LOGINArrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri.
"Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya. Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang. "Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta. "Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya. Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang. "Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran. "Iya ayah, Bella permisi ke kamar." Setiba di kamarnya Bella langsung menghempaskan tubuh lelahnya diatas kasur tipis yang tersedia di kamar. Bella mengusap-ngusap perutnya yang terasa agak tidak nyaman, lantas dia melamun saat kejadian malam kemarin direstoran. "Kalau sampai pria yang bernama Revan itu tak datang menolong entah bagaimana nasibku dan apa akan yang terjadi dengan kandunganku?" "Bulan ini aku belum periksa kandungan lagi ke dokter,"gumam Bella lirih. "Anak yang tengah kukandung ini bagaimana nasibnya kelak? Dia akan lahir tanpa seorang ayah." "Aku harus kuat menghadapinya , semoga Tuhan memberiku kekuatan, bagaimana lagi semuanya sudah terjadi, aku harus bertanggung jawab untuk membesarkan bayi yang ada di perutku ini." Jemari lentik Arrabela menyeka kasar air mata yang mulai turun di pipinya yang putih mulus. Keesokan paginya Bella sudah berada di atas sepeda motornya dan siap berangkat kerja shift pagi, karena jadwal kuliahnya baru akan ada nanti sore. "Ayah, Bella pergi dulu." "Hati-hati dijalan, Bella." Arya menatap kepergian anaknya hingga hilang dari pandangan. Sesampainya Bella di restoran semua pegawai dikumpulkan untuk mengadakan meeting mendadak. "Jadi mulai besok kita akan kerja keras untuk menyiapkan menu masakan yang akan dipesan oleh klien untuk pesta pernikahan anaknya." Sonya sang supervisor tampak sangat bersemangat memberikan arahan pada semua karyawan. "Wah, siapa yang akan menikah ya?" Para pegawai saling berbisik pelan karena penasaran, sedangkan Bella hanya tertunduk lesu dan pergi ke ruangan khusus untuk berganti seragam kerja. Hari demi hari dilalui oleh Bella dengan kesibukan yang padat, hingga akhirnya tak terasa di restoran tempat Bella bekerja hari ini sibuk sekali karena besok mereka akan menyuplai kebutuhan makanan untuk pesta perkawinan pasangan anak dari keluarga kaya raya serta pengusaha sukses. "Bella bagian kamu nanti yang jaga stand lobster ya, ingat kerja yang fokus jangan ada kesalahan lagi," tutur Sonya sembari menatap Bella dengan sinis. "Iyaz tentu saja aku akan berusaha sebaik-baiknya bekerja dengan segenap hatiku," jawab Bella sarkas. Semua karyawan sudah berada di ballroom di awal pagi hari, semuanya memakai seragam dan sibuk berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Menjelang agak siang mempelai wanita dan pria telah datang untuk melaksanakan upacara nikah. Ketika semua temannya heboh berkerumun ingin melihat bagaimana rupa pengantinnya, Arrabella lebih memilih duduk dan memegang kedua kakinya yang terasa pegal. "Hei, Bella kenapa kamu diam saja disini? Ayo kita ke dalam untuk lihat acaranya segera dimulai," tutur Kalina yang merupakan rekan kerja Bella mengajak gadis itu ikut serta dengannya. "Aku disini saja, kaki ku pegal," jawab Bella singkat. "Oke deh, aku kesana ya," timpal Kalina. Tak lama kemudian Bella merasa ingin ke kamar mandi, lalu dia berjalan pelan. Bella baru saja hendak berbelok ke arah lorong yang menuju kamar mandi tapi dia menghentikan langkahnya karena sekilas menangkap pandangan sosok pria yang terasa familiar baginya. "I- itu ... pengantin prianya adalah_" Bella tak melanjutkan ucapannya, benaknya melayang pada peristiwa dimana malam kesuciannya telah terenggut dalam hubungan satu