共有

Puncak

作者: Olivia
last update 公開日: 2026-03-17 23:32:36

Hari mulai beranjak sore ketika Arlan dan Sevi akhirnya meninggalkan kebun binatang. Tidak ada rencana pasti sejak awal. Semua yang mereka lakukan hari ini berjalan begitu saja, mengikuti keinginan sesaat yang terasa menyenangkan.

Dan entah bagaimana, di tengah perjalanan pulang yang seharusnya sederhana, Sevi tiba-tiba mengusulkan sesuatu.

“Kita ke Puncak, yuk.”

Arlan melirik sekilas. “Sekarang?”

Sevi mengangguk tanpa ragu. “Nginep. Cari suasana baru.”

Arlan sempat terdiam beberapa detik. Namu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bos, Jangan di Sini!   Nebeng

    Sore itu, kantor mulai lengang. Beberapa karyawan sudah pulang, sebagian masih menyelesaikan pekerjaan. Di ruangannya, Sonya menatap layar komputer dengan fokus, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Ia melirik jam.Sudah hampir waktunya.Hari ini, Sevi tidak pulang bersama Arlan. Ia ada acara di rumah Mila. Bahkan dari siang tadi, Sevi sudah beberapa kali membicarakan soal itu dengan nada antusias.“Kayaknya bakal seru deh,” ucap Sevi waktu itu sambil merapikan tasnya.Arlan hanya mengangguk.“Iya, hati-hati.”“Aku bareng Mila sama suaminya kok. Aman.”Arlan tersenyum tipis.Namun bagi Sonya… itu adalah celah.Kesempatan.\\\“Pak, dokumen ini sudah saya revisi,” ucap Sonya, berdiri di depan meja Arlan.Arlan menerima berkas itu, membacanya cepat. “Iya, sudah oke. Kirim saja.”“Baik, Pak.”Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka selesai.Arlan berdiri, meraih jasnya. “Saya duluan, ya. Ada urusan.”Sonya mengangguk. “Baik, Pak.”Namun ia ikut berdiri. Mereka berjalan bersama

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Saingan?

    Pagi itu tidak berjalan seperti biasanya.Sevi berdiri di depan pintu apartemen dengan wajah pucat, tubuhnya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sejak semalam. Demamnya belum benar-benar turun. Bahkan untuk berdiri tegak saja, ia harus menahan napas beberapa detik.Arlan yang berdiri di depannya menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran.“Kamu nggak usah masuk hari ini,” ucap Arlan tegas. “Tinggal di apartemen. Atau ke rumah orang tua ku aja. Biar ada yang jagain.”Sevi menggeleng pelan, meskipun gerakannya terlihat lemah.“Nggak mau.”“Kenapa nggak mau?” nada Arlan mulai tegas. “Kamu sakit, Sevi.”“Masih bisa kerja kok.”“Kamu bahkan berdiri aja sempoyongan.”Sevi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tetap keras.“Aku nggak suka diam aja.”Arlan memberi pengertian. “Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal kondisi kamu, sayang.”Sevi mengalihkan pandangan.“Kalau aku di rumah, aku malah kepikiran kerjaan.”“Dan kalau kamu masuk kerja, kamu bisa pingsan di

  • Bos, Jangan di Sini!   Masa Lalu Sonya

    Mungkin bagi sebagian orang, mempercayai ramalan adalah sesuatu yang tabuh. Sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan cenderung dianggap tidak waras. Namun bagi Sonya, itu bukan sekadar percaya, itu adalah satu-satunya cara ia bertahan tanpa harus hancur sepenuhnya.Sonya bukan orang yang suka berdebat. Ia juga bukan tipe yang akan menjelaskan dirinya panjang lebar. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal, tidak semua hal yang diucapkan akan berakhir baik.Orang tuanya berpisah ketika ia masih terlalu muda untuk memahami arti pengkhianatan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan dampaknya. Ayahnya ketahuan berselingkuh. Ibunya pergi, membawa adiknya. Dan Sonya… tetap tinggal.Bukan karena ia dipilih.Tapi karena ia tidak diperebutkan.“Sonya ikut Papa aja ya. Adik masih kecil,” ucap ibunya waktu itu, sambil tersenyum tipis, seolah keputusan itu ringan.Sonya kecil hanya mengangguk.“Baik, Ma.”Tidak ada tangisan. Tidak ada protes. Ia bahkan tidak bertanya kenapa.Sejak saat itu, hidupnya ber

