Share

Bab 4

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-09-21 21:19:40

Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.

Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.

Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.

Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.

“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak.

Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”

Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.

“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.

Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.

“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”

Mendengar jawaban itu, Laras akhirnya tersenyum lebar. Tangannya kembali sibuk melipat pakaian di pangkuan.

“Kak Kavianmu itu sampai sekarang masih lajang, loh, Nak.”

Langkah Thea yang hendak mengambil segelas air seketika terhenti.

“Gimana, Bu?”

“Dia belum menikah.”

Thea buru-buru mengambil gelas, lalu menuangkan air seolah informasi itu sama sekali tidak menarik perhatiannya.

“Oh,” balasnya singkat.

Ia meneguk airnya perlahan, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.

“Memangnya kenapa kalau belum menikah, Bu?”

“Ya nggak kenapa-kenapa.” Laras terkekeh. “Ibu cuma bilang saja.”

“Dulu, kalian itu dibesarkan bersama,” lanjut Laras.

Thea hanya mengangguk kecil.

Baginya, status Kavian tidak ada hubungannya dengan hidupnya sekarang. Mau pria itu sudah menikah atau belum, seharusnya tidak penting.

Mereka sudah dewasa. Sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kavian bebas menikah dengan siapa pun yang ia mau. Begitu pula dirinya.

“Oh, Tante Vania juga tadi titip pesan ke kamu.”

Thea yang hendak masuk kamar kembali menoleh.

“Pesan apa, Bu?”

“Dia mengundang kamu makan malam di rumahnya malam ini.”

Kening Thea langsung mengerut tipis.

“Katanya sekalian menyambut kepulanganmu setelah bertahun-tahun. Suami dan kedua anaknya juga sudah pulang semua, jadi sekalian saja katanya.”

Thea langsung membuka mulut untuk menolak. Namun, sebelum sempat berkata apa-apa, ibunya sudah lebih dulu tersenyum.

“Datang saja. Tante Vania pasti senang.”

Thea mengembuskan napas panjang.

Sebenarnya, ia ingin sekali mengatakan tidak. Setelah kejadian siang tadi, bertemu Kavian lagi malam ini jelas bukan sesuatu yang diinginkannya.

Namun, ibunda Kavian itu sudah begitu baik kepadanya sejak kecil. Menolak undangan hanya karena tidak ingin bertemu Kavian rasanya terlalu kekanak-kanakan.

Thea menggenggam ujung bajunya sebentar sebelum akhirnya melepaskannya.

Ia sudah bukan gadis kecil yang bisa melarikan diri setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

“Ya sudah,” jawabnya akhirnya. “Aku datang.”

***

Malam harinya, Thea benar-benar datang ke rumah tetangganya itu sesuai undangan Vania.

Baru beberapa langkah memasuki ruang tengah, seseorang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Thea?”

Thea menoleh.

Rivan—adik Kavian, berdiri tidak jauh darinya sambil menatapnya dari atas ke bawah. Tatapan itu membuat Thea spontan melirik dirinya sendiri.

Ada apa?

Hari ini ia mengenakan midi dress berwarna burgundy dengan potongan sederhana yang jatuh anggun mengikuti bentuk tubuhnya. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai membingkai wajah cantiknya. Sepasang heels rendah dan anting kecil melengkapi penampilannya malam itu.

Sejauh yang ia tahu, tidak ada yang aneh.

“Serius ini kamu, Thea?”

Thea mengernyit. “Ini aku, Rivan. Kenapa memangnya?”

Rivan mendekat beberapa langkah, masih memperhatikannya dari atas sampai bawah sambil menggeleng-geleng seolah takjub.

“Luar biasa,” ujarnya hampir berbisik. “Dulu kamu kalau datang ke sini pakai kaus sama celana pendek. Rambut juga asal diikat. Sekarang ….”

Ia mengangkat alis.

“Beda banget.”

Thea menahan napas, lalu memutar bola mata.

“Kalau mau bilang aku cantik, bilang saja. Nggak usah muter-muter.”

Rivan terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.

“Kamu memang cantik sekali,” ucapnya. “Sayang, kamu nggak pernah melirikku sedikit saja. Aku kan juga ganteng. Kita cocok kalau bersama.”

Thea mendecih.

Rivan ternyata tidak banyak berubah. Masih sama menyebalkannya seperti dulu.

Bahkan sebelum Thea mengenal perasaannya sendiri kepada Kavian, Rivan sudah lebih dulu menjadi orang yang paling sering mengganggunya.

Dulu, pria itu juga sering kesal karena setiap kali datang ke rumah ini, perhatian Thea hanya tertuju pada satu orang.

Orang itu Kavian, bukan dirinya.

Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin itulah alasan Rivan tidak pernah berhenti menjahilinya.

“Thea, apa kamu masih menyukai Kak Kavian?”

Sialan.

Mulut Rivan ini benar-benar tidak bisa disaring.

Thea menarik napas pelan, lantas menjawab santai. “Aku nggak mau memikirkan soal pasangan.”

“Benarkah?” Rivan memicingkan mata. “Apa kamu masih sakit hati karena dulu ditolak Kak Kavian?”

Thea terdiam. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram sisi tas yang dibawanya.

“Makanya, aku sudah bilang jangan kejar dia terus. Kamu nggak percaya sama aku, sih.”

Senyum Thea perlahan memudar.

“Itu masa lalu, Rivan.”

“Lho, aku cuma mengingatkan kamu.”

“Aku nggak minta diingatkan, kok.”

Rivan mengangkat kedua tangan, lalu bersandar santai pada sisi meja di dekatnya. Kedua tangannya dilipat di depan dada.

“Aku penasaran, deh,” katanya.

Thea meliriknya dengan wajah jengkel. “Apa lagi?”

Rivan memiringkan kepala.

“Kalau sekarang Kak Kavian melihatmu, kira-kira dia bakal bilang apa?”

Thea hendak menjawab, tetapi Rivan tiba-tiba mengalihkan pandangan ke belakangnya.

“Menurut Kakak, bagaimana Thea yang sekarang?”

Jantung Thea seketika berdegup lebih cepat. Ia perlahan ikut menoleh.

Betapa terkejutnya saat melihat Kavian ternyata berdiri beberapa langkah di belakangnya, entah sudah sejak kapan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 7

    Dalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara.Ternyata, ia terlalu banyak berharap.“Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.”Tatapan mereka bertemu.Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu.Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur.“Lho, kenapa pada berdiri di s

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 6

    Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 5

    Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 4

    Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 3

    Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 2

    Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status