แชร์

BAB 8

ผู้เขียน: Kupukupu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-03 21:55:51

Napas Kyla memburu, tidak teratur, membentuk irama yang selaras dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas ranjang king size yang berantakan, ia masih merasakan sisa sengatan panas dari setiap inci sentuhan Arka. Kamar itu kini terasa begitu pengap, seolah oksigen telah habis terserap oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Kyla merutuk dirinya sendiri dalam diam. Jemarinya mencengkeram sprei dengan buku-buku jari yang memutih. Mengapa? Mengapa ia justru begitu menikmati setiap cumbuan pria itu? Mengapa pertahanan dirinya runtuh semudah kertas yang terbakar api saat Arka menyentuhnya? Ia membenci bagaimana tubuhnya berkhianat, bagaimana ia justru mendambakan lebih, mendambakan dominasi pria itu yang meremukkan sisa harga dirinya.

Arka, yang berada tepat di atasnya, tiba-tiba berhenti. Pria itu menahan napas sejenak, otot-otot lengannya yang menekan matras tampak menegang hebat. Ia memejamkan mata, rahangnya mengunci rapat. Ia tahu, jika ia melanjutkan ini satu langkah lebih jauh lagi, ia akan kehilangan sisa kewarasan yang ia pertahankan sebagai seorang wali. Dengan gerakan yang teramat paksa, Arka menarik diri. Ia memutar tubuh, terduduk di tepi ranjang dengan napas yang berderu berat, membelakangi Kyla yang masih terengah.

Kyla merasa hampa saat kehangatan itu menghilang. Rasa penolakan yang aneh muncul di dadanya. Ia tidak ingin Arka berhenti. Ia merasa seolah ditarik paksa dari candu yang paling ia butuhkan. Dengan keberanian yang tidak masuk akal, Kyla bangkit perlahan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tegap pria itu yang basah oleh keringat.

"Jangan berhenti, Om," bisik Kyla parau, suaranya nyaris seperti desahan yang memohon. Ia menarik tangan Arka, membawanya kembali ke pinggangnya sendiri, menantang pria itu untuk tidak lagi bersembunyi di balik disiplin konyolnya. "Tidakkah Om merasakan apa yang aku rasakan? Jangan berhenti sekarang."

Arka membalikkan tubuh. Tatapannya gelap, nyaris menyerupai predator yang sedang berjuang menahan diri agar tidak memangsa mangsanya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Kyla, menjauhkannya dari tubuhnya sendiri. Suara baritonnya keluar, rendah dan serak, sebuah penegasan yang menghancurkan harapan Kyla sekaligus menyalakan api frustrasinya.

"Belum waktunya, Kyla," ucap Arka penuh penekanan. Ia beranjak berdiri, meninggalkan Kyla yang terduduk lemas di tengah ranjang yang sunyi. "Simpan gairahmu itu. Jangan menguji batas kesabaranku lebih jauh, atau kau sendiri yang akan menyesal."

**

Keesokan harinya, embun pagi masih tampak menggantung di kaca jendela mansion Mahendra. Kyla berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya sendiri dengan saksama. Ia sengaja memilih blus sutra berwarna krem yang tertutup hingga ke leher, dipadukan dengan rok midi berwarna senada. Ia terlihat seperti gadis rumahan yang paling patuh dan tidak berbahaya di dunia. Ia tahu, Arka pasti sudah menunggunya di ruang makan dengan amarah yang masih membara.

Ia melangkah turun dengan ritme kaki yang tenang. Arka sudah duduk di ujung meja makan, seperti biasa, dengan setelan jas hitam yang sudah terpasang sempurna. Pria itu menatap tablet di tangannya, namun Kyla bisa melihat ketegangan di garis rahangnya yang tidak beraturan.

"Selamat pagi, Om Arka," sapa Kyla dengan nada yang ia buat seringan mungkin.

