Share

BAB 7

Author: Kupukupu
last update publish date: 2026-08-02 21:32:39

"Siapa dia, Kyla?"

Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.

Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak.

"Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski tenggorokannya terasa tercekat. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Dia hanya ingin mengembalikan jepit rambutku yang tertinggal di kelab malam waktu itu. Tidak lebih." Bohong Kyla, padahal ia sendiri tidak tahu siapa pria yang sudah mengirimkan surat itu.

Arka perlahan berbalik. Wajahnya yang biasanya terkontrol kini tampak berantakan dengan kilatan amarah yang tidak bisa lagi ia bendung. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menonjol, dan matanya yang hitam kelam menyapu sosok Kyla dari ujung kepala hingga jemari kakinya yang gemetar. Tatapan itu begitu intens, begitu menelanjangi, hingga Kyla merasa seolah-olah handuk yang dikenakannya tidak lagi berarti apa-apa.

"Teman kampus?" Arka tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kering dan menyakitkan. "Dan sejak kapan teman kampus mengirimkan surat cinta dengan segel lilin dan aroma parfum murahan seperti ini? Kau pikir aku sebodoh itu, Kyla?"

Arka melangkah maju. Langkah kakinya yang berat dan teratur terdengar seperti dentuman detak jam yang menghitung sisa waktu bagi Kyla. Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Kyla, mengurung gadis itu di antara tubuhnya yang kokoh dan pintu kamar mandi yang dingin. Arka tidak menyentuhnya, namun keberadaannya sudah cukup untuk membuat paru-paru Kyla terasa kekurangan oksigen.

"Dengar, Kyla," bisik Arka, suaranya kini begitu rendah, serak, dan penuh ancaman yang memabukkan. Ia menjatuhkan robekan kertas surat itu ke lantai, lalu jemari besarnya perlahan terulur, menyentuh helai rambut Kyla yang masih basah, mengusapnya dengan gerakan yang terasa seperti siksaan lembut. "Sudah kubilang, jangan pernah menguji batas kesabaranku. Kau tahu apa yang terjadi jika kau membiarkan pria lain menyentuhmu? Pria lain memberikanmu surat seperti ini?"

"Aku tidak memintanya! Aku bahkan tidak membacanya!" Kyla mendongak, matanya menatap tajam ke manik mata Arka yang mulai menggelap penuh obsesi. "Kenapa Om begitu marah? Apa karena Om tidak suka aku mendapatkan perhatian dari orang lain, atau karena Om memang tidak bisa membiarkanku memiliki hidupku sendiri?"

Arka terdiam. Napasnya memburu, napas yang teratur dan hangat menabrak bibir Kyla. Ia menatap bibir gadis itu, lalu beralih ke bahunya yang terekspos, sebelum kembali menatap mata Kyla yang kini berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang meluap. Arka menyadari bahwa kemarahan yang ia rasakan bukan lagi hanya tentang surat itu, melainkan tentang ketidakmampuannya untuk menjauh dari gadis yang telah ia sumpahi untuk ia lindungi.

"Kau ingin tahu kenapa aku marah?" Arka membungkuk, membisikkan kata-kata itu tepat di depan bibir Kyla. "Karena setiap kali aku melihatmu berinteraksi dengan pria lain, aku merasa ingin menghancurkan segala sesuatu di sekitarku sampai hanya aku yang tersisa di matamu. Sampai hanya aku yang bisa kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan."

Kyla menahan napas saat jemari Arka kini bergerak turun, menyentuh pinggiran handuk yang melilit tubuhnya. Pria itu tidak menarik handuk tersebut, namun sentuhannya yang panas di atas kulit Kyla sudah cukup untuk membuat jantung Kyla berdetak di luar kendali. Di luar jendela, badai malam itu kembali menderu, seolah mencerminkan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kamar ini.

"Om tidak berhak..." Kyla mencoba membela diri, namun suaranya melemah saat jemari Arka kini beralih menekan lembut tulang selangkanya, membuat handuk itu melonggar sedikit di bagian dada.

