Share

Bab 6

Author: Anggun_sari
last update Last Updated: 2025-11-26 18:35:08

Nara mengerutkan keningnya. Dari banyaknya orang, kenapa dia harus bertemu dengan Saras. Matanya melirik ke arah Giorgio, sementara kakinya melangkah lebih mendekat ke arah Giorgio. Dia ingin Saras tahu bahwa Giorgio akan menikah dengannya.

“Kami sedang memilih cincin. Lihatlah. Apa cincin ini cantik?” jawab Nara menyahuti pertanyaan Saras

Giorgio berdehem. “Ah…dia sepupuku. Dan aku sedang mengantarkannya memilih cincin untuk hadiah ulang tahun temannya,” jawab Giorgio dengan begitu santai.

Nara mengangga, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Giorio. Sepupu? Yang benar saja! Dari semua alasan kenapa Giorgio harus menjadikannya sebagai sepupu.

Lalu kenapa juga dia tidak mengaku saja yang sejujurnya? Sebenarnya apa yang dia harapkan dengan berbohong terus seperti ini.

“Sepupu? Benarkah?” sahut Saras seolah tak percaya.

Saras berjalan mendekati Nara. matanya melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menilai wanita itu. Tatapannya sinis, tak ada senyum sedikitpun di sana.

“Cincin pernikahan?” celetuk Saras saat melihat cincin yang tersemat di jari manis Nara.. “Apa kamu ingin menjadikan cincin pernikahan sebagai hadiah ulang tahun temanmu?” imbuhnya menilai secara jeli.

Nara berusaha menarik sudut bibirnya. Meredam emosi yang mulai mencuat dalam hatinya.

“Lebih baik kamu membelikan temanmu yang ini,” kata Saras menunjuk ke sebuah cincin polos tanpa hiasan.

Nara tidak menjawab, ia berjalan mendekat ke arah Giorgio lalu menginjak kaki pria itu. Matanya melirik tajam, memberikan kode pada Giorgio untuk mengusir Saras. Belum satu jam ia bersama wanita itu, rasanya ia sudah muak saja. Bagaimana bisa pria ini tahan dengannya selama ini?”

“Maaf, tapi temanku tidak suka sesuatu yang polos,” jawab Nara menolak saran Saras.

Saras memberengut kesal. Ia menghentakkan kakinya lalu berjalan mendekati Giorgio, bergelayut manja pada lengan pria itu.

“Sayang, aku lapar. Kita makan ya?” ajak Saras dengan suara manjanya.

Nara memutar bola matanya, ingin muntah mendengar suara manja Saras yang dibuat-buat.

“Makan? Bukankah kamu sedang bersama temanmu. Kamu bisa makan bersama mereka dan aku yang akan membayarnya,” sahut Giorgio.

Saras berdecak. Bibirnya mencebik. “Tapi aku ingin makan denganmu. Kita makan bersama ya?” Rayu Saras. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Giorgio. Matanya menatap menantang seolah menunjukkan bahwa Giorgio adalah miliknya.

“Sayang, tidakkah kamu lihat bahwa aku sedang bersama dengan sepupuku,” balas Giorgio.

“Kalau begitu ajak saja dia, beres kan.”

Nara menatap tajam Giorgio, memintanya menolak tawaran Saras. Sungguh, dia tidak bisa jika harus bersama dengan wanita itu.

Namun, bukan Giorgio namanya jika tidak membuat Nara kesal. Pria itu membalas tatapan Nara dengan senyum penuh arti.

“Baiklah. Ayo kita makan bersama,” jawab Giorgio yang langsung membuat mata Nara membulat sempurna.

Wajah Saras yang tadinya ditekuk kesal, seketika tersenyum senang. Ia langsung mengecup pipi Giorgio sebagai ungkapan rasa senangnya. Namun, tidak dengan Nara, wajah wanita itu ditekuk sempurna membuat Giorgio tertawa senang dalam hati.

