/ Young Adult / Jangan Jatuh Cinta, Danie! / 7. Kebenaran Tertunda

공유

7. Kebenaran Tertunda

작가: Nenghally
last update 게시일: 2026-05-28 18:07:12

Aroma kayu manis yang bercampur kehangatan kemeja Gathan setidaknya berhasil meredam gemetar di tubuh Dania. Ia merapatkan kain tebal itu ke dadanya, mencoba mencari secercah rasa aman di tengah badai informasi yang siap memporak-porandakan kepalanya.

Matanya terus melirik ke arah pintu ruang rawat intensif, menanti tanda-tanda dari suster bahwa kedua orang tuanya telah siuman. Gathan sendiri kembali duduk di seberang koridor, melipat tangan di dada dengan mata terpejam.

Jika dilihat sekilas, pria itu tampak tertidur. Namun, ketegangan pada rahangnya dan bagaimana telinganya bergerak sensitif setiap kali ada langkah kaki mendekat membuktikan bahwa Gathan tetaplah sang "Macan Kampus" yang waspada. Dia berjaga, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Dania.

"Mbak Dania? Keluarga Pak Baskoro?"

Panggilan seorang perawat memecah keheningan koridor. Dania tersentak dan langsung berdiri tegak. "Iya, Suster. Saya."

"Kedua orang tua Anda sudah sadar sepenuhnya. Kondisi mereka masih cukup lemah, tapi dokter mengizinkan pihak keluarga untuk menjenguk. Silakan masuk, tapi mohon jangan terlalu membuat pasien kelelahan, ya."

"Baik, Suster. Terima kasih banyak." Dania menoleh sekilas ke arah Gathan. Pria itu rupanya sudah membuka mata dan memberikan anggukan kecil, mengisyaratkan agar Dania masuk duluan tanpa dirinya. Gathan tahu ini adalah momen privat keluarga.

Dengan langkah pelan dan napas yang tertahan, Dania mendorong pintu bangsal. Suara monitor jantung yang berbunyi ritmis langsung menyapa indra pendengarannya.

Di atas dua ranjang yang bersebelahan, ayah dan ibunya terbaring dengan berbagai selang medis yang menempel. Wajah mereka masih sepucat kertas, tapi matanya sudah terbuka perlahan.

"Ma, Pa?" Isak tangis Dania yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. Ia mendekat, menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin, lalu beralih menyentuh jemari ayahnya yang terbalut perban.

"Nia?" Suara Bu Femmy sangat lirih, nyaris seperti bisikan angin. Tangannya yang lemah berusaha mengusap punggung tangan Dania.

Dania menggelengkan kepala, air matanya menetes ke atas seprai rumah sakit. Rasa takut dan penasaran yang membuncah di dadanya selama beberapa jam terakhir akhirnya tidak bisa lagi dibendung.

Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rumahnya yang hancur, para pria bertopeng, dan senjata api, semua itu terlalu ekstrem untuk kehidupan keluarga pensiunan guru.

"Ma, Pa, sebenarnya siapa orang-orang yang datang ke rumah kita tadi?" tanya Dania, suaranya bergetar menahan emosi. "Kenapa Papa dan Mama bisa terlibat dengan para penjahat mengerikan seperti mereka? Lalu ... apa yang sebenarnya mereka cari dari kita? Tolong jujur sama Nia, Pa. Apakah, apakah kita punya utang pada rentenir? Atau Papa ditipu orang?"

Mendengar rentetan pertanyaan itu, Ibu Dania hanya bisa mendesah berat. Ia mencoba bergerak, tapi langsung menyentuh keningnya yang terbalut kain kasa tebal.

"Akh, kepalaku," rintihnya pelan saat rasa berdenyut yang tajam kembali menyerang akibat memar di dahinya.

"Ma, jangan banyak bergerak dulu," potong Dania panik, mengusap lengan ibunya agar kembali rileks.

Melihat istrinya yang kesakitan, Ayah Dania yang berbaring di ranjang sebelah akhirnya angkat bicara. Suaranya parau dan berat, sarat akan beban rahasia yang tampaknya sudah dipendam terlalu lama.

