MasukDengan alasan ingin memberi bimbingan belajar, aku membiarkan tunangan sahabat masa kecilku duduk di pangkuanku. Bukannya menolak, tunangannya malah…. Begitu keluar dari kamar Jena, aku berpapasan dengan ibu sahabatku. Dia tampak sexy, dewasa dan menggoda, benar-benar penuh pesona. Ibunya menatapku, lalu memberiku senyuman penuh makna.
Lihat lebih banyakBrak!Pandanganku langsung berkunang-kunang. Tubuhku terpelanting ke belakang dan menghantam nakas di samping ranjang.Gelas kaca jatuh berdenting, hancur berkeping-keping di lantai.“Robin! Jangan! Berhenti!” teriak Tante Shinta sambil melerai.Namun, Robin seolah sudah gelap mata.Dia menindihku, mendaratkan tinju demi tinju ke wajah dan dadaku, sambil memaki habis-habisan, “Bajingan! Aku menganggapmu sahabat! Kamu malah melecehkan ibuku! Biar kubunuh kamu!”Bau amis darah mulai tercium di hidungku, pandanganku menjadi kabur. Aku hanya bisa mengangkat tangan untuk menangkis, sementara sekujur tubuhku terasa kebas kesakitan.Di tengah kekacauan itu, melalui sudut mataku, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu.Jena.Dia hanya berdiri diam di sana, tangannya memegang kusen pintu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tatapannya tenang seolah sedang menonton drama yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.Namun, saat aku menatapnya, sudut bibirnya sedikit menajam.Itu hanya sebuah lengk
“Tante, kulitmu benaran terawat sekali. Aku lihat di meja rias ada botol minyak esensial, Tante sering pakai?”“Mulutmu manis sekali, pintar sekali merayu. Tapi kamu benar, tante memang rutin pakai minyak esensial. Dulu, tante suka pergi ke spa, tapi pijatan mbak-mbak di sana kurang terasa, nggak enak sama sekali,” jawab Tante Shinta dengan santai.“Kalau begitu, sekarang biar aku yang memijat tante dengan minyak, tapi tante harus melepas bajunya dulu,” godaku dengan maksud terselubung.“Dasar nakal, mau cari kesempatan lagi? Ya sudahlah, hari ini tante pasrah saja, terserah kamu mau apain.”Mendengar itu, aku bersorak dalam hati. Aku segera mengambil minyak tersebut, lalu dengan hati-hati menyingkap baju atasannya. Tante Shinta merenggangkan badannya dan baju longgar itu pun merosot jatuh dari bahunya.Kemudian, aku menarik celana panjangnya. Dia menoleh dengan ekspresi malu-malu dan berkomentar, “Ini juga harus dilepas?”“Tentu saja, seluruh tubuh mau diolesi minyak,” jawabku tegas s
Hatiku ikut kegirangan, lalu berpura-pura ikut mengendus seperti Tante Shinta.Jena bergegas bangkit menuju kamar mandi. Saat melewatiku, dia sempat mencubit punggungku keras-keras.Aku menoleh menatap bayangannya dan benar saja, di bagian belakang roknya ada bekas noda basah yang tipis.Manusia memang punya indra penciuman yang tajam terhadap aroma-aroma seperti itu, jadi tak heran kalau Tante Shinta merada ada yang aneh.Saat aku sedang melamun menatap Jena, tiba-tiba lenganku dicubit seseorang.Aku menoleh, ternyata Tante Shinta.“Kamu habis melakukan hal nakal apa dengan Jena?” terdengar suara Tante Shinta yang seperti sedang menginterogasi, tapi sudut bibirnya jelas tersenyum dan tatapan matanya sedikit menggoda.Aku panik dan mencoba membela diri, tapi suaraku terdengar lemah tak bertenaga, “Nggak ada apa-apa….”“Cih, masih berani mengelak? Habis makan nanti, kamu ke kamarku. Ada yang mau kubicarakan denganmu.”Sama sekali tidak ada nada tegas dalam ucapan Tante Shinta, sebalikny
Saat aku membuka pintu kamar Jena, ternyata dia berdiri tepat di balik pintu. Entah dia memang mau keluar untuk menemaniku setelah dipanggil Tante Shinta atau dia memang berdiri di sana dari tadi untuk mendengarkan pembicaraan kami di luar.Dia melirikku sekilas, lalu menunduk lagi. Dia berdiri mematung dengan canggung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku memberanikan diri menggenggam tangannya dan bertanya, “Jena, bagaimana belajarnya?”Dia melepaskan tangannya pelan sambil bergumam, “Cih, ternyata kamu masih ingat denganku?”Aku bisa merasakan kalau nada bicaranya bukan sedang marah, melainkan rajukan seorang kekasih. Seketika, muncul rasa bersalah di hatiku. Aku pun kembali menggenggam kedua tangannya dan berkata, “Jena, aku benaran suka padamu. Aku….”Tiba-tiba, Jena menarik tangannya dan menutup mulutku. Dia menatapku tajam dan berkata, “Nggak perlu bilang apa-apa lagi. Kamu benaran suka padaku? Kamu benaran nggak peduli kalau aku ini tunangannya Robin?”Jujur saja, meski menyu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.