แชร์

BAB 5

ผู้เขียน: Kupukupu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-17 05:27:44

"Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla.

"Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.

Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.

Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.

Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah padam karena malu, menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan Pak Hendra yang masih menanti jawaban.

"Maaf, Pak," cicit Kyla pelan, memaksakan seulas senyum kaku yang terasa amat tersiksa di wajahnya. "Saya... saya agak kurang enak badan hari ini."

Pak Hendra menatap Kyla beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang. "Jika Anda memang sakit, silakan beristirahat di UKS setelah kelas ini selesai. Jangan memaksakan diri."

"Baik, Pak. Terima kasih. Maafkan saya," jawab Kyla lirih, bernapas lega saat perhatian sang dosen akhirnya beralih kembali ke papan tulis.

Satu jam berikutnya berlalu bagaikan siksaan yang tak berujung bagi Kyla. Begitu bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi nyaring, ia adalah orang pertama yang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas kanvas dengan gerakan terburu-buru. Ia ingin segera pergi, ingin melarikan diri dari atmosfer ruang kelas yang mendadak terasa begitu menyesakkan.

"Hei, Ky, kamu benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu merah sekali tadi," tanya Riana, merangkul pundak Kyla saat mereka berjalan menyusuri koridor kampus menuju kantin luar yang rindang di bawah pohon-pohon akasia.

"Aku cuma kurang tidur, Ri. Serius, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Kyla sembari memaksakan senyum tipis. Ia menolak menceritakan badai domestik yang sedang berkecamuk di dalam mansion mewah Arka.

Suasana kantin siang itu sangat ramai dan bising oleh gelak tawa mahasiswa yang melepas penat. Kyla dan Riana memilih meja kayu di sudut ruangan yang agak sepi, memesan dua mangkuk bakso hangat dan es teh manis untuk meredakan kepenatan kepala mereka.

Saat mereka sedang asyik menikmati makanan, seorang mahasiswa tingkat pertama dengan jaket organisasi berwarna biru tua mendatangi meja mereka dengan langkah ragu-ragu. Wajah mahasiswa itu tampak sedikit gugup saat matanya bertemu dengan manik mata indah milik Kyla.

"Permisi... Kak Kyla?" sapa mahasiswa itu dengan suara yang agak bergetar.

Kyla meletakkan sendoknya, mendongak menatap adik tingkatnya itu dengan kening mengernyit tipis. "Iya? Ada apa ya?"

"Ini... ada yang menitipkan surat ini untuk Kakak," ucap mahasiswa itu terburu-buru, menyodorkan sebuah amplop kecil berwarna biru pastel dengan segel lilin bermotif bunga di bagian belakangnya. "Tadi orangnya langsung pergi setelah memberikan ini padaku. Katanya, ini sangat penting untuk Kakak."

Riana yang duduk di sebelah Kyla seketika langsung heboh. Perempuan berambut sebahu itu melebarkan matanya dengan binar menggoda yang sangat usil. "Wah! Surat cinta lagi? Siapa lagi kali ini, Ky? Rio? Atau anak teknik mesin yang kemarin minta nomor ponselmu?" goda Riana sembari menyenggol lengan Kyla dengan sikunya.

Kyla hanya menghela napas pelan. Kepopulerannya di kampus seni sebagai gadis cantik berdarah dingin memang sering kali mendatangkan surat-surat tanpa nama seperti ini. "Terima kasih ya," ucap Kyla datar pada mahasiswa pengantar tersebut, yang langsung mengangguk sopan dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.

"Ayo dibuka, Kyla! Aku penasaran setengah mati!" desak Riana, mencoba merebut amplop biru manis itu dari atas meja.

Namun, sebelum jemari Riana sempat menyentuhnya, Kyla telah lebih dulu meraih amplop tersebut. Tanpa berniat merobek segel lilinnya atau membaca baris kata di dalamnya, Kyla langsung memasukkan surat itu ke dalam saku tas kanvasnya dengan gerakan acuh tak acuh.

"Tidak usah berlebihan, Riana. Paling-paling hanya tulisan klise dari orang yang kurang kerjaan," sahut Kyla dingin, kembali meraih sendoknya untuk melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.

