登入Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.
Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan walinya yang terkenal sangat jeli mendeteksi kebohongan.
Dua puluh menit kemudian, sedan mewah itu akhirnya berbelok memasuki gerbang besi tempa mansion mewah milik Arka. Suasana di dalam rumah besar itu tampak sunyi seperti biasa saat Kyla melangkah masuk melewati foyer marmer yang megah. Kyla segera naik ke kamarnya untuk berganti pakaian, memilih setelan rumah berupa kaus putih polos yang longgar dan celana kulot rajut berwarna abu-abu yang sangat sopan, pakaian yang jauh dari kata provokatif untuk meminimalisasi ketegangan di antara mereka.
Tepat pukul delapan malam, deru halus mesin Range Rover hitam milik Arka terdengar memasuki area carport. Kyla yang sejak tadi menunggu di ruang tengah langsung bangkit berdiri. Jantungnya berdentum kencang, namun kali ini ia tidak membiarkan rasa takut menguasai dirinya. Ia memaksakan seulas senyum manis yang tampak paling tulus menghiasi bibirnya saat daun pintu ganda mansion itu terbuka lebar.
Arka melangkah masuk. Pria itu tampak teramat gagah sekaligus lelah dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang kancing atas kemejanya sudah dilonggarkan sedikit. Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi kini sedikit berantakan di dahi kokohnya.
"Selamat malam, Om Arka," sapa Kyla dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, melangkah mendekat untuk menyambut kedatangan sang wali.
Arka menghentikan langkah kakinya seketika. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung menyipit, menatap Kyla dengan sorot penuh selidik yang begitu pekat. Ada kerutan samar yang terbentuk di keningnya, memperlihatkan betapa tidak siapnya ia menghadapi sambutan hangat yang sangat tidak biasa ini dari gadis yang semalam berteriak membencinya.
"Mau kubuatkan kopi hangat atau teh, Om? Om pasti sangat lelah setelah seharian memimpin rapat di kantor," lanjut Kyla manis, menawarkan minuman dengan binar mata yang ceria.
"Tidak usah," jawab Arka dingin setelah keheningan yang cukup lama menekan udara di antara mereka. Pria itu melepaskan jam tangan mewahnya, menyerahkannya pada kepala pelayan yang sejak tadi berdiri patuh menunggu instruksi. "Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan di ruang kerja. Masuklah ke kamarmu."
"Tapi kopi hitam tanpa gula buatan pelayan tidak senikmat buatanku, kan? Aku buatkan sebentar saja, tidak sampai lima menit juga selesai," sahut Kyla cepat. Tanpa menunggu penolakan lebih lanjut dari pria itu, ia langsung membalikkan tubuh dan melangkah setengah berlari menuju dapur bersih di sayap kanan lantai bawah.
Arka tidak bersuara untuk mencegahnya, namun tatapan matanya terus mengikuti punggung ramping Kyla dengan kecurigaan yang kian menebal di balik lipatan keningnya. Pria itu terlalu cerdas untuk dikelabui oleh perubahan sikap yang terlampau sempurna ini.
Beberapa menit kemudian, Kyla kembali ke ruang tengah dengan secangkir kopi porselen hitam mengepul yang diletakkannya di atas meja kopi marmer di hadapan Arka. Pria itu ternyata belum beranjak naik ke lantai atas. Ia kini duduk bersandar pada sofa beludru, menatap lurus ke arah Kyla yang mendudukkan diri di sofa tunggal di sampingnya dengan sikap sesopan mungkin.
Kyla memaksa dirinya untuk terus berbicara, mengalirkan obrolan ringan tentang kegiatannya di kampus hari ini, tentang betapa membosankannya materi teori warna, hingga beberapa draf sketsa baru yang sedang ia kerjakan di studio mini miliknya. Kyla berbicara jauh lebih banyak dari biasanya, mencoba meyakinkan Arka bahwa hubungan mereka kembali berjalan normal seperti paman dan keponakan pada umumnya.
