakan bahwa dia punya koneksi keluarga, makanya bisa langsung menduduki posisi ini.Namun, tiga bulan setelah dia datang, tidak ada lagi yang membahas soal itu.Candra punya kepribadian yang baik, murah hati, sering mentraktir kami makan dan minum, dan memang punya kemampuan yang luar biasa....."Kak Wulan, malam ini kita jalan-jalan, yuk!"Bahuku tiba-tiba ditepuk, aku kaget setengah mati. Tanpa menoleh pun aku tahu itu pasti Candra.Dia memang baik dalam banyak hal, tetapi sifatny
Rama: "Ayo kita bicara.""Nggak ada yang perlu dibicarakan, kita sudah putus."Aku menghapus WhatsApp-nya dan memblokir nomor teleponnya.Setelah mengantar ayahku pulang, aku langsung demam tinggi. Namun, aku tidak berani menunda pekerjaan, tetap menggunakan plester penurun panas dan bertahan di kantor.Saat pulang kerja, aku dihadang di jalan oleh Rama.Entah sudah berapa banyak rokok yang dia isap, tubuhnya penuh dengan bau rokok, tampak agak terpuruk, berbeda dengan biasanya."Maaf, Wulan, aku nggak tahu ibumu meninggal, dan aku juga nggak tahu seminggu yang lalu itu ulang tahunmu.""Aku nggak menikahimu bukan karena aku menyukai orang lain, tapi karena orang tuaku nggak bahagia dalam pernikahan, aku agak takut dengan pernikahan. Kalau kamu mau, kita bisa menikah sekarang juga."Rama mengeluarkan sekuntum mawar merah dan memberikannya padaku.Rasanya agak sedih juga, setelah bertahun-tahun berpacaran, ini pertama kalinya aku menerima bunga darinya ... dan itu terjadi setelah kami pu
Aku menatapnya dengan acuh tak acuh, lalu berbalik masuk ke kamar.Begitu pintu balkon tertutup, suara hujan yang deras terhalang di luar, seolah-olah semua angin dan hujan sudah berakhir.Di atas tempat tidur, ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari Rama.Setelah bertahun-tahun, ini pertama kalinya dia meneleponku terlebih dahulu setelah kami bertengkar.Dulu saya kira, jika suatu hari Rama mau merendahkan diri dan membujukku, pasti aku akan senang. Tidak peduli kesalahan apa yang dia buat, aku pasti bisa memaafkannya.Namun, saat ini yang kurasakan hanyalah kebingungan.Rasanya seperti mengunyah daun sirih pahit, rasa pahit itu perlahan meresap hingga ke seluruh tubuh.Entah kenapa, aku teringat masa lalu.....Beberapa belas tahun yang lalu, ibu Rama, Helen Sumardi, datang berlibur ke desa kecil kami di pegunungan.Saat itu musim banjir, aliran sungai yang kecil berubah menjadi arus deras hanya dalam beberapa detik. Dia tidak sempat menghindar, dan tersapu banjir.Ayahku kebetul
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews