Home / Romansa / Jangan Disini, Dok! / 176. Akhirnya Pulang

Share

176. Akhirnya Pulang

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-06-15 22:43:55

Jessica masih duduk di kursinya dengan kedua tangan terborgol. Wajahnya terlihat berantakan, tetapi senyum sinis itu masih belum hilang dari bibirnya.

Naufal berdiri tepat di depannya. Tatapannya dingin dan tajam. Ia menatap Jessica penuh amarah dan kebencian.

"Katakan siapa yang sudah membantumu!" bentaknya.

Jessica tertawa pelan. "Aku sudah bilang, kan? Aku nggak bekerja sendirian."

"Siapa orang itu?" desak Naufal lagi.

"Kenapa? Kamu penasaran?" balas Jessica yang hanya tersenyum. “Atau kamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Disini, Dok!   432. Menemukan Sesuatu

    “Astaga! Naufal!”Nayla langsung berlari menghampiri suaminya begitu melihat jari Naufal berdarah dan pisau tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, dia meraih tangan Naufal, lalu mengisap darah yang keluar dari luka di jarinya.“Aduh, Sayang!” Naufal meringis kesakitan. “Pelan-pelan. Itu jariku, bukan permen!”Nayla segera menjauhkan wajahnya, kemudian menatap Naufal dengan mata membulat. “Kamu masih sempat bercanda? Lihat, tangan kamu berdarah begini!”“Cuma kegores sedikit, kok. Nggak perlu panik begitu.”“Sedikit apanya? Darahnya sampai keluar begitu!”Naufal mengangkat tangannya, memperhatikan luka kecil di jari telunjuknya. “Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir.”“Mulai sekarang, kamu nggak boleh masak lagi!”Naufal langsung menoleh. “Lho, kenapa?”“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?” Nayla menunjuk jari suaminya. “Tadi di rumah sakit kamu sampai pingsan, sekarang malah melukai diri sendiri saat memasak. Kalau begini terus, aku bisa gila karena khawatir!”“Ak

  • Jangan Disini, Dok!   431. Perasaan Gelisah

    Adrian mengatupkan rahang begitu mendapat peringatan dari Naufal. Dia benar-benar ingin menjewer telinga sahabatnya itu, tetapi tentu saja tidak mungkin melakukannya di depan Nayla.Akhirnya, pria itu hanya bisa menarik napas panjang.“Baiklah. Kamu boleh pulang, tetapi dengan beberapa syarat.”Naufal langsung tersenyum puas mendengar itu. “Apa saja syaratnya?”“Kamu harus beristirahat. Jangan bekerja, jangan melakukan aktivitas berat, dan jangan mengabaikan keluhan sekecil apa pun. Kalau kamu merasa pusing, nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar tidak biasa, atau merasa akan pingsan lagi, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu sampai keadaanmu memburuk!” tegas Adrian dengan nada sungguh-sungguh.“Siap, Dokter." Naufal mengangguk dengan tertawa kecil.“Dan pemeriksaan lanjutan tetap harus dilakukan. Secepatnya. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu.”“Iya, Dokter Adrian yang terhormat.”“Jangan menyindirku!”"Astaga!” Reza menghela napas. “Aku akan memastikan dia t

  • Jangan Disini, Dok!   430. Kenapa Tak Diizinkan Pulang?

    “Aku mau pulang.”Naufal mengucapkan kalimat itu begitu Adrian selesai memeriksa hasil pemeriksaan awalnya. Dokter spesialis jantung tersebut langsung mengernyit, sementara Reza yang berdiri di dekat ranjang hanya mengembuskan napas panjang.“Pulang ke mana? Kamu masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan, Fal,” tegas Adrian.“Aku sudah merasa lebih baik. Kepalaku juga nggak pusing lagi. Jadi, buat apa aku terus berada di rumah sakit?” Naufal angkat bahunya.“Karena kamu tadi pingsan, Naufal!” Adrian menatapnya tajam. “Kamu pikir kejadian seperti itu bisa dianggap sepele hanya karena sekarang kamu merasa baik-baik saja?”Naufal menyandarkan punggungnya ke ranjang. “Aku nggak bilang kejadian tadi sepele. Aku cuma bilang ingin pulang.”“Dan aku bilang kamu belum boleh pulang.”“Adrian.”“Naufal.”Keduanya saling menatap dengan ekspresi tidak mau mengalah. Reza yang menyaksikan perdebatan itu akhirnya mengusap wajahnya sendiri. Dia sudah mengenal Naufal selama bertahun-tahun. Kalau sahab

  • Jangan Disini, Dok!   429. Apa yang Dia Sembunyikan?

