LOGIN"Aku pulang dalam kondisi tidak baik-baik saja, diiringi angin malam dan jalanan basah setelah hujan lebat, tidak ada rasa takut dalam benakku, aku tiba di rumah dalam kondisi baik, sementara Affal aku tidak tahu apakah dia kembali ke apartemen, atau memutuskan menghabiskan waktu di kedai kopi dekat lokasi terakhir kami berjumpa. "Saat sudah siang, aku baru menghubunginya, apa dia baik-baik saja, apa dia langsung pulang ke rumahnya di kabupaten Sidoarjo, atau dia tetap di satu tempat bersama orang lain, aku bertanya penuh perhatian, berharap mendapatkan jawaban baik darinya, namun seperti yang sudah berlalu, Affal mengatakan secara singkat butuh waktu dua hari tiga malam dia pulih dari rasa sakit di sekujur bandanya akibat bercinta denganku, dia memutuskan untuk menginap di kontrakan kenalannya dan tidak langsung pulang ke kota kelahiranya." "Bagaimana denganmu Alba, kondisimu jelas tidak baik-baik saja." "Emhem, butub waktu sekitar dua minggu rasa nyeri di vaginaku sembuh total
"Affal hanya memohon bantuan padaku, berharap aku bisa membantunya, tidak ada ancaman apapun darinya, bahkan pemerasan yang kurasa akan terjadi itu tak dijadikan tameng bagi pembalasan dendam padaku." "Hemm aneh, pada hatimu dia jelas-jelas menghancurkanmu, tetapi tidak pada karirmu. Dia biarkan saja, karena mungkin dia tengah sadar kamu bukanlah musuhnya, dia hadir untuk membuat hari-harimu jadi menyebalkan." Aku mengangukan kepalaku, "Benar Mas Rio, dia memang kejam, tetapi tidak lebih kejam dari seorang pembunuh.Dua bulan setelah itu, tidak ada hujan tidak ada angin, Affal mengajakku bertemu secara spontan dia katakan ingin bertemu denganku di akhir pekan tepat di minggu kedua bulan februari 2024. Tanggal merah, perayaan imlek." "Kalian bertemu lagi, untuk keempat kalinya di real life? Waah, apa ini rencana Affal untuk memikirkan kelanjutan hubungan denganmu, Alba?" "Harus aku katakan, aku tidak mengerti jalan pikiran Affal, tetapi moment itu ternyata akhir dari perjump
"Tidak mau menjawab ya?" Rio menatapku lekat. Aku tersenyum untuk menutupi kecangunganku, "Kenapa bertanya hal itu padaku? Aku tidak mau menjawab bukan karena tidak mau menjawab Mas Rio, namun aku tidak ingin membuat kalian terluka satu sama lain, beda orang beda rasa Mas, tenanglah kamu masih baik padaku." "Jawaban apa ini membingugkan, membuat saya menerka-nerka kamu puas atau tidak dengan cara saya memperlakukan kamu di atas ranjang." "Mas Rio, lupa ya? Aku teriak-teriak keenakan tempo hari, apa itu tidak bermakna untukmu?" "Oh iya ya, lantas kenapa kamu terus menceritakan detail persetubuhanmu dengan Affal di depan saya?" "Soal itu aku masih mengingatnya dengan baik, hal paling membuatku berkesan, seolah hanya aku seorang diri yang dicintai Affal. Tidak apa-apa kan membaginya bersamamu, kamu bisa bermain berkali-kali lagi denganku semaumu setelah ceritaku selesai." Rio tertawa kecil mendengar penawaran tersirat dari pernyataaanku," Baiklah, enak banget bisa bekerj
"Kalau seandainya waktu bisa diulang, kiranya saya ingin jadi figuran dalam hubungan kalian, entah itu jadi teman Affal atau temanmu, rasanya harus ada saya, Alba, untuk menghentikan kebodohan tindakan kalian, masalahnya saya datang terlambat." "Emhem, kamu tidak datang terlambat Mas Rio, kamu hadir sesudah aku menjadi pribadi kedua, tidak masalah. Meski kamu ikut terlibat di masa lalu, belum tentu kamu bisa merubah keadaan." "Baiklah, saya paham soal itu. Setelah kamu tahu bahwa Affal punya kesibukan lain selain menjadi penulis, pebisnis dan mahasiswa , bagaimana kehidupanmu Alba?" Aku tertawa samar, "Aku menjalani rutinitasku Mas Rio, seperti biasa bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, pulang kerja, kadang-kadang aku bisa pulang lebih awal, kadang-kadang juga pulang di akhir kalau semisal ada proyek tambahan bersama guru-guru lain, saat itu aku tidak memikirkan apapun selain pekerjaan." "Bagaimana soal Affal, apa kalian masih terus berkomunikasi di tengah kepadatan dan ke
