Masuk**Lampu-lampu putih di ruang bersalin rumah sakit paling bergengsi di kota itu terasa menyilaukan. Bau antiseptik memenuhi udara, bercampur dengan suara alat medis yang berdetak teratur, seolah ikut menghitung detik-detik perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Clara terbaring di atas ranjang bersalin, wajahnya pucat, rambutnya basah oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal dengan dada naik turun dengan cepat. Setiap kontraksi datang seperti gelombang besar yang menghantam tubuhnya tanpa ampun. Tangannya mencengkeram seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Kendati demikian, ia berusaha untuk tidak bersuara.“Tarik napas panjang, Nyonya Addams … ya, bagus seperti itu. Sekarang hembuskan pelan-pelan,” ujar dokter perempuan paruh baya yang berdiri di sisi ranjang, suaranya tegas namun menenangkan. "Pelan-pelan saja dorongnya, tidak apa-apa, kami bersama anda. Kita akan menunggu sampai dia datang sendiri ...."Dua perawat di kanan dan kiri Clara sigap membantu, me
**“I, Daniel Addams, take you, Clara Anderson, to be my lawful wedded wife.To have and to hold, from this day forward,for better, for worse,for richer, for poorer,in sickness and in health,to love and to cherish,until death do us part.According to God’s holy law, and this is my solemn vow.”Clara terus menangis sepanjang acara pemberkatan nikah itu. Ya, sedih. Ia melewati hari bahagia sehari seumur hidupnya tanpa satu pun keluarga yang datang. Karena memang sudah tak ada satu pun keluarga yang ia miliki selama ini.Tapi, juga bukan sepenuhnya sedih. Ada rasa bahagia yang lebih besar dari rasa sedih itu. Sama sekali tidak mengira, bahwa pada akhirnya ia akan berlabuh di pelukan sang direktur yang dingin dan arogan itu. Hanya saja sekarang, Daniel tidak lagi memiliki kedua sikap itu kepada Clara. Ia adalah pria romantis penuh cinta yang tidak bisa sedetikpun jauh darinya. "Jangan menangis terus, Sayang," Daniel berbisik di telinga. "Nanti saat acara ini berakhir, kau boleh mena
**"Ayo menikah denganku dan besarkan anak kita bersama-sama. Aku berjanji akan membahagiakan dan menjaga kalian berdua sampai aku mati ...."Clara terpaku, diam menatap pria di hadapannya yang juga sedang memandangnya dengan lembut. Daniel tersenyum seraya mengecup punggung tangan yang lebih muda."Clara, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku seperti tidak bisa hidup saat kau tidak ada di sampingku."Clara terisak pelan. Air mata merebak menuruni kedua pipinya, sementara Daniel terperanjat."Kenapa menangis? Apakah aku menyakitimu? Kata-kataku menyakitimu, Clara?""Ti-tidak, Tuan ... bukan begitu ....""Jadi kenapa menangis? Jangan menangis, itu juga melukaiku, Clara."Clara membersit air mata yang membasahi kedua pipinya. Masih terisak lirih ketika mengatakan, "Apakah saya pantas untuk itu? Saya tahu benar di mana posisi saya, Tuan. Meskipun mungkin saja kita berdua saling mencintai, tapi benarkah menikah adalah jalan yang terbaik?""Jadi kau tidak ingin menikah de
**Gerard mendorong pintu perlahan. Membuat dua orang yang berada di dalam ruangan itu serentak menoleh. Clara segera menjauhkan diri dari Daniel begitu ia tahu tunangannya --atau mantan tunangan-- sedang berdiri di sana, di ambang pintu. Clara memandang Gerard dengan tatapan memohon, dan pria itu tersenyum lembut."Clara, tidak apa-apa. Pulanglah bersama dia. Kamu boleh melakukan itu. Jangan pikirkan aku."Clara tidak bisa membendung tangisnya lagi setelah mendengar itu. Ia menggeleng, berusaha mengatakan tidak kepada Gerard. Namun sama sekali tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. "Aku baik-baik saja," lanjut Gerard. "Kamu sudah berkorban begitu banyak untukku, Clara. Kamu berjuang sendirian demi membuatku tetap hidup. Kamu ada bersamaku dalam saat-saat paling gelap dalam hidupku. Sekarang ketika ada kesempatan membuatmu bahagia, aku tidak akan melewatkannya."Daniel tanpa sadar mundur selangkah. Ia tidak menginterupsi, tidak menyela, sama sekali tidak menggunakan privilesenya
**Daniel Addams berdiri di depan bangunan apartemen sederhana di tepian kota itu. Ia memandangnya dengan gentar. Sang direktur sudah sangat sering berhadapan dengan berbagai situasi. Dari yang menyebalkan, hingga yang mengancam. Dan tak sekalipun ia pernah gugup mengadapi setiap situasi itu. Namun saat ini, hanya berdiri diam di depan bangunan dengan cat yang mulai lusuh itu, ia mengira jantungnya akan segera kolaps sebab berdetak terlalu kuat dan cepat.Sekali lagi pria itu menengok layar ponsel untuk memastikan alamat yang ditujunya benar. Sebelum kemudian mulai melangkah masuk menuju lift dan memencet tombol naik. Langkahnya bergetar, terasa berat namun juga penuh harapan. Sebentar lagi, ia akan melihat wajah gadis yang siang malam mengganggu benaknya. Membuatnya nyaris hidup seperti zombie.Di depan sebuah pintu dengan plakat nomor yang sudah agak pudar, Daniel berhenti. Menghela napas panjang, pria itu lalu menekan bel dan berdiri tegak untuk menunggu dibukakan.Detak jantungnya
**Gerard terpaku setelah mendengar kata-kata pengakuan dari Daniel. Ia mendengar dengan jelas pengakuan bos besar itu, namun tidak ingin mempercayainya.Detik-detik seperti berlalu dalam gerakan lambat di dalam ruangan lebar itu. Bahkan suara jarum jatuh pun sepertinya akan terdengar sebab kesunyian yang menyelimuti setelahnya."Apa maksudmu?" Hanya itu yang bisa Gerard katakan kemudian.Sementara Daniel yang sedang duduk di balik meja kebesarannya, masih memandang lurus tak bergerak. Mata hitamnya yang tajam meyorot datar kepada Gerard."Biaya rumah sakitmu mencapai lima ratus ribu dollar. Kau pikir apa yang bisa Clara lakukan untuk mendapatkannya? Dia sudah kehilangan semua harta yang dia punya. Satu-satunya yang bisa dia gadaikan hanya tubuhnya, dan dia menawarkan itu kepadaku.""Dan kau menerimanya begitu saja, bajingan?" Gerard membalas dingin. "Kau sengaja memanfaatkan orang yang sedang kesusahan? Apa kau tahu seberapa busuknya itu?"Daniel menggeleng. "Tidak. Dia hanya menawar







