INICIAR SESIÓNPemuda itu dengan mudah mencengkeram pergelangan tanganku dan mengangkatnya ke atas kepalaku. Tangan lainnya bergerak lancang di pinggangku. Lalu menyusup masuk dari balik keliman baju, meremas kulit di baliknya dengan berani. "Bu Merry, aku mohon padamu." Suaranya penuh godaan, hampir menghancurkan akal sehatku. "Pak Harvey bertanggung jawab memberikan ilmu padaku. Jadi, apa Bu Merry bisa memberiku yang lain?" Tangannya akhirnya berhenti di dadaku yang penuh. Dengan putus asa, aku menyadari bahwa akibat perbuatannya, ASI-ku yang memancar deras telah membasahi jari-jarinya...
Ver másKami bergerak secara terpisah. Aku menyelinap ke ruang kerja Harvey dan menyalakan komputernya. Produk investasi, akun saham, reksa dana yang dia sombongkan sebagai cara mengelola uang keluargaku, aku tahu semua kata sandinya.Satu per satu uang itu kutransfer ke rekeningku hingga kosong. Baru setelah saldo akun terakhir menjadi nol, aku mengembuskan napas panjang.Benar saja, kurang dari setengah jam kemudian, telepon Harvey masuk dan dia berbicara dengan suara gusar, "Merry! Di mana uang simpanan rumah tangga? Apa yang kamu lakukan dengan uang itu?""Aku menunggumu pulang," kataku, lalu menutup telepon.Dia pulang secepat kilat, menendang pintu hingga terbuka, dan menunjuk hidungku sambil memaki, "Kamu sudah gila?! Siapa yang menyuruhmu menyentuh uang itu?! Apa maumu?!""Segera transfer balik! Jangan berani-berani menyentuhnya! Itu semua uangku!"Aku duduk di sofa, lalu melemparkan surat cerai yang sudah kusiapkan bersama tumpukan foto itu ke atas meja kopi di depannya. Foto-foto
Aku berjalan kembali ke kamar tidur, menutup pintu. Saat itulah air mata jatuh seperti untaian mutiara yang putus, membasahi pipiku dalam keheningan.Kami telah menjadi suami istri selama bertahun-tahun. Meski hubungan kami terasa hambar, bagiku dia selalu baik, baik kepadaku maupun keluargaku. Dia perhatian, sopan, dan tampak sempurna tanpa cela. Itulah sebabnya orang tuaku sangat memercayainya, hingga menyerahkan seluruh tabungan seumur hidup mereka kepadanya untuk diinvestasikan.Namun pada akhirnya, dia hanya menginginkan harta keluargaku dan menjadikanku alat reproduksi gratis. Aku tidak terima. Rasa tidak adil yang luar biasa nyaris menenggelamkanku.Saat Harvey selesai mandi dan masuk ke kamar, aku segera memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Dia berbaring di sampingku, napasnya teratur, dan segera terlelap dengan nyenyak. Aku membuka mata, menatap tajam wajahnya dari samping di tengah kegelapan.Pria inilah yang telah menghancurkan segalanya.Aku mengambil ponselnya.
Jantungku seolah diremas oleh kata-katanya. Rasanya seolah rahasia tersembunyiku baru saja dikuliti habis olehnya. Aku membuka mulut, tetapi tak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Dia telah melihat kerapuhan dan kepura-puraanku."Tapi Bu Merry," katanya sambil tiba-tiba membungkuk. Embusan napas hangatnya menerpa pipiku."Sekarang dia sudah tidur."Pikiranku mendadak kosong, aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan nanar. Tangan besarnya yang baru saja menggendong bayiku itu, kini mengelus pinggangku dengan kehangatan yang membakar tubuhku.Tubuhku kaku, seolah terpaku di lantai. Ibu jarinya mengusap lembut lekuk pinggangku dari balik baju tidur sutra. Rasa geli yang menjalar seperti sengatan listrik itu seketika merambat ke seluruh tubuh."Sekarang..." Bibirnya hampir menyentuh telingaku, suaranya serak bagaikan bisikan iblis. Dia melanjutkan, "Nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita."Klik.Pintu terbuka. Harvey pulang.Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada otakku. Sepert
Bagaimanapun caranya, Darrel harus pindah. Namun, bukannya Harvey yang pulang, aku malah menerima telepon darinya.Di seberang sana, suaranya terdengar dingin dan tidak sabar seperti biasanya."Ada pertukaran akademis mendesak di kampus, aku harus pergi ke luar kota selama sekitar setengah bulan.""Urus urusan rumah baik-baik dan tolong jaga mahasiswaku."Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung mematikan telepon. Aku menggenggam ponselku dan terpaku di tempat. Perasaanku campur aduk. Ada rasa kehilangan. Namun anehnya, ada secercah kelegaan yang sulit kujelaskan.Ketidakhadiran Harvey, berarti aku tidak perlu menghadapi sikap dingin dan hinaannya.Namun, itu juga berarti di rumah ini hanya tersisa aku dan Darrel, pria yang menatapku seolah ingin memangsaku.Memikirkan hal ini, membuat jantungku berdegup kencang. Antara takut dan munculnya sebuah harapan tersembunyi yang bahkan aku sendiri tidak berani mengakuinya.Hari-hari berikutnya menjadi siksaan yang tiada akhir. Darrel tidak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.