"Benar Mas Rio, dia menciptakan buku kedua berjudul Mahesa Basundara, namun tidak semeledak karya pertamanya meski akhinya ini jadi batu loncatan Affal melebarkan karirnya di platform digital lainnya. Sementara aku beralih profesi melamar sebagai guru di sekolah inilah awal perjalananku melepaskan mimpiku sebagai penulis." "Kalian sama-sama bertumbuh ya, itu sebabnya kamu suka sisi lain dari diri Affal?" "Emhem, itu benar Mas. Aku makin sayang padanya meski aku tidak lagi menulis dan masuk ke dunia yang sama dengannya." "Kamu bilang Affal melebarkan karirnya, memangnya kemana dan kenapa itu jadi alternatifnya?" "Sekitar enam bulan setelah aku memutuskan untuk tidak menulis di platform novelme, Affal menulis di platform bernama goodnovel karena lebih menjanjikan dari segi profit maupun jenjang karir sebelum persaingannya makin ketat dia sudah masuk duluan merintis di sana sampai akhirnya Novelme bangkrut dan menutup akses pada banyak penulis, singkat cerita sebagian besar mer
Aku bangkit dari sofa membiarkan ucapan dan tindakan Rio padaku ditelan waktu. "Affal tidak sepenuhnya salah, ada peranku yang juga membantunya masuk ke dalam jurang kegelapan sehingga kami berhasil mencicipi dosa besar, cintaku pada Tuhanku kalah di depan mahluk ciptaanya." Aku membalikan badan, menatap lurus sepasang mata meneduhkan Rio, "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Tuhan bukan ingin memberiarkanmu terjebak di masa lalu, peretemuan kalian juga bagian dari bentuk cinta-Nya pun dengan kita Alba." Aku tidak menjawab lagi, kembali duduk di Sofa yang berhadapan dengan sofa temapat Rio masih duduk manis. "Saya kira kamu betulan mau mandi, kenapa duduk lagi?" "Saat berdiri barusan, aku merasa belum mau melakukannya." "Baiklah, sekarang apa?" "Aku akan melanjutkan ceritanya." "Oke, saya siap dengarkan." "Puncak dari pada kestabilan hubunganku dengan Affal seolah dijawab lewat pertemuan pertama kami di dunia nyata, tetapi itu ternyata awal bagaimana aku meras
Semburat rona merah di pipiku cukup mengindikasikan rasa maluku pada perkatan dan tindakan random Rio kepadaku. Suara anak-anak bergemuruh di kelas Rio, bagaimana tidak, dia bicara dengan nada santai sekaligus volume tingkat tinggi, mana bisa aku mengindar dari seruan mereka meski tak ada satupu
Jika hari-hari di mana aku punya banyak waktu luang, aku masih mengingat betapa lihainya Affal membuatku takjub padanya. Bukan perihal ketampanannya sebagai pemuda karena dia tidak setampan visual yang dimiliki Rio, namun cara-cara memikat hatiku dengan sentuhan yang nyaris selalu mebuatku melayang
"Aku masih menyimpan dokumen rahasia antara aku dan Affal. Dokumen itu beris data-data pribadi Affal." "Waah, begitu ya, lalu apa yang akan kamu lakukan dengan data-data milk Affal tersebut? Apa ini termasuk pelanggaran hukum?" "Aku tidak tahu persis apakah tindakannku ini akan melanggar hukum at
Tidak ada hal lain selain menulis atas dasar pengalaman pribadi, aku pembaca karya Affal dari awal berkarirnya sebagai author web novel, sehingga aku memahami bagaimana karakter dan cara menulis lelaki monster psikopat yang membiarkan nama penanya Its moore terus bertengger di platform digital, tan







