Share

7

Author: deasy_zen
last update Last Updated: 2026-01-29 18:25:48

Arrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri.

"Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya.

Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang.

"Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta.

"Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya.

Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang.

"Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran.

"Iya ayah, Bella permisi ke kamar."

Setiba di kamarnya Bella langsung menghempaskan tubuh lelahnya diatas kasur tipis yang tersedia di kamar. Bella mengusap-ngusap perutnya yang terasa agak tidak nyaman, lantas dia melamun saat kejadian malam kemarin direstoran.

"Kalau sampai pria yang bernama Revan itu tak datang menolong entah bagaimana nasibku dan apa akan yang terjadi dengan kandunganku?"

"Bulan ini aku belum periksa kandungan lagi ke dokter,"gumam Bella lirih.

"Anak yang tengah kukandung ini bagaimana nasibnya kelak? Dia akan lahir tanpa seorang ayah."

"Aku harus kuat menghadapinya , semoga Tuhan memberiku kekuatan, bagaimana lagi semuanya sudah terjadi, aku harus bertanggung jawab untuk membesarkan bayi yang ada di perutku ini."

Jemari lentik Arrabela menyeka kasar air mata yang mulai turun di pipinya yang putih mulus.

Keesokan paginya Bella sudah berada di atas sepeda motornya dan siap berangkat kerja shift pagi, karena jadwal kuliahnya baru akan ada nanti sore.

"Ayah, Bella pergi dulu."

"Hati-hati dijalan, Bella."

Arya menatap kepergian anaknya hingga hilang dari pandangan.

Sesampainya Bella di restoran semua pegawai dikumpulkan untuk mengadakan meeting mendadak.

"Jadi mulai besok kita akan kerja keras untuk menyiapkan menu masakan yang akan dipesan oleh klien untuk pesta pernikahan anaknya."

Sonya sang supervisor tampak sangat bersemangat memberikan arahan pada semua karyawan.

"Wah, siapa yang akan menikah ya?" Para pegawai saling berbisik pelan karena penasaran, sedangkan Bella hanya tertunduk lesu dan pergi ke ruangan khusus untuk berganti seragam kerja.

Hari demi hari dilalui oleh Bella dengan kesibukan yang padat, hingga akhirnya tak terasa di restoran tempat Bella bekerja hari ini sibuk sekali karena besok mereka akan menyuplai kebutuhan makanan untuk pesta perkawinan pasangan anak dari keluarga kaya raya serta pengusaha sukses.

"Bella bagian kamu nanti yang jaga stand lobster ya, ingat kerja yang fokus jangan ada kesalahan lagi," tutur Sonya sembari menatap Bella dengan sinis.

"Iyaz tentu saja aku akan berusaha sebaik-baiknya bekerja dengan segenap hatiku," jawab Bella sarkas.

Semua karyawan sudah berada di ballroom di awal pagi hari, semuanya memakai seragam dan sibuk berkutat dengan pekerjaannya masing-masing.

Menjelang agak siang mempelai wanita dan pria telah datang untuk melaksanakan upacara nikah.

Ketika semua temannya heboh berkerumun ingin melihat bagaimana rupa pengantinnya, Arrabella lebih memilih duduk dan memegang kedua kakinya yang terasa pegal.

"Hei, Bella kenapa kamu diam saja disini? Ayo kita ke dalam untuk lihat acaranya segera dimulai," tutur Kalina yang merupakan rekan kerja Bella mengajak gadis itu ikut serta dengannya.

"Aku disini saja, kaki ku pegal," jawab Bella singkat.

"Oke deh, aku kesana ya," timpal Kalina.

Tak lama kemudian Bella merasa ingin ke kamar mandi, lalu dia berjalan pelan. Bella baru saja hendak berbelok ke arah lorong yang menuju kamar mandi tapi dia menghentikan langkahnya karena sekilas menangkap pandangan sosok pria yang terasa familiar baginya.