Arka mendongak. Sepasang mata elangnya menyapu penampilan Kyla dari ujung kepala hingga jemari kakinya. Tidak ada sedikit pun celah yang bisa ia protes. Arka meletakkan tabletnya di atas meja dengan bunyi dentuman pelan. "Duduk."

Kyla menarik kursinya, duduk dengan anggun, lalu tanpa diminta, ia meraih teko porselen dan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Arka. "Aku minta maaf soal semalam," ucap Kyla sembari menyodorkan cangkir teh tersebut. Ia menatap mata Arka dengan binar yang ia buat selembut mungkin. "Aku tahu aku salah karena menyembunyikan surat itu. Aku tidak bermaksud menguji kesabaran Om."

Arka membiarkan cangkir itu tergeletak di meja tanpa menyentuhnya. Ia menatap Kyla dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu tidak hanya menyembunyikan surat, Kyla. Kamu membiarkan pria asing itu mendekatimu dengan niat yang jelas tidak murni. Kamu membiarkan batas yang sudah kubangun dilanggar begitu saja."

"Aku mengerti," sahut Kyla cepat. "Aku akan menuruti aturan apa pun yang Om berikan. Aku akan mengaktifkan pelacak GPS, aku akan memblokir nomornya, dan aku tidak akan lagi berinteraksi dengan siapa pun tanpa izin Om. Aku bersungguh-sungguh."

Arka terdiam. Ia memperhatikan gerak-gerik Kyla. Kepatuhan ini terasa janggal, terlalu sempurna, namun justru itulah yang membuat pertahanan Arka mulai goyah. Ia tidak terbiasa dengan Kyla yang semanis ini.

"Kenapa tiba-tiba kamu menjadi penurut?" Arka bertanya, suaranya parau, menatap langsung ke dalam jiwa Kyla.

Kyla tersenyum, senyuman yang sedikit getir namun terlihat tulus. "Karena aku ingin Om berhenti marah padaku. Aku ingin hubungan kita di rumah ini kembali tenang."

Arka menatap Kyla dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Dengar, Kyla. Mulai hari ini, setiap surat atau pemberian yang disodorkan pria mana pun di kampus, kamu harus menolaknya. Jangan ada teman pria yang mengantarmu, jangan ada percakapan yang tidak perlu. Kamu harus fokus sepenuhnya pada kuliahmu. Hidupmu adalah studimu, bukan pria-pria tidak berguna itu. Paham?"

"Aku paham, Om," jawab Kyla patuh, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Arka mengernyitkan kening. Kepatuhan ini... ini bukan Kyla yang biasanya. Kyla yang asli pasti akan membantah, akan berdebat, atau setidaknya akan menatapnya dengan api pemberontakan di mata. Keputusannya yang tiba-tiba untuk tunduk justru membuat Arka merasa ada sesuatu yang luput dari pengawasannya. Namun, ia tidak punya alasan untuk membantah, karena itulah yang ia inginkan.

Arka berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan Kyla yang terduduk diam. Kyla mengembuskan napas panjang. Ia baru saja berhasil menyusun langkah pertama dari siasatnya. Jika ia harus menelan harga dirinya demi mendapatkan kebebasan untuk acara camping itu, ia akan melakukannya.

**

Beberapa jam kemudian, di kantin kampus, suasana begitu bising. Riana duduk di hadapan Kyla, menatapnya dengan penuh selidik.

"Jadi? Bagaimana? Sudah minta izin soal acara camping departemen minggu depan?" tanya Riana sambil mengunyah kentang gorengnya. "Semua orang sudah mendaftar, Kyla. Nilai kita bergantung pada acara itu. Kamu tidak mungkin bolos, kan?"

Kyla terdiam sejenak, jemarinya bermain dengan pinggiran gelas minumannya. Ia teringat kembali percakapan di meja makan pagi tadi. Arka yang begitu curiga, Arka yang begitu membatasi. Namun, ia juga teringat akan wajah Arka saat ia berpura-pura patuh tadi.