"Nia, tunggu kami pulih dulu, baru Papa bisa jelaskan semuanya," ucap ayah Dania, menatap putrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Ini bukan soal utang, bukan juga soal rentenir. Ini jauh lebih rumit dari yang bisa kamu bayangkan. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat. Papa mohon, beri kami waktu."

Pak Bas menghela napas panjang, mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa menyesakkan. Matanya yang sayu menelisik penampilan Dania dari ujung rambut hingga kaki.

"Lagi pula, kenapa kamu bisa tiba-tiba pulang hari ini? Bukankah ini masih pertengahan semester? Kenapa kamu tidak di asrama?" tanyanya, mengingat jarak dari asrama ke rumah cukup jauh.

Pertanyaan Pak Bas seketika membuat lidah Dania kelu. Ia membeku di tempat. Tentu saja ia tidak mungkin menjawab jujur.

Ia tidak bisa mengatakan, "Aku pulang karena jenuh menyamar jadi cowok cupu bernama Danie. Memakai perban ketat di dada setiap hari, dan mandi jam empat subuh demi beasiswa." Rahasia itu harus tetap terkunci rapat, atau ayahnya bisa terkena serangan jantung di tempat ini juga.

Dania memutar otak, mencari pengalihan yang paling aman. Untungnya, ia punya satu senjata pengalih perhatian yang sangat besar. Bom informasi yang dijatuhkan Gathan di koridor tadi. Dania mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal demi menutupi kegugupannya.

"Kalau aku tidak pulang hari ini, bagaimana mungkin aku tahu kalau kalian berdua sudah menjodohkanku dengan orang asing?" kata Dania merajuk, melipat tangannya di dada dengan wajah bersungut-sungut.

Mendengar ucapan putrinya, Ayah Dania justru tersenyum tipis, sebuah senyuran langka di tengah kondisi mereka yang memprihatinkan. "Orang asing? Jadi kamu sudah bertemu dengannya? Di mana dia?"

"Iya! Dia yang menolong kita tadi. Namanya Gathan," sahut Dania ketus. "Kan tetap saja, Pa! Kenapa tiba-tiba ada perjodohan gila ini? Kita hidup di abad ke-21, kenapa Papa dan Mama masih pakai cara kuno seperti ini? Lagi pula aku sama sekali tidak kenal siapa dia!"

"Nia, dengarkan Papa." Suara Pak Bas mendadak berubah serius, menghilangkan sisa-sisa senyuman di wajahnya. "Gathan itu bukan orang asing. Kalian itu teman masa kecil. Dulu, sebelum kita pindah ke kota ini, kamu dan Gathan hampir setiap hari bermain bersama di halaman belakang rumah lamamu."

Dania tersentak, tapi egonya langsung menolak fakta tersebut. "Aku tidak kenal dia! Aku tidak mau ingat masa lalu!" tolak Dania keras, setengah berteriak sebelum akhirnya tersadar bahwa ia sedang berada di ruang rawat rumah sakit.

Bagi Dania, mengingat atau mengakui Gathan sebagai teman masa kecil, apalagi calon suami, adalah sebuah bencana besar. Memikirkan fakta bahwa pria dingin, galak, dan bermulut tajam yang setiap hari mengomelinya di kamar 302 asrama adalah orang yang sama dengan calon suaminya, sudah cukup untuk membuat kepalanya pening tujuh keliling.

