LOGIN"A-apa maksud ayah bagaimana mungkin Bella bisa hamil?"ujar Arrabella gugup, wajahnya mendadak pucat.
"Sudahlah, coba kamu minum air hangat dan saran ayah sebaiknya jangan dulu berangkat kuliah," tutur Arya seraya meraih bahu putrinya dan mereka duduk kembali di meja makan. "Ayah, kenapa bertanya seperti itu pada Bella?" Bella bertanya dengan wajah pucat sembari minum air putih hangat dan mencoba mengatasi kegugupan di hatinya, bagaimana tidak dia teringat dengan malam panas bersama lelaki tak dikenal saat dia berbuat one night stand demi selembar cek. "Hmm..entahlah, mendadak hal itu terlintas di benak ayah karena teringat pada ibumu saat hamil dulu. Dia memiliki gejala yang sama denganmu," tutur Arya seraya menatap lekat pada paras elok putrinya. "Itu, artinya sama saja dengan ayah menuduhku sudah berbuat hal buruk," timpal Bella gusar. Entah kenapa emosinya muncul begitu saja, dia selalu merasa kalau ayahnya telah mengetahui kebohongannya. "Bella, apa kau sudah punya pacar tanpa sepengetahuan ayah?" "Hah.. tidak, belum, sudahlah ayah tenang mungkin saja ini hanya masuk angin," tukas Bella agak panik ingin segera menyudahi pembicaraan. "Iya, maafin ayah ya, entah kenapa rasanya pikiran ayah agak kacau akhir-akhir ini, mungkin karena terlalu banyak masalah," ujar Arya dengan wajah muram. Arya, awalnya adalah pemimpin perusahaan besar serta hidup berlimpah dengan uang mungkin rasanya masih sulit untuk dapat menerima kehidupannya yang sekarang. "Ayah tolong jangan stress dan sedih, ayah baru saja sembuh," ucap Bella pelan, sambil memegangi tangan ayahnya. Arya tersenyum lalu mengusap rambut halus anak perempuannya yang cantik. Bella lalu mengambil tas dan kunci motornya. "Bella sebaiknya pergi kuliah saja sekarang, nanti di jalan sekalian mampir ke klinik untuk periksa perut yang masih tidak nyaman," ujar Bella sembari bangkit berdiri lalu menghampiri ayahnya. "Ayah, Bella pamit pergi," ucapnya sembari mencium punggung tangan lelaki itu. "Hati-hati di jalan nak," ucap Arya singkat. Arrabella memberi anggukan kecil lalu berjalan ke arah pintu setelah sebelumnya mengambil jaket dan helm, dikenakannya dengan rapi, setelah menghela panjang gadis cantik itu membuka pintu rumah. Arrabella masih berdiri di sisi sepeda motornya, dia termangu sesaat sedang memikirkan sesuatu. "Bagaimana ini, aku baru menyadari kalau bulan ini belum datang bulan, kalau aku memang betulan hamil bagaimana?" "Seharusnya waktu itu aku langsung mengkonsumsi pil pencegah kehamilan, tapi, karena kesibukan mengurus ayah hal itu jadi terlupakan." Arrabella bermonolog sembari memijit pelipisnya. "Kalau begitu, sekarang aku akan ke apotek dulu dan membeli testpack untuk mengetahui lebih pastinya," gumam Bella, lalu dia mulai mengemudikan sepeda motornya. Setelah selesai berbelanja sesuai kebutuhannya, Bella meneruskan perjalanan ke kampusnya. Perempuan itu bertekad kuat ingin segera menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran yang telah diidam-idamkan nya sejak lama. Arrabella harap bila dia sudah berhasil menjadi Dokter bisa mendapatkan penghidupan yang layak dengan gajinya nanti. Saat ini Bella sudah berada di gerbang kampus dia masuk pelataran parkir dengan diiringi tatapan meremehkan dari beberapa mahasiswi, ya mungkin karena gadis itu hanya menggunakan sepeda motor bekas keluaran model lama pula. Tanpa disadari oleh Bella tak jauh dari situ ada sebuah mobil SUV hitam mengkilap terparkir cukup tersembunyi, didalamnya duduk seorang pengemudi yang tampak memperhatikan kedatangan