malam. Meskipun tidak mengamatinya dari jarak yang dekat tapi Bella masih mampu mengenali raut wajah lelaki arogan itu, ya dialah pria yang telah membeli keperawanan miliknya serta menghabiskan malam panas yang liar dan ugal-ugalan, tentu saja wajah sialan itu takkan pernah dilupakan oleh Bella. "Di-dia ...dia adalah pria itu, si brengsek yang telah memperlakukan diriku seperti layaknya p*l*c*r murahan, tapi..memang bukan salahnya aku lah yang telah memberikan diriku pada singa buas hingga kini benihnya tertinggal di rahimku," desis Bella menatap penuh geram pada pengantin pria yang ternyata adalah Arvel. Bella meraba perutnya yang sudah mulai sedikit menonl, wanita cantik itu terisak pelan. "Anakku, pria itu adalah ayahmu, sekarang dia sedang menikah, tapi lupakanlah orang itu, kamu aman disini bersama ibu," gumam Bella pelan disertai wajah yang sedih. Tiba- tiba selintas bayangan saat Arvel menggaulinya semalam suntuk mampir di benak Arrabella membuat tenggorokannya tercekat dan perutnya terasa diaduk. Bella lekas masuk ke kamar mandi, rasa mual yang sudah lama hilang muncul kembali. "Hoekk..hoekk." Bella memuntahkan isi perutnya, dan tubuhnya lemas, kehamilannya ini terkadang merepotkan ditambah hormon ibu hamil yang berubah-ubah. Sesudah merasa nyaman Bella membuka pintu dan terkesiap melihat Sonya ada didepannya. "Heh, kenapa dengan mu sepertinya aku dengar tadi kamu muntah-muntah, apa kamu hamil Bella?!" Sonya menatap Bella tajam. "Ti-tidak, aku hanya masuk angin saja tadi belum sempat sarapan," sanggah Bella gugup, karena memang dia merahasiakan kehamilannya, perempuan itu belum sanggup menerima cemoohan orang karena hamil diluar nikah. "Hah..awas saja kalau kamu sampai bohong, ingat hari ini adalah acara besar dan sangat penting jadi jagalah reputasi baik restoran kita selama pesta berlangsung !" Sonya berkata angkuh sembari keluar dari ruangan. Arrabella hanya bisa menghembus kasar serta memutar bola matanya, dengan berat hati diapun berjalan mengikuti sang supervisor. Sebulan setelahnya di ruangan dokter kandungan. Bella sedang berada di dokter kandungan, saat ini usia kehamilannya sudah menginjak bulan keempat dan perutnya sudah agak sedikit membuncit. "Janin ibu Bella sehat dan tak ada kelainan apapun, tapi tekanan darah anda selalu rendah setiap saya cek." "Tolong jaga kesehatan dengan baik, pola makan dan tidur yang teratur akan lebih baik dijaga dan terutama jangan stress , karena terlalu banyak pikiran akan mempengaruhi tumbuh kembangnya janin didalam sana," ujar dr. Ratmi menjelaskan panjang lebar pada Bella yang hanya ditanggapi dengan senyum tipis oleh Bella. "Terima kasih atas sarannya dokter, saya akan berupaya melakukan semua itu." Bella tentu saja mengetahui dan paham semua hal dasar mengenai kehamilan karena dia juga sedang menjalani kuliah di bidang kedokteran. Bella mulai agak kesulitan untuk menutupi perutnya , karena semakin lama tentu saja perut hamilnya itu akan mulai kelihatan. Seperti sore ini saat Bella hendak ganti memakai seragam kerja yang modelnya ketat dan pas di tubuh, dia terpaksa mengikat perutnya dan memilih baju seragam yang lebih longgar, tapi tepat pada saat itu masuklah Sonya yang juga hendak mengambil sesuatu barang dilemari khusus peralatan. " BRAKK.." " Ah..sial sepatuku untuk running tertinggal dilemari sini." Sonya menggerutu sembari membuka pintu dengan cara yang kasar, dan wanita judes itu terperangah saat melihat jelas perut Arrabella yang menyembul, sehingga kehamilannya terlihat jelas dan ketahuan oleh Sonya. Bella sontak menutupi perutnya dengan jaket yang biasa dia pakai untuk naik sepeda motor, raut wajahnya berubah