Bagaimana mungkin ia bisa menerima perjodohan ini jika di kehidupan nyata mereka selalu bertingkah seperti kucing dan tikus?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   39. Pengawas

    Pria itu berdiri di sana, masih mengenakan jaket olahraga tim basketnya dengan tudung yang sengaja ditarik untuk menutupi rambutnya yang acak-akan. Napas Gathan tampak sedikit memburu, seolah-olah ia baru saja berlari cepat melintasi kompleks kampus yang luas dari gedung olahraga menuju fakultas bahasa hanya untuk mencari Dania.Wajahnya terlihat luar biasa tegang, dan matanya yang tajam langsung memindai tubuh Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa juniornya itu tidak kurang satu apa pun."Gathan? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dania setengah berbisik, matanya melirik cemas ke arah mahasiswa lain yang berjalan melewati mereka di koridor. "Bukannya kamu masih ada jadwal rapat evaluasi tim dengan Pelatih?"Gathan tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya di lengan Dania, tapi matanya tetap menatap tajam. Mengunci pergerakan gadis di hadapannya."Aku sudah bilang padamu semalam, Danie. Jangan pergi ke mana-mana sendirian.""Aku kan cuma pergi ke kelas k

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   38. Lingkaran Berbahaya

    Sebelum Dania sempat memikirkan jawaban untuk menyelamatkan diri dari jebakan pertanyaan Revan, sebuah hantaman keras terdengar dari arah lapangan tengah.Brakkk!Bola basket melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam papan pembatas di dekat meja dengan suara dentuman nyaring. Bola itu mamantul liar ke lantai, memotong pembicaraan antara Revan dan Dania secara paksa.Beberapa mahasiswa di tepi lapangan bahkan sampai tersentak kaget. Gathan berjalan mendekat dengan langkah tegap dan mengintimidasi. Napasnya memburu berat, dengan keringat yang membanjiri seluruh jersi hitam tanpa lengannya.Otot-otot tubuhnya tampak berkilat di bawah lampu aula olahraga. Sorot mata elangnya berkilat penuh permusuhan dan kemarahan yang tertahan saat melihat posisi Revan terlalu dekat, condong ke arah Dania."Revan, waktu istirahatmu sudah habis lima menit yang lalu," desis Gathan. Suaranya terdengar seperti geraman rendah seorang alfa yang wilayah kekuasaannya sedang diusik secara terang-terangan. "Kemb

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   37. Protektif

    Gathan yang baru saja hendak melangkah menuju tempat tidurnya seketika menghentikan pergerakannya. Kalimat pendek dari Danie seolah-olah menjadi pukulan telak yang menyinkronkan rasa takut di dalam kepalanya dengan realitas di depan mata.Pria itu membalikkan tubuh dengan cepat. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Danie yang kini terduduk lesu di pinggiran ranjang bawah. Ia memperhatikan detail penampilan juniornya itu. Napas yang masih tersengal, keringat dingin membasahi pelipis, dan kedua tangan meremas lututnya sendiri dengan erat."Diikuti?" Gathan mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan berbahaya.Ia berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menenggelamkan sosok Danie yang rapuh. "Siapa? Sejak kapan?"Dania mendongak, sedikit terkejut dengan reaksi Gathan yang terkesan sangat intens, jauh lebih agresif daripada biasanya."A-aku tidak tahu pastinya. Sejak aku naik bus kota

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   36. Ancaman

    Di kamar 302, Gathan sedang sendirian. Buku teks kuliahnya terbuka di atas meja, tapi fokusnya sama sekali tidak berada di sana.Biasanya, jam segini Danie sudah kembali dari kegiatannya, entah itu mengeluh panjang lebar karena ototnya yang pegal akibat latihan fisik, atau ribut sendiri mondar-mandir mencari catatan kuliah yang hilang di kolong ranjang. Namun, sore hari ini kamar terasa terlalu sunyi dan hampa.Tanpa sadar, Gathan melirik ke arah ranjang bawah yang kosong melompong. Meja belajar Danie di sudut ruangan juga tampak terlalu rapi. Tidak ada tumpukan buku yang berserakan, tidak ada botol minum yang tertinggal setengah penuh, atau barang-barang kecil yang biasa membuat matanya sakit.Pria itu mendecakkan lidahnya dengan gusar, menutup buku tebal di depannya dengan sentakan kasar."Berisik sekali kalau ada di kamar, tapi ternyata jauh lebih mengganggu kalau tidak ada," bisik Gathan dengan nada kesal yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.Gathan mencoba mengabaikan perasaa