Arka mendengarkan seluruh ocehan itu dalam keheningan yang panjang, sesekali menyapukan ibu jarinya pada pinggiran cangkir porselen yang hangat. Semakin Kyla menunjukkan nada ceria yang tidak biasa, garis rahang kokoh Arka justru terlihat semakin mengeras. Ia lebih menyukai Kyla yang menatapnya dengan kilat amarah membara dan perlawanan yang jujur, daripada Kyla yang mengenakan topeng kepatuhan manis malam ini.
"Hentikan, Kyla," potong Arka tiba-tiba. Suara baritonnya yang berat seketika memotong kalimat Kyla di tengah jalan, membuat suasana di ruang tengah yang luas itu kembali diselimuti oleh kesunyian yang mencekam.
Kyla terkesiap, kalimatnya menggantung di udara. "Om... kenapa?"
"Bersihkan dirimu dan segera tidur," perintah Arka datar, meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja marmer sebelum bangkit berdiri tegak. "Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan drama kepatuhan palsumu malam ini."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kyla langsung patuh tanpa perdebatan seperti biasa. Ia tidak membalas dengan kemarahan atau kalimat sinis. Ia hanya mengembuskan napas perlahan, lalu mengangguk patuh dengan ekspresi wajah yang sangat tenang dan penurut.
"Baik, Om. Selamat malam. Jangan bekerja terlalu larut," ucap Kyla lirih.
Kyla bangkit dari sofa, berbalik, dan melangkah naik menuju tangga lantai dua dengan tenang. Kepatuhan instan tanpa perdebatan dari Kyla malam ini justru menjadi alarm bahaya paling nyaring di dalam kepala Arka.
Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Kyla mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Ia tersenyum kecil, merasa sandiwara hari pertamanya berjalan dengan sangat mulus. Ia berjalan santai menuju kamar mandi di sudut kamar.
Kyla memutar keran pancuran air hangat, melepaskan pakaiannya, dan melangkah di bawah guyuran air yang menenangkan untuk meredakan kepenatan kepalanya setelah seharian penuh berpura-pura di hadapan walinya yang mengintimidasi.
Lima belas menit kemudian, Kyla mematikan pancuran air. Ia meraih selembar handuk putih bersih yang tergantung di dinding kaca. Karena meyakini dirinya sedang berada di dalam kamar pribadinya yang tertutup rapat di bawah perlindungan malam, Kyla hanya melilitkan handuk tersebut seadanya untuk menutupi bagian dada hingga sebatas paha mulusnya. Ia membiarkan bahu bulat dan kaki jenjangnya terekspos bebas di udara kamar yang dingin karena embusan AC, sementara rambut panjangnya yang masih basah terurai berantakan, meneteskan sisa air di atas tulang selangkanya yang mulus.
Kyla mendorong pintu kaca kamar mandi dan melangkah keluar sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang lain.
Namun, langkah kakinya mendadak membeku seketika di ambang pintu kamar mandi. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah-olah direnggut paksa dalam hitungan detik.
Di dekat meja riasnya yang temaram oleh cahaya lampu tidur kuning keemasan, sesosok tubuh tegap berbalut kemeja abu-abu arang sedang berdiri membelakanginya dengan tenang. Arka. Pria itu entah bagaimana bisa masuk ke dalam kamarnya yang ia yakini telah terkunci rapat dari dalam. Dan yang membuat darah Kyla mendadak berdesir sedingin es adalah apa yang sedang dipegang oleh jemari besar pria itu saat ini.
Sebuah amplop biru pastel dengan segel lilin bermotif bunga yang telah sobek kasar di sudut meja riasnya.
Arka sedang memegang selembar kertas surat di dalamnya, membaca baris demi baris kata yang tertulis di sana dengan rahang yang mengeras begitu kokoh bagai batu karang. Mata elang pria itu perlahan berputar tajam, beralih dari kertas surat di tangannya untuk menatap lurus ke arah Kyla yang berdiri gemetar dengan tubuh yang hanya terbalut selembar handuk seadanya di hadapannya.
"Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari sela-sela jemari Kyla yang memegang pecahan tajam tersebut, menetes lambat membentur marmer putih yang bertabur dokumen rahasia."Seline, keluar dari sini sekarang sebelum aku membunuhmu!" desis Arka tanpa berpaling sedikit pun dari Kyla. Suaranya rendah, sarat akan kemurkaan murni yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.Seline mendengus sinis, merapikan blazer kremnya dengan gestur tenang yang memuakkan. "Kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya, Arka," bisiknya penuh
"Kau tidak akan pergi ke kampus hari ini, Kyla."Suara Arka memecah keheningan kamar utama saat pria itu merapikan jam tangan emasnya. Kyla yang sedang merapikan kerah kemeja putihnya mendadak membeku. Matanya yang kusam memantulkan bayangan Arka yang melangkah mendekat dari belakang, memancarkan aura dominasi yang semakin pekat seiring terbitnya matahari pagi."Om, aku ada jadwal presentasi sketsa jam sepuluh," sahut Kyla, memutar tubuhnya dengan tatapan tegar meski dadanya bergemuruh hebat. "Dosen tidak akan menoleransi ketidakhadiranku lagi setelah insiden perkemahan kemarin."Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Kyla. Ia meraih dasi sutra hitam dari atas meja rias, menyodorkannya pada Kyla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya. "Tugasmu bisa dikirim lewat surel. Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke Mahendra Tower. Kau bisa mengerjakan sketsamu di ruang kerja pribadiku."Kyla menerima dasi itu dengan tangan gemetar, memasangkannya ke leher Arka dengan gerakan kaku. Jara
"Mau ke galeri kampus bersama Riana, Om," sahut Kyla pelan, matanya menatap tajam pada sepasang sepatu kulit Arka yang melangkah masuk melintasi karpet tebal. "Riana baru saja mengirim pesan. Ada pameran tunggal alumni yang wajib kami amati untuk laporan tugas akhir."Arka tidak membalas ucapan itu seketika. Pria itu menyusuri kamar dengan langkah yang amat teratur, melepas jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas meja rias dengan denting logam yang nyaring di tengah kesunyian. Ia berdiri tepat di belakang Kyla, membiarkan pantulan tubuh mereka berdua mendominasi bayangan cermin di hadapan mereka. Jemari Arka yang dingin meluncur perlahan ke bahu Kyla, mencengkeramnya dengan tekanan yang begitu pas—cukup kuat untuk menegaskan otoritasnya, namun cukup lembut untuk menahan gadis itu agar tidak berpaling."Pergilah," bisik Arka, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyla, menyapukan aura dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi ingat satu hal. Sopir dan dua pengawal
Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan ketegangan yang sempat meledak di ruang utama mansion. Kyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang masih memburu.Kata-kata terakhir Arka kepada ibunya, masih terngiang jelas di telinganya. “Tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk Ibu, yang punya kuasa untuk memutuskan seberapa lama dia akan tinggal di sini selain diriku.”Kalimat itu terdengar begitu mutlak, sebuah deklarasi kepemilikan yang tidak menyisakan celah bagi siapa pun untuk membantah. Di satu sisi, Kyla merasa dilindungi dengan cara yang paling kuat di dunia. Namun di sisi lain, kalimat itu juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar telah terkunci sepenuhnya di dalam wilayah kekuasaan Arka. Ia bukan lagi sekadar anak asuh, ia adalah pusat dari badai pertarungan keluarga Mahendra.Langkah kaki yang berat dan teratur mendekati pintu kamarnya. Suara ketukan pelan terdengar sebelum ga
Suasana kampus terasa begitu asing bagi Kyla. Hari ketiga sejak insiden di puncak gunung itu, ia merasa seolah-olah jiwanya tertinggal di sana, di tempat yang kini menjadi altar pengorbanan kebebasannya. Ia berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang berat, kepalanya sering kali menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi kosong di wajahnya.Ia pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika Riana mencoba mengajaknya bercanda tentang tugas seni rupa yang menumpuk, Kyla hanya merespons dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada tatapan Arka yang selalu membayanginya, seolah pria itu menanamkan jejak permanen pada setiap inci kulit dan jiwanya."Ky, kamu kenapa sih? Sejak pulang dari camping lebih awal, kamu kayak orang kehilangan nyawa," Riana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, menatap Kyla dengan raut wajah khawatir. "Kamu sakit? Atau ada masalah dengan 'Om Posesif'-mu itu lagi?"Kyla ters
Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.