pucat. "Arrabella kamu lagi hamil ya?!"seru Sonya lantang suaranya keras hingga terdengar keluar. ***Bella membiarkan Revan dan Arya mengobrol, sementara dia menyiapkan minum dan menghangatkan masakan yaitu beef steak dan sop, serta makanan lainnya untuk makan malam mereka, wanita itu berencana untuk mengajak kekasihnya makan malam bersama.Dan sekarang di meja makan telah berkumpul Bella dan Kenzo duduk berdekatan, lantas di depannya ada Arya dan Revan duduk berdampingan." Jadi bagaimana bisa secepat itu nak Revan menemukan Kenzo?"Arya membuka percakapan saat mereka tengah bersantap hidangan yang dimasak oleh Bella."Hmm...ah itu hanya tinggal mencari informasi tentang Arvel ke seluruh jaringan koneksi yang saya miliki, karena dugaan terkuat Bella bahwa yang menjemput Ken di sekolah adalah Arvel, dan ternyata itu memang benar," jawab Revan sembari menatap mesra Bella.Lantas Revan mulai menceritakan semua perihal yang dialami nya siang tadi, dan menutup pembicaraannya dengan niat serius nya yang ingin menikahi Bella."Aku sangat bersyukur dengan niat baik dari kamu, tentu aku meny
Revan yang sudah tidak sabar ingin segera membawa kembali Kenzo ke pelukan Bella, akhirnya sudah sampai di area wilayah villa Arvel. Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga, dia memerlukan waktu singkat untuk dapat menemukan tempat yang ditunjukkan oleh Aldo.Revan cukup pintar untuk tidak langsung menerobos masuk ke pintu utama melainkan melakukan pengintaian dulu dan akhirnya dia bisa menemukan lokasi yang dikiranya adalah tempat untuk bersembunyi bagi Arvel.Dan benar saja saat Revan sampai di lokasi, itu bertepatan dengan keluarnya Arvel sambil menggendong Kenzo."Wah rupanya ada yang berani menyentuh anakku,"ujar Revan dengan kilatan cahaya tajam dari netranya.Arvel masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sosok Revan sedang menyeringai dingin, matanya menatap tajam dan kedua tangannya yang terkepal erat menahan emosi."Kamu siapa berani datang ke sini!""Om Revann..!"Kenzo yang melihat kedatangan Revan langsung berusaha meronta dari rangkulan Arvel dan i
Bella sesudah dari sekolah Kenzo, dia langsung pulang ke rumahnya dan mengemudi seorang diri sembari dalam perjalanan hatinya risau tak karuan."Kenzo Di manakah kamu nak apa kamu baik-baik saja itu takut terjadi sesuatu padamu."Suara Bella serak, disertai isak tangis keluar begitu saja dari bibir Bella."Kenzo, bagaimana kalau sampai terjadi hal yang buruk menimpa dirimu Ibu tak bisa memaafkan dirimu sendiri, ya Tuhan tolonglah jaga anakku jangan sampai dia celaka.""Siapakah yang sudah membawamu pergi dari sekolahan tadi, apakah ia Arvel ..? ""Atau ada orang jahat lainnya yang ingin memanfaatkan kesempatan atau siapa arrrgh.. aku benar-benar bingung."Bella memukul pelan kemudi setir sambil terus bicara sendiri dengan wajah panik dan cemas, sepanjang perjalanan sampai dia tiba di halaman rumahnya.Wanita cantik itu langsung turun dari dalam mobil dan nyaris melompat saking gugupnya dia cepat membawa kakinya berjalan ke dalam rumah.Setiba di halaman rumah, ponselnya berdering Bell
Di sebuah kamar tidur yang luas dan megah tetapi di sekelilingnya telah didesain sedemikian rupa dengan interior untuk anak kecil. Kamar itu dipenuhi oleh mainan dari mulai robot dan mobil hingga segala macam lainnya, belum lagi dinding yang terdapat beberapa stiker tempelan karakter tokoh kartun yang ada di film anak-anak.Lalu di ranjang yang besar ditengah kamar terlihat sedang terbaring seorang bocah lelaki yang masih tertidur pulas dia tak lain adalah Kenzo.Rupanya Arvel telah membawa putra kecilnya ke suatu tempat yaitu villa mewah yang ada di pinggiran kota yang bernuansa alam dan udara yang terasa sejuk.Pintu kamar yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu kemudian terbuka dan masuklah Arvel yang ingin melihat kondisi Kenzo."Hmm.. rupanya anakku belum bangun."Arvel mengamati Kenzo sesaat sambil berdiri di tepian kasur."Mungkin sebentar lagi juga dia akan membuka matanya."Lalu Arvel ikut membaringkan tubuhnya di sebelah sang bocah dan membelai rambut halus Kenzo, usa
