เข้าสู่ระบบArya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya.
"Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aakkh.." "Ayah ..!" Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat . "Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella. Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah. "Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan. "Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella. Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun. Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya. "Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus bertanggung jawab," tanya Arya dengan bibir bergetar menahan amarah. Arrabella sontak tertunduk dengan wajah semakin pucat dan hati yang tegang, apa yang harus dikatakan olehnya, sungguh rasanya dia ingin berlari saja keluar dari ruangan itu. *Bella, jawab Ayah, siapa lelaki itu?!" "A-ayah iya, hmm..semua ini salah Bella, aku yang sendiri yang mengambil keputusan." "Coba jelaskan yang benar Bella jangan berbelit-belit seperti itu," desak Arya dengan nafas tersengal sembari meringis menahan sakit didadanya. Akhirnya dengan berat hati Bella menceritakan semua kejadian dari awal mulanya hingga ternyata dirinya hamil. Arya terhenyak serta menatap nanar pada anak perempuannya, beberapa kali dia menggelengkan kepala seakan berusaha mengusir kenyataan yang sudah terjadi tapi rasanya tak mungkin. Sedangkan Bella tertunduk dan sesekali menyeka air matanya. Malam tiba, Bella terdiam sembari terbaring di kasur, dia sesekali mengusap perutnya yang masih rata. "Aku akan merawatmu my little baby," gumam Bella. Wanita itu terngiang ucapan ayahnya tadi yang memberi nasihat agar dia dapat menjaga kandungannya dengan baik dan mulai bertanggung jawab karena saat ini dia sedang hamil, ada jiwa lain dalam dirinya yang harus dirawat dengan penuh kasih sayang. Bella lalu termenung ingatannya melayang pada malam panas bersama Arvel. Flash back Malam itu setelah selesai kesepakatan dengan sang mucikari di bar, Bella sedang duduk di tepian ranjang dengan jantung berdebar kencang menunggu di kamar yang sudah ditentukan, raga molek nya dibalut mantel panjang, tetapi sebenarnya didalamnya hanya mengenakan lingerie super seksi yang minim bahan serta tentu saja mengekspos tubuh sintal nan padat miliknya. KRETT Terdengar suara pintu dibuka dan langkah kaki dengan ketukan sepatu yang teratur dan mantap. Pria itu tampan dan masih muda, dia memiliki sorot mata yang tajam namun dingin seakan menembus kalbu, tubuh Bella mulai gemetar ingin rasanya berlari dari ruangan yang berhawa dingin serta membatalkan perjanjian dengan sang pria. "Berdiri lalu tanggalkan semua yang melekat di tubuh mu lantas mulai kerjakan tugasmu!" Suara berat dari lelaki itu menggema di kamar yang besar membuat Bella semakin gemetar ketakutan. Dia berdiri tetapi rasanya sudah tak sanggup melakukan hal nista itu. "Tunggu aku membatalkan semuanya, aku bukan pekerja perempuan sejenis yang kau bayangkan, aku masih perawan!" Raut wajah si lelaki langsung menggelap penuh emosi dan pada saat Bella berjalan melewatinya dengan cepat Arvel mencekal kuat lengan Bella. "Tempatmu disini cantik untuk menemani malam panjangku. Aku tidak terima penolakan!" Selesai Arvel bicara, tubuh Bella saat itu juga terhempas kuat di kasur karena dorongan yang penuh tenaga dari Arvel. "Sshhh.. jangan!" Setelah nya Bella hanya bisa pasrah saat tubuhnya terhimpit dengan badan Arvel yang tegap dan disitulah Bella kehilangan kesuciannya. Arvel seakan tak ada puasnya untuk berulang kali menjamah tubuh Bella yang padat berisi itu. *** Selama kehamilan trisemester pertamanya dilalui Bella dengan agak berat, bagaimana tidak hari-hari lelah dijalaninya karena sembari kuliah gadis itu juga bekerja sambilan sebagai waiter di restoran. Selain itu Bella masih harus mengantar ayahnya bolak-balik balik ke rumah sakit sekalian dia juga memeriksakan kandungannya. Rasa mual yang biasanya mendera setiap pagi mulai agak berkurang seiring waktu berjalan. Malam hari pulang kerja Bella merasa badannya agak menggigil, dia meraba kening lalu menggunakan alat pengukur suhu tubuh. "Oh, aku demam, lebih baik makan obat dulu lalu istirahat," gumamnya sembari