Share

BAB 19

Penulis: Kupukupu
last update Tanggal publikasi: 2026-09-04 13:00:07

"Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.

Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 19

    "Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari sela-sela jemari Kyla yang memegang pecahan tajam tersebut, menetes lambat membentur marmer putih yang bertabur dokumen rahasia."Seline, keluar dari sini sekarang sebelum aku membunuhmu!" desis Arka tanpa berpaling sedikit pun dari Kyla. Suaranya rendah, sarat akan kemurkaan murni yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.Seline mendengus sinis, merapikan blazer kremnya dengan gestur tenang yang memuakkan. "Kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya, Arka," bisiknya penuh

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 18

    "Kau tidak akan pergi ke kampus hari ini, Kyla."Suara Arka memecah keheningan kamar utama saat pria itu merapikan jam tangan emasnya. Kyla yang sedang merapikan kerah kemeja putihnya mendadak membeku. Matanya yang kusam memantulkan bayangan Arka yang melangkah mendekat dari belakang, memancarkan aura dominasi yang semakin pekat seiring terbitnya matahari pagi."Om, aku ada jadwal presentasi sketsa jam sepuluh," sahut Kyla, memutar tubuhnya dengan tatapan tegar meski dadanya bergemuruh hebat. "Dosen tidak akan menoleransi ketidakhadiranku lagi setelah insiden perkemahan kemarin."Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Kyla. Ia meraih dasi sutra hitam dari atas meja rias, menyodorkannya pada Kyla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya. "Tugasmu bisa dikirim lewat surel. Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke Mahendra Tower. Kau bisa mengerjakan sketsamu di ruang kerja pribadiku."Kyla menerima dasi itu dengan tangan gemetar, memasangkannya ke leher Arka dengan gerakan kaku. Jara

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 17

    "Mau ke galeri kampus bersama Riana, Om," sahut Kyla pelan, matanya menatap tajam pada sepasang sepatu kulit Arka yang melangkah masuk melintasi karpet tebal. "Riana baru saja mengirim pesan. Ada pameran tunggal alumni yang wajib kami amati untuk laporan tugas akhir."Arka tidak membalas ucapan itu seketika. Pria itu menyusuri kamar dengan langkah yang amat teratur, melepas jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas meja rias dengan denting logam yang nyaring di tengah kesunyian. Ia berdiri tepat di belakang Kyla, membiarkan pantulan tubuh mereka berdua mendominasi bayangan cermin di hadapan mereka. Jemari Arka yang dingin meluncur perlahan ke bahu Kyla, mencengkeramnya dengan tekanan yang begitu pas—cukup kuat untuk menegaskan otoritasnya, namun cukup lembut untuk menahan gadis itu agar tidak berpaling."Pergilah," bisik Arka, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyla, menyapukan aura dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi ingat satu hal. Sopir dan dua pengawal

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 16

    Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan ketegangan yang sempat meledak di ruang utama mansion. Kyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang masih memburu.Kata-kata terakhir Arka kepada ibunya, masih terngiang jelas di telinganya. “Tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk Ibu, yang punya kuasa untuk memutuskan seberapa lama dia akan tinggal di sini selain diriku.”Kalimat itu terdengar begitu mutlak, sebuah deklarasi kepemilikan yang tidak menyisakan celah bagi siapa pun untuk membantah. Di satu sisi, Kyla merasa dilindungi dengan cara yang paling kuat di dunia. Namun di sisi lain, kalimat itu juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar telah terkunci sepenuhnya di dalam wilayah kekuasaan Arka. Ia bukan lagi sekadar anak asuh, ia adalah pusat dari badai pertarungan keluarga Mahendra.Langkah kaki yang berat dan teratur mendekati pintu kamarnya. Suara ketukan pelan terdengar sebelum ga

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 15

    Suasana kampus terasa begitu asing bagi Kyla. Hari ketiga sejak insiden di puncak gunung itu, ia merasa seolah-olah jiwanya tertinggal di sana, di tempat yang kini menjadi altar pengorbanan kebebasannya. Ia berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang berat, kepalanya sering kali menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi kosong di wajahnya.Ia pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika Riana mencoba mengajaknya bercanda tentang tugas seni rupa yang menumpuk, Kyla hanya merespons dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada tatapan Arka yang selalu membayanginya, seolah pria itu menanamkan jejak permanen pada setiap inci kulit dan jiwanya."Ky, kamu kenapa sih? Sejak pulang dari camping lebih awal, kamu kayak orang kehilangan nyawa," Riana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, menatap Kyla dengan raut wajah khawatir. "Kamu sakit? Atau ada masalah dengan 'Om Posesif'-mu itu lagi?"Kyla ters

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 14

    Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status