Bella yang kelelahan, duduk di atas kursi yang berada di ruangan kerja pribadinya pada saat ini. Operasi yang dia lakukan telah selesai sekitar beberapa jam yang lalu. Dan setelahnya dia hanya cukup melakukan beberapa kunjungan terhadap pasien yang sudah dinyatakan pulih dan akan segera pulang dari rumah sakit.Karena Bella melakukan operasi pada dini hari maka jadwalnya siang ini telah selesai, lalu dia akan segera pulang ke rumah setelah sebelumnya akan menjemput Kenzo dulu di sekolah.Saat tengah merasakan penatnya tubuh, ponsel Bella berdering dan tertera nama Revan di layar."Hallo ..""Hallo sayang, kok suara kamu terdengar lesu begitu?"Kening Revan mengernyit mendengar nada suara sang kekasih yang seolah tak bersemangat."Sebenarnya aku ada jadwal tadi pagi jam 04.00 untuk operasi pasien, mungkin saatnya aku sedang lelah dan mengantuk.""Apa kamu akan pulang sekarang?""Iya tapi aku sekalian akan jemput Kenzo di sekolah?"jawab Bella."Oke kalau gitu hati-hati di jalan ya, dan
Revan memijit kedua pelipisnya dengan kedua jari seraya menghela nafas panjang, terkadang menghadapi sifat ibunya memang butuh kesabaran extra."Bu, untuk diketahui saat Andhini berada dalam kondisi kritis dan koma di rumah sakit, justru Bella yang telah mengembalikan kesadaran nya, dengan caranya yang profesional, Bella juga yang mengembalikan semangat hidup Andhini, saat semangat hidup adikku itu mulai redup.""Percayalah dia adalah wanita yang baik untukku, dan tolong singkirkan pikiran buruk ibu tentang Bella, apa yang terjadi di masa lalunya hanyalah karena suatu keterpaksaan semata." Revan berkata sembari mengangkat bahu, seakan memberi tanda ingin segera menyudahi pembicaraan yang membosankan ini.Tapi kemudian dia teringat sesuatu mengenai Andhini."Lebih baik ibu lebih memperhatikan kondisi Andhini, dibanding dengan sering berkumpul bersama teman-teman ibu kerjaannya cuma bergosip itu.""Andhini sekarang sedang terpuruk karena ditinggal kekasihnya yang brengsek itu , jangan s
Revan menghela nafas panjang sembari memperhatikan punggung Bella yang menjauh dari pandangan matanya. Dia memutuskan untuk segera kembali ke ruangan intensif dan melihat kondisi adiknya."Andhini..ini aku kak Revan, cepatlah sadar kembali, tadi aku lihat jemarimu sudah mulai merespon saat dokter i
Arrabella kembali ke ruangan nya dengan segera, dan langsung duduk menghadapi layar monitor.Bella menampakkan wajah serius saat mengetik sesuatu di papan ketik, lalu netranya bergulir kekiri dan kanan mengamati dan menelaah dengan cermat apa yang ditampilkan layar komputer.Kemudian dokter cantik
Arrabella lekas tersadar dari lamunannya, lalu membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan menuju satu tempat dimana sebenarnya jarang sekali bagi para dokter bertandang kesana, karena itu adalah tempatnya Direktur utama, orang yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi di rumah sakit ini dan
Arrabella memandangi kepergian Revan dengan nafas yang tersengal-sengal, lalu perempuan cantik itu menghempaskan tubuhnya yang sudah sangat letih diatas kursi disertai emosi yang bergejolak didalam dada. Perdebatan panjang antara dia Revan yang telah menguras habis tenaga dan pikirannya itu, diakhi