"Aku punya hak," potong Arka dengan suara yang kini penuh dengan gairah yang tak terkendali. "Aku yang menanggung hidupmu, aku yang menjamin keamananmu, dan aku yang menghabiskan setiap malamku dengan rasa bersalah karena memikirkanmu lebih dari apa yang seharusnya dipikirkan seorang wali. Jadi ya, Kyla... aku punya hak atas setiap senti tubuhmu."

Arka tidak lagi menunggu jawaban. Ia menundukkan kepalanya, menyambar bibir Kyla dengan ciuman yang jauh lebih kasar, lebih menuntut, dan jauh lebih posesif daripada apa yang terjadi di dalam mobil semalam. Tidak ada keraguan, tidak ada sisa-sisa kedisiplinan sebagai seorang CEO yang terhormat. Yang ada hanyalah pria yang sedang dikuasai oleh obsesi gelapnya sendiri.

Kyla membelalak terkejut, namun tangannya yang gemetar secara reflek meremas bahu kemeja Arka, membalas pagutan itu dengan intensitas yang sama besarnya. Di dalam kepala Kyla, logika berteriak bahwa ia harus lari, harus menolak, harus mempertahankan sisa harga dirinya. Namun tubuhnya berkhianat. Setiap sentuhan Arka terasa seperti candu yang paling mematikan.

Tangan Arka yang lain kini bergerak ke pinggang Kyla, mencengkeramnya erat dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel tanpa celah ke tubuhnya yang tegap dan kokoh. Arka tidak berhenti di sana. Ia melangkah mundur, membawa Kyla bersamanya hingga gadis itu terhempas pelan ke atas ranjang king size yang empuk di tengah ruangan.

Kyla tersentak, handuknya kini benar-benar melonggar, jatuh ke samping. Ia terbaring di sana dengan napas yang memburu, menatap Arka yang kini berdiri di tepi ranjang dengan mata yang dipenuhi oleh api gairah yang melahap kewarasannya.

"Sekarang katakan padaku, Kyla," ucap Arka serak, suaranya sarat akan tuntutan yang tidak bisa ditolak. Ia melepaskan dasi abu-abunya dengan satu tarikan kasar, melemparkannya ke lantai tanpa memedulikan penampilannya. "Siapa pria yang pantas berada di sini, bersamamu, dan memiliki hak atas dirimu? Pria muda itu, atau aku?"

Kyla merasakan hawa panas yang mendidih di dadanya. Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan, sebuah tantangan, sekaligus sebuah pengakuan. Ia tahu, jika ia menjawab dengan jujur, ia akan terperosok lebih dalam lagi ke dalam sangkar emas yang telah disiapkan pria ini. Namun saat ia menatap Arka yang kini mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dengan gerakan yang begitu maskulin dan memikat, ia sadar ia tidak lagi menginginkan jalan keluar.

"Om..." bisik Kyla, suaranya nyaris seperti desahan di tengah kesunyian kamar.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merangkak naik ke atas ranjang, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga tubuhnya yang kokoh menindih tubuh Kyla yang mungil. Pria itu menatap tepat ke dalam mata Kyla, memberikan sebuah peringatan bisu yang akan mengubah segalanya.

"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa membuktikan kesetiaanmu, anak manis," bisik Arka, sebelum bibirnya kembali membungkam Kyla dengan ciuman yang akan menghapus sisa-sisa dunia luar dari ingatan mereka berdua.

Malam itu, di kamar yang terkunci rapat dari dunia luar, sang wali tidak lagi bertindak sebagai pelindung. Ia bertindak sebagai penguasa yang sedang menagih hak miliknya yang paling berharga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 19

    "Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari sela-sela jemari Kyla yang memegang pecahan tajam tersebut, menetes lambat membentur marmer putih yang bertabur dokumen rahasia."Seline, keluar dari sini sekarang sebelum aku membunuhmu!" desis Arka tanpa berpaling sedikit pun dari Kyla. Suaranya rendah, sarat akan kemurkaan murni yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.Seline mendengus sinis, merapikan blazer kremnya dengan gestur tenang yang memuakkan. "Kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya, Arka," bisiknya penuh

