Share

6

Author: deasy_zen
last update Last Updated: 2026-01-29 17:16:57

Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata.

"Duduk dulu di sofa, Non."

Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan.

"Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat.

"Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.

Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek.

"Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."

Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri.

"Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera itu.

Sepertinya Bella tak perlu disuruh dua kali untuk memakan hidangan yang dimasak Sumi, jemari lentiknya meraih sendok dan mulai menyantapnya perlahan.

"Habiskan saja semuanya Non Bella, aku sengaja masak karena tuan Revan yang menyuruh, jadi tolong makan yang banyak nak Bella."

"Nah, lalu ini obat yang diberikan dokter tadi malam saat datang kesini memeriksa Non Bella."

Sumi meletakkan bungkusan plastik berisi obat di atas meja, didepan Bella.

Bella melirik pada benda yang disodorkan Sumi, "Terima kasih Bu, tapi aku ingin tahu, tadi ibu bilang kalau ini adalah rumah miliknya pak Revan, malah dia sendiri yang telah menolongku tadi malam, betulkah?" Arrabella bertanya penasaran dan netranya menatap lekat pada Sumi.

Bu Sumi menyunggingkan senyum lebar serta memberi anggukan kecil sebelum menjawab pertanyaan Bella.

"Betul sekali nak Bella, sebenarnya ibu juga tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja saja tuan Revan semalam berpesan pada saya agar mengurus anda dengan baik dan juga memberikan ini untuk ongkos pulang nanti."

Bu Sumi menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke hadapan perempuan yang dibawa oleh majikannya itu.

Sontak Arrabella terperangah mendengar perkataan Sumi, lalu menatap uang pemberian Revan yang disodorkan Bu Sumi tadi.

"Apakah aku bisa bertemu dengan pak Revan itu, dimanakah aku dapat menemuinya?"

"Maksudnya begini Bu, aku hanya ingin berterima kasih langsung secara pribadi padanya Bu, karena kemarin malam dia telah menyelamatkan aku dari bahaya serta aib yang mengintaiku."

Bella bicara menjelaskan sembari meminum obat sakit kepala yang diberikan dokter.

Bu Sumi hanya dapat menggelengkan kepalanya, karena pada dasarnya dia pun tidak paham dan hanya seorang pesuruh belaka.

"Maaf nak Bella, ibu juga tidak tahu bagaimana cara menghubunginya, sebab tuan Revan bilang kemarin kalau dia akan pergi keluar kota untuk suatu urusan."

"Dan sebenarnya tuan Revan juga baru saja dan jarang sekali menginjakkan kakinya ke apartemen ini semenjak kepulangannya dari luar negeri," tutur Sumi memberi informasi.

Bella hanya bisa manggut-manggut mengiyakan serta menghembus panjang, perempuan itu sekarang paham.

"Jadi begitu ya, sayang sekali aku tak bisa bicara dengannya, dia sangat baik sekali telah menolongku, aku takkan pernah melupakan kebaikannya," tandas Bella mengutarakan pikirannya.

"Kalau begitu tolong sampaikan ucapan terimakasih dariku untuk pak Revan ya Bu, bila anda nanti bertemu lagi dengannya."

"Sebab sebentar lagi saya akan bersiap untuk pulang ke rumah," pungkas Bella menyudahi pembicaraan.

Setengah jam kemudian Bella pun merasa tubuhnya sudah kembali lebih segar, rasa pening yang mendera kepala nya mulai berangsur hilang dan tubuhnya sudah tak lemas lagi.

"Bu Sumi, aku pamit pulang dulu, terima kasih sudah menjaga serta memberiku makanan," tukas Bella sambil tersenyum lebar.

"Iya nak Bella, hati-hati dijalan," tandas Sumi dan menatap kepergian Bella sampai akhirnya menutup pintu apartemen setelah memastikan perempuan cantik itu menghilang dari pandangan matanya.

***

Bella sedang berdiri di pinggir jalan raya dan akan melakukan pemesanan kendaraan online, dia akan menuju restoran tempat kerjanya terlebih dulu untuk mengambil sepeda motornya yang masih ada di sana.

"Ayahku pasti udah cemas mikirin aku yang nggak pulang semalaman, lebih baik kutelepon dulu sebelum nanti Ayah keburu gelisah."

Setelah selesai memberi tahu ayahnya kalau keadaannya baik-baik saja maka Bella langsung menaiki kendaraan online yang telah tiba menjemputnya.

Tepat pada saat Bella pergi dari situ ,terlihat kendaraan Bentley mewah milik Revan berbelok menuju jalan masuk ke apartemennya.

Sesampainya di depan apartemennya Revan langsung membuka pintu tempat tinggalnya itu dan melihat Bu Sumi baru selesai membersihkan lantai.

"Eh, tuan_"

"Ternyata ada tuan Revan datang," ujar Sumi menyapa hormat, menyambut kedatangan majikannya.

"Iya ada perubahan rencana, aku pergi ke kota Suraka besok, jadi ingin mampir dulu kesini," jawab Revan datar.

"Dimana perempuan yang tadi malam kubawa kesini?"