"Aku belum mendapat izin," bisik Kyla pelan. "Dia... dia sangat protektif, Riana. Kamu tahu sendiri bagaimana dia. Dia benar-benar mengawasi setiap gerak-gerikku sekarang."

Riana menghela napas panjang. "Ky, ini acara akademik. Kamu harus menjelaskan padanya. Kamu tidak bisa terus-terusan hidup dalam sangkar emasnya selamanya. Apalagi di usiamu sekarang."

"Aku tahu," jawab Kyla. "Aku sedang mencoba melunakkannya. Pagi tadi, aku sengaja bersikap sangat penurut. Kupikir, jika aku menunjukkan bahwa aku bisa dipercaya, dia mungkin akan memberi sedikit kelonggaran."

"Penurut?" Riana tertawa kecil. "Itu bukan kamu. Tapi jika itu satu-satunya cara untuk keluar dari sana selama tiga hari, mungkin memang itu yang harus kamu lakukan."

Kyla mengangguk. Ia menatap ke arah gerbang kampus, membayangkan Arka yang mungkin saat ini sedang duduk di kantornya, menatap layar komputer dan memikirkan aturan apa lagi yang harus ia berikan untuk mengurung Kyla. Namun, ada satu hal yang tidak Arka sadari. Semakin Arka berusaha mengurung, semakin cerdik Kyla mencari celah. Dan kali ini, celah itu bernama camping lereng gunung. Ia harus bisa mendapatkan izin itu, atau ia akan selamanya menjadi burung yang lupa cara terbang.

"Aku akan mencoba bertanya lagi padanya malam ini," ucap Kyla penuh tekad. "Dan kali ini, aku tidak akan bertanya sebagai anak asuh yang membangkang. Aku akan bertanya sebagai seseorang yang sudah 'belajar' dari kesalahannya."

Riana menepuk pundak Kyla. "Semoga berhasil, Ky. Kalau dia tetap tidak mengizinkan, beri tahu aku. Mungkin kita bisa mencari cara lain untuk menyelundupkanmu keluar."

Kyla tersenyum kecut. Ia tahu, 'mencari cara lain' akan berarti perang besar dengan Arka. Dan setelah kejadian di kamar semalam, ia tahu bahwa perang dengan Arka bukan hanya tentang adu argumen, tetapi tentang adu gairah dan obsesi yang sanggup membakar segalanya. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia harus keluar. Ia harus membuktikan bahwa meskipun Arka bisa menguasai tubuhnya, ia tidak akan pernah bisa sepenuhnya menguasai jiwanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 11

    Matahari pagi baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon pinus, menyisakan butiran embun yang berkilauan seperti berlian di atas daun-daun pakis. Hari kedua perkemahan resmi dimulai. Setelah instruksi singkat dari dosen pembimbing, suasana perkemahan yang tadinya riuh berubah menjadi desas-desus penuh antusiasme. Para mahasiswa dari departemen seni kini berpencar, membawa ransel yang berisi kanvas, kuas, dan cat akrilik, siap memburu objek lukis paling memikat di sepanjang lereng gunung."Aku punya firasat kalau di dekat air terjun nanti warnanya akan sangat magis, Kyla! Kamu harus lihat cahayanya kalau menembus dedaunan," celoteh Riana tanpa henti. Gadis itu berjalan dengan langkah riang di depan Kyla, sepatunya menginjak ranting-ranting kering hingga menimbulkan bunyi patahan yang ritmis. "Bayangkan saja, kontras antara air yang biru dengan lumut hijau di batunya. Bukankah itu alasan utama kita memilih masuk jurusan seni?"Kyla hanya tersenyum tipis, merespons dengan gumam

