Share

Diselamatkan Revan

Penulis: deasy_zen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 16:34:08

Beberapa saat sebelumnya

Revan yang sudah selesai berbincang ringan dengan Ares segera keluar dari restoran, hatinya masih merasa agak jengkel teringat dengan insiden kecil tadi, sewaktu celananya terkena tumpahan minuman, ulah keteledoran Bella.

Revan adalah keturunan keluarga Sasmita yang cukup terpandang di negaranya karena memiliki beberapa perusahaan serta bisnis yang sukses, selama beberapa tahun terakhir dia berada di luar negeri mengurus bisnisnya sendiri serta tidak tergantung pada orangtuanya dan baru dua minggu ini pemuda tampan itu pulang kembali ke negaranya.

Revan yang tadinya akan segera masuk kedalam mobil dan ingin cepat pulang saja tetapi terhenti karena da ingin menghirup udara malam sejenak sekalian melepas penat, pemuda itu membawa langkah kakinya yang lebar serta dengan tubuhnya yang tinggi, dia berkeliling disekitar area restoran.

Tempat makan itu terletak di daerah yang memiliki nuansa alam dan udaranya terasa bersih serta sejuk secara bersamaan.

Karena merasa suasana disitu cukup nyaman, lalu tanpa sadar langkah Revan terbawa ke area belakang dimana menuju dekat jalan kecil yang penerangannya minim.

Setelah beberapa menit berlalu pemuda tampan yang memiliki aura dingin mendominasi itu merasa sudah cukup dengan apa yang dilihatnya lantas memutuskan untuk pulang.

"Akhirnya aku kembali lagi negaraku setelah sekian lama ku habiskan waktu di luar negeri hanya untuk bisa melupakan wanita itu bersama seluruh kenangan manis bersama Claudia."

"Claudia telah meninggalkan aku begitu saja, dia mencampakkan aku, seolah selama ini hubungan kami tak ada artinya sama sekali," gumam Revan gusar.

"Oke, aku akan pulang sekarang dan aku harus mulai melupakan Claudia."

Tapi, pada saat akan berbalik badan, Revan mendongakkan wajahnya, sebab sayup-sayup dia mendengar suara jeritan wanita. Lalu dengan maksud mencari asal suara tadi, lantas dia berjalan menuju jalan kecil di depannya yang mengarah pada pintu belakang restoran.

Dari kejauhan walaupun samar Revan dapat melihat sekelompok orang dan satu orang perempuan, tentu saja dengan bergegas pria itu menghampiri mereka

Revan datang tepat pada saat Arabella sedang diganggu oleh sekumpulan berandal, dan Bella berada dalam kondisi yang genting.

Akhirnya pemuda yang memiliki keahlian beladiri yang mumpuni itu tak merasa kesulitan sama sekali saat bertarung dan mengalahkan para preman jalanan yang saat itu tengah mabuk.

Sambil menggelengkan kepalanya jengah, Revan menggendong tubuh Arrabella seolah bobot wanita itu seringan kapas lalu dia berjalan menuju mobilnya, membuka pintu belakang dan membaringkan tubuh Bella perlahan diatas jok yang berkulit lembut.

Revan pandangi wajah Bella, lalu lelaki itu bergumam pelan.

"Kalau tak salah gadis ini adalah pelayan restoran tadi, yang telah menumpahkan air ke celanaku, kenapa dia malah pingsan begini. Apa dia sedang sakit? Selintas tadi saat kubopong suhu tubuhya terasa panas."

"Hmmm..apa yang harus kulakukan dengan gadis ini, benar-benar merepotkan, kalau tadi tak sempat kutolong entah bagaimana nasibnya?!"ujar Revan decak kesal.

"Sebaiknya kubawa ke apartemen saja ,nanti biar dia diperiksa oleh dokter pribadi keluargaku," tandas Revan.

Tak lama berselang Revan pun segera melajukan mobil sedan mewahnya dengan kecepatan tinggi ke apartemen pribadi miliknya yang sebenarnya jarang dia tempati.

Dalam perjalanan sebelum sampai ke tempat tujuan Revan melakukan panggilan telepon.

"Dokter Heru, nanti tolong datang ke apartemen ku yang biasa, ada seseorang yang harus kau periksa."

Tiba dikediamannya Revan kembali menggendong Arrabella masuk kedalam ,karena gadis itu masih tak sadarkan diri.

Pemuda tampan itu merebahkan tubuh molek Bella di kasur yang mewah dan besar di kamar utama miliknya, lalu pria itu menyelimuti Bella sebatas pundak dengan selimut tebal.