"Kalau nak Bella, baru saja dia pulang," jawab Sumi.

"Oh, dia sudah pergi ternyata, bagaimana keadaannya sudah sehat?" Revan bertanya sembari menghempaskan tubuhnya di sofa besar nan empuk, lantas menyilangkan satu kakinya.

"Kondisi non Bella lumayan membaik Tuan, tadi dia terlihat lebih segar dan sudah tidak demam, obatnya juga sudah diminum," tukas Sumi menerangkan dengan detail.

Revan hanya diam saja mendengar penuturan Sumi dengan ekspresi wajah datar, sembari menggoyangkan kakinya.

"Namun, nak Bella sempat bilang kalau dia ingin bertemu dengan tuan Revan, katanya dia mau bilang terima kasih karena anda telah menolongnya."

Revan menatap Sumi dan mengerutkan keningnya.

"Bella?"

"Iya, namanya Bella, dia yang memperkenalkan diri."

"Begitu ya," jawab Revan singkat.

"Tapi saya mengatakan kalau anda tidak bisa ditemui, sesuai dengan pesan tuan semalam pada saya," sahut Sumi.

"Ya, nggak apa-apa bilang aja seperti itu, aku memang tidak berminat bertemu wanita hamil itu lagi," jawab Revan santai saja.

"Jadi nak Bella ternyata sedang hamil?!" gumam Sumi mengernyit.

Revan lantas bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan melenggang keluar sembari memutar-mutar kunci mobil di jemarinya.

"Bu Sumi, aku pulang dulu*" pungkas Revan dan keluar dari ruangannya.

***

Di sebuah rumah tua dengan penerangan minim didaerah pinggiran kota, tampak Ares sedang duduk memandangi empat pria didepannya dengan tatapan tajam dan gusar.

BRAKK

Ares menggebrak meja kayu didepannya dengan sebuah tongkat kayu.

"Dasar nggak berguna, aku udah bayar kalian mahal, tapi menangkap satu perempuan aja nggak bisa, percuma aja aku nyuruh kalian!"

"Maaf bos, sebenarnya kami telah hampir berhasil membawa target anda tetapi ada seseorang yang menyerang kami hingga pingsan dan setelahnya wanita itu tak dapat kami temukan"

"Kemungkinan orang yang menolong telah membawanya pergi dari sana," jawab pria yang kedua lengannya penuh tato dengan wajah yang pucat saat bertatap muka dengan Ares.

"Kau bilang ada yang menolongnya, siapa?"

"Maaf bos Ares, saya tidak tahu karena gerakannya cepat dan kami langsung tersungkur pingsan," jawab Yono sang kepala preman sewaan Ares.

"Yang benar saja, kalian ini benar-benar nggak bisa diandalkan," jawab Ares menggerutu dengan geram.

Ares memang orang nya yang berniat membawa paksa Arabella untuk dia perlakukan semaunya, sejak ibunya memperkenalkan Bella padanya, Ares sudah tertarik pada Bella saat pandangan pertama.

Setelah sekian lama waktu berlalu dan kini akhirnya ibunya sudah berpisah dari ayah Bella, Ares kembali pada obsesi untuk memiliki Bella dalam dekapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   35

    Arvel berjalan melenggang keluar dengan langkah lebarnya dari ruangan kerja Bella sembari menyeringai dingin, dan sekarang pria itu sudah berada didalam mobilnya. Arvel masih terdiam sejenak sebelum mulai menyalakan mesin mobilnya."Aku tak percaya kalau telah ditolak oleh seorang wanita macam Arrabella, tapi itu sungguh membuatku tertantang."Arvel mendengus kesal serta bicara seorang diri, lalu masih terduduk di jok mobil dan merasa hatinya tergelitik, tetapi rasa itu bukanlah rasa marah. Arvel tak tahu benar rasa apa itu, dan dia tidak yakin apakah dia benar-benar menyukai Bella atau itu hanya egonya saja.Sepanjang hidupnya dia sudah biasa memakai perempuan. Penampilannya yang tampan dan tubuh tegapnya disertai kekayaan yang berlimpah yang tak dapat disangkal telah memudahkan nya untuk mendapatkan teman tidur, hingga dia tak ingat lagi sudah berapa banyaknya.Pada dasarnya Arvel amat membenci wanita, mereka terlalu lembut dan tak punya semangat."Malika umpamanya, dia sama saja de

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   34

    Arvel masih terus mengamati interaksi ketiganya hingga mobil yang dikendarai Revan dan Bella beranjak pergi."Sebaiknya sekarang aku akan mendatangi Bella di rumah sakit tempatnya bekerja."Kemudian Arvel mulai mengemudikan mobil sedan mewahnya, dia sudah mengetahui dimana tempat Bella bekerja berdasarkan informasi dari Reno.Bella sedang melakukan kunjungan ke salah satu pasien nya sembari mengecek kondisi terakhir seorang wanita paruh baya yang sudah satu minggu dirawat karena operasi usus buntu."Bagaimana perasaan ibu hari ini?""Baik Dok, saya sudah merasa lebih sehat dan bekas lukanya pun sudah tak terasa sakit, dokter Bella memang hebat sekali."tanggap Emi sang pasien sambil tersenyum lebar."Sudah tugas saya Bu, dan saya senang bila ibu sudah kembali pulih," jawab Bella merendah sembari memeriksa catatan medis."Baiklah kondisi ibu sudah stabil dan sehat sehingga besok sudah bisa pulang,"tutur Bella lalu dia menoleh pada perawat wanita muda di sebelahnya."Apa lagi jadwal ku s