"I- itu ... pengantin prianya adalah_"

Bella tak melanjutkan ucapannya, benaknya melayang pada peristiwa dimana malam kesuciannya telah terenggut dalam hubungan satu malam.

Meskipun tidak mengamatinya dari jarak yang dekat tapi Bella masih mampu mengenali raut wajah lelaki arogan itu, ya dialah pria yang telah membeli keperawanan miliknya serta menghabiskan malam panas yang liar dan ugal-ugalan, tentu saja wajah sialan itu takkan pernah dilupakan oleh Bella.

"Di-dia ...dia adalah pria itu, si brengsek yang telah memperlakukan diriku seperti layaknya p*l*c*r murahan, tapi..memang bukan salahnya aku lah yang telah memberikan diriku pada singa buas hingga kini benihnya tertinggal di rahimku," desis Bella menatap penuh geram pada pengantin pria yang ternyata adalah Arvel.

Bella meraba perutnya yang sudah mulai sedikit menonl, wanita cantik itu terisak pelan.

"Anakku, pria itu adalah ayahmu, sekarang dia sedang menikah, tapi lupakanlah orang itu, kamu aman disini bersama ibu," gumam Bella pelan disertai wajah yang sedih.

Tiba- tiba selintas bayangan saat Arvel menggaulinya semalam suntuk mampir di benak Arrabella membuat tenggorokannya tercekat dan perutnya terasa diaduk.

Bella lekas masuk ke kamar mandi, rasa mual yang sudah lama hilang muncul kembali.

"Hoekk..hoekk."

Bella memuntahkan isi perutnya, dan tubuhnya lemas, kehamilannya ini terkadang merepotkan ditambah hormon ibu hamil yang berubah-ubah.

Sesudah merasa nyaman Bella membuka pintu dan terkesiap melihat Sonya ada didepannya.

"Heh, kenapa dengan mu sepertinya aku dengar tadi kamu muntah-muntah, apa kamu hamil Bella?!" Sonya menatap Bella tajam.

"Ti-tidak, aku hanya masuk angin saja tadi belum sempat sarapan," sanggah Bella gugup, karena memang dia merahasiakan kehamilannya, perempuan itu belum sanggup menerima cemoohan orang karena hamil diluar nikah.

"Hah..awas saja kalau kamu sampai bohong, ingat hari ini adalah acara besar dan sangat penting jadi jagalah reputasi baik restoran kita selama pesta berlangsung !" Sonya berkata angkuh sembari keluar dari ruangan.

Arrabella hanya bisa menghembus kasar serta memutar bola matanya, dengan berat hati diapun berjalan mengikuti sang supervisor.

Sebulan setelahnya di ruangan dokter kandungan.

Bella sedang berada di dokter kandungan, saat ini usia kehamilannya sudah menginjak bulan keempat dan perutnya sudah agak sedikit membuncit.

"Janin ibu Bella sehat dan tak ada kelainan apapun, tapi tekanan darah anda selalu rendah setiap saya cek."

"Tolong jaga kesehatan dengan baik, pola makan dan tidur yang teratur akan lebih baik dijaga dan terutama jangan stress , karena terlalu banyak pikiran akan mempengaruhi tumbuh kembangnya janin didalam sana," ujar dr. Ratmi menjelaskan panjang lebar pada Bella yang hanya ditanggapi dengan senyum tipis oleh Bella.

"Terima kasih atas sarannya dokter, saya akan berupaya melakukan semua itu."

Bella tentu saja mengetahui dan paham semua hal dasar mengenai kehamilan karena dia juga sedang menjalani kuliah di bidang kedokteran.

Bella mulai agak kesulitan untuk menutupi perutnya , karena semakin lama tentu saja perut hamilnya itu akan mulai kelihatan.

Seperti sore ini saat Bella hendak ganti memakai seragam kerja yang modelnya ketat dan pas di tubuh, dia terpaksa mengikat perutnya dan memilih baju seragam yang lebih longgar, tapi tepat pada saat itu masuklah Sonya yang juga hendak mengambil sesuatu barang dilemari khusus peralatan.

