INICIAR SESIÓNSemua yang terjadi seperti dalam gerakan lambat peristiwa kecelakaan tabrakan itu sungguh sangat tidak terduga sama sekali baik oleh Bella maupun Liana.Bella terduduk di atas aspal yang keras dengan lututnya yang lecet tergores dan sedikit berdarah tapi itu hanya luka ringan sedangkan Liana mengalami luka cedera yang cukup parah.Dari kepala ibunda Revan itu tampak mengeluarkan darah segar dan wanita paruh baya itu terkapar tak berdaya diatas jalanan serta tak sadarkan diri.Alih-alih cepat melakukan tindakan pertolongan, Bella malah membeku di tempatnya, dia merasa linglung sejenak hingga melihat kedatangan ramai orang yang berkerumun di situ menyadarkannya kembali."Ibuu..!""Ya Allah, ibu tertabrak.!"Bella memaksakan dirinya bangkit dan setengah berlari menghampiri Liana."Oh tidak, dari kepalanya banyak mengeluarkan darah dan terluka begini besar."Bella cepat mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan menekan dengan kuat luka yang ada di kepala Liana.Setelah itu dengan kekalu
Bella memasuki private room itu dengan hati resah, walaupun lengannya digandeng erat oleh Revan, tetapi perasaan nya gelisah."Kak Revan.""Kak Bella."Andhini menyambut kedatangan kedua pasang kekasih itu dengan sumringah. Sementara Liana hanya tersenyum tipis saja dengan wajahnya yang kaku serta tidak tampak keceriaan dalam raut mukanya.Bella menguatkan hati, jiwa dan raganya agar dapat bertatap muka dengan sikap santun dengan sang calon mertua."Sudah lama menunggu Bu?""Maaf kalau kami sedikit terlambat."Bella tersenyum manis dan sedikit membungkuk sembari menjulurkan lengannya hendak bersalaman dengan wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu."Tidak juga, kami di sini sedang bersantai saja kok dari tadi," jawab Liana , wanita paruh baya itu tersenyum lebar saat melihat sang putra tercinta."Revan, ayo pesan makanan dulu ini hari sudah siang, Ibu masih ada acara dengan teman-teman.""Memangnya ibu mau ke mana sih santai saja dulu, kita kan masih belum juga mengobrol."Bella d
Bella dan Revan, keduanya saling bergenggaman tangan erat dalam pelukan. Revan berpikir ingin segera menikahi ArrabellaLalu Bella, merasakan kebahagiaan membayangkan bersanding dengan Revan di pelaminan.Sejurus kemudian Revan menjauhkan badannya dan menatap lekat sang kekasih sembari mengecup jemari lentiknya.Mendadak terlintas sebuah pikiran yang mengganggu di benak Bella hingga wajahnya mengernyit."Ada apa kok kamu jadi tiba-tiba muram sih apa kamu nggak bahagia dengan lamaran Aku."Revan bertanya sembari membelai pipi halus nan putih."Bukan begitu Hubby.""Aku masih khawatir apa ibumu akan menyetujui hubungan kita ini?"tanya Bella masih merasa was-was di dalam hatinya."Kamu nggak usah cemas menghadapi sikap ibuku dia memang seperti itu kelihatannya saja cuek tetapi dia orangnya baik kok, tenang saja aku akan meyakinkan Ibu agar dapat merestui hubungan kita dan terutama menyukaimu tentu saja."Hati Bella masih terasa gamang ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya."Ada apa
Bella membiarkan Revan dan Arya mengobrol, sementara dia menyiapkan minum dan menghangatkan masakan yaitu beef steak dan sop, serta makanan lainnya untuk makan malam mereka, wanita itu berencana untuk mengajak kekasihnya makan malam bersama.Dan sekarang di meja makan telah berkumpul Bella dan Kenzo duduk berdekatan, lantas di depannya ada Arya dan Revan duduk berdampingan." Jadi bagaimana bisa secepat itu nak Revan menemukan Kenzo?"Arya membuka percakapan saat mereka tengah bersantap hidangan yang dimasak oleh Bella."Hmm...ah itu hanya tinggal mencari informasi tentang Arvel ke seluruh jaringan koneksi yang saya miliki, karena dugaan terkuat Bella bahwa yang menjemput Ken di sekolah adalah Arvel, dan ternyata itu memang benar," jawab Revan sembari menatap mesra Bella.Lantas Revan mulai menceritakan semua perihal yang dialami nya siang tadi, dan menutup pembicaraannya dengan niat serius nya yang ingin menikahi Bella."Aku sangat bersyukur dengan niat baik dari kamu, tentu aku meny
Revan yang sudah tidak sabar ingin segera membawa kembali Kenzo ke pelukan Bella, akhirnya sudah sampai di area wilayah villa Arvel. Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga, dia memerlukan waktu singkat untuk dapat menemukan tempat yang ditunjukkan oleh Aldo.Revan cukup pintar untuk tidak langsung menerobos masuk ke pintu utama melainkan melakukan pengintaian dulu dan akhirnya dia bisa menemukan lokasi yang dikiranya adalah tempat untuk bersembunyi bagi Arvel.Dan benar saja saat Revan sampai di lokasi, itu bertepatan dengan keluarnya Arvel sambil menggendong Kenzo."Wah rupanya ada yang berani menyentuh anakku,"ujar Revan dengan kilatan cahaya tajam dari netranya.Arvel masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sosok Revan sedang menyeringai dingin, matanya menatap tajam dan kedua tangannya yang terkepal erat menahan emosi."Kamu siapa berani datang ke sini!""Om Revann..!"Kenzo yang melihat kedatangan Revan langsung berusaha meronta dari rangkulan Arvel dan i
Bella sesudah dari sekolah Kenzo, dia langsung pulang ke rumahnya dan mengemudi seorang diri sembari dalam perjalanan hatinya risau tak karuan."Kenzo Di manakah kamu nak apa kamu baik-baik saja itu takut terjadi sesuatu padamu."Suara Bella serak, disertai isak tangis keluar begitu saja dari bibir Bella."Kenzo, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang buruk menimpa dirimu Ibu tak bisa memaafkan dirimu sendiri, ya Tuhan tolonglah jaga anakku jangan sampai dia celaka.""Siapakah yang sudah membawamu pergi dari sekolahan tadi, apakah ia Arvel ..? ""Atau ada orang jahat lainnya yang ingin memanfaatkan kesempatan atau siapa arrrgh.. aku benar-benar bingung."Bella memukul pelan kemudi setir sambil terus bicara sendiri dengan wajah panik dan cemas, sepanjang perjalanan sampai dia tiba di halaman rumahnya.Wanita cantik itu langsung turun dari dalam mobil dan nyaris melompat saking gugupnya dia cepat membawa kakinya berjalan ke dalam rumah.Setiba di halaman rumah, ponselnya berdering Bell