Setelah melihat gadis yang dibawanya terbaring cukup nyaman, maka Revan mengeluarkan ponselnya, dia berpikir akan menyuruh seseorang datang kesitu agar dapat menjaga, serta menemani Bella selama perempuan itu berada disini.

Tak menunggu lama dokter yang akan memeriksa telah tiba.

"Ayo dok,kuantar ke kamar, periksa disana saja"l," tutur Revan.

Sang dokter memulai melakukan pekerjaanya dengan telaten serta memakai peralatan yang dibawa olehnya.

Sewaktu dokter itu telah selesai dengan tugasnya dia tampak kembali menjulurkan jemarinya diatas perut Bella, lalu pria paruh baya itu mengernyit sedikit cemas.

"Perempuan ini terlalu kelelahan dan dia juga sedang hamil," ucap dr.Heru seraya menoleh pada Revan.

"Hah..apa?!"

"Jadi perempuan itu tengah mengandung?!"

Revan sampai membuka lebar kedua matanya, lalu menghela nafas panjang.

"Astaga perempuan ini, apa dia sedang menyiksa dirinya sendiri, kenapa harus memaksakan diri untuk bekerja kalau memang sedang sakit lalu_"

Revan tak melanjutkan perkataannya hanya terdiam sembari termangu.

"Kalau begitu ini saya siapkan obat demam dan vitamin kehamilan untuknya, dia hanya perlu istirahat dan jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan dulu untuk sementara waktu, saya khawatir nanti kandungannya bermasalah."

Kemudian dr.Heru bangkit berdiri sekalian berpamitan pulang.

"Ya sudah terima kasih Dok, aku tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu, aku hanya menolongnya dari gangguan hama kecil," tukas Revan asal bicara.

" LKalau begitu saya permisi dulu," timpal dr. Heru sambil beranjak pergi keluar dari kamar.

Revan melihat kedatangan Bu Sumi bersamaan dengan kepergian sang dokter.

"Selamat malam tuan Revan, dimanakah perempuan yang tadi dimaksud oleh anda?"

"Dia sedang tidur di kamar utamaku, anda tolong menginap malam ini untuk menemani sampai dia sadarkan diri dan berilah makan yang cukup, dia pingsan saat kubawa kesini," tutur Revan seraya menghembus panjang.

"Oh iya, jangan lupa berikan juga obatnya, tadi gadis itu sudah diperiksa dokter, aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal seperti ini, besok pagi harus sudah pergi ke luar kota," tandas Revan datar, kemudian pemuda itu bergegas pergi dari apartemennya sendiri dan pulang kerumahnya.

***

Hangatnya sinar mentari pagi hari yang menerobos masuk dari kaca jendela, menghangatkan pipi putih halus milik Bella yang sedang terbaring nyaman di pembaringan.

Bella mengerjapkan matanya perlahan sembari menolehkan kepalanya kekiri dan kanan, semuanya tampak asing.

"Aku ini ada dimana?"gumam Bella kebingungan

Lalu ia mengucek bola matanya kembali, dia ingin melihat lebih jelas.

Seketika itu juga ia terperangah, mendapati dirinya yang sedang terbaring diatas kasur megah dan empuk, dengan ranjang ukiran kayu yang tentunya mahal. Kemudian Bella merasa kepalanya kembali pusing.

"Ohh, kepalaku sakit."

Bella berpikir keras mencoba mengingat apa yang terjadi.

"Kemarin malam aku akan pulang ke rumah setelah selesai kerja, lalu ada beberapa lelaki yang menggangguku."

"Tapi waktu itu ada seseorang yang datang untuk menyelamatkanku dari gangguan mereka."

"Kenapa sekarang aku berada disini dan siapa orangnya yang telah membantuku?" gumam Bella sambil mengernyit heran.

Bella berusaha membawa dirinya bangkit dari tempat tidur karena ingin ke kamar mandi, Bella berjalan agak sempoyongan, tentu saja karena dari semalaman dia belum makan dan kepala masih terasa pening.

Setelah selesai dari kamar mandi, dia menuju pintu keluar, Bella ingin tahu siapa yang telah membawa dia kesini

Bella melihat seorang wanita paruh baya sedang membersihkan ruangan, wanita itu menoleh melihat pintu kamar yang ditempati oleh Bella terbuka.

"Selamat pagi, nona sudah bangun rupanya."

" Iya Bu, selamat pagi."