" BRAKK.."

" Ah..sial sepatuku untuk running tertinggal dilemari sini."

Sonya menggerutu sembari membuka pintu dengan cara yang kasar, dan wanita judes itu terperangah saat melihat jelas perut Arrabella yang menyembul, sehingga kehamilannya terlihat jelas dan ketahuan oleh Sonya.

Bella sontak menutupi perutnya dengan jaket yang biasa dia pakai untuk naik sepeda motor, raut wajahnya berubah pucat.

"Arrabella kamu lagi hamil ya?!"seru Sonya lantang suaranya keras hingga terdengar keluar.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   35

    Arvel berjalan melenggang keluar dengan langkah lebarnya dari ruangan kerja Bella sembari menyeringai dingin, dan sekarang pria itu sudah berada didalam mobilnya. Arvel masih terdiam sejenak sebelum mulai menyalakan mesin mobilnya."Aku tak percaya kalau telah ditolak oleh seorang wanita macam Arrabella, tapi itu sungguh membuatku tertantang."Arvel mendengus kesal serta bicara seorang diri, lalu masih terduduk di jok mobil dan merasa hatinya tergelitik, tetapi rasa itu bukanlah rasa marah. Arvel tak tahu benar rasa apa itu, dan dia tidak yakin apakah dia benar-benar menyukai Bella atau itu hanya egonya saja.Sepanjang hidupnya dia sudah biasa memakai perempuan. Penampilannya yang tampan dan tubuh tegapnya disertai kekayaan yang berlimpah yang tak dapat disangkal telah memudahkan nya untuk mendapatkan teman tidur, hingga dia tak ingat lagi sudah berapa banyaknya.Pada dasarnya Arvel amat membenci wanita, mereka terlalu lembut dan tak punya semangat."Malika umpamanya, dia sama saja de

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   34

    Arvel masih terus mengamati interaksi ketiganya hingga mobil yang dikendarai Revan dan Bella beranjak pergi."Sebaiknya sekarang aku akan mendatangi Bella di rumah sakit tempatnya bekerja."Kemudian Arvel mulai mengemudikan mobil sedan mewahnya, dia sudah mengetahui dimana tempat Bella bekerja berdasarkan informasi dari Reno.Bella sedang melakukan kunjungan ke salah satu pasien nya sembari mengecek kondisi terakhir seorang wanita paruh baya yang sudah satu minggu dirawat karena operasi usus buntu."Bagaimana perasaan ibu hari ini?""Baik Dok, saya sudah merasa lebih sehat dan bekas lukanya pun sudah tak terasa sakit, dokter Bella memang hebat sekali."tanggap Emi sang pasien sambil tersenyum lebar."Sudah tugas saya Bu, dan saya senang bila ibu sudah kembali pulih," jawab Bella merendah sembari memeriksa catatan medis."Baiklah kondisi ibu sudah stabil dan sehat sehingga besok sudah bisa pulang,"tutur Bella lalu dia menoleh pada perawat wanita muda di sebelahnya."Apa lagi jadwal ku s

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   33

    Kenzo mengamati interaksi diantara Revan dan ibunya lantas bocah itu tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri keduanya."Om Revan..""Hallo jagoan Om, gimana kabar kamu hari ini Boy."Revan merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh mungil dalam dekapan lengan kekarnya."Aku senang hari ini karena ada om Revan datang, aku sebentar lagi pergi sekolah sama ibu.""Wow.. that's good, bagus sekali anak pintar.""Baiklah ayo kita pergi bersama, Om akan antar kamu ke sekolah .""Tunggu sebentar aku akan mengambil tas nya Kenzo yang tertinggal didalam rumah, apa kamu mau masuk dulu?"Bella bertanya seraya menatap Revan lekat dengan wajahnya yang tersipu. Pria tampan itu sedang menggendong anaknya sambil bercengkerama riang."Aku tunggu disini saja bersama Kenzo, "jawab Revan singkat.Tak lama kemudian ketiganya sudah berada di dalam kendaraan mewah milik Revan dan berkendara menuju sekolah Revan terlebih dahulu.Sepanjang perjalanan Kenzo banyak berceloteh riang disertai wajah tampan nya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   32

