Share

5

Author: deasy_zen
last update Last Updated: 2026-01-29 17:16:57

Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata.

"Duduk dulu di sofa, Non."

Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan.

"Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat.

"Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.

Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek.

"Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."

Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri.

"Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera itu.

Sepertinya Bella tak perlu disuruh dua kali untuk memakan hidangan yang dimasak Sumi, jemari lentiknya meraih sendok dan mulai menyantapnya perlahan.

"Habiskan saja semuanya Non Bella, aku sengaja masak karena tuan Revan yang menyuruh, jadi tolong makan yang banyak nak Bella."

"Nah, lalu ini obat yang diberikan dokter tadi malam saat datang kesini memeriksa Non Bella."

Sumi meletakkan bungkusan plastik berisi obat di atas meja, didepan Bella.

Bella melirik pada benda yang disodorkan Sumi, "Terima kasih Bu, tapi aku ingin tahu, tadi ibu bilang kalau ini adalah rumah miliknya pak Revan, malah dia sendiri yang telah menolongku tadi malam, betulkah?" Arrabella bertanya penasaran dan netranya menatap lekat pada Sumi.

Bu Sumi menyunggingkan senyum lebar serta memberi anggukan kecil sebelum menjawab pertanyaan Bella.

"Betul sekali nak Bella, sebenarnya ibu juga tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja saja tuan Revan semalam berpesan pada saya agar mengurus anda dengan baik dan juga memberikan ini untuk ongkos pulang nanti."

Bu Sumi menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke hadapan perempuan yang dibawa oleh majikannya itu.

Sontak Arrabella terperangah mendengar perkataan Sumi, lalu menatap uang pemberian Revan yang disodorkan Bu Sumi tadi.

"Apakah aku bisa bertemu dengan pak Revan itu, dimanakah aku dapat menemuinya?"

"Maksudnya begini Bu, aku hanya ingin berterima kasih langsung secara pribadi padanya Bu, karena kemarin malam dia telah menyelamatkan aku dari bahaya serta aib yang mengintaiku."

Bella bicara menjelaskan sembari meminum obat sakit kepala yang diberikan dokter.

Bu Sumi hanya dapat menggelengkan kepalanya, karena pada dasarnya dia pun tidak paham dan hanya seorang pesuruh belaka.

"Maaf nak Bella, ibu juga tidak tahu bagaimana cara menghubunginya, sebab tuan Revan bilang kemarin kalau dia akan pergi keluar kota untuk suatu urusan."

"Dan sebenarnya tuan Revan juga baru saja dan jarang sekali menginjakkan kakinya ke apartemen ini semenjak kepulangannya dari luar negeri," tutur Sumi memberi informasi.

Bella hanya bisa manggut-manggut mengiyakan serta menghembus panjang, perempuan itu sekarang paham.

"Jadi begitu ya, sayang sekali aku tak bisa bicara dengannya, dia sangat baik sekali telah menolongku, aku takkan pernah melupakan kebaikannya," tandas Bella mengutarakan pikirannya.

"Kalau begitu tolong sampaikan ucapan terimakasih dariku untuk pak Revan ya Bu, bila anda nanti bertemu lagi dengannya."

"Sebab sebentar lagi saya akan bersiap untuk pulang ke rumah," pungkas Bella menyudahi pembicaraan.

Setengah jam kemudian Bella pun merasa tubuhnya sudah kembali lebih segar, rasa pening yang mendera kepala nya mulai berangsur hilang dan tubuhnya sudah tak lemas lagi.

"Bu Sumi, aku pamit pulang dulu, terima kasih sudah menjaga serta memberiku makanan," tukas Bella sambil tersenyum lebar.

"Iya nak Bella, hati-hati dijalan," tandas Sumi dan menatap kepergian Bella sampai akhirnya menutup pintu apartemen setelah memastikan perempuan cantik itu menghilang dari pandangan matanya.

***

Bella sedang berdiri di pinggir jalan raya dan akan melakukan pemesanan kendaraan online, dia akan menuju restoran tempat kerjanya terlebih dulu untuk mengambil sepeda motornya yang masih ada di sana.

