เข้าสู่ระบบ"Siapa dia, Kyla?"
Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.
Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak.
"Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski tenggorokannya terasa tercekat. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Dia hanya ingin mengembalikan jepit rambutku yang tertinggal di kelab malam waktu itu. Tidak lebih." Bohong Kyla, padahal ia sendiri tidak tahu siapa pria yang sudah mengirimkan surat itu.
Arka perlahan berbalik. Wajahnya yang biasanya terkontrol kini tampak berantakan dengan kilatan amarah yang tidak bisa lagi ia bendung. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menonjol, dan matanya yang hitam kelam menyapu sosok Kyla dari ujung kepala hingga jemari kakinya yang gemetar. Tatapan itu begitu intens, begitu menelanjangi, hingga Kyla merasa seolah-olah handuk yang dikenakannya tidak lagi berarti apa-apa.
"Teman kampus?" Arka tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kering dan menyakitkan. "Dan sejak kapan teman kampus mengirimkan surat cinta dengan segel lilin dan aroma parfum murahan seperti ini? Kau pikir aku sebodoh itu, Kyla?"
Arka melangkah maju. Langkah kakinya yang berat dan teratur terdengar seperti dentuman detak jam yang menghitung sisa waktu bagi Kyla. Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Kyla, mengurung gadis itu di antara tubuhnya yang kokoh dan pintu kamar mandi yang dingin. Arka tidak menyentuhnya, namun keberadaannya sudah cukup untuk membuat paru-paru Kyla terasa kekurangan oksigen.
"Dengar, Kyla," bisik Arka, suaranya kini begitu rendah, serak, dan penuh ancaman yang memabukkan. Ia menjatuhkan robekan kertas surat itu ke lantai, lalu jemari besarnya perlahan terulur, menyentuh helai rambut Kyla yang masih basah, mengusapnya dengan gerakan yang terasa seperti siksaan lembut. "Sudah kubilang, jangan pernah menguji batas kesabaranku. Kau tahu apa yang terjadi jika kau membiarkan pria lain menyentuhmu? Pria lain memberikanmu surat seperti ini?"
"Aku tidak memintanya! Aku bahkan tidak membacanya!" Kyla mendongak, matanya menatap tajam ke manik mata Arka yang mulai menggelap penuh obsesi. "Kenapa Om begitu marah? Apa karena Om tidak suka aku mendapatkan perhatian dari orang lain, atau karena Om memang tidak bisa membiarkanku memiliki hidupku sendiri?"
Arka terdiam. Napasnya memburu, napas yang teratur dan hangat menabrak bibir Kyla. Ia menatap bibir gadis itu, lalu beralih ke bahunya yang terekspos, sebelum kembali menatap mata Kyla yang kini berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang meluap. Arka menyadari bahwa kemarahan yang ia rasakan bukan lagi hanya tentang surat itu, melainkan tentang ketidakmampuannya untuk menjauh dari gadis yang telah ia sumpahi untuk ia lindungi.
"Kau ingin tahu kenapa aku marah?" Arka membungkuk, membisikkan kata-kata itu tepat di depan bibir Kyla. "Karena setiap kali aku melihatmu berinteraksi dengan pria lain, aku merasa ingin menghancurkan segala sesuatu di sekitarku sampai hanya aku yang tersisa di matamu. Sampai hanya aku yang bisa kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan."
Kyla menahan napas saat jemari Arka kini bergerak turun, menyentuh pinggiran handuk yang melilit tubuhnya. Pria itu tidak menarik handuk tersebut, namun sentuhannya yang panas di atas kulit Kyla sudah cukup untuk membuat jantung Kyla berdetak di luar kendali. Di luar jendela, badai malam itu kembali menderu, seolah mencerminkan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kamar ini.
"Om tidak berhak..." Kyla mencoba membela diri, namun suaranya melemah saat jemari Arka kini beralih menekan lembut tulang selangkanya, membuat handuk itu melonggar sedikit di bagian dada.
"Aku punya hak," potong Arka dengan suara yang kini penuh dengan gairah yang tak terkendali. "Aku yang menanggung hidupmu, aku yang menjamin keamananmu, dan aku yang menghabiskan setiap malamku dengan rasa bersalah karena memikirkanmu lebih dari apa yang seharusnya dipikirkan seorang wali. Jadi ya, Kyla... aku punya hak atas setiap senti tubuhmu."
Arka tidak lagi menunggu jawaban. Ia menundukkan kepalanya, menyambar bibir Kyla dengan ciuman yang jauh lebih kasar, lebih menuntut, dan jauh lebih posesif daripada apa yang terjadi di dalam mobil semalam. Tidak ada keraguan, tidak ada sisa-sisa kedisiplinan sebagai seorang CEO yang terhormat. Yang ada hanyalah pria yang sedang dikuasai oleh obsesi gelapnya sendiri.