    Revan dan Erika saling berpandangan, tapi pikiran mereka berbeda-beda.Revan merasa penasaran dengan rencana Erika dan tak mau membiarkan dirinya terjebak begitu saja. Pria itu memang selalu berhati-hati bila ada seseorang asing yang tak dikenalnya memberi minuman ataupun makanan, maka Revan takkan menelannya begitu saja.Tak lama kemudian reaksi obat yang diminum Erika mulai bekerja."Aduh kenapa rasanya badanku panas begini, padahal tadi aku nggak kenapa-kenapa."Erika mulai merasakan ketidak nyamanan tapi dia merasa aneh karena hafal dengan efek yang terjadi pada tubuhnya."Tapi ini adalah efek obat itu, kenapa jadi aku yang merasakannya, bukankah harusnya Revan yang minum obat ini." gumamnya saat terasa semakin tidak nyaman dan panas yang semakin melanda tubuhnya.Revan menatap dingin wanita bertubuh padat dan molek yang memakai pakaian ketat didepannya."Ada apa denganmu Erika, kenapa wajahmu merah begitu?" Revan bertanya dengan nada datar dan melakukan akting berpura-pura tak t

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   31

    Revan berdiri duluan dan berjalan meninggalkan meja makan tapi sebelumnya dia melirik dengan ujung mata untuk mengetahui respon Erika atas ucapannya tadi."Hmm.. lihat saja kamu rubah licik, aku akan meladeni usaha kotormu untuk mendekatiku." Revan bicara di hatinya sambil berjalan menuju taman.Sementara itu Liana dan Andhini memutuskan untuk beristirahat di kamar.Erika lantas menuju dapur dan menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan camilan serta minuman hangat untuk Revan."Apakah semua yang ada di nampan ini akan diberikan pada tuan Revan?" Erika mengamati cangkir berisi air minum dan makanan kecil dalam wadah."Iya betul nona, saya sedang menyiapkan satu jenis buah potong untuk ditambahkan sebagai pelengkap." Ujar sang pelayan sembari memberi anggukan kecil."Tunggu sebentar ya, jangan dulu kau berikan padanya, biar aku saja yang membawakan nampan ini untuknya.""Baik nona Erika."Erika mewanti-wanti pelayan wanita muda itu agar menuruti ucapannya lalu perempuan itu melangkah

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   30

    Dengan penuh rasa malas akhirnya Revan berkendara kembali ke kediamannya dan saat memasuki rumah terlihat sang bunda sedang asyik berbincang dengan Erika di ruang tengah sambil menonton televisi."Nah itu Revan datang."Liana menyunggingkan senyum lebar saat melihat putranya sudah ada dirumah."Katanya ibu tadi pusing, sakit kepala lalu kenapa waktu ada Bella nggak bilang, kan Bella itu dokter jadi bisa diperiksa sama dia?"Revan mengajukan pertanyaan yang membuat Liana kesal."Aduh kamu ini Revan, mendingan sekarang kamu duduk disini dulu ajak ngobrol Erika terus selanjutnya kalian pergi berdua berkeliling, kasihan Erika masa iya dari tadi diam aja dirumah.""Sana pergi cepetan, ibu udah janji sama ayahnya Erika akan mengurus anaknya dengan baik selama ada disini.""Ibu sekarang ke kamar untuk beristirahat tapi sebelum itu, mau lihat dulu Andhini di kamarnya."Liana yang tetap ngotot ingin menjodohkan Revan dengan gadis cantik itu berkata tegas pada anaknya dan seakan tak ingin diban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status