“Tersenyumlah, mari kita bersenang-senang sebentar saja,” kata Giorgio setengah berbisik saat Saras sudah melepaskan tautannya dan menghampiri temannya.

Nara tidak menjawab. Wajahnya sudah cukup menunjukkan jika wanita itu tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh Giorgio.

Menyimpan dendam di dalam dadanya, Nara tanpa perasaan menginjak kaki Giorgio, kali ini lebih keras dan lebih kuat lagi hingga pria itu mengaduh kesakitan.

Bukan takut, Nara justru menjulurkan lidahnya saat Giorgio menatapnya dengan sengit. Ia merasa sangat puas bisa menyakiti pria itu. Biar saja, lagipula tujuan awal mereka memang untuk mencari cincin pernikahan. Namun, semuanya berubah ketika Saras datang.

Sebenarnya semuanya tidak akan benar-benar berubah jika Giorgio tidak menerima tawaran Saras begitu saja. Pria itu memang selalu ingin mencari keuntungannya sendiri.

“Sayang, ayo!” teriak Saras saat Giorgio tak kunjung datang.

Saras yang tadi sudah berjalan di depan kembali menghampiri Giorgio. Matanya menyipit tajam saat melihat Nara masih ada di sekitar kekasihnya.

“Kenapa lama sekali. Aku sudah sangat lapar, Sayang,” keluh Saras pada Giorgio.

Giorgio hanya tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Saras yang tengah bergelayut manja di lengannya. Dan hal itu sukses membuat Nara menggelengkan kepalanya. Andai saja calon mertua atau mamanya bisa melihat ini semua, sudah pasti dia akan senang sekali. Orang yang dibangga-banggakan ternyata tak lebih dari seorang playboy kampungan.

“Sayang kita makan itu yuk!” Saras menunjuk restoran sushi.

Sebenarnya dia tidak begitu menyukai sushi, namun demi untuk memisahkan dan membuat sepupu Giorgio pergi dengan sendirinya, dia akan melakukan apapun. Termasuk membuat wanita itu bosan.

Pertama-tama dia memang akan mengajak wanita itu makan bersama. Namun, nanti diakhir dia akan mengajak sepupu Giorgio berbelanja dan menjadikannya pembantu yang akan membawa barang belanjaannya.

“Selamat datang,” sapa pelayan restoran yang berjaga di depan dengan ramah.

Saras tersenyum manis, ia melenggang seperti nyonya besar bergandengan dengan Giorgio. Setiap mata menatap ke arah mereka, membuatnya semakin tinggi hati. Inilah yang membuatnya senang jika berjalan bersama Giorgio. Dia akan menjadi pusat perhatian.

“Sayang, kita pesan satu set ini saja ya?” saran Saras menunjuk pada menu yang menampilkan beberapa macam pilihan menu sushi dan juga sabu-sabu.

“Terserah saja,” jawab Giorgio. Matanya tak lepas dari Nara yang sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Kamu tidak apa-apa kan jika aku memesan ini?” tanya Saras pada Nara.

Nara mengalihkan tatapannya dari ponselnya. Ia melemparkan senyum pada saras sambil menjawab, “Terserah. Aku pemakan segalanya kecuali sampah dan kotoran.”

“Kami pesan yang ini saja,” ucap Saras pada pelayan yang berdiri di samping meja mereka.

“Baik, Nona. mohon ditunggu!” jawab sang pelayan yang kemudian pergi.

Saras tersenyum miring. Matanya masih menatap tak suka pada Nara. Wanita itu membuat kesan tak menyenangkan di hatinya.

“Sayang, nanti kita belanja ya. Ada yang ingin aku beli,” ajak Saras.

Nara benar-benar muak. Suara saras yang terus dibuat-buat, membuatnya ingin merobek mulut wanita itu.

