로그인22“Jadi ini wanita yang sudah membuat Naufal masuk rumah sakit?”Suara dingin itu membuat tubuh Nayla menegang. Air matanya belum sempat kering ketika pria itu melangkah mendekat dengan tatapan tajam.“Dimas, sudah cukup,” potong Rianti dengan nada tegas.Namun pria bernama Dimas itu sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap tertuju pada Nayla, seolah sedang menghakimi.“Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan pada adik saya?” lanjutnya dingin.“Naufal itu punya riwayat alergi serius. Sedikit saja pemicu, bisa berakibat fatal.”Nayla menunduk dalam. Bahunya bergetar, seiring dengan isak tangisnya.“Maaf, saya … saya tidak tahu kalau keadaannya bisa separah ini,” suaranya nyaris tak terdengar.“Tidak tahu?” Dimas terkekeh sinis. “Alasan klasik.”Air mata Nayla jatuh lagi. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah sudah menghimpitnya sejak tadi, dan ucapan Dimas seperti menambah beban itu berkali-kali lipat.“Sudah dong, Dimas!” kali ini suara Rianti meninggi. “Kamu tidak lihat dia
“Akh!” Nayla memekik kecil ketika tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang memeluk perut rampingnya dari belakang. Tubuhnya langsung menegang. “Lepaskan aku!" Refleks ia meronta dan melepaskan diri dari pelukan itu. Dengan cepat Nayla berbalik sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan, sementara satu pahanya sedikit menutup area kewanitaannya yang nyaris terekspos. Namun, seketika matanya membelalak saat melihat sosok yang kini sedang berdiri di hadapannya, dan hanya berdua dengannya di dalam kamar. “Dokter Naufal?” Tepat di depannya, pria itu berdiri dengan santai. Bahkan, Naufal sedang tersenyum smirk. Tatapannya turun naik menelusuri tubuh Nayla yang hanya mengenakan bra dan celana dalam. Sorot matanya terlihat semakin panas, bahkan nyaris mesum. Menyadari tatapan mata Naufal yang nakal, wajah Nayla langsung memerah. Ia berlari cepat ke arah tempat tidur dan menyambar selimut secepat kilat untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang. “Apa yang Dokter l
20 Degh! Detak jantung Nayla terasa seperti berhenti seketika. Ia bahkan belum sempat bereaksi ketika Naufal tiba-tiba menarik wajahnya lebih dekat. Tanpa peringatan, pria itu langsung mencium bibirnya begitu saja. Cup! Mata Nayla membelalak. Bibir Naufal menekan bibirnya dengan tegas, seolah semua kesabaran pria itu akhirnya runtuh. Ciuman itu tidak kasar, tapi jelas penuh hasrat yang sejak tadi ia tahan. Selama beberapa detik Nayla membeku. Tubuhnya kaku. Ia bisa merasakan napas hangat Naufal bercampur dengan napasnya sendiri. Jantungnya berdetak sangat kencang sekarang. Degh. Degh. Degh. Ciuman itu berlangsung selama beberapa detik. Naufal melumat bibir Nayla dengan panas. Namun kesadaran Nayla pun tiba-tiba kembali. Dengan cepat, Nayla mendorong dada pria itu. “Cukup!” Ia menarik diri dengan wajah merah padam. “Maaf … saya harus masuk.” Tanpa menunggu jawaban, Nayla segera membuka pintu mobil dan turun dengan tergesa-gesa. Udara malam terasa dingin di ku
“Apa, Nyonya?" Nayla terkejut mendengar perkataan Rianti yang lebih seperti perintah. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya diantar pulang oleh Naufal, apa kira-kira yang akan dilakukan oleh dokter mesum itu padanya. Nayla bergidik ngeri. Pikirannya sudah kemana-mana. Naufal pasti akan melakukan hal yang lebih mesum dari tadi, apalagi jika mereka hanya berdua. "Iya, Nay. Agar Naufal bisa menjamin keamanan kamu. Saya juga tidak bisa membiarkan kamu pulang sendiri, apalagi dalam keadaan kamu yang sedang sakit seperti sekarang. Bahaya buat kamu, Sayang.” Rianti mengusap kepala Nayla dengan penuh kasih sayang. Nayla terdiam. Sebenarnya ia ingin menolak. Gadis itu sudah berdiri di dekat pintu dengan membawa tasnya, berharap bisa segera pergi dari rumah besar itu tanpa harus berurusan lagi dengan Dokter Naufal. “Tidak perlu repot, Nyonya. Saya bisa naik motor sendiri kok,” ujar Nayla sopan. Namun Rianti langsung memotong dengan tegas. “Tidak!” Kata-kata Rianti membuat Nayla
"Apa? Jangan macam-macam ya!" Mata Nayla melebar mendengar kata-kata Naufal. Ia beringsut mundur, tetapi gerakan pria itu jauh lebih cepat daripada tubuhnya. Dengan brutalnya, Naufal mengangkat baju Nayla dan ia keluarkan kedua payudara gadis itu dari dalam bra. “Ohh, besar sekali.” "Dokter, lepas! Ohh!” tubuh Nayla meremang. Tubuhnya menggeliat, seperti digelitik saat payudaranya diremas oleh Naufal. Ia serasa terbang dalam kenikmatan. Tanpa meminta izin lebih dulu pada Nayla, tiba-tiba Naufal membuka kedua kaki gadis itu dengan cepat. Nayla berontak dan nyaris berteriak, tetapi Dokter Naufal lebih sigap menyambar bibirnya. Ia lumat bibir Nayla dan saling membelitkan lidah. “Dok, lepasss! Ahhh!" Nayla berusaha memukuli tubuh Naufal, tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk menggeser tubuh perkasa Naufal yang sedang menindihnya. “Aku akan membuat kamu merasakan apa itu kenikmatan, yang selama ini tidak pernah kamu dapatkan dari suami kamu," cecar Naufal yang terus melumat
Tok! Tok! Tok!Suara ketukan di pintu, membuat Nayla dan Naufal tersentak kaget. Mata Naufal sudah mengembun dipenuhi oleh nafsu. Saking bernafsunya, ia bahkan lupa jika saat ini mereka sedang berada di kamar mandi.“Naufal, apa yang terjadi di sana? Apa Nayla baik-baik saja?" Suara Rianti di luar kamar mandi terdengar cemas."Astaga, itu mama!” Naufal panik, ia buru-buru menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nayla.Naufal berdehem keras. Ia cepat-cepat merapikan pakaian serta rambutnya yang berantakan. Kini ia kembali ke setelan awalnya sebagai Naufal Mahendra yang cool, yang biasanya dilihat oleh Nayla.Sama halnya dengan Naufal, Nayla juga panik luar biasa. Rasa sakit di tubuhnya sedikit terlupakan, karena kalah dengan rasa cemasnya.“Ya ampun, bagaimana ini?" Dengan tangan gemetar, Nayla buru-buru membenarkan bra nya dan mengancingkan bajunya yang tadi sudah diobrak abrik oleh Naufal.Naufal melirik gadis itu sekilas. Ia melihat tangan Nayla yang gemetar sedikit kesusahan untuk mengenaka







