Share

Pertemuan pertama

Penulis: deasy_zen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 22:39:44

Arya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya.

"Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit.

"Aakkh.."

"Ayah ..!"

Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat .

"Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella.

Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah.

"Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan.

"Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella.

Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun.

Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya.

"Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus bertanggung jawab," tanya Arya dengan bibir bergetar menahan amarah.

Arrabella sontak tertunduk dengan wajah semakin pucat dan hati yang tegang, apa yang harus dikatakan olehnya, sungguh rasanya dia ingin berlari saja keluar dari ruangan itu.

*Bella, jawab Ayah, siapa lelaki itu?!"

"A-ayah iya, hmm..semua ini salah Bella, aku yang sendiri yang mengambil keputusan."

"Coba jelaskan yang benar Bella jangan berbelit-belit seperti itu," desak Arya dengan nafas tersengal sembari meringis menahan sakit didadanya.

Akhirnya dengan berat hati Bella menceritakan semua kejadian dari awal mulanya hingga ternyata dirinya hamil.

Arya terhenyak serta menatap nanar pada anak perempuannya, beberapa kali dia menggelengkan kepala seakan berusaha mengusir kenyataan yang sudah terjadi tapi rasanya tak mungkin.

Sedangkan Bella tertunduk dan sesekali menyeka air matanya.

Malam tiba, Bella terdiam sembari terbaring di kasur, dia sesekali mengusap perutnya yang masih rata.

"Aku akan merawatmu my little baby," gumam Bella.

Wanita itu terngiang ucapan ayahnya tadi yang memberi nasihat agar dia dapat menjaga kandungannya dengan baik dan mulai bertanggung jawab karena saat ini dia sedang hamil, ada jiwa lain dalam dirinya yang harus dirawat dengan penuh kasih sayang.

Bella lalu termenung ingatannya melayang pada malam panas bersama Arvel.

Flash back

Malam itu setelah selesai kesepakatan dengan sang mucikari di bar, Bella sedang duduk di tepian ranjang dengan jantung berdebar kencang menunggu di kamar yang sudah ditentukan, raga molek nya dibalut mantel panjang, tetapi sebenarnya didalamnya hanya mengenakan lingerie super seksi yang minim bahan serta tentu saja mengekspos tubuh sintal nan padat miliknya.

KRETT

Terdengar suara pintu dibuka dan langkah kaki dengan ketukan sepatu yang teratur dan mantap.

Pria itu tampan dan masih muda, dia memiliki sorot mata yang tajam namun dingin seakan menembus kalbu, tubuh Bella mulai gemetar ingin rasanya berlari dari ruangan yang berhawa dingin serta membatalkan perjanjian dengan sang pria.

"Berdiri lalu tanggalkan semua yang melekat di tubuh mu lantas mulai kerjakan tugasmu!"

Suara berat dari lelaki itu menggema di kamar yang besar membuat Bella semakin gemetar ketakutan. Dia berdiri tetapi rasanya sudah tak sanggup melakukan hal nista itu.

"Tunggu aku membatalkan semuanya, aku bukan pekerja perempuan sejenis yang kau bayangkan, aku masih perawan!"

Raut wajah si lelaki langsung menggelap penuh emosi dan pada saat Bella berjalan melewatinya dengan cepat Arvel mencekal kuat lengan Bella.

"Tempatmu disini cantik untuk menemani malam panjangku. Aku tidak terima penolakan!"

Selesai Arvel bicara, tubuh Bella saat itu juga terhempas kuat di kasur karena dorongan yang penuh tenaga dari Arvel.

"Sshhh.. jangan!"

Setelah nya Bella hanya bisa pasrah saat tubuhnya terhimpit dengan badan Arvel yang tegap dan disitulah Bella kehilangan kesuciannya.

Arvel seakan tak ada puasnya untuk berulang kali menjamah tubuh Bella yang padat berisi itu.

***

Selama kehamilan trisemester pertamanya dilalui Bella dengan agak berat, bagaimana tidak hari-hari lelah dijalaninya karena sembari kuliah gadis itu juga bekerja sambilan sebagai waiter di restoran. Selain itu Bella masih harus mengantar ayahnya bolak-balik balik ke rumah sakit sekalian dia juga memeriksakan kandungannya.

Rasa mual yang biasanya mendera setiap pagi mulai agak berkurang seiring waktu berjalan.