Bella. Setelah dirasa cukup mengintai apa yang diperlukan, lelaki didalam mobil yang ternyata adalah Reno segera mengemudikan mobilnya dan pergi dari situ. Arvel sedang duduk dibalik meja kerjanya sambil memandangi lekat wajah sang assisten yang baru saja datang menemuinya. "Selamat siang tuan Arvel, saya ingin memberi laporan tentang gadis itu." "Hmm..teruskan, katakan semuanya," sahut Arvel datar. "Jadi gadis itu bernama Arrabella, putri dari seorang pengusaha yang baru saja mengalami kebangkrutan, lalu dia juga saat ini masih kuliah di fakultas kedokteran dan terdaftar sebagai mahasiswa aktif," tutur Reno menjelaskan detail. Arvel sedikit mengernyit lalu mendengus kesal, "Huh, yang benar saja mau bergelar sebagai dokter atau profesor sekalipun dia tetap wanita penghibur," tandasnya dengan raut wajah mencemooh. "Ya sudah kalau begitu kerjamu cukup bagus," tukas Arvel sembari melambaikan satu lengannya memberi tanda agar Reno segera keluar dari ruangan. Arvel menghembus panjang, pemuda tampan itu teringat selintas bayangan malam panas yang pernah dilakukannya bersama Bella. "Jadi namanya Arrabella, waktu itu harum tubuh dan rasa dirinya begitu memabukkan hingga aku terlupa untuk memakai pengaman," gumamnya seraya menyugar rambut hitamnya kebelakang. "Bagaimana kalau dia hamil, ah sial!" "Siapa yang hamil Arvel!?" Terdengar suara wanita bicara di belakang pemuda itu, sontak Arvel menolehkan kepalanya ke arah asal suara. "Ibu, kenapa nggak mengetuk pintu dulu sih?" "Kamu ini, memang nya kenapa, toh ibu mau ketemu anak sendiri," balas Rita kesal. "Tadi kamu ngomong hamil, siapa yang hamil?!" Arvel mendadak merasa lidahnya kelu karena gugup lalu sambil menggelengkan kepalanya pria itu menjawab. "Oh itu, tadi aku cuman baru dapat info kalau istri temenku baru hamil," balas Arvel berusaha mengalihkan perhatian sang ibu. Rita menatap putranya sembari mengendikkan bahu. "Arvel, ibu udah jodohin kamu sama Malika anaknya Tante Sarah, kami udah sepakat kalau kalian berdua harus segera menikah secepatnya." "Apa, menikah?!" Arvel tercengang serta kedua netranya terbuka sempurna. "Arvel nggak mau dijodohin dan juga belum mau nikah juga, udah batalkan saja deh," balas pemuda itu dengan wajah ditekuk. "No way, tidak mungkin dibatalkan, rencana sudah dibuat, umur kamu 27 tahun tapi masih aja belum mikir serius berumah tangga, ibu mau segera punya cucu!" ucap Rita tak bisa dibantah. Arvel merasa sesak di dada serta nafasnya tersengal, tapi tak kuasa membantah perkataan ibunya, lalu masalah Arrabella pun terlupakan olehnya karena mendengar perkataan sang bunda. Sementara pagi hari berikutnya Bella termenung di kamar mandi jemarinya bergetar hebat saat memegangi hasil test pack yang memperlihatkan garis dua merah, artinya dia saat ini positif hamil. "A-aku hamil, ternyata benar aku hamil.. bagaimana ini," ujarnya sambil dia tersandar lemas didinding kamar mandi, wajahnya mendadak pucat belum lagi ditambah dorongan rasa mual itu kembali datang hingga Bella muntah-muntah lagi untuk kesekian kalinya. Setelah sekian menit berjalan dan rasa mualnya mereda, Bella keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan dan hati yang berkecamuk, pikirannya seketika kacau. "Bella kamu muntah lagi?" Suara berat ayahnya yang sedang duduk dikursi menyapa dingin saat melihat anak gadisnya yang tampak lesu. "A-ayah.." Bella merasa jantungnya berdebar kencang karena merasa takut pada tatapan tajam sang ayah. "Iya, tapi tak apa kok, sudah mendingan," jawab Bella singkat tak berani memandangi