Share

Kegalauan Bella

Penulis: deasy_zen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 18:23:37

"A-apa maksud ayah bagaimana mungkin Bella bisa hamil?"ujar Arrabella gugup, wajahnya mendadak pucat.

"Sudahlah, coba kamu minum air hangat dan saran ayah sebaiknya jangan dulu berangkat kuliah," tutur Arya seraya meraih bahu putrinya dan mereka duduk kembali di meja makan.

"Ayah, kenapa bertanya seperti itu pada Bella?"

Bella bertanya dengan wajah pucat sembari minum air putih hangat dan mencoba mengatasi kegugupan di hatinya, bagaimana tidak dia teringat dengan malam panas bersama lelaki tak dikenal saat dia berbuat one night stand demi selembar cek.

"Hmm..entahlah, mendadak hal itu terlintas di benak ayah karena teringat pada ibumu saat hamil dulu. Dia memiliki gejala yang sama denganmu," tutur Arya seraya menatap lekat pada paras elok putrinya.

"Itu, artinya sama saja dengan ayah menuduhku sudah berbuat hal buruk," timpal Bella gusar.

Entah kenapa emosinya muncul begitu saja, dia selalu merasa kalau ayahnya telah mengetahui kebohongannya.

"Bella, apa kau sudah punya pacar tanpa sepengetahuan ayah?"

"Hah.. tidak, belum, sudahlah ayah tenang mungkin saja ini hanya masuk angin," tukas Bella agak panik ingin segera menyudahi pembicaraan.

"Iya, maafin ayah ya, entah kenapa rasanya pikiran ayah agak kacau akhir-akhir ini, mungkin karena terlalu banyak masalah," ujar Arya dengan wajah muram.

Arya, awalnya adalah pemimpin perusahaan besar serta hidup berlimpah dengan uang mungkin rasanya masih sulit untuk dapat menerima kehidupannya yang sekarang.

"Ayah tolong jangan stress dan sedih, ayah baru saja sembuh," ucap Bella pelan, sambil memegangi tangan ayahnya.

Arya tersenyum lalu mengusap rambut halus anak perempuannya yang cantik.

Bella lalu mengambil tas dan kunci motornya.

"Bella sebaiknya pergi kuliah saja sekarang, nanti di jalan sekalian mampir ke klinik untuk periksa perut yang masih tidak nyaman," ujar Bella sembari bangkit berdiri lalu menghampiri ayahnya.

"Ayah, Bella pamit pergi," ucapnya sembari mencium punggung tangan lelaki itu.

"Hati-hati di jalan nak," ucap Arya singkat.

Arrabella memberi anggukan kecil lalu berjalan ke arah pintu setelah sebelumnya mengambil jaket dan helm, dikenakannya dengan rapi, setelah menghela panjang gadis cantik itu membuka pintu rumah.

Arrabella masih berdiri di sisi sepeda motornya, dia termangu sesaat sedang memikirkan sesuatu.

"Bagaimana ini, aku baru menyadari kalau bulan ini belum datang bulan, kalau aku memang betulan hamil bagaimana?"

"Seharusnya waktu itu aku langsung mengkonsumsi pil pencegah kehamilan, tapi, karena kesibukan mengurus ayah hal itu jadi terlupakan." Arrabella bermonolog sembari memijit pelipisnya.

"Kalau begitu, sekarang aku akan ke apotek dulu dan membeli testpack untuk mengetahui lebih pastinya," gumam Bella, lalu dia mulai mengemudikan sepeda motornya.

Setelah selesai berbelanja sesuai kebutuhannya, Bella meneruskan perjalanan ke kampusnya. Perempuan itu bertekad kuat ingin segera menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran yang telah diidam-idamkan nya sejak lama.

Arrabella harap bila dia sudah berhasil menjadi Dokter bisa mendapatkan penghidupan yang layak dengan gajinya nanti.

Saat ini Bella sudah berada di gerbang kampus dia masuk pelataran parkir dengan diiringi tatapan meremehkan dari beberapa mahasiswi, ya mungkin karena gadis itu hanya menggunakan sepeda motor bekas keluaran model lama pula.

