Share

Bab 7

Author: Anggun_sari
last update publish date: 2025-11-26 19:24:05

“Ah…Sayang, perutku….”

Nara mengulum senyum seiring dengan perginya Saras. Misinya benar-benar berhasil, padahal dia hanya memberikan dosis kecil pada makanan wanita itu.

“Bisa tolong temani Saras?” pinta Giorgio pada teman Saras.

Teman saras mengangguk. Ia segera pergi menyusul Saras yang berlari mencari toilet.

“Kamu yang melakukannya?” tuduh Giorgio pada Nara saat tak ada siapapun di sekitar kita.

“Melakukan? Melakukan apa?” sahut Nara bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa.

Giorgio menghela napas panjang. “Meletakkan obat pencahar itu, kamu yang melakukannya kan.”

“Jangan asal menuduh. Siapa tahu kekasihmu itu memang tidak bisa makan makanan seperti ini,” sahut Nara masih tidak ingin mengaku. Biar saja. Salah sendiri siapa suruh mengajaknya makan padahal dia sudah memberikan kode yang jelas-jelas menolak.

“Nara maheswara!”

“Sayang, maaf ya perutku tiba-tiba saja sakit. Aku rasa sushinya bermasalah,” kata Saras yang tiba-tiba muncul bertepatan dengan Giorgio yang meninggikan suaranya.

“Kamu sedang memarahi sepupumu?” tanya Saras pura-pura peduli. “Jangan terlalu keras padanya, Sayang. Bukankah dia datang kesini ingin ditemani untuk belanja, jadi bersikaplah sedikit lunak padanya,” sambung Saras seolah-olah begitu peduli pada Nara.

Nara hanya tersenyum miring. Tipe-tipe wanita seperti Saras, dia sudah sangat hafal. Dan dia tidak akan dengan mudahnya tertipu dengan kebaikan yang manipulatif seperti itu.

“Ah….” Saras kembali merintih, dia memegangi perutnya berusaha untuk tidak ke belakang lagi.

“Mau kebelakang lagi?” tanya Giorgio saat Saras kembali memegangi perutnya.

Saras berusaha tersenyum meski perutnya melilit. Kali ini dia tidak akan kalah dengan rasa sakit yang dirasakannya.

“Tidak Sayang, aku baik-baik saja,” kata Saras.

“Kamu yakin?” tanya Giorgio sedikit khawatir. Keringat di wajah Saras semakin deras menetes.

Saras terus memaksakan senyumnya. “Iya Sayang.”

Perut Saras semakin melilit. Senyum yang tadi mengembang kini berganti kerutan. Keringatnya semakin banyak, wajahnya juga terlihat pucat.

“Sayang aku….”

Suara kentut terdengar begitu nyaring. Saras langsung pergi ke toilet dengan menahan rasa malunya. Banyak orang yang memperhatikannya tadi.

“Nara, kali ini kamu benar-benar keterlaluan!” sungut Giorgio. Wajahnya mengeras, tak seperti tadi.

“Keterlaluan?” ulang Nara menantang. “Aku bahkan tidak melakukan apa-apa!” sambung Nara dengan nada yang mulai naik satu oktaf.

Giorgio memijit pelipisnya. Matanya menatap lurus Nara yang terlihat tenang dan tidak terganggu sedikitpun.

“Apa? Masih tidak percaya padaku?” seru Nara saat Giorgio terus menatapnya.

“Ayolah Nara, bersikap dewasalah sedikit. Katakan iya dan aku tidak akan marah,” balas Giorgio tak tahu harus bicara seperti apa terhadap Nara.

Nara menyunggingkan senyumnya. “Bersikap dewasa?” Nara menirukan ucapan Giorgio. Bukankah aku yang harusnya mengatakan itu padamu,” sambung Nara.

Kening Giorgio mengkerut, menatap Nara dengan tatapan tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Kamu sengajakan menerima tawaran kekasihmu itu untuk makan bersama hanya untuk membuatku kesal.”

“Kamu tahu, sikapmu ini sungguh kekanak-kanakan.”

Suara Nara berubah rendah, namun penuh penekanan. Matanya menatap tanpa takut mata Giorgio yang juga tengah menatapnya.

“Aku tahu kamu sangat membenciku, tapi menyeretku untuk melihat kemesraan kalian itu sungguh keterlaluan!” omel Nara.

Mulut wanita itu tak bisa diam. Dia terus saja mengomel meski Giorgio tak lagi menanggapinya. Pria itu memilih diam dan mendengarkan semua perkataan yang ingin dikatakan oleh Nara.

“Aku kemari bukan untuk itu jika kamu lupa!” tegas Nara.

“Kita datang kesini untuk mencari cincin pernikahan.”

