Masuk"Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla.
"Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.
Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.
Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.
Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah padam karena malu, menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan Pak Hendra yang masih menanti jawaban.
"Maaf, Pak," cicit Kyla pelan, memaksakan seulas senyum kaku yang terasa amat tersiksa di wajahnya. "Saya... saya agak kurang enak badan hari ini."
Pak Hendra menatap Kyla beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang. "Jika Anda memang sakit, silakan beristirahat di UKS setelah kelas ini selesai. Jangan memaksakan diri."
"Baik, Pak. Terima kasih. Maafkan saya," jawab Kyla lirih, bernapas lega saat perhatian sang dosen akhirnya beralih kembali ke papan tulis.
Satu jam berikutnya berlalu bagaikan siksaan yang tak berujung bagi Kyla. Begitu bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi nyaring, ia adalah orang pertama yang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas kanvas dengan gerakan terburu-buru. Ia ingin segera pergi, ingin melarikan diri dari atmosfer ruang kelas yang mendadak terasa begitu menyesakkan.
"Hei, Ky, kamu benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu merah sekali tadi," tanya Riana, merangkul pundak Kyla saat mereka berjalan menyusuri koridor kampus menuju kantin luar yang rindang di bawah pohon-pohon akasia.
"Aku cuma kurang tidur, Ri. Serius, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Kyla sembari memaksakan senyum tipis. Ia menolak menceritakan badai domestik yang sedang berkecamuk di dalam mansion mewah Arka.
Suasana kantin siang itu sangat ramai dan bising oleh gelak tawa mahasiswa yang melepas penat. Kyla dan Riana memilih meja kayu di sudut ruangan yang agak sepi, memesan dua mangkuk bakso hangat dan es teh manis untuk meredakan kepenatan kepala mereka.
Saat mereka sedang asyik menikmati makanan, seorang mahasiswa tingkat pertama dengan jaket organisasi berwarna biru tua mendatangi meja mereka dengan langkah ragu-ragu. Wajah mahasiswa itu tampak sedikit gugup saat matanya bertemu dengan manik mata indah milik Kyla.
"Permisi... Kak Kyla?" sapa mahasiswa itu dengan suara yang agak bergetar.
Kyla meletakkan sendoknya, mendongak menatap adik tingkatnya itu dengan kening mengernyit tipis. "Iya? Ada apa ya?"
"Ini... ada yang menitipkan surat ini untuk Kakak," ucap mahasiswa itu terburu-buru, menyodorkan sebuah amplop kecil berwarna biru pastel dengan segel lilin bermotif bunga di bagian belakangnya. "Tadi orangnya langsung pergi setelah memberikan ini padaku. Katanya, ini sangat penting untuk Kakak."
Riana yang duduk di sebelah Kyla seketika langsung heboh. Perempuan berambut sebahu itu melebarkan matanya dengan binar menggoda yang sangat usil. "Wah! Surat cinta lagi? Siapa lagi kali ini, Ky? Rio? Atau anak teknik mesin yang kemarin minta nomor ponselmu?" goda Riana sembari menyenggol lengan Kyla dengan sikunya.
Kyla hanya menghela napas pelan. Kepopulerannya di kampus seni sebagai gadis cantik berdarah dingin memang sering kali mendatangkan surat-surat tanpa nama seperti ini. "Terima kasih ya," ucap Kyla datar pada mahasiswa pengantar tersebut, yang langsung mengangguk sopan dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.
"Ayo dibuka, Kyla! Aku penasaran setengah mati!" desak Riana, mencoba merebut amplop biru manis itu dari atas meja.
Namun, sebelum jemari Riana sempat menyentuhnya, Kyla telah lebih dulu meraih amplop tersebut. Tanpa berniat merobek segel lilinnya atau membaca baris kata di dalamnya, Kyla langsung memasukkan surat itu ke dalam saku tas kanvasnya dengan gerakan acuh tak acuh.
"Tidak usah berlebihan, Riana. Paling-paling hanya tulisan klise dari orang yang kurang kerjaan," sahut Kyla dingin, kembali meraih sendoknya untuk melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.