Bagi Kyla saat ini, surat dari pria mana pun di kampus ini terasa begitu hambar dan tidak berarti. Di sudut terjauh dalam hatinya yang paling gelap, ia tahu hanya ada satu pria yang kata-katanya sanggup menggetarkan jiwanya—dan ironisnya, kata-kata pria itu selalu berisi larangan dan ancaman posesif yang mencekik kebebasannya.

"Kamu ini benar-benar tidak seru," gerutu Riana sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Namun, kekesalan Riana tidak bertahan lama saat ia tiba-tiba teringat agenda penting departemen mereka minggu depan. "Oh ya, ngomong-ngomong soal minggu depan... kamu sudah menyiapkan perlengkapan untuk acara camping tahunan kita, kan? Kelas kita wajib ikut semua, lho. Nilai mata kuliah metodologi penciptaan seni rupa diambil dari draf lukisan alam yang kita buat di sana nanti."

Keterangan Riana seketika membuat tangan Kyla yang sedang memegang gelas es teh manis membeku di udara.

Camping? Di luar kota? Menginap di lereng gunung selama tiga hari dua malam?

Napas Kyla mendadak memburu pelan. Ingatan tentang aturan baru yang Arka deklarasikan semalam langsung berdengung nyaring di kepalanya bagai alarm bahaya. Jam malammu adalah pukul tujuh malam. Lebih dari itu, aku sendiri yang akan mencarimu.

Kyla meremas gelas kaca di genggamannya dengan kuat. Jika Arka tahu dirinya akan pergi berkemah di tengah hutan bersama mahasiswa lain—termasuk mahasiswa pria—pria posesif itu pasti akan mengamuk hebat. Pria itu tidak akan segan-segan mengurungnya di kamar atau mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk membatalkan acara kampus tersebut.

"Ky? Kamu dengar aku tidak, sih?" Riana melambaikan tangannya di depan wajah Kyla yang tampak pucat pasi. "Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu? Memangnya paman galakmu itu tidak akan mengizinkanmu ikut?"

Kyla menelan ludah dengan susah payah, mengabaikan denyutan panik di dadanya. "Aku... aku akan mencari cara agar bisa ikut," bisik Kyla lirih pada dirinya sendiri.

Namun, sebelum Kyla sempat memikirkan alasan apa yang harus ia katakan pada Arka nanti malam, ponsel di dalam tas kanvasnya tiba-tiba bergetar kuat. Layar gawai itu menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan W******p dari nomor yang tidak ia simpan namanya, namun sangat ia hafal di luar kepala.

Pesan singkat yang begitu dingin, tegas, dan sarat akan dominasi mutlak yang langsung membuat pertahanan batin Kyla runtuh seketika:

“Pak Joko sudah menunggu di depan lobi fakultasmu sejak lima belas menit lalu, Kyla. Pulang sekarang, atau aku yang akan menyuruh pengawal pribadiku menyeretmu keluar dari kantin kampus itu.”

"Aku harus pulang sekarang, Ri!"

Ucap Kyla terburu-buru sembari menyambar tas kanvasnya dengan gerakan panik yang hampir saja membuat gelas es teh manis di atas meja kantin tersenggol. Riana yang baru saja hendak menyuap bakso ke dalam mulutnya seketika melongo, menatap sahabatnya yang mendadak pucat pasi seperti baru saja melihat hantu di layar ponselnya.

"Lho, Ky? Makanannya baru setengah! Kenapa buru-buru sekali?" tanya Riana heran, menghentikan sendoknya di udara.

"Ada urusan mendadak di rumah. Maaf ya, Ri, aku harus pergi duluan!" Kyla tidak menunggu jawaban Riana lagi. Ia langsung membalikkan tubuh dan melangkah setengah berlari membelah keramaian kantin Fakultas Seni yang bising, mengabaikan seruan bingung Riana yang tertinggal di belakangnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 6

    Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 5

    "Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla."Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 4