Giorgio menarik napasnya dalam-dalam sebelum berbicara. “Aku tahu itu, tapi aku tidak tahu jika kita akan bertemu dengan kekasihku,” balas Giorgio.

Sudut bibir Nara tertarik ke atas. “Karena tidak tahu lantas kamu menuruti semuanya. Apa yang dia mau dan mengorbankan apa yang seharusnya kita lakukan.”

“Aku hanya membalas kekasihmu dengan memberinya obat pencahar, aku rasa itu cukup setimpal. Jadi….”

Byuurrr….

Cairan cokelat turun membasahi wajah Nara. di sampingnya Saras berdiri dengan wajah merah padam, sementara Giorgio hanya diam menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan. Sepertinya wanita itu mendengar apa yang mereka bicarakan jika melihat dari wajah marah Saras.

“Aku sangat membencimu, Giorgio Aditama!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 51

    Nara membuka matanya yang masih terasa berat. Tubuhnya remuk redam akibat ulah Giorgio semalam. Pria itu terus menginginkannya dan tak ingin berhenti. Jika tidak memiliki pekerjaan yang menumpuk tentu dia lebih memilih tidur ketimbang bangun.“Apa dia sudah berangkat?” gumam Nara saat mendapati kasur sebelahnya kosong.“Hist…dasar pria menyebalkan. Habis manis sepah dibuang!” omel Nara.“Akhh….” Nara merintih bagian sensitifnya terasa perih dan sakit bersamaan. Kakinya bahkan terasa lemas seolah tak memiliki tulang.Nara yang terduduk di lantai hanya bisa menghela napas berat, tidak ada yang bisa menolongnya. Suaminya bahkan meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan, entah kemana perginya. “Kenapa nasibku begitu menyedihkan sekali,” gerutu Nara.Tepat saat Nara berusaha bangkit, pintu kamar terbuka. Giorgio berdiri di sana dengan wajah terkejut. “Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa ada di bawah?” cecar Giorgio khawatir.“Aku ingin ke kamar mandi, tapi aku justru terjatuh,” jawab

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 50

    Nara menelan ludahnya susah payah. Kakinya mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menghindari Giorgio yang tampak serius dengan ucapannya.“Gio, bagaimana kalau kita bicara tentang ini,” kata Nara mencoba mengalihkan keinginan Giorgio.Giorgio tersenyum tipis. Langkah kakinya terus maju mendekati Nara. Matanya mengunci pergerakan sang istri. Dia tahu jika Nara gelisah dan takut, namun nafsunya mengalahkan segalanya.“Aku sudah menunggu lama untuk ini Nara, dan malam ini aku tidak akan menundanya,” balas Giorgio.Nyali Nara semakin mengkerut, kakinya tak lagi bisa melangkah ke belakang. “Gi–Gio…aku….”“Aku apa Nara?” potong Giorgio.Giorgio menarik pinggang Nara, membawa wanita itu ke dalam dekapannya. “Kamu terlalu menggoda Nara,” kata Giorgio dengan suara seraknya.Nara menggigit bibirnya. Jantungnya berdetak semakin cepat hanya karena hembusan napas Giorgio yang menerpa kulit wajahnya. “Gio, ingatlah, ada Saras yang menunggumu,” ucap Nara yang masih berusaha untuk menggagalkan

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 49

    Giorgio tersenyum miring. “Menurutmu apa yang bisa aku lakukan Nara?”“Gi–gio, berhenti sampai di situ Gio,” perintah Nara tergagap. Langkahnya semakin sempit, punggungnya hampir membentur tembok.“Kenapa Nara, bukankah kita ini suami istri?” sahut GIorgio. Langkahnya semakin mendekat. Matanya menatap lurus Nara, seolah mengunci wanita itu.Nara menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya meremang, takut jika GIorgio melakukan hal yang aneh-aneh. “Gi–Gio, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh.” Nara masih mencoba membujuk Giorgio agar pria itu tidak berbuat hal di luar keinginannya.Giorgio tersenyum miring. “Aneh-aneh?” Giorgio semakin mendekat. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci tubuh Nara agar wanita itu tidak bisa pergi kemanapun. Senyum miring tercetak jelas di wajah Giorgio, membuat Nara semakin bergidik ngeri.“Gio ingat, ada kekasihmu yang menunggumu untuk menikahinya,” kata Nara. Ia tak tahu lagi harus berkata apa untuk menghentikan aksi Gio

