Share

Bab 5

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-09-21 21:20:11

Thea masih menatap Kavian di hadapannya.

Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.

Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.

Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.

Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.

“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”

Thea terdiam.

Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya.

“Hah?”

“Nggak banyak yang berubah.”

Thea menahan napas sejenak.

Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.

Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya hampir menekan telapak tangan.

Padahal dulu, ia bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana orang lain melihatnya. Ia bisa berlari ke rumah tetangga sebelahnya hanya untuk mencari Kavian, duduk menunggunya pulang, atau mengikutinya ke mana-mana tanpa merasa ada yang perlu dipermalukan.

Sekarang ia sudah tahu kapan harus berhenti. Ia tahu tidak semua orang harus menyukainya. Ia juga tahu perasaan tidak bisa dipaksakan, tetapi semua itu ternyata tidak terlihat di mata pria tersebut.

Astaga.

Apa yang dia harapkan?

Thea menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis.

“Oh.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Thea memaksakan senyum kecil, lalu mengangkat bahu seolah jawaban Kavian sama sekali tidak penting.

“Ya sudah. Berarti aku nggak berubah, dong.”

Ia bahkan terkekeh kecil setelah mengatakannya, meskipun tawanya terdengar sedikit dipaksakan.

Rivan menatap kakaknya heran, lalu beralih kepada Thea.

“Masih sama? Kak Kav, matamu sehat, kah?”

Thea menggeleng kecil.

“Sudah-sudah. Nggak usah dibahas lagi,” ucapnya. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak kata-kata yang mungkin akan makin menyakitkan.

Terlebih ketika orang yang menjadi alasan dirinya berubah justru berdiri di hadapannya tanpa menyadari apa pun.

Thea segera mengalihkan perhatian ketika Vania keluar dari ruang makan.

“Tante, aku bantu bawa minumannya?”

“Oh, iya. Tolong, ya, Sayang.”

Thea segera berlalu, tanpa menoleh lagi kepada Kavian ataupun Rivan.

Malam itu, Thea sengaja membatasi interaksinya dengan Kavian. Setiap kali pria itu berpindah tempat, tanpa sadar Thea mencari alasan untuk berada di tempat lain.

Ketika Kavian duduk di ruang makan, Thea memilih membantu Vania di dapur. Bahkan ketika tanpa sengaja mereka hampir berpapasan di ruang tengah, Thea langsung bergeser memberi jalan.

Sesekali, Thea juga meladeni Rivan yang tidak pernah kehabisan komentar menyebalkan. Anehnya, situasi itu membuatnya merasa lebih nyaman.

Rivan memang menyebalkan. Namun, setidaknya, pria itu masih melihatnya sebagai Thea yang sekarang.

Beberapa saat kemudian, makan malam selesai. Suasana rumah pun mulai lebih santai. Sebagian keluarga masih mengobrol di ruang makan, sementara yang lain berpindah ke teras belakang.

Thea memilih menyingkir sebentar.

Ia berjalan menuju area kolam renang di samping rumah untuk mencari udara segar.

Lampu-lampu kecil di sekitar kolam menyala temaram, cahayanya berpendar di permukaan air yang tenang.

Thea duduk di salah satu kursi panjang di tepi kolam. Tasnya ia letakkan di samping, kemudian tubuhnya disandarkan perlahan sambil menghela napas sedikit lebih lega.

Sampai akhirnya pandangannya jatuh pada permukaan kolam

Dulu, ia sering bermain di tempat ini bersama Rivan. Mereka bisa bertengkar hanya karena berebut pelampung atau saling menyiram air.

Sementara Kavian biasanya hanya duduk di teras sambil membaca sesuatu. Ia tak pernah peduli apa yang mereka lakukan, alih-alih ikut bermain.

Thea tersenyum tipis.

Aneh sekali rasanya. Ia sudah berusaha melupakan banyak hal, tetapi kenangan kecil justru masih begitu mudah muncul di kepalanya. Padahal ia sudah bertahun-tahun pergi.

Tak lama kemudian, terdengar suara derit pintu kaca terbuka.

Thea tidak terlalu memperhatikannya sampai suara langkah kaki terdengar mendekat.

Ia menoleh.

Keningnya mengernyit melihat Kavian keluar ke area kolam sambil menempelkan ponsel di telinga. Dari ekspresinya, sepertinya ia sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius.

Tubuh Thea spontan mematung kaku di tempatnya. Matanya sempat mengikuti setiap langkah Kavian sebelum ia sadar dan buru-buru mengalihkan pandangan.

Kenapa lagi-lagi harus bertemu dengannya? Padahal sudah dari tadi ia berusaha menghindar.

Thea mengembuskan napas berat, lalu bangkit dari kursinya.

Ia berniat kembali ke dalam. Tempat yang tadinya terasa tenang ini mendadak tidak lagi nyaman sejak Kavian muncul di sana.

Baru beberapa langkah ia berjalan, pria itu tiba-tiba memanggilnya.

“Thea.”

Thea langsung berhenti.

Ia menoleh, tetapi gerakan mendadak itu membuat ujung heels-nya tersangkut pada bagian lantai yang sedikit menonjol.

Tubuhnya pun kehilangan keseimbangan.

“Ahh—!”

Tangannya refleks terayun mencari pegangan, tetapi nihil. Kakinya malah menginjak bagian tepi kolam yang licin.

Dalam hitungan detik, tubuh Thea terjerembap ke dalam air.

Byur!

Air dingin langsung menyergap tubuhnya.

Panik, kedua tangannya bergerak liar mencari sesuatu untuk berpegangan, tetapi tubuhnya malah semakin tenggelam.

“To-long!” teriaknya dengan napas tersengal-sengal.

Ia mencoba membuka mata, tetapi pandangannya buram oleh air yang memenuhi sekelilingnya.

“Thea!”

Thea berusaha melihat ke arah suara itu.

Di antara riak air yang mengaburkan pandangannya, sebuah sosok tiba-tiba melompat ke dalam kolam dan berenang cepat ke arahnya.

Sayang, sebelum Thea sempat melihat siapa orang itu, pandangannya kembali mengabur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 7

    Dalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara.Ternyata, ia terlalu banyak berharap.“Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.”Tatapan mereka bertemu.Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu.Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur.“Lho, kenapa pada berdiri di s

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 6

    Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 5

    Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 4

    Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 3

    Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 2

    Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status