Bagi Kyla saat ini, surat dari pria mana pun di kampus ini terasa begitu hambar dan tidak berarti. Di sudut terjauh dalam hatinya yang paling gelap, ia tahu hanya ada satu pria yang kata-katanya sanggup menggetarkan jiwanya—dan ironisnya, kata-kata pria itu selalu berisi larangan dan ancaman posesif yang mencekik kebebasannya.
"Kamu ini benar-benar tidak seru," gerutu Riana sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Namun, kekesalan Riana tidak bertahan lama saat ia tiba-tiba teringat agenda penting departemen mereka minggu depan. "Oh ya, ngomong-ngomong soal minggu depan... kamu sudah menyiapkan perlengkapan untuk acara camping tahunan kita, kan? Kelas kita wajib ikut semua, lho. Nilai mata kuliah metodologi penciptaan seni rupa diambil dari draf lukisan alam yang kita buat di sana nanti."
Keterangan Riana seketika membuat tangan Kyla yang sedang memegang gelas es teh manis membeku di udara.
Camping? Di luar kota? Menginap di lereng gunung selama tiga hari dua malam?
Napas Kyla mendadak memburu pelan. Ingatan tentang aturan baru yang Arka deklarasikan semalam langsung berdengung nyaring di kepalanya bagai alarm bahaya. Jam malammu adalah pukul tujuh malam. Lebih dari itu, aku sendiri yang akan mencarimu.
Kyla meremas gelas kaca di genggamannya dengan kuat. Jika Arka tahu dirinya akan pergi berkemah di tengah hutan bersama mahasiswa lain—termasuk mahasiswa pria—pria posesif itu pasti akan mengamuk hebat. Pria itu tidak akan segan-segan mengurungnya di kamar atau mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk membatalkan acara kampus tersebut.
"Ky? Kamu dengar aku tidak, sih?" Riana melambaikan tangannya di depan wajah Kyla yang tampak pucat pasi. "Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu? Memangnya paman galakmu itu tidak akan mengizinkanmu ikut?"
Kyla menelan ludah dengan susah payah, mengabaikan denyutan panik di dadanya. "Aku... aku akan mencari cara agar bisa ikut," bisik Kyla lirih pada dirinya sendiri.
Namun, sebelum Kyla sempat memikirkan alasan apa yang harus ia katakan pada Arka nanti malam, ponsel di dalam tas kanvasnya tiba-tiba bergetar kuat. Layar gawai itu menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan W******p dari nomor yang tidak ia simpan namanya, namun sangat ia hafal di luar kepala.
Pesan singkat yang begitu dingin, tegas, dan sarat akan dominasi mutlak yang langsung membuat pertahanan batin Kyla runtuh seketika:
“Pak Joko sudah menunggu di depan lobi fakultasmu sejak lima belas menit lalu, Kyla. Pulang sekarang, atau aku yang akan menyuruh pengawal pribadiku menyeretmu keluar dari kantin kampus itu.”
"Aku harus pulang sekarang, Ri!"
Ucap Kyla terburu-buru sembari menyambar tas kanvasnya dengan gerakan panik yang hampir saja membuat gelas es teh manis di atas meja kantin tersenggol. Riana yang baru saja hendak menyuap bakso ke dalam mulutnya seketika melongo, menatap sahabatnya yang mendadak pucat pasi seperti baru saja melihat hantu di layar ponselnya.
"Lho, Ky? Makanannya baru setengah! Kenapa buru-buru sekali?" tanya Riana heran, menghentikan sendoknya di udara.
"Ada urusan mendadak di rumah. Maaf ya, Ri, aku harus pergi duluan!" Kyla tidak menunggu jawaban Riana lagi. Ia langsung membalikkan tubuh dan melangkah setengah berlari membelah keramaian kantin Fakultas Seni yang bising, mengabaikan seruan bingung Riana yang tertinggal di belakangnya.
"Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari sela-sela jemari Kyla yang memegang pecahan tajam tersebut, menetes lambat membentur marmer putih yang bertabur dokumen rahasia."Seline, keluar dari sini sekarang sebelum aku membunuhmu!" desis Arka tanpa berpaling sedikit pun dari Kyla. Suaranya rendah, sarat akan kemurkaan murni yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.Seline mendengus sinis, merapikan blazer kremnya dengan gestur tenang yang memuakkan. "Kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya, Arka," bisiknya penuh
"Kau tidak akan pergi ke kampus hari ini, Kyla."Suara Arka memecah keheningan kamar utama saat pria itu merapikan jam tangan emasnya. Kyla yang sedang merapikan kerah kemeja putihnya mendadak membeku. Matanya yang kusam memantulkan bayangan Arka yang melangkah mendekat dari belakang, memancarkan aura dominasi yang semakin pekat seiring terbitnya matahari pagi."Om, aku ada jadwal presentasi sketsa jam sepuluh," sahut Kyla, memutar tubuhnya dengan tatapan tegar meski dadanya bergemuruh hebat. "Dosen tidak akan menoleransi ketidakhadiranku lagi setelah insiden perkemahan kemarin."Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Kyla. Ia meraih dasi sutra hitam dari atas meja rias, menyodorkannya pada Kyla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya. "Tugasmu bisa dikirim lewat surel. Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke Mahendra Tower. Kau bisa mengerjakan sketsamu di ruang kerja pribadiku."Kyla menerima dasi itu dengan tangan gemetar, memasangkannya ke leher Arka dengan gerakan kaku. Jara
"Mau ke galeri kampus bersama Riana, Om," sahut Kyla pelan, matanya menatap tajam pada sepasang sepatu kulit Arka yang melangkah masuk melintasi karpet tebal. "Riana baru saja mengirim pesan. Ada pameran tunggal alumni yang wajib kami amati untuk laporan tugas akhir."Arka tidak membalas ucapan itu seketika. Pria itu menyusuri kamar dengan langkah yang amat teratur, melepas jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas meja rias dengan denting logam yang nyaring di tengah kesunyian. Ia berdiri tepat di belakang Kyla, membiarkan pantulan tubuh mereka berdua mendominasi bayangan cermin di hadapan mereka. Jemari Arka yang dingin meluncur perlahan ke bahu Kyla, mencengkeramnya dengan tekanan yang begitu pas—cukup kuat untuk menegaskan otoritasnya, namun cukup lembut untuk menahan gadis itu agar tidak berpaling."Pergilah," bisik Arka, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyla, menyapukan aura dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi ingat satu hal. Sopir dan dua pengawal
Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan ketegangan yang sempat meledak di ruang utama mansion. Kyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang masih memburu.Kata-kata terakhir Arka kepada ibunya, masih terngiang jelas di telinganya. “Tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk Ibu, yang punya kuasa untuk memutuskan seberapa lama dia akan tinggal di sini selain diriku.”Kalimat itu terdengar begitu mutlak, sebuah deklarasi kepemilikan yang tidak menyisakan celah bagi siapa pun untuk membantah. Di satu sisi, Kyla merasa dilindungi dengan cara yang paling kuat di dunia. Namun di sisi lain, kalimat itu juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar telah terkunci sepenuhnya di dalam wilayah kekuasaan Arka. Ia bukan lagi sekadar anak asuh, ia adalah pusat dari badai pertarungan keluarga Mahendra.Langkah kaki yang berat dan teratur mendekati pintu kamarnya. Suara ketukan pelan terdengar sebelum ga
Suasana kampus terasa begitu asing bagi Kyla. Hari ketiga sejak insiden di puncak gunung itu, ia merasa seolah-olah jiwanya tertinggal di sana, di tempat yang kini menjadi altar pengorbanan kebebasannya. Ia berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang berat, kepalanya sering kali menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi kosong di wajahnya.Ia pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika Riana mencoba mengajaknya bercanda tentang tugas seni rupa yang menumpuk, Kyla hanya merespons dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada tatapan Arka yang selalu membayanginya, seolah pria itu menanamkan jejak permanen pada setiap inci kulit dan jiwanya."Ky, kamu kenapa sih? Sejak pulang dari camping lebih awal, kamu kayak orang kehilangan nyawa," Riana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, menatap Kyla dengan raut wajah khawatir. "Kamu sakit? Atau ada masalah dengan 'Om Posesif'-mu itu lagi?"Kyla ters
Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.