Sambil menunggu makanan mereka datang, Nara terus memikirkan cara untuk mengusir perempuan itu. Sebuah ide muncul dibenaknya saat pelayan membawa pesanan yang mereka pesan. Sebuah obat pencuci perut ia taburkan di salah satu makanan yang ada di depannya, diam-diam tanpa ada orang tahu.

“Boleh aku mengambil itu. Aku tidak suka dengan ini,” tanya Nara.

“Bukankah tadi kamu mengatakan bahwa kamu pemakan segalanya. Lalu kena kamu tidak memakan ini,” omel Saras.

Nara tersenyum lebar, tapi mulutnya tidak menjawab apa-apa. Senyum itu seolah menyiratkan banyak arti.

“Ah…Sayang, perutku….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 41

    "Ka–kamu…kenapa kamu ada disini?”Nara terlihat cukup terkejut saat melihat Revan duduk di samping Daniel. Sungguh dunia ini serasa begitu sempit. Akhirnya setelah hidup hampir dua puluh sembilan tahun, dia benar-benar mempercayai istilah dunia tak selebar daun kelor. Revan tersenyum tulus. “Aku mengantarkan temanku. Dia tidak berani pergi sendirian. Katanya dia takut jika nanti suasana menjadi kikuk, oleh karena itu aku dijadikannya tumbal untuk menyegarkan suasana.”Nara tersenyum tipis. Ia segera duduk di depan Revan, sementara Moana duduk di depan Daniel. “Jadi kamu ingin mencari jodoh sekalian,” goda Nara.Moana tersenyum dan hal itu tak luput dari pandangan Daniel. Bagi Daniel, Moana terlihat begitu cantik dan mempesona. Rasanya ia sudah terperangkap pada pesona teman datingnya itu.“Revan mah ngga usah cari teman dating Ra. hatinya mah cuman buat satu orang. Iya kan Van,” celetuk Moana turut berkomentar.“Lalu kamu?” tanya Daniel. Ia mencoba masuk ke dalam percakapan Moana, Re

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 40

    Kaki Nara terus bergerak gelisah. Kata-kata yang diucapkan oleh Giorgio terus berputar seperti kaset kusut di otaknya. Pria itu ingin menuntut haknya sebagai seorang suami.“Dor…! Ngelamun apa sih, Neng?” tanya Moana.Nara menatap tampian Moana, sahabatnya itu terlihat lebih cantik. “Kamu berdandan?” tanya Nara.Moana tersenyum manis. Ia menggigit jarinya seperti anak kecil. “Aku ada kencan buta hari ini jadi aku sedikit berdandan. Apa aku terlihat berbeda?” Nara menganggukkan kepalanya. Dia memberikan jempol untuk penampilan Moana hari ini.“Nanti ikut aku kencan buta ya?” Ajak Moana sambil memasang wajah memelas.Nara menghela napas panjang. Matanya melirik tumpukan dokumen yang harus dikerjakannya. Dokumen-dokumen itu seperti tidak ada hentinya menumpuk di atas mejanya.Bibir Moana mencebik. Ia kembali memasang wajah sendunya agar Nara mau pergi dengannya.“Aku mohon ikutlah. Dia juga membawa temannya, jadi nanti kamu bisa mengobrol dengan temannya,” pinta Moana.Nara berpikir sej

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 39

    Giorgio mengetuk pintu kamar Nara. Sejak pertengkaran kecil mereka tadi Nara mengunci dirinya di dalam kamar. Wanita itu juga tidak makan apapun sejak pagi. Menu makanan yang disiapkan oleh Bi Asih tak tersentuh sedikit pun. Tak lagi tahan dengan apa yang dilakukan oleh Nara, Giorgio mendatangi kamar Nara. Ia mengetuk pintu itu terus menerus, membuat si empunya kamar mendengus kesal.Nara yang tadinya tidak ingin membuka pintu, terpaksa membukanya. Ia turun dari atas ranjang dengan wajah masam.“Kenapa? Aku ingin istirahat jadi jangan diganggu!” ucap Nara saat melihat Giorgio berdiri di depan pintu kamarnya.Tanpa menjawab pertanyaan Nara, Giorgio langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Nara. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang Nara seperti tadi malam.“Keluar!” usir Nara tanpa basa-basi. Ia masih berdiri di depan pintu.Seperti menulikan telinganya, Giorgio justru menutup matanya. Melihat hal itu, Nara langsung menghampiri Giorgio. Tangannya hampir menyentuh baju Giorgio, namun