Malam hari pulang kerja Bella merasa badannya agak menggigil, dia meraba kening lalu menggunakan alat pengukur suhu tubuh.

"Oh, aku demam, lebih baik makan obat dulu lalu istirahat," gumamnya sembari membuka laci meja disamping kasurnya, dan mencari persediaan obat-obatan, setelah menemukan apa yang dicari, lalu diminumnya obat penurun panas yang aman untuk ibu hamil.

"Semoga aku lekas sehat, besok sudah harus bekerja lagi," gumamnya sembari mengusap pelan perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.

"Sehat-sehat didalam sana ya, maaf ibu membawamu berjuang kesana kemari," ucap Bella lirih

Esoknya seperti biasa Bella sudah memakai seragam kerjanya dan siap bertugas. Saat ini dia sedang berada di ruang belakang restoran tempat berganti baju. Tiba-tiba dia merasa kepalanya pening dan pandangan matanya buram.

"Aduh, kenapa kepalaku pusing sekali."

Bella duduk dulu untuk menarik nafas , lalu datang teman kerjanya menghampiri.

"Sudah saatnya bagian shiftmu Bella," ujar perempuan yang baru datang itu.

"Iya, aku tahu tunggu sebentar, ini kepalaku agak pusing," sahut Bella datar.

"Oh ya, apa kamu sakit?" tanya teman Bella yang bernama Selly.

"Ini hanya pusing saja, sekarang sudah baikan,aku kerja dulu ya,"ucap Bella memaksakan diri untuk bangkit.

"Eh, Bella kamu mesti sigap dan gesit kerjanya malam ini soalnya bakalan ada tamu penting, dia itu adalah_"

Belum sempat Selly meneruskan ucapannya, dari depan ada seseorang datang lagi, dan ternyata dia adalah Sonya pengawas restoran yang bertugas hari itu.

"Kenapa kalian malah mengobrol disini, ayo Bella cepat ke dalam, pelanggan sedang ramai, hari ini sibuk sekali, kalian jangan bersantai begitu," tegurnya bernada sinis pada Arrabella.

"Iya ini aku akan segara ke restoran Bu," ucap Bella tertunduk.

Bella merasakan sakit di kepala belum membaik, dia pikir kelelahan karena dirinya bekerja sambil kuliah, jadi terkadang Bella selalu pulang malam.

Wanita cantik itupun melangkahkan kakinya ke dalam, meninggalkan kedua rekan kerjanya.

Hari ini lumayan sibuk karena restoran cukup ramai oleh pengunjung, tentu saja jam pulang pun jadi lebih terlambat dari biasanya.

***

Di luar restoran, sebuah mobil Bentley berwarna hitam mengkilap menampilkan aura kemewahan meluncur pelan saat tiba di parkiran restoran tempat Bella bekerja.

Setelah mobil itu terparkir sempurna tanpa ada yang menghalangi karena berada di tempat yang khusus, turunlah seorang pemuda bertubuh tinggi, gagah dan tegap aura ketampanan nan maskulin terpancar jelas, rambut hitam mengkilap tertata rapi, tubuhnya terbalut setelan jas mahal dan elegan.

Pemuda itu mengedarkan pandangan dengan netra menyorot tajam ke sekelilingnya sebelum masuk ke restoran.

Revan Biantara itulah nama lelaki yang sekarang sedang berjalan masuk ke restoran, dia memiliki janji dengan rekan bisnis nya untuk bertemu ditempat itu.

Sesaat setelah Revan berada di dalam, tak lama Ares pun datang dan dengan langkah tergesa masuk ke restoran.

Ares melirik kesana kemari mencari keberadaan sosok Revan, ini adalah janji kedua kali mereka yang non formal, hanya sekedar ngobrol ringan tentang perkembangan proyek.

"Oh itu dia pak Revan, sedang duduk sendirian," gumam Ares pelan.

"Selamat malam pak Revan, apa sudah lama menunggu?" Ares menyapa sambil tersenyum lebar.

"No, aku baru saja datang," sahut Revan datar.

Ares lantas menarik kursi dan langsung duduk didepan Revan sembari memesan hidangan.

Sementara itu Bella melihat menu yang harus diantarkan ternyata untuk pelanggan yang ada di meja di area khusus, maka dia agak gugup karena biasanya tamu disitu adalah orang-orang kaya dan sukses seperti pengusaha dan orang penting lainnya.

"Bella, hati-hati bersikaplah sopan dan cekatan soalnya tamu yang di meja itu adalah bukan tamu biasa seperti umumnya," tutur Sonya tegas.

"Eh.. i-iya, baik akan kuingat," jawab Bella sambil melangkah pelan berusaha menegakkan badannya dan menguatkan hati.

Jantung Bella berdegup kencang saat sudah berada di dekat meja dan akan memberikan nampan berisi sajian yang dipesan. Dia menatap tajam pada pria yang sedang duduk.

"Ares.."

Ares yang menyadari kehadiran seseorang menolehkan wajahnya dan matanya beradu pandang dengan sang adik tiri saat itu juga.

"Maaf ini pesanannya, biar saya simpan di meja," tutur Bella seraya menyodorkan hidangan pesanan Ares dan Revan.

"Arrabella..hmm jadi kau bekerja disini huh," sahut Ares tersenyum sinis sembari mengusap dan meremas jemari adik tirinya dengan tidak sopan.

"Lepas Ares."

Bella sontak terkesiap lalu dengan kasar mengibaskan lengannya tapi tanpa diduga tindakannya itu membuat gelas berisi minuman pesanan Revan terjatuh dan tumpah hingga sebagian airnya membasahi kain celana yang dipakai Revan.

"What the..f*ck..!"

Revan berseru geram melihat celananya basah oleh tumpahan air, dia lekas mengambil tisu di meja untuk membersihkan sisa air, untunglah tidak terlalu banyak yang mengenai kain celana Revan.

"Aduh, maaf Pa, sungguh maafkan, saya tidak sengaja."

Bella sangat panik melihatnya lantas membungkuk dengan gugup sembari meminta maaf pada Revan.

Ares yang melihat itu langsung membentak adik tirinya.

"Makanya jangan jual mahal kamu, dasar kerja juga nggak becus," tukasnya geram lantas Ares melirik pada Revan.

"Pak Revan, apa perlu saya carikan pakaian ganti?"

"Tidak perlu, kamu lain kali hati-hati kalau sedang bekerja!" Revan berkata sambil menatap tajam pada Bella dengan pandangan mencemooh, netra tajam pria itu memindai Bella dari atas sampai bawah.

"Ba-baiklah, iya kalau begitu saya akan mengganti minuman anda dengan yang baru," tutur Bella dengan wajah pucat. Demam yang melanda tubuh membuatnya merasa semakin tidak nyaman.

Saat kembali ke belakang untuk membuat kembali minuman Revan, datanglah Sonya yang langsung membentak.

"Kamu ini Bella, tadi sudah kubilang supaya hati-hati, malah ceroboh, gimana kalau tamu itu mengadukan cara penyajian kamu yang nggak becus, udah biar aku saja yang mengantar pesanannya," gerutu Sonya lalu mengambil alih pekerjaan Bella.

Hari mulai beranjak malam, Bella sudah menyelesaikan jam kerjanya, dan bersiap pulang.

Dia tinggal menyimpan kantong plastik sampah di halaman belakang restoran, lalu bisa segera pergi dari situ dan pulang menuju rumah kontrakannya. Ayahnya pasti sudah mengkhawatirkan dirinya.

Bella merasa kepalanya semakin berat, dengan langkah gontai ia berjalan melalui jalan belakang di samping restoran.

Jalanan itu cukup sepi dan gelap karena kurangnya cahaya penerangan.

Dia tidak menyadari ada sekelompok pemuda mabuk sekitar empat orang yang sedang berkumpul di jalan yang akan dilaluinya .

Maka sebelum Bella sampai di depan jalan raya, mereka pun sudah menghadangnya.

"Hallo cantik, kau mau kemana?"

Lalu keempat orang itu mulai mengelilinginya, sambil bersuitan.

Salah satunya malah mulai berani memegang tangan Bella.

Sontak Bella terkejut setengah mati, dia berteriak ketakutan,

"Pergi kalian , jangan dekati aku!" seru Bella, hatinya mulai cemas dan gelisah.

Tubuh Bella mulai lemah karena dia pun sebenarnya sedang demam dan merasa sekujur tubuhnya sakit.

Tapi para pemuda mabuk itu terus saja mendekati dan mengganggu Arrabella.

"Hei dia sangat cantik, aku tak sabar ingin segera menikmatinya.. hahahaha...satu orang tertawa diikuti tawa yang lain, mereka memang sedang mabuk.

"Ayo kesini manis, ikut denganku, lalu salah satu pemuda berandalan itu menarik tangan Bella, hingga badan wanita yang sedang takut ini terdorong kedepan mendekati lelaki yang mengganggunya.

Bella sudah sangat panik sekarang, tubuhnya ditarik kesana sini, sehingga tak ada kesempatan untuk melarikan diri.

"Tolong ..tolong aku, tolong!"

Bella menjerit sambil menangis, berusaha melihat ke sekitar dan berharap ada yang sudi menolongnya

Dan tanpa ada seorangpun yang menyadari, lelaki yang tadi menarik lengan Bella mendadak jatuh tersungkur, dia memegangi pundaknya yang kesakitan. Dari kegelapan malam, sekelebatan terlihat ada orang yang datang. Sosok yang baru muncul itu menyerang tiga orang berandalan mabuk lainnya dan tak disangka hanya dalam sekejap saja mereka semua terjatuh kesakitan dan tak sadarkan diri.

Bella hanya sempat melihat sebentar dan karena gelap dia tidak bisa mengenali siapa yang telah menghajar gerombolan itu serta telah menolongnya, karena tak lama kemudian tubuhnya mulai limbung lantas terjatuh tak sadarkan diri.

Sebelum raga molek Bella menyentuh tanah, sepasang lengan kekar milik lelaki tampan langsung menopang dan menyangga tubuh Bella.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   35

    Arvel berjalan melenggang keluar dengan langkah lebarnya dari ruangan kerja Bella sembari menyeringai dingin, dan sekarang pria itu sudah berada didalam mobilnya. Arvel masih terdiam sejenak sebelum mulai menyalakan mesin mobilnya."Aku tak percaya kalau telah ditolak oleh seorang wanita macam Arrabella, tapi itu sungguh membuatku tertantang."Arvel mendengus kesal serta bicara seorang diri, lalu masih terduduk di jok mobil dan merasa hatinya tergelitik, tetapi rasa itu bukanlah rasa marah. Arvel tak tahu benar rasa apa itu, dan dia tidak yakin apakah dia benar-benar menyukai Bella atau itu hanya egonya saja.Sepanjang hidupnya dia sudah biasa memakai perempuan. Penampilannya yang tampan dan tubuh tegapnya disertai kekayaan yang berlimpah yang tak dapat disangkal telah memudahkan nya untuk mendapatkan teman tidur, hingga dia tak ingat lagi sudah berapa banyaknya.Pada dasarnya Arvel amat membenci wanita, mereka terlalu lembut dan tak punya semangat."Malika umpamanya, dia sama saja de

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   34

    Arvel masih terus mengamati interaksi ketiganya hingga mobil yang dikendarai Revan dan Bella beranjak pergi."Sebaiknya sekarang aku akan mendatangi Bella di rumah sakit tempatnya bekerja."Kemudian Arvel mulai mengemudikan mobil sedan mewahnya, dia sudah mengetahui dimana tempat Bella bekerja berdasarkan informasi dari Reno.Bella sedang melakukan kunjungan ke salah satu pasien nya sembari mengecek kondisi terakhir seorang wanita paruh baya yang sudah satu minggu dirawat karena operasi usus buntu."Bagaimana perasaan ibu hari ini?""Baik Dok, saya sudah merasa lebih sehat dan bekas lukanya pun sudah tak terasa sakit, dokter Bella memang hebat sekali."tanggap Emi sang pasien sambil tersenyum lebar."Sudah tugas saya Bu, dan saya senang bila ibu sudah kembali pulih," jawab Bella merendah sembari memeriksa catatan medis."Baiklah kondisi ibu sudah stabil dan sehat sehingga besok sudah bisa pulang,"tutur Bella lalu dia menoleh pada perawat wanita muda di sebelahnya."Apa lagi jadwal ku s