ayahnya. "Duduklah disini Bella," tukas Arya "Katanya kamu kemarin ke klinik untuk periksa, apa hasilnya? Kamu sakit apa?" Arya mendesak putrinya untuk menjawab, naluri tanggung jawab ayah untuk menjaga anaknya memang kuat, dia khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada anak perempuan satu-satunya itu. Arrabella merasa udara tipis seketika itu juga di ruangan, untuk bernafas pun rasanya sulit, dia paham tak mungkin untuk menyembunyikan kehamilannya lebih lama lagi, cepat atau lambat pasti akan ketahuan. Tapi dia sangat bingung untuk memulai bicara, akhirnya melangkah pelan ke hadapan Arya, setelah berada didepan ayahnya, sontak Bella berlutut sembari terisak pilu. "Ayah, maafkan aku, maafin Bella." "Yah, tolong maafkan Bella," ucap Bella dengan suara parau menahan sesak di dada. Arya memicingkan mata karena heran oleh perilaku anaknya. "Ada apa Bella, ayah tidak mengerti ada apa denganmu?" "A-aku, Bella sekarang sedang hamil." "APA?!" Arya terlonjak kaget mendengar ucapan putrinya seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.Arvel berjalan melenggang keluar dengan langkah lebarnya dari ruangan kerja Bella sembari menyeringai dingin, dan sekarang pria itu sudah berada didalam mobilnya. Arvel masih terdiam sejenak sebelum mulai menyalakan mesin mobilnya."Aku tak percaya kalau telah ditolak oleh seorang wanita macam Arrabella, tapi itu sungguh membuatku tertantang."Arvel mendengus kesal serta bicara seorang diri, lalu masih terduduk di jok mobil dan merasa hatinya tergelitik, tetapi rasa itu bukanlah rasa marah. Arvel tak tahu benar rasa apa itu, dan dia tidak yakin apakah dia benar-benar menyukai Bella atau itu hanya egonya saja.Sepanjang hidupnya dia sudah biasa memakai perempuan. Penampilannya yang tampan dan tubuh tegapnya disertai kekayaan yang berlimpah yang tak dapat disangkal telah memudahkan nya untuk mendapatkan teman tidur, hingga dia tak ingat lagi sudah berapa banyaknya.Pada dasarnya Arvel amat membenci wanita, mereka terlalu lembut dan tak punya semangat."Malika umpamanya, dia sama saja de
Arvel masih terus mengamati interaksi ketiganya hingga mobil yang dikendarai Revan dan Bella beranjak pergi."Sebaiknya sekarang aku akan mendatangi Bella di rumah sakit tempatnya bekerja."Kemudian Arvel mulai mengemudikan mobil sedan mewahnya, dia sudah mengetahui dimana tempat Bella bekerja berdasarkan informasi dari Reno.Bella sedang melakukan kunjungan ke salah satu pasien nya sembari mengecek kondisi terakhir seorang wanita paruh baya yang sudah satu minggu dirawat karena operasi usus buntu."Bagaimana perasaan ibu hari ini?""Baik Dok, saya sudah merasa lebih sehat dan bekas lukanya pun sudah tak terasa sakit, dokter Bella memang hebat sekali."tanggap Emi sang pasien sambil tersenyum lebar."Sudah tugas saya Bu, dan saya senang bila ibu sudah kembali pulih," jawab Bella merendah sembari memeriksa catatan medis."Baiklah kondisi ibu sudah stabil dan sehat sehingga besok sudah bisa pulang,"tutur Bella lalu dia menoleh pada perawat wanita muda di sebelahnya."Apa lagi jadwal ku s