Kyla membelalak terkejut, namun tangannya yang gemetar secara reflek meremas bahu kemeja Arka, membalas pagutan itu dengan intensitas yang sama besarnya. Di dalam kepala Kyla, logika berteriak bahwa ia harus lari, harus menolak, harus mempertahankan sisa harga dirinya. Namun tubuhnya berkhianat. Setiap sentuhan Arka terasa seperti candu yang paling mematikan.
Tangan Arka yang lain kini bergerak ke pinggang Kyla, mencengkeramnya erat dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel tanpa celah ke tubuhnya yang tegap dan kokoh. Arka tidak berhenti di sana. Ia melangkah mundur, membawa Kyla bersamanya hingga gadis itu terhempas pelan ke atas ranjang king size yang empuk di tengah ruangan.
Kyla tersentak, handuknya kini benar-benar melonggar, jatuh ke samping. Ia terbaring di sana dengan napas yang memburu, menatap Arka yang kini berdiri di tepi ranjang dengan mata yang dipenuhi oleh api gairah yang melahap kewarasannya.
"Sekarang katakan padaku, Kyla," ucap Arka serak, suaranya sarat akan tuntutan yang tidak bisa ditolak. Ia melepaskan dasi abu-abunya dengan satu tarikan kasar, melemparkannya ke lantai tanpa memedulikan penampilannya. "Siapa pria yang pantas berada di sini, bersamamu, dan memiliki hak atas dirimu? Pria muda itu, atau aku?"
Kyla merasakan hawa panas yang mendidih di dadanya. Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan, sebuah tantangan, sekaligus sebuah pengakuan. Ia tahu, jika ia menjawab dengan jujur, ia akan terperosok lebih dalam lagi ke dalam sangkar emas yang telah disiapkan pria ini. Namun saat ia menatap Arka yang kini mulai membuka kancing kemejanya satu per satu dengan gerakan yang begitu maskulin dan memikat, ia sadar ia tidak lagi menginginkan jalan keluar.
"Om..." bisik Kyla, suaranya nyaris seperti desahan di tengah kesunyian kamar.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merangkak naik ke atas ranjang, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga tubuhnya yang kokoh menindih tubuh Kyla yang mungil. Pria itu menatap tepat ke dalam mata Kyla, memberikan sebuah peringatan bisu yang akan mengubah segalanya.
"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa membuktikan kesetiaanmu, anak manis," bisik Arka, sebelum bibirnya kembali membungkam Kyla dengan ciuman yang akan menghapus sisa-sisa dunia luar dari ingatan mereka berdua.
Malam itu, di kamar yang terkunci rapat dari dunia luar, sang wali tidak lagi bertindak sebagai pelindung. Ia bertindak sebagai penguasa yang sedang menagih hak miliknya yang paling berharga.
Mesin Range Rover hitam itu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah riuh dengan kerumunan mahasiswa. Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip di balik awan tipis, namun suasana di titik kumpul perkemahan departemen seni sudah terasa seperti sebuah festival kecil. Di sana, deretan bus pariwisata berjejer rapi, sementara para mahasiswa sibuk menaikkan tas-tas besar mereka ke dalam bagasi.Arka tidak mematikan mesin. Tangan kirinya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk paha Kyla yang terbungkus celana kargo praktis. Ia menatap ke luar jendela dengan sorot mata tajam, memindai kerumunan mahasiswa yang tampak seperti sekumpulan semut yang sibuk bagi pria itu."Ingat aturan kita, Kyla," suara Arka memecah keheningan kabin yang sejak tadi terasa mencekam. "GPS di ponselmu akan ku pantau secara real-time. Jika aku melihat titik lokasimu bergerak menjauh dari area perkemahan tanpa sei
"Duduk, Kyla."Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, persis seperti seorang siswi yang sedang menunggu hukuman di ruang kepala sekolah. Semalam, ia berhasil mendapatkan perhatian Arka dengan "kepatuhan" yang ia rancang dengan sangat hati-hati, namun kini, ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.Arka menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang besar. Tatapan mata pr
Napas Kyla memburu, tidak teratur, membentuk irama yang selaras dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas ranjang king size yang berantakan, ia masih merasakan sisa sengatan panas dari setiap inci sentuhan Arka. Kamar itu kini terasa begitu pengap, seolah oksigen telah habis terserap oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Kyla merutuk dirinya sendiri dalam diam. Jemarinya mencengkeram sprei dengan buku-buku jari yang memutih. Mengapa? Mengapa ia justru begitu menikmati setiap cumbuan pria itu? Mengapa pertahanan dirinya runtuh semudah kertas yang terbakar api saat Arka menyentuhnya? Ia membenci bagaimana tubuhnya berkhianat, bagaimana ia justru mendambakan lebih, mendambakan dominasi pria itu yang meremukkan sisa harga dirinya.Arka, yang berada tepat di atasnya, tiba-tiba berhenti. Pria itu menahan napas sejenak, otot-otot lengannya yang menekan matras tampak menegang hebat. Ia memejamkan mata, rahangnya mengunci rapat. Ia tahu, jika ia melanjutkan ini satu langkah lebih ja
"Siapa dia, Kyla?"Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak."Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stab
Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali
"Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla."Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah