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   33

    Kenzo mengamati interaksi diantara Revan dan ibunya lantas bocah itu tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri keduanya."Om Revan..""Hallo jagoan Om, gimana kabar kamu hari ini Boy."Revan merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh mungil dalam dekapan lengan kekarnya."Aku senang hari ini karena ada om Revan datang, aku sebentar lagi pergi sekolah sama ibu.""Wow.. that's good, bagus sekali anak pintar.""Baiklah ayo kita pergi bersama, Om akan antar kamu ke sekolah .""Tunggu sebentar aku akan mengambil tas nya Kenzo yang tertinggal didalam rumah, apa kamu mau masuk dulu?"Bella bertanya seraya menatap Revan lekat dengan wajahnya yang tersipu. Pria tampan itu sedang menggendong anaknya sambil bercengkerama riang."Aku tunggu disini saja bersama Kenzo, "jawab Revan singkat.Tak lama kemudian ketiganya sudah berada di dalam kendaraan mewah milik Revan dan berkendara menuju sekolah Revan terlebih dahulu.Sepanjang perjalanan Kenzo banyak berceloteh riang disertai wajah tampan nya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   32

    Revan dan Erika saling berpandangan, tapi pikiran mereka berbeda-beda.Revan merasa penasaran dengan rencana Erika dan tak mau membiarkan dirinya terjebak begitu saja. Pria itu memang selalu berhati-hati bila ada seseorang asing yang tak dikenalnya memberi minuman ataupun makanan, maka Revan takkan menelannya begitu saja.Tak lama kemudian reaksi obat yang diminum Erika mulai bekerja."Aduh kenapa rasanya badanku panas begini, padahal tadi aku nggak kenapa-kenapa."Erika mulai merasakan ketidak nyamanan tapi dia merasa aneh karena hafal dengan efek yang terjadi pada tubuhnya."Tapi ini adalah efek obat itu, kenapa jadi aku yang merasakannya, bukankah harusnya Revan yang minum obat ini." gumamnya saat terasa semakin tidak nyaman dan panas yang semakin melanda tubuhnya.Revan menatap dingin wanita bertubuh padat dan molek yang memakai pakaian ketat didepannya."Ada apa denganmu Erika, kenapa wajahmu merah begitu?" Revan bertanya dengan nada datar dan melakukan akting berpura-pura tak t

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   31

    Revan berdiri duluan dan berjalan meninggalkan meja makan tapi sebelumnya dia melirik dengan ujung mata untuk mengetahui respon Erika atas ucapannya tadi."Hmm.. lihat saja kamu rubah licik, aku akan meladeni usaha kotormu untuk mendekatiku." Revan bicara di hatinya sambil berjalan menuju taman.Sementara itu Liana dan Andhini memutuskan untuk beristirahat di kamar.Erika lantas menuju dapur dan menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan camilan serta minuman hangat untuk Revan."Apakah semua yang ada di nampan ini akan diberikan pada tuan Revan?" Erika mengamati cangkir berisi air minum dan makanan kecil dalam wadah."Iya betul nona, saya sedang menyiapkan satu jenis buah potong untuk ditambahkan sebagai pelengkap." Ujar sang pelayan sembari memberi anggukan kecil."Tunggu sebentar ya, jangan dulu kau berikan padanya, biar aku saja yang membawakan nampan ini untuknya.""Baik nona Erika."Erika mewanti-wanti pelayan wanita muda itu agar menuruti ucapannya lalu perempuan itu melangkah

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   30

    Dengan penuh rasa malas akhirnya Revan berkendara kembali ke kediamannya dan saat memasuki rumah terlihat sang bunda sedang asyik berbincang dengan Erika di ruang tengah sambil menonton televisi."Nah itu Revan datang."Liana menyunggingkan senyum lebar saat melihat putranya sudah ada dirumah."Katanya ibu tadi pusing, sakit kepala lalu kenapa waktu ada Bella nggak bilang, kan Bella itu dokter jadi bisa diperiksa sama dia?"Revan mengajukan pertanyaan yang membuat Liana kesal."Aduh kamu ini Revan, mendingan sekarang kamu duduk disini dulu ajak ngobrol Erika terus selanjutnya kalian pergi berdua berkeliling, kasihan Erika masa iya dari tadi diam aja dirumah.""Sana pergi cepetan, ibu udah janji sama ayahnya Erika akan mengurus anaknya dengan baik selama ada disini.""Ibu sekarang ke kamar untuk beristirahat tapi sebelum itu, mau lihat dulu Andhini di kamarnya."Liana yang tetap ngotot ingin menjodohkan Revan dengan gadis cantik itu berkata tegas pada anaknya dan seakan tak ingin diban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status