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   33

    Kenzo mengamati interaksi diantara Revan dan ibunya lantas bocah itu tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri keduanya."Om Revan..""Hallo jagoan Om, gimana kabar kamu hari ini Boy."Revan merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh mungil dalam dekapan lengan kekarnya."Aku senang hari ini karena ada om Revan datang, aku sebentar lagi pergi sekolah sama ibu.""Wow.. that's good, bagus sekali anak pintar.""Baiklah ayo kita pergi bersama, Om akan antar kamu ke sekolah .""Tunggu sebentar aku akan mengambil tas nya Kenzo yang tertinggal didalam rumah, apa kamu mau masuk dulu?"Bella bertanya seraya menatap Revan lekat dengan wajahnya yang tersipu. Pria tampan itu sedang menggendong anaknya sambil bercengkerama riang."Aku tunggu disini saja bersama Kenzo, "jawab Revan singkat.Tak lama kemudian ketiganya sudah berada di dalam kendaraan mewah milik Revan dan berkendara menuju sekolah Revan terlebih dahulu.Sepanjang perjalanan Kenzo banyak berceloteh riang disertai wajah tampan nya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   32

    Revan dan Erika saling berpandangan, tapi pikiran mereka berbeda-beda.Revan merasa penasaran dengan rencana Erika dan tak mau membiarkan dirinya terjebak begitu saja. Pria itu memang selalu berhati-hati bila ada seseorang asing yang tak dikenalnya memberi minuman ataupun makanan, maka Revan takkan menelannya begitu saja.Tak lama kemudian reaksi obat yang diminum Erika mulai bekerja."Aduh kenapa rasanya badanku panas begini, padahal tadi aku nggak kenapa-kenapa."Erika mulai merasakan ketidak nyamanan tapi dia merasa aneh karena hafal dengan efek yang terjadi pada tubuhnya."Tapi ini adalah efek obat itu, kenapa jadi aku yang merasakannya, bukankah harusnya Revan yang minum obat ini." gumamnya saat terasa semakin tidak nyaman dan panas yang semakin melanda tubuhnya.Revan menatap dingin wanita bertubuh padat dan molek yang memakai pakaian ketat didepannya."Ada apa denganmu Erika, kenapa wajahmu merah begitu?" Revan bertanya dengan nada datar dan melakukan akting berpura-pura tak t

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   31

    Revan berdiri duluan dan berjalan meninggalkan meja makan tapi sebelumnya dia melirik dengan ujung mata untuk mengetahui respon Erika atas ucapannya tadi."Hmm.. lihat saja kamu rubah licik, aku akan meladeni usaha kotormu untuk mendekatiku." Revan bicara di hatinya sambil berjalan menuju taman.Sementara itu Liana dan Andhini memutuskan untuk beristirahat di kamar.Erika lantas menuju dapur dan menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan camilan serta minuman hangat untuk Revan."Apakah semua yang ada di nampan ini akan diberikan pada tuan Revan?" Erika mengamati cangkir berisi air minum dan makanan kecil dalam wadah."Iya betul nona, saya sedang menyiapkan satu jenis buah potong untuk ditambahkan sebagai pelengkap." Ujar sang pelayan sembari memberi anggukan kecil."Tunggu sebentar ya, jangan dulu kau berikan padanya, biar aku saja yang membawakan nampan ini untuknya.""Baik nona Erika."Erika mewanti-wanti pelayan wanita muda itu agar menuruti ucapannya lalu perempuan itu melangkah

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   30

    Dengan penuh rasa malas akhirnya Revan berkendara kembali ke kediamannya dan saat memasuki rumah terlihat sang bunda sedang asyik berbincang dengan Erika di ruang tengah sambil menonton televisi."Nah itu Revan datang."Liana menyunggingkan senyum lebar saat melihat putranya sudah ada dirumah."Katanya ibu tadi pusing, sakit kepala lalu kenapa waktu ada Bella nggak bilang, kan Bella itu dokter jadi bisa diperiksa sama dia?"Revan mengajukan pertanyaan yang membuat Liana kesal."Aduh kamu ini Revan, mendingan sekarang kamu duduk disini dulu ajak ngobrol Erika terus selanjutnya kalian pergi berdua berkeliling, kasihan Erika masa iya dari tadi diam aja dirumah.""Sana pergi cepetan, ibu udah janji sama ayahnya Erika akan mengurus anaknya dengan baik selama ada disini.""Ibu sekarang ke kamar untuk beristirahat tapi sebelum itu, mau lihat dulu Andhini di kamarnya."Liana yang tetap ngotot ingin menjodohkan Revan dengan gadis cantik itu berkata tegas pada anaknya dan seakan tak ingin diban

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status