  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Agresif

    Hari itu terasa berbeda bagi Arlan.Semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan sikap Sonya dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu interaksi mereka murni profesional, terukur, seperlunya, tanpa celah, hari ini terasa… terlalu dekat.Terlalu personal.Tatapan Sonya berubah.Senyumnya pun berbeda.Bukan lagi sekadar sopan, tapi seperti menyimpan maksud lain yang tidak diucapkan.Beberapa kali Sonya masuk ke ruangannya bukan hanya untuk urusan kerja. Ia mulai menanyakan hal-hal ringan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.“Bapak biasanya sarapan apa?”“Weekend kemarin ke mana?”Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan.Arlan hanya menjawab seperlunya.Singkat.Jelas.Namun tidak memberi ruang untuk berkembang.Puncaknya ketika Sonya masuk membawa secangkir kopi.“Pak, ini kopi.”Arlan langsung mengangkat tangan.“Nggak usah, Sonya. Saya biasa bikin sendiri.”Namun Sonya tersenyum.“Sekali-sekali saya yang buat, Pak.”Arlan menghela napas pelan.Nada Sonya tidak memaksa,

  • Bos, Jangan di Sini!   Batas yang Mulai Terlihat

    Malam di Puncak terasa lebih dingin dari yang mereka bayangkan.Namun di dalam kamar itu, suasana justru hangat.Arlan dan Sevi menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada pekerjaan, tidak ada orang lain yang menuntut perhatian mereka. Malam itu benar-benar terasa seperti milik mereka."Lan... Jangan masuk sekaligus," Erangan Sevi yang terdengar seperti bisikan."Ahh.. enak sayang, ketat banget..."Arlan mencoba menyesuaikan ritme agar Sevi tak kesakitan, sebab disini ia tau kalau Sevi tak akan bersuara keras untuk meredam sakitnya. Namun apa daya, di bawah sana Arlan merasa seperti terjepit, enak namun ngilu, ia berusaha keras menahan agar tidak keluar dalam."Sayang..." Kejantanannya dikeluarkan paksa agar tidak terjadi pembuahan di dalam. Ciuman manis nan basah mengakhiri kegiatan mereka, setelah lelah dan tenang kembali, Sevi berbaring di samping Arlan. Kepalanya bersandar di lengan pria itu, sementara Arlan mengelus rambutnya perlahan.Beberap

  • Bos, Jangan di Sini!   Puncak

    Hari mulai beranjak sore ketika Arlan dan Sevi akhirnya meninggalkan kebun binatang. Tidak ada rencana pasti sejak awal. Semua yang mereka lakukan hari ini berjalan begitu saja, mengikuti keinginan sesaat yang terasa menyenangkan.Dan entah bagaimana, di tengah perjalanan pulang yang seharusnya sederhana, Sevi tiba-tiba mengusulkan sesuatu.“Kita ke Puncak, yuk.”Arlan melirik sekilas. “Sekarang?”Sevi mengangguk tanpa ragu. “Nginep. Cari suasana baru.”Arlan sempat terdiam beberapa detik. Namun melihat ekspresi Sevi yang penuh harap, ia hanya tersenyum nakal.“Yakali nolak.”Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan.Tanpa persiapan matang.Tanpa membawa perlengkapan apa pun.Hanya mereka berdua, dengan waktu yang mereka punya hari ini.\\\Di perjalanan, mereka sempat berhenti di sebuah pusat perbelanjaan terdekat.Sevi memilih beberapa pakaian ganti dengan cepat. Tidak terlalu banyak, hanya yang sekiranya cukup untuk satu malam. Arlan juga mengambil beberapa kaos santai dan p

  • Bos, Jangan di Sini!   Lega dan Ragu

    Arlan menatap Sevi yang kini duduk di sofa dengan wajah sembab, matanya merah dan tubuhnya bergetar pelan. Baju kerja Sevi masih berantakan, sementara air mata tak henti membasahi pipinya. Ia menunduk, kedua tangannya menggenggam kuat sisi bantal, seperti sedang berusaha menahan segala rasa yang tu

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • Bos, Jangan di Sini!   Kebenaran

    Suara kipas laboratorium masih berdengung lembut ketika sang ayah menoleh dari balik meja kaca. Ia menepuk pundak Arlan yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pintu.“Kamu bawa sampelnya?” tanyanya tenang, namun sorot matanya serius.Arlan mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • Bos, Jangan di Sini!   Pilihan yang Sulit

    Sejak kejadian di ruangan Arlan tempo hari, saat ia melihat langsung Alya duduk manja di pangkuan bosnya, Sevi benar-benar mengambil langkah mundur. Ia mulai menarik diri, menjaga jarak sejauh mungkin. Untungnya, akhir-akhir ini kondisi tubuhnya cukup stabil. Nyeri di dada sudah berkurang, ASI yang

    last update最終更新日 : 2026-03-19
  • Bos, Jangan di Sini!   Pulih

    Sevi duduk di kamar kontrakannya, menatap layar ponsel dengan hati yang tak karuan. Rasa kecewa pada Arlan masih menumpuk. Baru kemarin pria itu seolah ingin memperjuangkan dirinya, seolah ingin memberi kepastian. Tapi nyatanya, hari ini lagi-lagi Arlan tampak dekat dengan Alya. Kedekatan yang jela

    last update最終更新日 : 2026-03-19
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status