Home / Romansa / Bos, Jangan di Sini! / Arlan dan Dunianya

Share

Arlan dan Dunianya

Author: Olivia
last update publish date: 2026-05-25 22:51:20

Pelukan mereka masih berlangsung cukup lama. Tangisan Arlan perlahan mulai mereda walau sesekali bahunya masih bergetar kecil.

Sedangkan Sevi hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di dada pria itu, menikmati hangat yang sedari tadi begitu ia rindukan.

Ruang rawat itu kembali tenang. Hanya ada suara hujan samar di luar jendela dan bunyi monitor rumah sakit yang berdenting pelan.

Arlan akhirnya mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan diri. Matanya masih merah dan sembab ketika ia menatap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Bantuan yang Berlebihan

    “Bawahnya juga distimulasi ya, siapa tau bisa bikin keluar.”Sevi hanya mengangguk pasrah, ia pikir apa salah nya mencoba. Sebab keduanya juga sama-sama bingung, ia juga tak mau jika harus dibantu oleh dokter.Dengan cepat Arlan menanggalkan semua yang menutupi bagian bawah Sevi. Cairan bening mengalir lembut disela-sela, kedutan tipis dari milik Sevi membuat cairan itu menetes di sprei.Jari jemari nya ia basahi sendiri dengan mulutnya sebagai pelumas agar tak terlalu kesat. Jempol nya bergerak memutar di area kacang, sedangkan jari tengah nya masuk menelisik ke dalam mencari titik sensitif wanita nya.“Ahh... Disitu...” Sevi menggeliat tak karuan, sebab di atas dan bawah nya terstimulasi dengan baik dan membuatnya hilang akal. Rasa sakit dan nyeri yang tadi ia rasakan, diganti oleh kenikmatan yang membuatnya lupa bahwa dirinya sedang di bangsal rumah sakit.“Sayanhh.. Kelu..”Gumpalan yang sedari tadi membuat Sevi sengsara kini sudah keluar, berwarna merah segar dan gumpalannya pu

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam Manis

    “Ahh… Arlan, pelan-pelan…” lenguh Sevi dengan napas yang memburu.Cairan susu yang hangat dan manis mengalir deras, membanjiri rongga mulut Arlan. Pria itu menelannya rakus tanpa sisa, sementara tangannya yang bebas meremas pinggang Sevi, menarik tubuh polos tunangannya semakin menempel erat pada wajahnya. Isapan Arlan semakin menuntut, menciptakan suara basah yang intim di keheningan ruangan itu, membakar seluruh waras yang tersisa di antara mereka.Tangan Arlan bergerak turun, dengan tergesa-gesa membuka satu per satu kancing kemeja putih Sevi hingga terlepas sepenuhnya, menampakkan payudara Sevi yang mengeras penuh, berdenyut kencang karena bendungan cairan yang menyiksa. Ujungnya yang sensitif tampak merembeskan cairan putih murni yang berkilau terkena cahaya lampu. Sensasi gesekan kulit mereka membuat Sevi mendesah hebat. Rasa nyeri yang membakar di dadanya semakin menjadi-jadi, menuntut pelepasan.Melihat itu, rahang Arlan mengeras. Ia ikut duduk di ranjang Sevi, langsung men

  • Bos, Jangan di Sini!   Arlan dan Dunianya

    Pelukan mereka masih berlangsung cukup lama. Tangisan Arlan perlahan mulai mereda walau sesekali bahunya masih bergetar kecil. Sedangkan Sevi hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di dada pria itu, menikmati hangat yang sedari tadi begitu ia rindukan.Ruang rawat itu kembali tenang. Hanya ada suara hujan samar di luar jendela dan bunyi monitor rumah sakit yang berdenting pelan.Arlan akhirnya mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan diri. Matanya masih merah dan sembab ketika ia menatap Sevi lagi.“Aku mau cerita semuanya...” ucapnya lirih.Sevi menatap Arlan pelan lalu mengangguk.“Kita sama-sama jangan ada yang dipendem lagi ya.”Kalimat itu terdengar sederhana, namun berhasil membuat dada Arlan kembali sesak.Ia menarik kursinya mendekat ke ranjang, lalu menggenggam tangan Sevi erat-erat seolah takut perempuan itu hilang lagi dari hidupnya.Dan malam ini, Arlan benar-benar membuka isi kepalanya tanpa ditahan sedikit pun.Tentang Om Wijaya dan tekanan proyek susu baru yang m