"Ayahku pasti udah cemas mikirin aku yang nggak pulang semalaman, lebih baik kutelepon dulu sebelum nanti Ayah keburu gelisah."

Setelah selesai memberi tahu ayahnya kalau keadaannya baik-baik saja maka Bella langsung menaiki kendaraan online yang telah tiba menjemputnya.

Tepat pada saat Bella pergi dari situ ,terlihat kendaraan Bentley mewah milik Revan berbelok menuju jalan masuk ke apartemennya.

Sesampainya di depan apartemennya Revan langsung membuka pintu tempat tinggalnya itu dan melihat Bu Sumi baru selesai membersihkan lantai.

"Eh, tuan_"

"Ternyata ada tuan Revan datang," ujar Sumi menyapa hormat, menyambut kedatangan majikannya.

"Iya ada perubahan rencana, aku pergi ke kota Suraka besok, jadi ingin mampir dulu kesini," jawab Revan datar.

"Dimana perempuan yang tadi malam kubawa kesini?"

"Kalau nak Bella, baru saja dia pulang," jawab Sumi.

"Oh, dia sudah pergi ternyata, bagaimana keadaannya sudah sehat?" Revan bertanya sembari menghempaskan tubuhnya di sofa besar nan empuk, lantas menyilangkan satu kakinya.

"Kondisi non Bella lumayan membaik Tuan, tadi dia terlihat lebih segar dan sudah tidak demam, obatnya juga sudah diminum," tukas Sumi menerangkan dengan detail.

Revan hanya diam saja mendengar penuturan Sumi dengan ekspresi wajah datar, sembari menggoyangkan kakinya.

"Namun, nak Bella sempat bilang kalau dia ingin bertemu dengan tuan Revan, katanya dia mau bilang terima kasih karena anda telah menolongnya."

Revan menatap Sumi dan mengerutkan keningnya.

"Bella?"

"Iya, namanya Bella, dia yang memperkenalkan diri."

"Begitu ya," jawab Revan singkat.

"Tapi saya mengatakan kalau anda tidak bisa ditemui, sesuai dengan pesan tuan semalam pada saya," sahut Sumi.

"Ya, nggak apa-apa bilang aja seperti itu, aku memang tidak berminat bertemu wanita hamil itu lagi," jawab Revan santai saja.

"Jadi nak Bella ternyata sedang hamil?!" gumam Sumi mengernyit.

Revan lantas bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan melenggang keluar sembari memutar-mutar kunci mobil di jemarinya.

"Bu Sumi, aku pulang dulu*" pungkas Revan dan keluar dari ruangannya.

***

Di sebuah rumah tua dengan penerangan minim didaerah pinggiran kota, tampak Ares sedang duduk memandangi empat pria didepannya dengan tatapan tajam dan gusar.

BRAKK

Ares menggebrak meja kayu didepannya dengan sebuah tongkat kayu.

"Dasar nggak berguna, aku udah bayar kalian mahal, tapi menangkap satu perempuan aja nggak bisa, percuma aja aku nyuruh kalian!"

"Maaf bos, sebenarnya kami telah hampir berhasil membawa target anda tetapi ada seseorang yang menyerang kami hingga pingsan dan setelahnya wanita itu tak dapat kami temukan"

"Kemungkinan orang yang menolong telah membawanya pergi dari sana," jawab pria yang kedua lengannya penuh tato dengan wajah yang pucat saat bertatap muka dengan Ares.

"Kau bilang ada yang menolongnya, siapa?"

"Maaf bos Ares, saya tidak tahu karena gerakannya cepat dan kami langsung tersungkur pingsan," jawab Yono sang kepala preman sewaan Ares.

"Yang benar saja, kalian ini benar-benar nggak bisa diandalkan," jawab Ares menggerutu dengan geram.

Ares memang orang nya yang berniat membawa paksa Arabella untuk dia perlakukan semaunya, sejak ibunya memperkenalkan Bella padanya, Ares sudah tertarik pada Bella saat pandangan pertama.

