Share

Bab 2

Author: Ungu
Tak lama kemudian, Jena keluar.

Dia masih memakai gaun tidur yang sama, tapi kali ini sudah memakai bra dan celana dalam. Warnanya putih dan sangking tipisnya, garis pakaian dalamnya itu terlihat tercetak di balik kain gaunnya.

Robin berkata, “Gaius, kutitipkan Jena padamu, ya.”

Lalu, dengan nada sedikit cemburu, dia berbisik di telingaku, “Badan istriku bagus, ‘kan? Kamu beruntung sekali. Tapi ingat, jangan macam-macam!”

Sepertinya dia tidak marah meski tubuh istrinya sudah kulihat semua tadi. Nadanya pun hanya seperti bercanda, tapi hal itu justru semakin membakar gairahku.

Kemudian, Robin berkata pada Jena “Sayang, kamu belajar yang rajin sama Gaius, ya. Aku mau pergi main sebentar.”

Jena meliriknya dengan tajam dan menggerutu tidak puas, “Hmph, main kartu lagi? Sana pergilah, jangan ganggu kami belajar.”

Suaranya terdengar seperti mengomel, tapi sebenarnya dia sedang bermanja. Suara yang lembut itu membuat hatiku bergetar.

Robin hanya tertawa pelan, lalu segera pergi.

Aku hanya bisa berdiri terpaku sambil menatap Jena

Sejak Jena berpacaran dengan Robin, aku jadi tidak akrab dengannya. Biasanya kami sering bercanda dan main bersama.

Terlihat jelas kalau Jena cukup menyukaiku. Wajar saja, wajahku proposional dan jauh lebih tampak dibanding Robin.

Kadang dia sengaja bermanja-manja padaku, membuat perasaanku jadi tidak karuan.

Dengan suara manja, Jena berkata, “Lihat apa, sih? Nggak pernah lihat?”

Aku menelan ludah dan menjawab, “Iya, memang belum pernah lihat.”

Jena mendekat, tangannya menepuk dadaku pelan sambil berkata, “Kalian laki-laki memang begitu. Nanti kalau sudah punya istri, baru bisa puas melihatnya.”

Tepukan jari-jarinya yang lentik, ditambah wajah cantiknya yang masih merona kemerahan, membuatku kehilangan kendali. Sambil menahan gejolak di kepala, aku memberanikan diri menggenggam tangan mungilnya dan berkata, “Wanita lain kalau kulihat sekali saja sudah cukup, tapi kalau kamu, rasanya nggak akan pernah cukup.”

Tak disangka, Jena tidak marah. Dia malah tertawa pelan, memperlihatkan dua lesung pipinya yang manis.

Dia menarik tangannya kembali dan berkata, “Jangan menggodaku terus! Jangan lupa tujuanmu ke sini untuk apa. Ayo, cepat belajar.”

Aku pun ikut tertawa. Mungkin Jena benar-benar mengira aku hanya bercanda, jadi aku pun menimpali candaannya, “Hari ini aku gurumu, murid harus patuh dengan gurunya.”

“Baiklah, Pak Gaius. Aku akan patuh padamu malam ini. Sekarang, kita mulai dari mana?” Jena mengeluarkan bahan materi belajar, duduk di meja belajar, lalu menatapku dengan manis.

Aku tersenyum penuh makna, “Kamu sendiri yang bilang, ya. Kamu harus patuh padaku malam ini.”

Lalu, aku mendekat dan bersandar di meja sampingnya, “Hari ini kita latihan menulis esai bahasa inggris dulu.”

Jena bergumam menjawabku. Sambil mengikuti buku panduan yang kubuka, dia mulai menyalin dengan teliti.

Tubuhnya agak condong ke depan, membuat kerah gaun tidurnya yang sudah agak longgar semakin terbuka.

Aku mencuri pandang beberapa kali dan pemandangan di depannya benar-benar luar biasa.

Kulit dadanya sangat putih dan halus.