  • Bos, Jangan di Sini!   Penjelasan dan Pendewasaan

    Lampu kamar rawat itu redup dan tenang. Suara monitor detak jantung berdenting pelan memenuhi ruangan bersama aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung.Hujan di luar masih turun tipis, membuat suasana malam terasa semakin dingin.Sevi berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya masih pucat, bibirnya kehilangan warna, dan matanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis.Selang infus terpasang di tangan kirinya, sementara selimut putih rumah sakit menutupi tubuh kecilnya sampai dada.Sedangkan Arlan duduk di kursi samping ranjang dengan keadaan jauh lebih kacau. Kemejanya masih kusut dan sedikit basah karena hujan tadi. Rambutnya berantakan. Matanya merah membengkak karena sedari tadi menangis tanpa berhenti.Namun yang paling terlihat jelas adalah tatapan bersalah itu. Tatapan seseorang yang sedang menghancurkan dirinya sendiri karena merasa gagal menjaga orang yang paling ia sayangi.Sedari tadi Arlan hanya diam menatap Sevi. Ia bahkan tidak berani menyentuh perempuan

  • Bos, Jangan di Sini!   Karena Dirinya Sendiri

    Brak!Pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka setelah hantaman kedua dari bahu Arlan. Begitu pintu terbuka, napas Arlan langsung tercekat.“ASTAGA SEVI...”Tubuh Sevi terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Rambutnya berantakan menempel di wajah yang sudah pucat pasi. Tangannya gemetar sambil memegangi dadanya sendiri, sementara air mata masih terus jatuh tanpa suara.Namun yang membuat Arlan hampir kehilangan akal adalah darah itu. Kemeja putih Sevi sudah ternoda merah di bagian depan. Tidak banyak sampai menggenang, namun cukup membuat kepala Arlan langsung kosong seketika.Pompa ASI tergeletak di lantai dengan bercak cairan yang membuat Arlan makin panik.“Sevi...” Suara Arlan langsung pecah.Ia buru-buru jongkok di depan Sevi sambil memegang wajah perempuan itu dengan kedua tangannya yang gemetar.“Sayang... lihat aku...”Mata Sevi perlahan menatap Arlan. Tatapan itu sudah kehilangan fokus.“Sakit...” lirihnya pelan.Dan kalimat itu seperti menghancurkan jantung Arlan. “A

  • Bos, Jangan di Sini!   Bertahan

    Sevi langsung berdiri dari lantai dapur walau tubuhnya sempoyongan. Tangannya gemetar hebat sampai beberapa kali harus berpegangan pada meja makan kecil di sampingnya agar tidak jatuh. Napasnya memburu, dadanya masih terasa nyeri dan berat.Pikirannya kacau. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu, takut.Ia berjalan cepat menuju lemari kecil dekat televisi, lalu membuka lacinya dengan kasar. Berbagai barang langsung berantakan keluar. Obat-obatan, charger, buku catatan, sampai beberapa pakaian kecil yang asal ia simpan di sana ikut jatuh ke lantai.“Ayo mana...” gumamnya panik.Tangannya terus mengacak isi laci sampai akhirnya ia menemukan benda yang ia cari.Pompa ASI.Jari Sevi langsung mencengkeram benda itu erat. Tanpa berpikir panjang ia buru-buru menuju kamar mandi sambil memegangi dadanya yang nyeri.Brak.Pintu kamar mandi langsung ia kunci rapat. Barulah setelah itu Sevi berani menatap dirinya sendiri di kaca. Dan detik itu juga tubuhnya melemah. Kemeja putih yang ia pak

  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Buka Suara

    Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Tanggung Jawab

    Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status