membuka laci meja disamping kasurnya, dan mencari persediaan obat-obatan, setelah menemukan apa yang dicari, lalu diminumnya obat penurun panas yang aman untuk ibu hamil. "Semoga aku lekas sehat, besok sudah harus bekerja lagi," gumamnya sembari mengusap pelan perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit. "Sehat-sehat didalam sana ya, maaf ibu membawamu berjuang kesana kemari," ucap Bella lirih Esoknya seperti biasa Bella sudah memakai seragam kerjanya dan siap bertugas. Saat ini dia sedang berada di ruang belakang restoran tempat berganti baju. Tiba-tiba dia merasa kepalanya pening dan pandangan matanya buram. "Aduh, kenapa kepalaku pusing sekali." Bella duduk dulu untuk menarik nafas , lalu datang teman kerjanya menghampiri. "Sudah saatnya bagian shiftmu Bella," ujar perempuan yang baru datang itu. "Iya, aku tahu tunggu sebentar, ini kepalaku agak pusing," sahut Bella datar. "Oh ya, apa kamu sakit?" tanya teman Bella yang bernama Selly. "Ini hanya pusing saja, sekarang sudah baikan,aku kerja dulu ya,"ucap Bella memaksakan diri untuk bangkit. "Eh, Bella kamu mesti sigap dan gesit kerjanya malam ini soalnya bakalan ada tamu penting, dia itu adalah_" Belum sempat Selly meneruskan ucapannya, dari depan ada seseorang datang lagi, dan ternyata dia adalah Sonya pengawas restoran yang bertugas hari itu. "Kenapa kalian malah mengobrol disini, ayo Bella cepat ke dalam, pelanggan sedang ramai, hari ini sibuk sekali, kalian jangan bersantai begitu," tegurnya bernada sinis pada Arrabella. "Iya ini aku akan segara ke restoran Bu," ucap Bella tertunduk. Bella merasakan sakit di kepala belum membaik, dia pikir kelelahan karena dirinya bekerja sambil kuliah, jadi terkadang Bella selalu pulang malam. Wanita cantik itupun melangkahkan kakinya ke dalam, meninggalkan kedua rekan kerjanya. Hari ini lumayan sibuk karena restoran cukup ramai oleh pengunjung, tentu saja jam pulang pun jadi lebih terlambat dari biasanya. *** Di luar restoran, sebuah mobil Bentley berwarna hitam mengkilap menampilkan aura kemewahan meluncur pelan saat tiba di parkiran restoran tempat Bella bekerja. Setelah mobil itu terparkir sempurna tanpa ada yang menghalangi karena berada di tempat yang khusus, turunlah seorang pemuda bertubuh tinggi, gagah dan tegap aura ketampanan nan maskulin terpancar jelas, rambut hitam mengkilap tertata rapi, tubuhnya terbalut setelan jas mahal dan elegan. Pemuda itu mengedarkan pandangan dengan netra menyorot tajam ke sekelilingnya sebelum masuk ke restoran. Revan Biantara itulah nama lelaki yang sekarang sedang berjalan masuk ke restoran, dia memiliki janji dengan rekan bisnis nya untuk bertemu ditempat itu. Sesaat setelah Revan berada di dalam, tak lama Ares pun datang dan dengan langkah tergesa masuk ke restoran. Ares melirik kesana kemari mencari keberadaan sosok Revan, ini adalah janji kedua kali mereka yang non formal, hanya sekedar ngobrol ringan tentang perkembangan proyek. "Oh itu dia pak Revan, sedang duduk sendirian," gumam Ares pelan. "Selamat malam pak Revan, apa sudah lama menunggu?" Ares menyapa sambil tersenyum lebar. "No, aku baru saja datang," sahut Revan datar. Ares lantas menarik kursi dan langsung duduk didepan Revan sembari memesan hidangan. Sementara itu Bella melihat menu yang harus diantarkan ternyata untuk pelanggan yang ada di meja di area khusus, maka dia agak gugup karena biasanya tamu disitu adalah orang-orang kaya dan sukses seperti pengusaha dan orang penting lainnya. "Bella, hati-hati bersikaplah sopan dan cekatan soalnya tamu yang di meja itu adalah bukan tamu biasa seperti umumnya," tutur Sonya tegas. "Eh.. i-iya, baik akan kuingat," jawab Bella sambil melangkah pelan berusaha menegakkan badannya dan menguatkan hati. Jantung Bella berdegup kencang saat sudah berada di dekat meja dan akan memberikan nampan berisi sajian yang dipesan. Dia menatap tajam pada pria yang sedang duduk. "Ares.." Ares yang menyadari kehadiran seseorang menolehkan wajahnya dan matanya beradu pandang dengan sang adik tiri saat itu juga. "Maaf ini pesanannya, biar saya simpan di meja," tutur Bella seraya menyodorkan hidangan pesanan Ares dan Revan. "Arrabella..hmm jadi kau bekerja disini huh," sahut Ares tersenyum sinis sembari