Tanpa disadari oleh Bella tak jauh dari situ ada sebuah mobil SUV hitam mengkilap terparkir cukup tersembunyi, didalamnya duduk seorang pengemudi yang tampak memperhatikan kedatangan Bella.

Setelah dirasa cukup mengintai apa yang diperlukan, lelaki didalam mobil yang ternyata adalah Reno segera mengemudikan mobilnya dan pergi dari situ.

Arvel sedang duduk dibalik meja kerjanya sambil memandangi lekat wajah sang assisten yang baru saja datang menemuinya.

"Selamat siang tuan Arvel, saya ingin memberi laporan tentang gadis itu."

"Hmm..teruskan, katakan semuanya," sahut Arvel datar.

"Jadi gadis itu bernama Arrabella, putri dari seorang pengusaha yang baru saja mengalami kebangkrutan, lalu dia juga saat ini masih kuliah di fakultas kedokteran dan terdaftar sebagai mahasiswa aktif," tutur Reno menjelaskan detail.

Arvel sedikit mengernyit lalu mendengus kesal, "Huh, yang benar saja mau bergelar sebagai dokter atau profesor sekalipun dia tetap wanita penghibur," tandasnya dengan raut wajah mencemooh.

"Ya sudah kalau begitu kerjamu cukup bagus," tukas Arvel sembari melambaikan satu lengannya memberi tanda agar Reno segera keluar dari ruangan.

Arvel menghembus panjang, pemuda tampan itu teringat selintas bayangan malam panas yang pernah dilakukannya bersama Bella.

"Jadi namanya Arrabella, waktu itu harum tubuh dan rasa dirinya begitu memabukkan hingga aku terlupa untuk memakai pengaman," gumamnya seraya menyugar rambut hitamnya kebelakang.

"Bagaimana kalau dia hamil, ah sial!"

"Siapa yang hamil Arvel!?"

Terdengar suara wanita bicara di belakang pemuda itu, sontak Arvel menolehkan kepalanya ke arah asal suara.

"Ibu, kenapa nggak mengetuk pintu dulu sih?"

"Kamu ini, memang nya kenapa, toh ibu mau ketemu anak sendiri," balas Rita kesal.

"Tadi kamu ngomong hamil, siapa yang hamil?!"

Arvel mendadak merasa lidahnya kelu karena gugup lalu sambil menggelengkan kepalanya pria itu menjawab.

"Oh itu, tadi aku cuman baru dapat info kalau istri temenku baru hamil," balas Arvel berusaha mengalihkan perhatian sang ibu.

Rita menatap putranya sembari mengendikkan bahu.

"Arvel, ibu udah jodohin kamu sama Malika anaknya Tante Sarah, kami udah sepakat kalau kalian berdua harus segera menikah secepatnya."

"Apa, menikah?!"

Arvel tercengang serta kedua netranya terbuka sempurna.

"Arvel nggak mau dijodohin dan juga belum mau nikah juga, udah batalkan saja deh," balas pemuda itu dengan wajah ditekuk.

"No way, tidak mungkin dibatalkan, rencana sudah dibuat, umur kamu 27 tahun tapi masih aja belum mikir serius berumah tangga, ibu mau segera punya cucu!" ucap Rita tak bisa dibantah.

Arvel merasa sesak di dada serta nafasnya tersengal, tapi tak kuasa membantah perkataan ibunya, lalu masalah Arrabella pun terlupakan olehnya karena mendengar perkataan sang bunda.

Sementara pagi hari berikutnya Bella termenung di kamar mandi jemarinya bergetar hebat saat memegangi hasil test pack yang memperlihatkan garis dua merah, artinya dia saat ini positif hamil.

"A-aku hamil, ternyata benar aku hamil.. bagaimana ini," ujarnya sambil dia tersandar lemas didinding kamar mandi, wajahnya mendadak pucat belum lagi ditambah dorongan rasa mual itu kembali datang hingga Bella muntah-muntah lagi untuk kesekian kalinya.

Setelah sekian menit berjalan dan rasa mualnya mereda, Bella keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan dan hati yang berkecamuk, pikirannya seketika kacau.

"Bella kamu muntah lagi?"

Suara berat ayahnya yang sedang duduk dikursi menyapa dingin saat melihat anak gadisnya yang tampak lesu.

"A-ayah.."