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 48

    “Pak Gio….” Moana menatap tak berkedip Giorgio yang baru saja keluar dari ruangannya. Aura pria itu terlihat dingin dan mematikan.“Nara akan lembur bersamaku membahas kerja sama dengan klien baru . jadi batalkan janji yang sudah kalian sepakati.”“Bukan begitu Nara,” tambah Giorgio memberikan tekanan pada setiap kalimat yang diucapkannya.Nara hanya bisa menghela napas beratnya. Meski tidak suka dengan keputusan sepihak Gio, ia tak bisa berbuat apa-apa. Komentarnya ataupun pendapatnya tidak akan berarti jika sudah disangkutkan dengan pekerjaan.“Be–benar,” jawab Nara.Wajah Revan tampak murung. Namun pria itu tetap berusaha untuk tersenyum di depan Nara. “baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama,” kata Revan tetap tidak ingin menyerah.Revan dan Moana langsung pergi usai Giorgio datang. Di meja kerja Nara hanya tinggal dirinya dan Giorgio, Nara menatap malas pria yang masih betah berdiri di depannya dengan wajah tanpa dosanya itu.“Apa?” ucap Giorgio saat Nara

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 47.

    Nara mengucek matanya. Tidurnya terasa nyenyak tak sama seperti biasanya. Nyawanya yang belum sepenuhnya sadar masih tidak menyadari jika ia tidur dengan posisi memeluk erat tubuh Giorgio. Baru beberapa detik kemudian wanita itu tersadar bahwa ia tengah tertidur dengan posisi memeluk tubuh Giorgio.Merasa malu dengan apa yang dilakukannya, Nara memilih menarik tangannya perlahan. Bibirnya bergumam pelan. “Kamu sungguh memalukan Nara.”Belum benar-benar memindahkan tangannya, Giorgio terbangun dengan suara serak khas orang bangun tidur. Bibirnya tersenyum tipis, menggoda Nara yang tampak malu-malu.“Selamat pagi istriku. Kemarin pasti tidurmu sangat nyenyak,” ucap Giorgio.Nara berdehem. Tangannya langsung ia tarik begitu saja. Tubuhnya juga bergeser beberapa centi dari tubuh GIorgio. “Aku mandi dulu. Kamu bisa mandi setelah aku selesai,” balas Nara mengalihkan pembicaraan.Nara langsung turun dari tempat tidur. Ia begitu malu sampai tak berani menatap Giorgio. Langkahnya yang terburu

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 46

    “Ce–cemburu, siapa bilang?! Aku tidak cemburu ya. Hanya melihatmu keluar dari cafe tidak berpengaruh apapun untukku,” balas Nara sedikit tergagap.Giorgio mengulum senyumnya. Kakinya melangkah dua langkah lebih mendekat kepada Nara, matanya menatap intens istrinya yang tampak kikuk di depannya.“Jadi hari ini kamu melihatku keluar dari cafe bersama Saras dan kamu merajuk. Benar seperti itu?” tanya Giorgio dengan nada sedikit menggoda.Nara memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan Giorgio yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar kencang.“Ti–tidak! Jangan samakan aku denganmu. Aku sama sekali tidak merajuk. Aku hanya ingin lebih menikmati hidupku mulai sekarang. Jika kamu bisa berbuat sesukamu tanpa melaporkan apapun kepadaku, maka aku akan melakukan hal yang sama!” jawab Nara, nadanya kembali terdengar berapi-api.Giorgio mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya semakin merekah melihat sikap Nara yang terlihat mengemaskan. Wanita itu tampak cemburu namun tidak mau menga

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 45

    Nara terus memegangi bibirnya. Usai kejadian kemarin malam, hubungannya dengan Giorgio seolah menjadi kaku. Nara terus menghindari tatapan pria itu. Baginya apa yang terjadi semalam adalah sebuah kesalahan. Entah bagaimana awalnya hingga ia masuk dan terbawa arus. Ia bahkan melenguh hanya karena ci

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 43

    Revan benar-benar mengantarkan Nara pulang usai mereka makan malam. Nara turun di halaman rumahnya tanpa menyuruh Revan untuk mampir. Ia tidak ingin mencari perkara hanya karena ketahuan diantar pulang oleh laki-laki lain.“Terima kasih ya,” ucap Nara sambil melambaikan tangannya. Nara tak langsung

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 44.

    “Ahh…ini enak sekali Nara.”“Terus Nara, jangan berhenti.”“Aahh….”“Aku tidak menyangka jika kamu sangat pintar.”Giorgio terus meracau, ia sama sekali tidak menyangka jika Nara begitu pintar tentang urusan pijat memijat.“Lebih kuat lagi Nara,” perintah Giorgio.“Eugghh…ya di situ Nara.”Nara men

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 42

    Nara menahan napsnya. Posisi Giorgio yang begitu dekat seolah tak berjarak membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Hembusan napas pria yang telah menjadi suaminya itu membuat pipinya memanas. Entah semerah apa pipinya sekarang.“Gi–Gio, ingat di luar masih ada kekasihmu. Akan jadi masalah jika dia

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status