mengusap dan meremas jemari adik tirinya dengan tidak sopan. "Lepas Ares." Bella sontak terkesiap lalu dengan kasar mengibaskan lengannya tapi tanpa diduga tindakannya itu membuat gelas berisi minuman pesanan Revan terjatuh dan tumpah hingga sebagian airnya membasahi kain celana yang dipakai Revan. "What the..f*ck..!" Revan berseru geram melihat celananya basah oleh tumpahan air, dia lekas mengambil tisu di meja untuk membersihkan sisa air, untunglah tidak terlalu banyak yang mengenai kain celana Revan. "Aduh, maaf Pa, sungguh maafkan, saya tidak sengaja." Bella sangat panik melihatnya lantas membungkuk dengan gugup sembari meminta maaf pada Revan. Ares yang melihat itu langsung membentak adik tirinya. "Makanya jangan jual mahal kamu, dasar kerja juga nggak becus," tukasnya geram lantas Ares melirik pada Revan. "Pak Revan, apa perlu saya carikan pakaian ganti?" "Tidak perlu, kamu lain kali hati-hati kalau sedang bekerja!" Revan berkata sambil menatap tajam pada Bella dengan pandangan mencemooh, netra tajam pria itu memindai Bella dari atas sampai bawah. "Ba-baiklah, iya kalau begitu saya akan mengganti minuman anda dengan yang baru," tutur Bella dengan wajah pucat. Demam yang melanda tubuh membuatnya merasa semakin tidak nyaman. Saat kembali ke belakang untuk membuat kembali minuman Revan, datanglah Sonya yang langsung membentak. "Kamu ini Bella, tadi sudah kubilang supaya hati-hati, malah ceroboh, gimana kalau tamu itu mengadukan cara penyajian kamu yang nggak becus, udah biar aku saja yang mengantar pesanannya," gerutu Sonya lalu mengambil alih pekerjaan Bella. Hari mulai beranjak malam, Bella sudah menyelesaikan jam kerjanya, dan bersiap pulang. Dia tinggal menyimpan kantong plastik sampah di halaman belakang restoran, lalu bisa segera pergi dari situ dan pulang menuju rumah kontrakannya. Ayahnya pasti sudah mengkhawatirkan dirinya. Bella merasa kepalanya semakin berat, dengan langkah gontai ia berjalan melalui jalan belakang di samping restoran. Jalanan itu cukup sepi dan gelap karena kurangnya cahaya penerangan. Dia tidak menyadari ada sekelompok pemuda mabuk sekitar empat orang yang sedang berkumpul di jalan yang akan dilaluinya . Maka sebelum Bella sampai di depan jalan raya, mereka pun sudah menghadangnya. "Hallo cantik, kau mau kemana?" Lalu keempat orang itu mulai mengelilinginya, sambil bersuitan. Salah satunya malah mulai berani memegang tangan Bella. Sontak Bella terkejut setengah mati, dia berteriak ketakutan, "Pergi kalian , jangan dekati aku!" seru Bella, hatinya mulai cemas dan gelisah. Tubuh Bella mulai lemah karena dia pun sebenarnya sedang demam dan merasa sekujur tubuhnya sakit. Tapi para pemuda mabuk itu terus saja mendekati dan mengganggu Arrabella. "Hei dia sangat cantik, aku tak sabar ingin segera menikmatinya.. hahahaha...satu orang tertawa diikuti tawa yang lain, mereka memang sedang mabuk. "Ayo kesini manis, ikut denganku, lalu salah satu pemuda berandalan itu menarik tangan Bella, hingga badan wanita yang sedang takut ini terdorong kedepan mendekati lelaki yang mengganggunya. Bella sudah sangat panik sekarang, tubuhnya ditarik kesana sini, sehingga tak ada kesempatan untuk melarikan diri. "Tolong ..tolong aku, tolong!" Bella menjerit sambil menangis, berusaha melihat ke sekitar dan berharap ada yang sudi menolongnya Dan tanpa ada seorangpun yang menyadari, lelaki yang tadi menarik lengan Bella mendadak jatuh tersungkur, dia memegangi pundaknya yang kesakitan. Dari kegelapan malam, sekelebatan terlihat ada orang yang datang. Sosok yang baru muncul itu menyerang tiga orang berandalan mabuk lainnya dan tak disangka hanya dalam sekejap saja mereka semua terjatuh kesakitan dan tak sadarkan diri. Bella hanya sempat melihat sebentar dan karena gelap dia tidak bisa mengenali siapa yang telah menghajar gerombolan itu serta telah menolongnya, karena tak lama kemudian tubuhnya mulai limbung lantas terjatuh tak sadarkan diri. Sebelum raga molek Bella menyentuh tanah, sepasang lengan kekar milik lelaki tampan langsung menopang dan menyangga tubuh Bella.Sheryl sedang di ruangan kerja ayahnya, gadis itu duduk santai sambil menunggu sang ayah selesai bertelepon."Yah, aku ada permintaan," tukas Sherly manja."Apa yang