Bella merasa jantungnya berdebar kencang karena merasa takut pada tatapan tajam sang ayah.

"Iya, tapi tak apa kok, sudah mendingan," jawab Bella singkat tak berani memandangi ayahnya.

"Duduklah disini Bella," tukas Arya

"Katanya kamu kemarin ke klinik untuk periksa, apa hasilnya? Kamu sakit apa?" Arya mendesak putrinya untuk menjawab, naluri tanggung jawab ayah untuk menjaga anaknya memang kuat, dia khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada anak perempuan satu-satunya itu.

Arrabella merasa udara tipis seketika itu juga di ruangan, untuk bernafas pun rasanya sulit, dia paham tak mungkin untuk menyembunyikan kehamilannya lebih lama lagi, cepat atau lambat pasti akan ketahuan. Tapi dia sangat bingung untuk memulai bicara, akhirnya melangkah pelan ke hadapan Arya, setelah berada didepan ayahnya, sontak Bella berlutut sembari terisak pilu.

"Ayah, maafkan aku, maafin Bella."

"Yah, tolong maafkan Bella," ucap Bella dengan suara parau menahan sesak di dada.

Arya memicingkan mata karena heran oleh perilaku anaknya.

"Ada apa Bella, ayah tidak mengerti ada apa denganmu?"

"A-aku, Bella sekarang sedang hamil."

"APA?!"

Arya terlonjak kaget mendengar ucapan putrinya seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   9

    Sheryl sedang di ruangan kerja ayahnya, gadis itu duduk santai sambil menunggu sang ayah selesai bertelepon."Yah, aku ada permintaan," tukas Sherly manja."Apa yang diinginkan putri ayah ini sekarang hmm..?" Bram menyorot lembut pada anak gadisnya."Aku ingin ayah mampu mengeluarkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran dari kampus," ungkap Sherly datar.Bram mengerutkan keningnya, "Siapa nama gadis itu?""Namanya Arrabella, tapi yang benar saja, dia udah bukan gadis lagi, wanita sialan perebut kekasihku itu sudah hamil duluan di luar nikah, pokoknya ayah harus mengusirnya dari kampus kita!" tandas Sherly.Bram menghela panjang lantas memutar otaknya."Ayah harus berunding dulu dengan anggota dewan yang lainnya, tunggu saja ya," tanggap Bram tenang.Dua hari kemudian, Arrabella sedang berada di ruangan tertutup. Gadis cantik yang memiliki rambut bergelombang itu duduk dengan raut wajah tegang sembari berhadapan dengan dua orang, satu orang adalah dosen utama sedangkan pria paruh ba

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   8

    Arrabella terperangah, dia tak menduga sama sekali akan kedatangan sang supervisor yang terkenal galak itu."Eh, Bu Sonya, a-aku tidak hamil ibu mungkin salah duga," Bella dengan gugup menjawab sembari merapatkan jaket untuk menutupi perutnya.Sonya cepat berjalan menghampiri Bella sembari menyeringai licik.SRETT..Sonya membuka paksa jaket yang menutupi badan atas Bella."Hah lihat ini, perutmu sudah buncit seperti ini kau bilang tidak hamil Bella," sentak Sonya sambil sedikit menekan perut Bella."Aduhh..hentikan itu, kau akan menyakiti bayiku!" Arrabella berseru menahan kesal.Sonya yang mendengar ucapan Bella menyunggingkan senyum dingin dan tatap merendahkan."Hmm..akhirnya kau mengakui juga kalau sedang hamil, dasar sok centil!""Aku akan mengadukanmu pada pimpinan pemilik restoran supaya dia menendangi keluar dari sini," tandas Sonya yang pada dasarnya memang tak menyukai Bella.Lelaki yang Sonya sukai yaitu Erdy sesama pengawas restoran seringkali memberikan perhatian berlebi