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 38

    “Bangun Gio, pindah ke kamar mu sana!” Nara terus menggoyang-goyangkan tubuh Giorgio, bukan bangun pria itu justru tersenyum lebar dan meletakkan kepalanya di paha Nara.“Kamu tahu, kamu sangat lucu kalau marah-marah seperti ini Nara,” gumam Giorgio.Nara mengehela napas panjang. Otaknya sedang berpikir bagaimana cara mengembalikan Giorgio ke kamarnya. Di rumah ini hanya ada dia dan Giorgio. Namun, saat tengah berpikir, tangan Giorgio menarik tengkuk Nara hingga membuat mereka tak berjarak.Jantung Nara berdebar. Nara bahkan bisa merasakan hembusan serta bau alkohol Giorgio. Dorongan tangan Giorgio semakin kuat, bibir keduanya menempel untuk beberapa menit sebelum Giorgio melumatnya dengan rakus. Nara yang memang tak pandai berciuman, merasa kewalahan meladeni cumbuan Giorgio. Tidak hanya itu, tangannya terasa berkeringat, sementara jantungnya berdebar kencang. Ini adalah ciuman terlama yang perna

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 37

    “Siapa yang belum datang?” Giorgio menatap satu persatu tim pemasaran. Matanya terlihat begitu dingin dan tajam. Tidak ada senyum di wajahnya. Moana yang sudah ada di ruang rapat, hanya bisa diam. Sungguh sikap Giorgio terlihat berbeda jika ada di luar kantor. Di luar kantor, Giorgio terlihat lebih hangat dan perhatian.“Apa kalian tidak punya mulut?! Kenapa kalian sepakat untuk diam, huh?!” sentak Giorgio. Suasana hatinya sedang buruk saat ini.“Bukankah sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa kita akan ada rapat setelah jam istirahat selesai!” Giorgio meradang. Sudah hampir lima belas menit mereka menunggu kedatangan Nara, namun wanita itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.“Apa kalian tidak bisa menahan leader kalian untuk tidak pergi saat jam rapat!” sungut Giorgio suaranya semakin tinggi. Urat-urat di sekitar wajahnya terlihat menonjol karena kesal.Giorgio mendengus kesal. Ia memi

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 36

    “Nara…? Kalian….”Mata Nara membulat lebar. Ia dengan cepat mendorong tubuh Giorgio hingga pemuda itu menjauh darinya.Senyum kaku ia lemparkan pada Moana yang ada di depan lift. Sahabatnya itu tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya tadi.“Tidak masuk?” tanya Nara.Moana bengun dari rasa keterkejutannya. Ia segera masuk ke dalam lift. Ekor matanya sempat melirik Giorgio yang berdiri di belakang mereka.“Apa kalian pacaran?” tanya Moana berbisik.Nara menggelengkan kepalanya. “Mataku kemasukan sesuatu dan Pak Gio berusaha menolongku,” jawab Nara. Ia juga ikut berbisik seperti Moana.Rasa curiga dan penasaran memenuhi relung hati Moana, meski Nara sudah menjelaskan apa yang terjadi. Kemarin Nara mengatakan bahwa Giorgio adalah sepupunya. Namun, kejadian yang baru ia lihat, membuatnya berpikir bahwa mereka bukanlah saudara.“Kenapa diam saja. Biasanya kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status