diinginkan putri ayah ini sekarang hmm..?" Bram menyorot lembut pada anak gadisnya."Aku ingin ayah mampu mengeluarkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran dari kampus," ungkap Sherly datar.Bram mengerutkan keningnya, "Siapa nama gadis itu?""Namanya Arrabella, tapi yang benar saja, dia udah bukan gadis lagi, wanita sialan perebut kekasihku itu sudah hamil duluan di luar nikah, pokoknya ayah harus mengusirnya dari kampus kita!" tandas Sherly.Bram menghela panjang lantas memutar otaknya."Ayah harus berunding dulu dengan anggota dewan yang lainnya, tunggu saja ya," tanggap Bram tenang.Dua hari kemudian, Arrabella sedang berada di ruangan tertutup. Gadis cantik yang memiliki rambut bergelombang itu duduk dengan raut wajah tegang sembari berhadapan dengan dua orang, satu orang adalah dosen utama sedangkan pria paruh ba
Arrabella terperangah, dia tak menduga sama sekali akan kedatangan sang supervisor yang terkenal galak itu."Eh, Bu Sonya, a-aku tidak hamil ibu mungkin salah duga," Bella dengan gugup menjawab sembari merapatkan jaket untuk menutupi perutnya.Sonya cepat berjalan menghampiri Bella sembari menyeringai licik.SRETT..Sonya membuka paksa jaket yang menutupi badan atas Bella."Hah lihat ini, perutmu sudah buncit seperti ini kau bilang tidak hamil Bella," sentak Sonya sambil sedikit menekan perut Bella."Aduhh..hentikan itu, kau akan menyakiti bayiku!" Arrabella berseru menahan kesal.Sonya yang mendengar ucapan Bella menyunggingkan senyum dingin dan tatap merendahkan."Hmm..akhirnya kau mengakui juga kalau sedang hamil, dasar sok centil!""Aku akan mengadukanmu pada pimpinan pemilik restoran supaya dia menendangi keluar dari sini," tandas Sonya yang pada dasarnya memang tak menyukai Bella.Lelaki yang Sonya sukai yaitu Erdy sesama pengawas restoran seringkali memberikan perhatian berlebi
Arrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri."Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya.Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang."Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta."Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya.Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang."Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran."Iya
Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata."Duduk dulu di sofa, Non."Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan."Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat."Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek."Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri."Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera it
Beberapa saat sebelumnya Revan yang sudah selesai berbincang ringan dengan Ares segera keluar dari restoran, hatinya masih merasa agak jengkel teringat dengan insiden kecil tadi, sewaktu celananya terkena tumpahan minuman, ulah keteledoran Bella.Revan adalah keturunan keluarga Sasmita yang cukup terpandang di negaranya karena memiliki beberapa perusahaan serta bisnis yang sukses, selama beberapa tahun terakhir dia berada di luar negeri mengurus bisnisnya sendiri serta tidak tergantung pada orangtuanya dan baru dua minggu ini pemuda tampan itu pulang kembali ke negaranya.Revan yang tadinya akan segera masuk kedalam mobil dan ingin cepat pulang saja tetapi terhenti karena da ingin menghirup udara malam sejenak sekalian melepas penat, pemuda itu membawa langkah kakinya yang lebar serta dengan tubuhnya yang tinggi, dia berkeliling disekitar area restoran.Tempat makan itu terletak di daerah yang memiliki nuansa alam dan udaranya terasa bersih serta sejuk secara bersamaan.Karena meras
Arya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya. "Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aakkh.." "Ayah ..!" Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat . "Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella. Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah. "Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan. "Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella. Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun. Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya. "Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus b