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   7

    Arrabella sudah sampai kembali dirumah kontrakan dengan menggunakan sepeda motornya sendiri."Bella, kamu baik-baik saja nak?" tanya Arya sewaktu melihat putri tercintanya masuk ke dalam rumah dan Bella menampakkan wajah lelahnya.Bella menampilkan senyuman tipis sembari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi sofa sederhana yang sudah lapuk dan usang."Ayah jangan khawatir, Bella ngga apa-apa kok, cuma hari ini ijin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dulu," jawab Bella seraya duduk di kursi disamping sang ayah tercinta."Ayah senang kamu bisa selamat dari gangguan para preman itu, pria yang telah menolongmu begitu baik, apa kamu tidak bertemu dengannya?" Arya mengusap rambut halus anaknya.Arrabela hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, katanya lelaki itu sulit ditemui," jawab Bella singkat sembari menghela nafas panjang."Ya sudah, sana kamu membersihkan diri lalu istirahat saja, kamu kan sedang hamil," ucap Arya memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran."Iya

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   5

    Arrabella mengernyit sambil bersandar pada tembok didekatnya, rasa pening di kepalanya kembali mendera. Perempuan itu memijit pelipisnya sembari memejamkan mata."Duduk dulu di sofa, Non."Bu Sumi yang melihat Bella segera menghampiri sembari membantunya berjalan."Non, sebaiknya makan dulu, sebab dari sejak semalam dibawa kemari anda belum makan sama sekali," bujuk Bu Sumi merasa khawatir melihat wajah Bella yang tampak pucat."Aku akan bawakan makanannya kesini saja ya," tukas Sumi lantas bergegas ke meja makan.Sementara Bella menyandarkan punggung lemahnya kebelakang sofa, dia masih tak mengetahui siapa yang telah menolongnya, tapi dalam hatinya dia sangat bersyukur bisa selamat dari gangguan para lelaki berengsek."Non, ini dimakan dulu selagi sup nya masih panas."Sumi meletakkan mangkuk berisi sup ayam, hasil masakannya sendiri."Nama saya Bella, panggil saja aku Bella tidak perlu pake Non," sahutnya lirih sembari mengambil mangkuk sop ayam panas yang tampak menggugah selera it

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   Diselamatkan Revan

    Beberapa saat sebelumnya Revan yang sudah selesai berbincang ringan dengan Ares segera keluar dari restoran, hatinya masih merasa agak jengkel teringat dengan insiden kecil tadi, sewaktu celananya terkena tumpahan minuman, ulah keteledoran Bella.Revan adalah keturunan keluarga Sasmita yang cukup terpandang di negaranya karena memiliki beberapa perusahaan serta bisnis yang sukses, selama beberapa tahun terakhir dia berada di luar negeri mengurus bisnisnya sendiri serta tidak tergantung pada orangtuanya dan baru dua minggu ini pemuda tampan itu pulang kembali ke negaranya.Revan yang tadinya akan segera masuk kedalam mobil dan ingin cepat pulang saja tetapi terhenti karena da ingin menghirup udara malam sejenak sekalian melepas penat, pemuda itu membawa langkah kakinya yang lebar serta dengan tubuhnya yang tinggi, dia berkeliling disekitar area restoran.Tempat makan itu terletak di daerah yang memiliki nuansa alam dan udaranya terasa bersih serta sejuk secara bersamaan.Karena meras

  • Jangan Sentuh Anakku CEO!   Pertemuan pertama

    Arya membelalakkan kedua bola matanya, tubuhnya terasa membeku mendengar penjelasan anak perempuan yang sangat disayanginya. "Apa katamu tadi Bella, serius kamu hamil?!" Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aakkh.." "Ayah ..!" Bella lekas menghambur menghampiri sang ayah dan memeluknya karena pria paruh baya itu tampak lemah dan wajahnya pucat . "Ayah, maafkan Bella," isak tangis terus meluncur dari bibir Bella. Bella menggunakan kedua lengannya untuk menyangga bahu sang ayah. "Ayo kita ke kamar dan ayah bisa merebahkan diri di kasur," ucap Bella lantas membantu ayahnya berjalan pelan. "Minumlah dulu air putih hangat ini, serta obat dari dokter yang harus rutin dikonsumsi," tutur Bella. Bella hanya bisa melihat ayahnya duduk bersandar pada kepala ranjang dan diam saja tak bicara sepatah katapun. Tak selang berapa lama kemudian Bella masih betah duduk disamping kasur menunggui ayahnya. "Bella, siapa yang telah menghamilimu.. katakan pada ayah, pria br*ngs*k itu harus b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status