Branya sangat tipis, hanya menutupi bagian bawah dadanya yang montok. Melalui pinggiran renda-rendanya, aku bisa melihat bayangan gelap dan putingnya yang menonjol membentuk dua titik kecil di balik bra.

Aku mendekat lagi. Ah, aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya yang lembut.

Rasanya aku juga ingin menerkamnya saat ini juga!

Tiba-tiba, Jena menyenggol pahaku dengan siku tangannya. Dengan wajah memerah, dia berkata, “Kamu duduklah untuk mengajariku, biar aku belajarnya sambil berdiri.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 12

    Brak!Pandanganku langsung berkunang-kunang. Tubuhku terpelanting ke belakang dan menghantam nakas di samping ranjang.Gelas kaca jatuh berdenting, hancur berkeping-keping di lantai.“Robin! Jangan! Berhenti!” teriak Tante Shinta sambil melerai.Namun, Robin seolah sudah gelap mata.Dia menindihku, mendaratkan tinju demi tinju ke wajah dan dadaku, sambil memaki habis-habisan, “Bajingan! Aku menganggapmu sahabat! Kamu malah melecehkan ibuku! Biar kubunuh kamu!”Bau amis darah mulai tercium di hidungku, pandanganku menjadi kabur. Aku hanya bisa mengangkat tangan untuk menangkis, sementara sekujur tubuhku terasa kebas kesakitan.Di tengah kekacauan itu, melalui sudut mataku, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu.Jena.Dia hanya berdiri diam di sana, tangannya memegang kusen pintu. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tatapannya tenang seolah sedang menonton drama yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.Namun, saat aku menatapnya, sudut bibirnya sedikit menajam.Itu hanya sebuah lengk

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 11

    “Tante, kulitmu benaran terawat sekali. Aku lihat di meja rias ada botol minyak esensial, Tante sering pakai?”“Mulutmu manis sekali, pintar sekali merayu. Tapi kamu benar, tante memang rutin pakai minyak esensial. Dulu, tante suka pergi ke spa, tapi pijatan mbak-mbak di sana kurang terasa, nggak enak sama sekali,” jawab Tante Shinta dengan santai.“Kalau begitu, sekarang biar aku yang memijat tante dengan minyak, tapi tante harus melepas bajunya dulu,” godaku dengan maksud terselubung.“Dasar nakal, mau cari kesempatan lagi? Ya sudahlah, hari ini tante pasrah saja, terserah kamu mau apain.”Mendengar itu, aku bersorak dalam hati. Aku segera mengambil minyak tersebut, lalu dengan hati-hati menyingkap baju atasannya. Tante Shinta merenggangkan badannya dan baju longgar itu pun merosot jatuh dari bahunya.Kemudian, aku menarik celana panjangnya. Dia menoleh dengan ekspresi malu-malu dan berkomentar, “Ini juga harus dilepas?”“Tentu saja, seluruh tubuh mau diolesi minyak,” jawabku tegas s

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 10

    Hatiku ikut kegirangan, lalu berpura-pura ikut mengendus seperti Tante Shinta.Jena bergegas bangkit menuju kamar mandi. Saat melewatiku, dia sempat mencubit punggungku keras-keras.Aku menoleh menatap bayangannya dan benar saja, di bagian belakang roknya ada bekas noda basah yang tipis.Manusia memang punya indra penciuman yang tajam terhadap aroma-aroma seperti itu, jadi tak heran kalau Tante Shinta merada ada yang aneh.Saat aku sedang melamun menatap Jena, tiba-tiba lenganku dicubit seseorang.Aku menoleh, ternyata Tante Shinta.“Kamu habis melakukan hal nakal apa dengan Jena?” terdengar suara Tante Shinta yang seperti sedang menginterogasi, tapi sudut bibirnya jelas tersenyum dan tatapan matanya sedikit menggoda.Aku panik dan mencoba membela diri, tapi suaraku terdengar lemah tak bertenaga, “Nggak ada apa-apa….”“Cih, masih berani mengelak? Habis makan nanti, kamu ke kamarku. Ada yang mau kubicarakan denganmu.”Sama sekali tidak ada nada tegas dalam ucapan Tante Shinta, sebalikny