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 10

    Mesin Range Rover hitam itu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama kampus yang sudah riuh dengan kerumunan mahasiswa. Pagi itu, matahari masih malu-malu mengintip di balik awan tipis, namun suasana di titik kumpul perkemahan departemen seni sudah terasa seperti sebuah festival kecil. Di sana, deretan bus pariwisata berjejer rapi, sementara para mahasiswa sibuk menaikkan tas-tas besar mereka ke dalam bagasi.Arka tidak mematikan mesin. Tangan kirinya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk paha Kyla yang terbungkus celana kargo praktis. Ia menatap ke luar jendela dengan sorot mata tajam, memindai kerumunan mahasiswa yang tampak seperti sekumpulan semut yang sibuk bagi pria itu."Ingat aturan kita, Kyla," suara Arka memecah keheningan kabin yang sejak tadi terasa mencekam. "GPS di ponselmu akan ku pantau secara real-time. Jika aku melihat titik lokasimu bergerak menjauh dari area perkemahan tanpa sei

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 9

    "Duduk, Kyla."Arka tidak memandang ke arah Kyla saat ia mengucapkan perintah itu. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya di ruang kerja, jemarinya mengetik dengan ritme yang stabil dan dingin. Kamar kerja Arka selalu terasa seperti zona terlarang bagi Kyla, ruangan dengan dinding berlapis kayu mahoni gelap, bau buku tua yang samar, dan atmosfer yang seolah menghisap seluruh kehangatan di udara.Kyla menarik kursi kayu yang berada tepat di hadapan meja kerja pria itu. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, persis seperti seorang siswi yang sedang menunggu hukuman di ruang kepala sekolah. Semalam, ia berhasil mendapatkan perhatian Arka dengan "kepatuhan" yang ia rancang dengan sangat hati-hati, namun kini, ia tahu permainan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.Arka menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang besar. Tatapan mata pr

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 8

    Napas Kyla memburu, tidak teratur, membentuk irama yang selaras dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Di atas ranjang king size yang berantakan, ia masih merasakan sisa sengatan panas dari setiap inci sentuhan Arka. Kamar itu kini terasa begitu pengap, seolah oksigen telah habis terserap oleh ketegangan yang baru saja terjadi. Kyla merutuk dirinya sendiri dalam diam. Jemarinya mencengkeram sprei dengan buku-buku jari yang memutih. Mengapa? Mengapa ia justru begitu menikmati setiap cumbuan pria itu? Mengapa pertahanan dirinya runtuh semudah kertas yang terbakar api saat Arka menyentuhnya? Ia membenci bagaimana tubuhnya berkhianat, bagaimana ia justru mendambakan lebih, mendambakan dominasi pria itu yang meremukkan sisa harga dirinya.Arka, yang berada tepat di atasnya, tiba-tiba berhenti. Pria itu menahan napas sejenak, otot-otot lengannya yang menekan matras tampak menegang hebat. Ia memejamkan mata, rahangnya mengunci rapat. Ia tahu, jika ia melanjutkan ini satu langkah lebih ja

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 7

    "Siapa dia, Kyla?"Suara itu tidak lagi terdengar seperti desis, melainkan geraman rendah yang mengguncang udara di sekeliling Kyla. Arka berdiri membelakanginya, namun aura dominasi yang terpancar dari punggung tegapnya mampu membuat Kyla merasa seolah-olah ia sedang terpojok oleh predator paling berbahaya di dunia. Amplop biru pastel itu kini telah hancur di tangan Arka, robek tak berbentuk, seolah melambangkan nasib siapa pun yang berani mencoba mengusik wilayah kekuasaannya.Kyla berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi. Handuk putih yang melilit tubuhnya terasa begitu tipis, seakan tidak memberikan perlindungan apa pun dari tatapan tajam pria itu yang, meskipun kini membelakanginya, bisa ia rasakan sedang membakar seluruh kulitnya. Sisa air dari rambutnya menetes dingin ke tulang selangka, namun sensasi itu kalah oleh rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat adrenalin yang meledak."Itu... itu hanya teman kampus, Om," jawab Kyla, berusaha menjaga suaranya tetap stab

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 6

    Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status