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   35. Merasa Diikuti

    Dania berhasil berganti menjadi Danie dengan aman. Ia bahkan sempat merasa lega karena pertemuannya dengan Revan tadi hanyalah kebetulan yang menyebalkan. Untung saja ia bergerak cepat untuk menghindar sebelum pria bertanya macam-macam atau mencurigai sesuatu yang lebih jauh.Di dalam bilik toilet umum pom bensin yang letaknya beberapa blok dari rumahnya, seluruh atribut feminin itu kembali disimpan rapat ke dalam tas ransel abu-abunya. Wig panjangnya dilepas, digantikan topi hitam dan kacamata yang menjadi tameng andalannya selama ini. Bebat kain kasa kembali melilit dadanya dengan ketat, mengembalikan sosok Danie yang kikuk dan tampak ringkih.Karena ingin menghemat uang jajannya yang semakin menipis untuk ongkos taksi, ia memutuskan untuk naik bus kota menuju kampus. Sudah lama sekali ia tidak menaiki transportasi umum di jam-jam nanggung seperti ini. Suasana di dalam bus tidak terlalu padat, menyisakan deretan kursi kosong di bagian tengah dan belakang.Dania memilih duduk di deka

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   34. Benang Kusut

    Perjalanan dari supermarket menuju rumah terasa begitu panjang karena pikiran Dania yang berkecamuk. Namun, begitu taksi berhenti di depan pagar rumahnya yang sederhana, seluruh rasa cemas itu perlahan luruh, digantikan oleh rasa hangat yang ia rindukan.Dania melangkah masuk ke halaman rumah. Suasana sepi yang sempat menyelimuti rumah ini selama orang tuanya dirawat di rumah sakit kini telah berganti. Pintu depan terbuka lebar, dan samar-samar aroma harum bumbu dapur yang ditumis tercium hingga ke teras. Aroma masakan rumahan yang sangat ia kenali."Mama? Papa?" panggil Dania setengah berlari memasuki ruang tengah.Seorang wanita paruh baya dengan celemek kain yang masih terikat di pinggangnya keluar dari arah dapur. Wajahnya kini terlihat jauh lebih segar dan bertenaga. Begitu melihat anak perempuan satu-satunya berdiri di sana dengan rambut panjangnya, senyum sang ibu langsung merekah."Dania! Jagoan Mama sudah pulang!" seru Bu Femmy, langsung menyambut Dania ke dalam pelukan hanga

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   6. Kepribadian Berbeda

    Dania berdiri terpaku di depan wastafel toilet, menatap pantulan wajahnya yang pucat. Jantungnya masih bertalu-talu akibat "bom" yang baru saja dilemparkan Gathan. Calon suami? Rasanya ia ingin tertawa histeris jika saja situasinya tidak sedang segetir ini.Baru saja ia hendak membuka pintu toilet,

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   5. Calon Suami

    Dania berdiri di depan pintu ruang gawat darurat yang masih tertutup rapat, lampu merah di atasnya seolah mengejek kecemasannya yang memuncak. Ia mondar-mandir tak keruan, langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi kini terasa sangat menyiksa.Sesekali, Dania berhenti untuk menggigiti

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   2. Olahraga Malam

    Pukul tujuh malam di Asrama Gedung C biasanya merupakan waktu paling bising. Suara petikan gitar dari kamar sebelah, tawa yang meledak-ledak di koridor, hingga dentuman musik dari pengeras suara portabel bersahut-sahutan menciptakan hiruk-pikuk.Malam itu terasa jauh lebih mengancam bagi Dania. Per

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   1. Batas Terlarang

    "Berani sekali kamu!"Gathan mencengkeram kedua tangan Dania dengan kasar. Kekuatan tangan laki-laki itu bukanlah sesuatu yang bisa dilawan. Dalam satu gerakan sentak, Gathan menarik kedua pergelangan tangan Dania ke atas kepala, mendorongnya hingga punggung gadis itu menghantam tembok kamar dengan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status