Kenzo mengamati interaksi diantara Revan dan ibunya lantas bocah itu tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri keduanya."Om Revan..""Hallo jagoan Om, gimana kabar kamu hari ini Boy."Revan merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh mungil dalam dekapan lengan kekarnya."Aku senang hari ini karena ada om Revan datang, aku sebentar lagi pergi sekolah sama ibu.""Wow.. that's good, bagus sekali anak pintar.""Baiklah ayo kita pergi bersama, Om akan antar kamu ke sekolah .""Tunggu sebentar aku akan mengambil tas nya Kenzo yang tertinggal didalam rumah, apa kamu mau masuk dulu?"Bella bertanya seraya menatap Revan lekat dengan wajahnya yang tersipu. Pria tampan itu sedang menggendong anaknya sambil bercengkerama riang."Aku tunggu disini saja bersama Kenzo, "jawab Revan singkat.Tak lama kemudian ketiganya sudah berada di dalam kendaraan mewah milik Revan dan berkendara menuju sekolah Revan terlebih dahulu.Sepanjang perjalanan Kenzo banyak berceloteh riang disertai wajah tampan nya
Revan dan Erika saling berpandangan, tapi pikiran mereka berbeda-beda.Revan merasa penasaran dengan rencana Erika dan tak mau membiarkan dirinya terjebak begitu saja. Pria itu memang selalu berhati-hati bila ada seseorang asing yang tak dikenalnya memberi minuman ataupun makanan, maka Revan takkan menelannya begitu saja.Tak lama kemudian reaksi obat yang diminum Erika mulai bekerja."Aduh kenapa rasanya badanku panas begini, padahal tadi aku nggak kenapa-kenapa."Erika mulai merasakan ketidak nyamanan tapi dia merasa aneh karena hafal dengan efek yang terjadi pada tubuhnya."Tapi ini adalah efek obat itu, kenapa jadi aku yang merasakannya, bukankah harusnya Revan yang minum obat ini." gumamnya saat terasa semakin tidak nyaman dan panas yang semakin melanda tubuhnya.Revan menatap dingin wanita bertubuh padat dan molek yang memakai pakaian ketat didepannya."Ada apa denganmu Erika, kenapa wajahmu merah begitu?" Revan bertanya dengan nada datar dan melakukan akting berpura-pura tak t
Revan berdiri duluan dan berjalan meninggalkan meja makan tapi sebelumnya dia melirik dengan ujung mata untuk mengetahui respon Erika atas ucapannya tadi."Hmm.. lihat saja kamu rubah licik, aku akan meladeni usaha kotormu untuk mendekatiku." Revan bicara di hatinya sambil berjalan menuju taman.Sementara itu Liana dan Andhini memutuskan untuk beristirahat di kamar.Erika lantas menuju dapur dan menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan camilan serta minuman hangat untuk Revan."Apakah semua yang ada di nampan ini akan diberikan pada tuan Revan?" Erika mengamati cangkir berisi air minum dan makanan kecil dalam wadah."Iya betul nona, saya sedang menyiapkan satu jenis buah potong untuk ditambahkan sebagai pelengkap." Ujar sang pelayan sembari memberi anggukan kecil."Tunggu sebentar ya, jangan dulu kau berikan padanya, biar aku saja yang membawakan nampan ini untuknya.""Baik nona Erika."Erika mewanti-wanti pelayan wanita muda itu agar menuruti ucapannya lalu perempuan itu melangkah
Dengan penuh rasa malas akhirnya Revan berkendara kembali ke kediamannya dan saat memasuki rumah terlihat sang bunda sedang asyik berbincang dengan Erika di ruang tengah sambil menonton televisi."Nah itu Revan datang."Liana menyunggingkan senyum lebar saat melihat putranya sudah ada dirumah."Katanya ibu tadi pusing, sakit kepala lalu kenapa waktu ada Bella nggak bilang, kan Bella itu dokter jadi bisa diperiksa sama dia?"Revan mengajukan pertanyaan yang membuat Liana kesal."Aduh kamu ini Revan, mendingan sekarang kamu duduk disini dulu ajak ngobrol Erika terus selanjutnya kalian pergi berdua berkeliling, kasihan Erika masa iya dari tadi diam aja dirumah.""Sana pergi cepetan, ibu udah janji sama ayahnya Erika akan mengurus anaknya dengan baik selama ada disini.""Ibu sekarang ke kamar untuk beristirahat tapi sebelum itu, mau lihat dulu Andhini di kamarnya."Liana yang tetap ngotot ingin menjodohkan Revan dengan gadis cantik itu berkata tegas pada anaknya dan seakan tak ingin diban