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 18

    "Kau tidak akan pergi ke kampus hari ini, Kyla."Suara Arka memecah keheningan kamar utama saat pria itu merapikan jam tangan emasnya. Kyla yang sedang merapikan kerah kemeja putihnya mendadak membeku. Matanya yang kusam memantulkan bayangan Arka yang melangkah mendekat dari belakang, memancarkan aura dominasi yang semakin pekat seiring terbitnya matahari pagi."Om, aku ada jadwal presentasi sketsa jam sepuluh," sahut Kyla, memutar tubuhnya dengan tatapan tegar meski dadanya bergemuruh hebat. "Dosen tidak akan menoleransi ketidakhadiranku lagi setelah insiden perkemahan kemarin."Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Kyla. Ia meraih dasi sutra hitam dari atas meja rias, menyodorkannya pada Kyla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya. "Tugasmu bisa dikirim lewat surel. Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke Mahendra Tower. Kau bisa mengerjakan sketsamu di ruang kerja pribadiku."Kyla menerima dasi itu dengan tangan gemetar, memasangkannya ke leher Arka dengan gerakan kaku. Jara

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 17

    "Mau ke galeri kampus bersama Riana, Om," sahut Kyla pelan, matanya menatap tajam pada sepasang sepatu kulit Arka yang melangkah masuk melintasi karpet tebal. "Riana baru saja mengirim pesan. Ada pameran tunggal alumni yang wajib kami amati untuk laporan tugas akhir."Arka tidak membalas ucapan itu seketika. Pria itu menyusuri kamar dengan langkah yang amat teratur, melepas jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas meja rias dengan denting logam yang nyaring di tengah kesunyian. Ia berdiri tepat di belakang Kyla, membiarkan pantulan tubuh mereka berdua mendominasi bayangan cermin di hadapan mereka. Jemari Arka yang dingin meluncur perlahan ke bahu Kyla, mencengkeramnya dengan tekanan yang begitu pas—cukup kuat untuk menegaskan otoritasnya, namun cukup lembut untuk menahan gadis itu agar tidak berpaling."Pergilah," bisik Arka, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyla, menyapukan aura dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi ingat satu hal. Sopir dan dua pengawal

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 16

    Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan ketegangan yang sempat meledak di ruang utama mansion. Kyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang masih memburu.Kata-kata terakhir Arka kepada ibunya, masih terngiang jelas di telinganya. “Tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk Ibu, yang punya kuasa untuk memutuskan seberapa lama dia akan tinggal di sini selain diriku.”Kalimat itu terdengar begitu mutlak, sebuah deklarasi kepemilikan yang tidak menyisakan celah bagi siapa pun untuk membantah. Di satu sisi, Kyla merasa dilindungi dengan cara yang paling kuat di dunia. Namun di sisi lain, kalimat itu juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar telah terkunci sepenuhnya di dalam wilayah kekuasaan Arka. Ia bukan lagi sekadar anak asuh, ia adalah pusat dari badai pertarungan keluarga Mahendra.Langkah kaki yang berat dan teratur mendekati pintu kamarnya. Suara ketukan pelan terdengar sebelum ga

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 15

    Suasana kampus terasa begitu asing bagi Kyla. Hari ketiga sejak insiden di puncak gunung itu, ia merasa seolah-olah jiwanya tertinggal di sana, di tempat yang kini menjadi altar pengorbanan kebebasannya. Ia berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang berat, kepalanya sering kali menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi kosong di wajahnya.Ia pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika Riana mencoba mengajaknya bercanda tentang tugas seni rupa yang menumpuk, Kyla hanya merespons dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada tatapan Arka yang selalu membayanginya, seolah pria itu menanamkan jejak permanen pada setiap inci kulit dan jiwanya."Ky, kamu kenapa sih? Sejak pulang dari camping lebih awal, kamu kayak orang kehilangan nyawa," Riana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, menatap Kyla dengan raut wajah khawatir. "Kamu sakit? Atau ada masalah dengan 'Om Posesif'-mu itu lagi?"Kyla ters

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 14

    Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status