Setelah sekian lama waktu berlalu dan kini akhirnya ibunya sudah berpisah dari ayah Bella, Ares kembali pada obsesi untuk memiliki Bella dalam dekapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   9

    Sheryl sedang di ruangan kerja ayahnya, gadis itu duduk santai sambil menunggu sang ayah selesai bertelepon."Yah, aku ada permintaan," tukas Sherly manja."Apa yang diinginkan putri ayah ini sekarang hmm..?" Bram menyorot lembut pada anak gadisnya."Aku ingin ayah mampu mengeluarkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran dari kampus," ungkap Sherly datar.Bram mengerutkan keningnya, "Siapa nama gadis itu?""Namanya Arrabella, tapi yang benar saja, dia udah bukan gadis lagi, wanita sialan perebut kekasihku itu sudah hamil duluan di luar nikah, pokoknya ayah harus mengusirnya dari kampus kita!" tandas Sherly.Bram menghela panjang lantas memutar otaknya."Ayah harus berunding dulu dengan anggota dewan yang lainnya, tunggu saja ya," tanggap Bram tenang.Dua hari kemudian, Arrabella sedang berada di ruangan tertutup. Gadis cantik yang memiliki rambut bergelombang itu duduk dengan raut wajah tegang sembari berhadapan dengan dua orang, satu orang adalah dosen utama sedangkan pria paruh ba

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   8

    Arrabella terperangah, dia tak menduga sama sekali akan kedatangan sang supervisor yang terkenal galak itu."Eh, Bu Sonya, a-aku tidak hamil ibu mungkin salah duga," Bella dengan gugup menjawab sembari merapatkan jaket untuk menutupi perutnya.Sonya cepat berjalan menghampiri Bella sembari menyeringai licik.SRETT..Sonya membuka paksa jaket yang menutupi badan atas Bella."Hah lihat ini, perutmu sudah buncit seperti ini kau bilang tidak hamil Bella," sentak Sonya sambil sedikit menekan perut Bella."Aduhh..hentikan itu, kau akan menyakiti bayiku!" Arrabella berseru menahan kesal.Sonya yang mendengar ucapan Bella menyunggingkan senyum dingin dan tatap merendahkan."Hmm..akhirnya kau mengakui juga kalau sedang hamil, dasar sok centil!""Aku akan mengadukanmu pada pimpinan pemilik restoran supaya dia menendangi keluar dari sini," tandas Sonya yang pada dasarnya memang tak menyukai Bella.Lelaki yang Sonya sukai yaitu Erdy sesama pengawas restoran seringkali memberikan perhatian berlebi

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   7

    Arrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri."Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya.Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang."Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta."Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya.Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang."Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran."Iya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   5

    Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata."Duduk dulu di sofa, Non."Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan."Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat."Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek."Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri."Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera it

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   Diselamatkan Revan

    Beberapa saat sebelumnya Revan yang sudah selesai berbincang ringan dengan Ares segera keluar dari restoran, hatinya masih merasa agak jengkel teringat dengan insiden kecil tadi, sewaktu celananya terkena tumpahan minuman, ulah keteledoran Bella.Revan adalah keturunan keluarga Sasmita yang cukup terpandang di negaranya karena memiliki beberapa perusahaan serta bisnis yang sukses, selama beberapa tahun terakhir dia berada di luar negeri mengurus bisnisnya sendiri serta tidak tergantung pada orangtuanya dan baru dua minggu ini pemuda tampan itu pulang kembali ke negaranya.Revan yang tadinya akan segera masuk kedalam mobil dan ingin cepat pulang saja tetapi terhenti karena da ingin menghirup udara malam sejenak sekalian melepas penat, pemuda itu membawa langkah kakinya yang lebar serta dengan tubuhnya yang tinggi, dia berkeliling disekitar area restoran.Tempat makan itu terletak di daerah yang memiliki nuansa alam dan udaranya terasa bersih serta sejuk secara bersamaan.Karena meras

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   Pertemuan pertama

    Arya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya. "Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aakkh.." "Ayah ..!" Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat . "Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella. Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah. "Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan. "Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella. Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun. Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya. "Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status