Share

Bab 3

Penulis: Ungu
Ternyata, gelagat mesumku sudah ketahuan olehnya.

Dia ingin bertukar posisi supaya tubuhnya tidak terlihat lagi olehku.

Namun, nyaliku sudah terlanjur besar karena nafsu saat ini. Aku hanya berpikir bagaimana caranya mencari kesempatan untuk beraksi. Jadi, meskipun niat mesumku sudah terbaca oleh Jena, aku tidak merasa malu. Sebaliknya, aku malah tersenyum dan berkata, “Iya, aku duduk, tapi kamu juga harus duduk. Bagaimana kamu bisa menyelesaikan latihan esai ini kalau berdiri?”

Jena menjawab, “Kalau begitu aku ambil kursi dulu.”

Dia pun beranjak ingin ke ruang tamu untuk mengambil kursi.

Namun, aku segera menarik tangannya dan berkata, “Nggak perlu, meja ini kecil, nggak bakal muat kalau menaruh dua kursi.”

“Jadi?” Jena tidak berani menatap mataku, dia hanya menunduk sambil bergumam pelan.

Aku langsung mengubah ekspresi menjadi serius dan berkata, “Aku lihat esaimu ini buruk sekali. Kalau dosen lihat kertas ujianmu, kesannya pasti bakal jelek. Bagaimana bisa dapat nilai tinggi? Sini, kamu duduk di pangkuanku saja, biar aku ajari menulis sambil memegang tanganmu.”

“Apa?”

Jena memekik kaget, tapi melihat wajahku yang tampak serius, lalu melihat tulisannya sendiri, dia jadi tak berani membantah.

Setelah terdiam sejenak, dengan wajah yang memerah, dia bertanya, “Duduk di mana?”

Haha, ikannya sudah hampir kena pancing.

Dalam hati aku bersorak kegirangan, tapi di luar tetap berlagak tenang. Aku merapatkan kedua kaki dan berkata, “Duduk di atas sini, biar kuajari.”

Jena menatap wajah seriusku lagi, dia sempat ragu sejenak. Lalu sambil menggigit bibir bawahnya, dia merapikan ujung gaun tidurnya dengan hati-hati dan duduk tepat di pangkuanku. Dia bahkan bertanya dengan ragu, “Begini?”

Hatiku kembali bersorak. Aku bergegas memegang tangan kanannya yang sedang memegang pulpen, “Iya, benar begini.”

Lalu, aku mulai menuntun tangannya menulis kata demi kata.

Tubuh Jena tidak terlalu tinggi, mungil dan ramping. Saat dia duduk di pangkuanku, posisi cuping telinganya pas berada di depan bibirku.

Mencium aroma tubuhnya yang harum, napasku mulai memburu dan hembusan napasku tepat mengenai lehernya yang mulus.

Sepertinya Jena tipe gadis yang cukup sensitif. Begitu napas hangatku mengenai lehernya, dia agak merinding dan mengeluarkan desahan pelan.

Yang paling gawat adalah meski dia sudah merapikan ujung gaun tidurnya, gaun itu terlalu pendek. Begitu dia duduk, pangkal pahanya yang mulus langsung bersentuhan dengan pahaku.

Meskipun terhalang celana, aku masih bisa merasakan betapa halus dan lembut kulit pahanya.

Aku benar-benar menyesal memakai celana dalam segitiga yang paling ketat hari ini, membuat sahabatku terhimpit di dalam dan tidak leluasa merasakan sensasi di balik rok gadis ini.

Tangan kami terus bertautan seperti itu, menulis huruf demi huruf sampai satu esai latihan selesai.

Memanfaatkan kesempatan saat kami bangkit untuk istirahat sejenak, aku segera berlari ke kamar mandi di dalam kamar Jena. Aku berpura-pura buang air kecil, sekalian melepas celana dalam segitiga yang sangat mengganggu itu. Kemudian, tanpa menarik risleting celana, aku bergegas kembali dan duduk di kursi.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 12

    Brak!Pandanganku langsung berkunang-kunang. Tubuhku terpelanting ke belakang dan menghantam nakas di samping ranjang.Gelas kaca jatuh berdenting, hancur berkeping-keping di lantai.“Robin! Jangan! Berhenti!” teriak Tante Shinta sambil melerai.Namun, Robin seolah sudah gelap mata.Dia menindihku, mendaratkan tinju demi tinju ke wajah dan dadaku, sambil memaki habis-habisan, “Bajingan! Aku menganggapmu sahabat! Kamu malah melecehkan ibuku! Biar kubunuh kamu!”Bau amis darah mulai tercium di hidungku, pandanganku menjadi kabur. Aku hanya bisa mengangkat tangan untuk menangkis, sementara sekujur tubuhku terasa kebas kesakitan.Di tengah kekacauan itu, melalui sudut mataku, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu.Jena.Dia hanya berdiri diam di sana, tangannya memegang kusen pintu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tatapannya tenang seolah sedang menonton drama yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.Namun, saat aku menatapnya, sudut bibirnya sedikit menajam.Itu hanya sebuah lengk