    "Habiskan sarapanmu. Pak Joko sudah menunggumu di depan lobi," ucap Arka dingin sembari melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. "Dia akan mengantarmu tepat ke depan gerbang fakultas, dan menjemputmu tepat pukul dua belas siang. Jika kau terlambat satu menit saja, aku sendiri yang akan menjemputmu ke kampusmu."Tanpa menunggu bantahan dari Kyla, Arka melangkah lebar meninggalkan ruang makan, membawa serta kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka dan menyisakan kesunyian yang hampa bagi Kyla.Kyla mengembuskan napas panjang yang terkahan, mendudukkan diri di kursi dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia membenci kekuasaan mutlak yang dipegang Arka atas hidupnya. Namun di sudut hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membohongi getaran aneh yang selalu meletup di dadanya setiap kali pria matang itu memperlakukannya dengan keposesifan yang begitu ekstrem. Ia merasa diinginkan, merasa dicari, dan anehnya... merasa terlindungi dari dunia luar yang dingin.Dua jam kemu

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 3

    "Kita perlu bicara, Kyla."Kyla menghentikan langkahnya, namun ia enggan berbalik. "Aku lelah, Om. Aku mau tidur.""Aku tidak sedang meminta persetujuanmu," ucap Arka dingin. Langkah kakinya terdengar mendekat, begitu berat dan penuh intimidasi hingga membuat punggung Kyla menegang.Kyla terpaksa berbalik, merapatkan gaun sutranya yang masih sedikit berantakan. Ia mendongak, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menatap mata pria yang kini berdiri tepat di hadapannya."Pikirkan baik-baik apa yang terjadi malam ini, Kyla," ucap Arka, suaranya sangat rendah namun memiliki gaung penekanan yang mutlak. "Semalam adalah murni kesalahan karena kebodohanmu yang memancing amarahku di kelab malam itu.""Kesalahan?" Kyla terkekeh sinis, menyembunyikan rasa sakit hati yang tiba-tiba menusuk dadanya mendengar kata dingin itu keluar dari bibir Arka. "Jika itu kesalahan, kenapa Om menyentuhku seolah Om sangat menginginkanku? Kenapa Om menciumku seperti itu?"Wajah Arka tidak menunjukkan emos

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 2

    "Dengar baik-baik, Kyla," bisik Arka, napas hangatnya yang berbau mint menerpa bibir Kyla yang gemetar. Mata pria itu menggelap penuh obsesi yang selama ini ia kunci rapat di balik topeng kewibawaannya. "Aku tidak peduli jika aku hanya wali yang ditunjuk papamu. Tapi selama kamu berada di bawah atapku, tidak akan ada satu pria pun yang boleh menatapmu seperti yang mereka lakukan malam ini. Tubuhmu, hidupmu, bahkan setiap embusan napasmu... adalah milikku.""Aku bukan milikmu! Kamu tidak punya hak atas diriku, Om!" teriak Kyla frustrasi, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arka pada rahangnya. Bibirnya terus bergerak, melontarkan kata-kata pemberontakan yang memicu kemarahan pria itu ke titik didih. "Lepaskan aku! Aku membenci aturanmu! Aku membenci caramu menatapku seolah aku—"Suara Kyla tersumbat seketika saat Arka membungkuk cepat dan menundukkan kepalanya, meredam seluruh bantahan Kyla dengan sebuah ciuman yang kasar dan menuntut.Itu adalah tindakan impulsif yang murni bertujua

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 1

    "Kyla, kamu yakin tidak mau minum sedikit saja? Malam ini kita harus bersenang-senang!"Suara Riana setengah berteriak, berusaha mengalahkan dentum bas yang menggetarkan lantai dansa Onyx Club. Kyla hanya menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis di bibirnya yang dipulas lipstik merah ceri. Ia merapatkan tubuh pada sandaran sofa beludru merah di sudut area VIP, mencoba mengabaikan aroma alkohol, asap rokok, dan parfum menyengat yang bercampur di udara pengap kelab malam premium tersebut.Kyla melirik arloji kecil di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 23.45. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan sinis yang samar. Ia sengaja membiarkan gawai di dalam tas kecilnya terus menyala, membiarkan aplikasi pelacak lokasi yang dipasang paksa oleh walinya mengirimkan sinyal koordinat tempat ini tanpa henti.Malam ini, Kyla sengaja mengenakan gaun sutra hitam berpotongan dada rendah yang mengekspos bahu bulat dan punggung mulusnya. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status