    Nayla masih memeluk Naufal ketika seorang perawat datang menghampiri mereka.“Bu Nayla, Dokter Lusi sudah datang. Beliau bisa memeriksa kandungan Ibu sekarang.”Nayla segera mengangkat kepala. “Benarkah?" Dia sempat melirik Naufal, lalu mengusap pipinya yang masih basah oleh air mata.“Oh, iya. Aku harus periksa kandungan lagi ke dokter Lusi, Na. Tadi kamu keburu pingsan sebelum selesai memeriksaku.”Naufal mengangguk dan tersenyum kecil. “Iya, Sayang. Sana, periksa dulu. Pastikan anak kita baik-baik saja ya." “Kamu sendiri juga harus diperiksa sampai benar-benar sembuh. Jangan malah menyuruh aku terus.” Nayla memasang wajah cemberut.“Iya, Bu Dokter.”“Jangan bercanda terus!” Nayla mencubit pelan lengan suaminya. Naufal tertawa kecil. “Iya, iya. Aku serius, kok.”Nayla kembali tersenyum saat menatap sang suami. Sepertinya masalah kecil mereka beberapa saat lalu, sudah mulai memudar karena kejadian Naufal yang barusan pingsan.Wanita itu beranjak hendak keluar ruangan. Namun sebelu

  • Jangan Disini, Dok!   428. Kondisi Naufal

    “Ke ... kenapa harus panggil dokter jantung? Apa yang terjadi sama Naufal?” tanya Nayla cemas. Pikirannya sudah kemana-mana.Dokter yang menangani Naufal belum sempat menjawab ketika dari arah lorong IGD terdengar suara seseorang.“Naufal?”Nayla spontan menoleh. Seorang pria dengan jas dokter berjalan mendekat. Begitu melihat kondisi di dalam ruangan, langkahnya terhenti.“Dokter Reza?” panggil Nayla lirih.Reza langsung mendekati ranjang tempat Naufal berbaring saat ini. Wajahnya berubah serius saat melihat Naufal terbaring tidak sadarkan diri dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.“Apa yang terjadi pada Naufal?” tanyanya, suaranya tegas dan tinggi penuh rasa khawatir.“Dokter Naufal tiba-tiba pingsan saat sedang memeriksa Bu Nayla, Dok,” jawab salah satu perawat.Reza terdiam, lalu segera memeriksa kondisi sahabatnya sebelum dokter spesialis jantung datang ke ruangan.Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, dia terbiasa menangani berbagai kondisi akut dan tahu pemeriksaan apa

  • Jangan Disini, Dok!   427. Naufal Kenapa?

    Naufal masih menatap Nayla dengan wajah tidak percaya. Ide menggabungkan dua pernikahan sekaligus menurutnya terlalu berlebihan, apalagi Nayla sedang hamil.“Sayang, kamu serius mau ngurus dua pernikahan sekaligus?” tanya Naufal."Iya." Nayla mengangguk mantap. “Kenapa? Kan lebih praktis. Satu tempat, satu dekorasi, satu katering. Bisa sekalian.”“Praktis dari mana?” Naufal menghela napas. “Kamu itu sedang hamil, bukan sedang punya tenaga ekstra. Mengurus satu pernikahan saja bisa bikin capek. Ini malah dua.”“Aku cuma mau bantu.”“Aku tahu. Tapi kamu nggak perlu ikut mengurus semuanya.”Nayla langsung cemberut. “Huft! Ya sudah.”Dia menarik selimut, lalu membaringkan tubuhnya dan sengaja memunggungi Naufal. Naufal terdiam sesaat.“Nayla Sayang?”Tidak ada jawaban.“Sayang? Aku bukan melarang kamu membantu. Aku cuma nggak mau kamu kecapekan.”Masih tidak ada respons dari sang istri.Naufal menghela napas pelan. Dia tahu istrinya sedang hamil dan emosinya belakangan memang jauh lebih s

  • Jangan Disini, Dok!   2. Menggodamu Malam Ini

    “A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga

  • Jangan Disini, Dok!   1. Ah, Sakit, Dok!

    "Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b

  • Jangan Disini, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Disini, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status