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 11

    “Tante, kulitmu benaran terawat sekali. Aku lihat di meja rias ada botol minyak esensial, Tante sering pakai?”“Mulutmu manis sekali, pintar sekali merayu. Tapi kamu benar, tante memang rutin pakai minyak esensial. Dulu, tante suka pergi ke spa, tapi pijatan mbak-mbak di sana kurang terasa, nggak enak sama sekali,” jawab Tante Shinta dengan santai.“Kalau begitu, sekarang biar aku yang memijat tante dengan minyak, tapi tante harus melepas bajunya dulu,” godaku dengan maksud terselubung.“Dasar nakal, mau cari kesempatan lagi? Ya sudahlah, hari ini tante pasrah saja, terserah kamu mau apain.”Mendengar itu, aku bersorak dalam hati. Aku segera mengambil minyak tersebut, lalu dengan hati-hati menyingkap baju atasannya. Tante Shinta merenggangkan badannya dan baju longgar itu pun merosot jatuh dari bahunya.Kemudian, aku menarik celana panjangnya. Dia menoleh dengan ekspresi malu-malu dan berkomentar, “Ini juga harus dilepas?”“Tentu saja, seluruh tubuh mau diolesi minyak,” jawabku tegas s

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 10

    Hatiku ikut kegirangan, lalu berpura-pura ikut mengendus seperti Tante Shinta.Jena bergegas bangkit menuju kamar mandi. Saat melewatiku, dia sempat mencubit punggungku keras-keras.Aku menoleh menatap bayangannya dan benar saja, di bagian belakang roknya ada bekas noda basah yang tipis.Manusia memang punya indra penciuman yang tajam terhadap aroma-aroma seperti itu, jadi tak heran kalau Tante Shinta merada ada yang aneh.Saat aku sedang melamun menatap Jena, tiba-tiba lenganku dicubit seseorang.Aku menoleh, ternyata Tante Shinta.“Kamu habis melakukan hal nakal apa dengan Jena?” terdengar suara Tante Shinta yang seperti sedang menginterogasi, tapi sudut bibirnya jelas tersenyum dan tatapan matanya sedikit menggoda.Aku panik dan mencoba membela diri, tapi suaraku terdengar lemah tak bertenaga, “Nggak ada apa-apa….”“Cih, masih berani mengelak? Habis makan nanti, kamu ke kamarku. Ada yang mau kubicarakan denganmu.”Sama sekali tidak ada nada tegas dalam ucapan Tante Shinta, sebalikny

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 9

    Saat aku membuka pintu kamar Jena, ternyata dia berdiri tepat di balik pintu. Entah dia memang mau keluar untuk menemaniku setelah dipanggil Tante Shinta atau dia memang berdiri di sana dari tadi untuk mendengarkan pembicaraan kami di luar.Dia melirikku sekilas, lalu menunduk lagi. Dia berdiri mematung dengan canggung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku memberanikan diri menggenggam tangannya dan bertanya, “Jena, bagaimana belajarnya?”Dia melepaskan tangannya pelan sambil bergumam, “Cih, ternyata kamu masih ingat denganku?”Aku bisa merasakan kalau nada bicaranya bukan sedang marah, melainkan rajukan seorang kekasih. Seketika, muncul rasa bersalah di hatiku. Aku pun kembali menggenggam kedua tangannya dan berkata, “Jena, aku benaran suka padamu. Aku….”Tiba-tiba, Jena menarik tangannya dan menutup mulutku. Dia menatapku tajam dan berkata, “Nggak perlu bilang apa-apa lagi. Kamu benaran suka padaku? Kamu benaran nggak peduli kalau aku ini tunangannya Robin?”Jujur saja, meski menyu

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 8

    Sejak kejadian malam itu di rumah Robin, aku tidak berani lagi menghubungi Jena.Pertama, aku tidak tahu bagaimana sikap Jena setelah apa yang terjadi malam itu.Kedua, aku merasa Tante Shinta sepertinya sudah menyadari ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Jena.Jika nekat menemui Jena, aku takut bukan hanya bakal dicuekin, tapi juga bakal dimarahin habis-habisan oleh Tante Shinta. Jadi, aku hanya bisa menunggu dengan sabar sambil melihat perkembangan situasi.Beberapa hari kemudian, saat aku sedang bersiap-siap pulang kantor di sore hari, ponselku berbunyi. Aku melihat layarnya, ternyata itu nomor telepon rumah Robin.“Halo, Robin?” tanyaku dengan hati-hati saat mengangkat telepon.“Hehe, ini Tante Shinta. Kamu sangat sibuk akhir-akhir ini? Kok sudah lama nggak main ke rumah?” Ternyata Tante Shinta yang menelepon.Suaranya terdengar merdu dan sangat lembut.“Oh, ternyata tante, maaf, maaf. Aku kira Robin yang telepon barusan.”Mendengar suara Tante Shinta, perasaanku campur aduk a

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 7

    Robin mengeluarkan segepok uang dan mulai menghitungnya tepat di depan kami.Gerakanku terpaksa melambat, tapi tidak benar-benar berhenti.Bagi Jena, dipermainkan oleh sahabat tunangannya tepat di depan mata tunangan memberikan sensasi yang luar biasa aneh. Rasa malu, panik dan nikmat bercampur aduk menjadi satu. Pengalaman ini benar-benar terasa berbeda.Dia mulai inisiatif mengikuti iramaku, menggerakkan pinggulnya perlahan dengan wajah memerah dan tatapan sayu yang menggoda.Hal yang paling menyiksa adalah di saat dia sedang menikmati sensasi itu, dia tak hanya tak bisa mengeluarkan suara, tapi juga harus menjaga suaranya tetap tenang, sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan Robin.Kenikmatan seperti ini mungkin hanya datang sekali seumur hidup, jadi aku harus memperlama durasinya!Jadi, aku sengaja berkata pada Robin, “Kamu lagi sial hari ini, lebih baik mandi dulu, siapa tahu keberuntunganmu bisa balik lagi.”Mendengar saranku, Robin langsung berkata, “Benar juga, aku harus mandi bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status