"Saya siapkan sarapan dulu ya, setelah itu minum obatnya."

"Kemarin malam nona dibawa kesini dalam keadaan pingsan dan badan nona juga demam."

Bella memberi anggukan kecil seraya menyunggingkan senyum manis.

"Terima kasih, ini rumah siapa Bu, siapa yang telah menolong saya?"

"Ini adalah apartemen milik tuan Revan dan beliau yang membawa nona kemari."

"Revan"

"Siapa dia?"

Arrabella terperangah mendapati bahwa dia berada di rumah orang yang asing baginya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   9

    Sheryl sedang di ruangan kerja ayahnya, gadis itu duduk santai sambil menunggu sang ayah selesai bertelepon."Yah, aku ada permintaan," tukas Sherly manja."Apa yang diinginkan putri ayah ini sekarang hmm..?" Bram menyorot lembut pada anak gadisnya."Aku ingin ayah mampu mengeluarkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran dari kampus," ungkap Sherly datar.Bram mengerutkan keningnya, "Siapa nama gadis itu?""Namanya Arrabella, tapi yang benar saja, dia udah bukan gadis lagi, wanita sialan perebut kekasihku itu sudah hamil duluan di luar nikah, pokoknya ayah harus mengusirnya dari kampus kita!" tandas Sherly.Bram menghela panjang lantas memutar otaknya."Ayah harus berunding dulu dengan anggota dewan yang lainnya, tunggu saja ya," tanggap Bram tenang.Dua hari kemudian, Arrabella sedang berada di ruangan tertutup. Gadis cantik yang memiliki rambut bergelombang itu duduk dengan raut wajah tegang sembari berhadapan dengan dua orang, satu orang adalah dosen utama sedangkan pria paruh ba

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   8

    Arrabella terperangah, dia tak menduga sama sekali akan kedatangan sang supervisor yang terkenal galak itu."Eh, Bu Sonya, a-aku tidak hamil ibu mungkin salah duga," Bella dengan gugup menjawab sembari merapatkan jaket untuk menutupi perutnya.Sonya cepat berjalan menghampiri Bella sembari menyeringai licik.SRETT..Sonya membuka paksa jaket yang menutupi badan atas Bella."Hah lihat ini, perutmu sudah buncit seperti ini kau bilang tidak hamil Bella," sentak Sonya sambil sedikit menekan perut Bella."Aduhh..hentikan itu, kau akan menyakiti bayiku!" Arrabella berseru menahan kesal.Sonya yang mendengar ucapan Bella menyunggingkan senyum dingin dan tatap merendahkan."Hmm..akhirnya kau mengakui juga kalau sedang hamil, dasar sok centil!""Aku akan mengadukanmu pada pimpinan pemilik restoran supaya dia menendangi keluar dari sini," tandas Sonya yang pada dasarnya memang tak menyukai Bella.Lelaki yang Sonya sukai yaitu Erdy sesama pengawas restoran seringkali memberikan perhatian berlebi

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   7

    Arrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri."Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya.Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang."Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta."Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya.Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang."Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran."Iya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   5

    Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata."Duduk dulu di sofa, Non."Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan."Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat."Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek."Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri."Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera it

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   Diselamatkan Revan

    Beberapa saat sebelumnya Revan yang sudah selesai berbincang ringan dengan Ares segera keluar dari restoran, hatinya masih merasa agak jengkel teringat dengan insiden kecil tadi, sewaktu celananya terkena tumpahan minuman, ulah keteledoran Bella.Revan adalah keturunan keluarga Sasmita yang cukup terpandang di negaranya karena memiliki beberapa perusahaan serta bisnis yang sukses, selama beberapa tahun terakhir dia berada di luar negeri mengurus bisnisnya sendiri serta tidak tergantung pada orangtuanya dan baru dua minggu ini pemuda tampan itu pulang kembali ke negaranya.Revan yang tadinya akan segera masuk kedalam mobil dan ingin cepat pulang saja tetapi terhenti karena da ingin menghirup udara malam sejenak sekalian melepas penat, pemuda itu membawa langkah kakinya yang lebar serta dengan tubuhnya yang tinggi, dia berkeliling disekitar area restoran.Tempat makan itu terletak di daerah yang memiliki nuansa alam dan udaranya terasa bersih serta sejuk secara bersamaan.Karena meras

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   Pertemuan pertama

    Arya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya. "Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aakkh.." "Ayah ..!" Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat . "Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella. Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah. "Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan. "Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella. Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun. Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya. "Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status