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 9

    Saat aku membuka pintu kamar Jena, ternyata dia berdiri tepat di balik pintu. Entah dia memang mau keluar untuk menemaniku setelah dipanggil Tante Shinta atau dia memang berdiri di sana dari tadi untuk mendengarkan pembicaraan kami di luar.Dia melirikku sekilas, lalu menunduk lagi. Dia berdiri mematung dengan canggung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Aku memberanikan diri menggenggam tangannya dan bertanya, “Jena, bagaimana belajarnya?”Dia melepaskan tangannya pelan sambil bergumam, “Cih, ternyata kamu masih ingat denganku?”Aku bisa merasakan kalau nada bicaranya bukan sedang marah, melainkan rajukan seorang kekasih. Seketika, muncul rasa bersalah di hatiku. Aku pun kembali menggenggam kedua tangannya dan berkata, “Jena, aku benaran suka padamu. Aku….”Tiba-tiba, Jena menarik tangannya dan menutup mulutku. Dia menatapku tajam dan berkata, “Nggak perlu bilang apa-apa lagi. Kamu benaran suka padaku? Kamu benaran nggak peduli kalau aku ini tunangannya Robin?”Jujur saja, meski menyu

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 8

    Sejak kejadian malam itu di rumah Robin, aku tidak berani lagi menghubungi Jena.Pertama, aku tidak tahu bagaimana sikap Jena setelah apa yang terjadi malam itu.Kedua, aku merasa Tante Shinta sepertinya sudah menyadari ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Jena.Jika nekat menemui Jena, aku takut bukan hanya bakal dicuekin, tapi juga bakal dimarahin habis-habisan oleh Tante Shinta. Jadi, aku hanya bisa menunggu dengan sabar sambil melihat perkembangan situasi.Beberapa hari kemudian, saat aku sedang bersiap-siap pulang kantor di sore hari, ponselku berbunyi. Aku melihat layarnya, ternyata itu nomor telepon rumah Robin.“Halo, Robin?” tanyaku dengan hati-hati saat mengangkat telepon.“Hehe, ini Tante Shinta. Kamu sangat sibuk akhir-akhir ini? Kok sudah lama nggak main ke rumah?” Ternyata Tante Shinta yang menelepon.Suaranya terdengar merdu dan sangat lembut.“Oh, ternyata tante, maaf, maaf. Aku kira Robin yang telepon barusan.”Mendengar suara Tante Shinta, perasaanku campur aduk a

  • Jangan Pernah Mengusik Istri Sahabat   Bab 7

    Robin mengeluarkan segepok uang dan mulai menghitungnya tepat di depan kami.Gerakanku terpaksa melambat, tapi tidak benar-benar berhenti.Bagi Jena, dipermainkan oleh sahabat tunangannya tepat di depan mata tunangan memberikan sensasi yang luar biasa aneh. Rasa malu, panik dan nikmat bercampur aduk menjadi satu. Pengalaman ini benar-benar terasa berbeda.Dia mulai inisiatif mengikuti iramaku, menggerakkan pinggulnya perlahan dengan wajah memerah dan tatapan sayu yang menggoda.Hal yang paling menyiksa adalah di saat dia sedang menikmati sensasi itu, dia tak hanya tak bisa mengeluarkan suara, tapi juga harus menjaga suaranya tetap tenang, sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan Robin.Kenikmatan seperti ini mungkin hanya datang sekali seumur hidup, jadi aku harus memperlama durasinya!Jadi, aku sengaja berkata pada Robin, “Kamu lagi sial hari ini, lebih baik mandi dulu, siapa tahu keberuntunganmu bisa balik lagi.”Mendengar saranku, Robin langsung berkata, “Benar juga, aku harus mandi bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status