Share

Bab 3

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-09-21 21:19:15

Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu.

“Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik.

Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi.

“Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus.

Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya.

Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.

Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya.

“Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.”

Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan santai menuju lemari pakaian, mengambil kaus berwarna putih, lalu mengenakannya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa canggung. Seolah Thea tidak sedang berdiri di sana dengan wajah merah padam.

Lain hal dengan Thea yang mati-matian menjaga pandangannya sampai pria itu selesai mengenakan pakaiannya.

Padahal sejak pulang ke kampung halamannya, satu-satunya hal yang paling ia inginkan adalah tidak berurusan dengan Kavian lagi. Namun, baru dua hari pulang, ia sudah berada di kamar pria yang ingin dihindarinya itu.

Situasi macam apa ini?

“Kenapa diam saja di situ?” Suara datar Kavian memecah lamunan Thea. “Lanjutkan pekerjaanmu.”

Thea menoleh. pria itu sudah mengenakan kaus dan celana panjang. Wajahnya tetap dingin seperti yang selalu ia ingat.

Tak ingin berlama-lama di sana, Thea buru-buru keluar kamar, mengambil sapunya yang tertinggal tadi, lalu kembali masuk.

Hanya saja, begitu hendak mulai bersih-bersih, matanya menangkap Kavian yang ternyata masih berada di atas kasur sambil membuka laptop.

Thea menggigit bibirnya dalam-dalam. Genggaman tangannya pada gagang sapu perlahan mengerat.

“Kak Kavian nggak keluar dulu?”

Kavian mengangkat kepala. Ia menatap Thea dengan tajam.

“Katakan, kenapa aku harus keluar, Thea?”

Thea terdiam.

Sama sekali tak berniat untuk berbicara lebih banyak lagi. Ia pun mengalihkan pandangan dan mulai membersihkan kamar Kavian dengan pemiliknya masih berada di dalam.

Kalau saja tahu sejak awal bahwa pemilik kamar ini ada di dalam, mungkin ia akan menolak halus permintaan Vania tadi.

Rasanya pekerjaannya kali ini jauh lebih berat daripada ketika ia membersihkan ruangan lain tadi.

Bukan hanya karena kamar Kavian lebih berantakan, tetapi juga karena pemiliknya masih ada di sini. Entah hanya perasaannya atau memang Kavian seperti sengaja mengawasinya.

Satu hal yang Thea tahu, keberadaan pria itu membuatnya cukup sulit berkonsentrasi.

Setiap kali berbalik, ia bisa melihat pria itu. Setiap kali hendak mengambil sesuatu, ia malah kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu.

Sialnya, semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin jelas pula bayangan tubuh Kavian dengan handuk tadi muncul di kepalanya.

Sial. Benar-benar sial.

Thea menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran konyol itu.

Dia datang ke sini karena diminta Vania membersihkan kamar Kavian, bukan untuk memikirkan hal-hal aneh.

Thea berjongkok untuk mengambil beberapa kertas yang berserakan di lantai ketika suara Kavian memecah keheningan di kamar itu.

“Kenapa kamu pulang ke sini?”

Gerakan Thea berhenti, tetapi ia tak segera menjawab pertanyaan Kavian.

Pertanyaan itu sebetulnya cukup sederhana. Tetapi, entah kenapa, Thea merasa perlu menjawabnya dengan hati-hati dan seperlunya saja.

“Biar lebih dekat sama ibuku,” kantanya.

“Berarti kamu menetap?”

“Iya,” jawab Thea singkat.

Hening beberapa detik.

“Kalau alasanmu menetap karena ibumu, aku rasa itu terlalu berlebihan,” komentar Kavian, seolah masih belum puas dengan jawaban Thea. “Apa kamu punya alasan lain?”

Thea tak menjawab kali ini.

Ia tak ingin menjelaskan tentang agensi yang dibangunnya di kota besar. Tidak ingin bercerita tentang rencananya mengembangkan bisnis di kampung halaman mereka.

Thea merasa tidak perlu saja. Mereka sudah bukan dua orang yang dulu.

Dulu, ia mungkin bisa menceritakan hampir semua hal kepada Kavian dengan senang hati.

Ke mana ia pergi? Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui?.Bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting pun sering ia ceritakan hanya demi mendapatkan perhatian pria itu.

Sekarang?

Thea bahkan tidak ingin Kavian tahu terlalu banyak tentang hidupnya.

“Thea, kenapa diam saja?” tanya Kavian seolah tak ingin menunggu lama. “Apa tujuanmu menetap?”

“Aku lagi bangun usaha di sini,” jawab Thea seadanya.

Untungnya, setelah itu Kavian tak lagi bertanya. Thea pun memilih tidak memperpanjang pembicaraan.

Ia melanjutkan pekerjaannya sampai seluruh bagian kamar selesai dibersihkan.

Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu dibereskan, Thea mengambil perlengkapan bersih-bersih dan hendak keluar ketika suara Kavian lagi-lagi menghentikan langkahnya.

“Thea.”

Ia menoleh. Pria itu kini bangkit dari ranjang dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

“Ini,” katanya sambil mengulurkan uang tersebut kepada Thea.

Alih-alih menerima, Thea hanya menatap lembaran berwarna merah itu dengan raut bingung.

Pemandangan itu langsung mengingatkannya pada kebiasaan lama Kavian.

Dulu, pria itu juga sering memberinya uang jajan. Setiap kali Thea terlalu lama berada di rumahnya, Kavian akan menyelipkan beberapa lembar uang ke tangannya dengan wajah datar.

“Pergilah, beli sesuatu.” Begitu katanya dulu.

Thea yang masih polos tentu saja menerimanya dengan senang hati. Tak pernah terpikir olehnya bahwa uang itu sebenarnya adalah cara Kavian menyuruhnya menjauh.

Bahkan pernah suatu kali, Thea sengaja datang lagi ke rumah Kavian keesokan harinya karena ingin mendapatkan uang jajan seperti sebelumnya.

Mengingatnya sekarang membuat sudut bibir Thea bergerak getir. Ternyata dulu ia benar-benar sebodoh itu.

Thea menatap uang di tangan Kavian sekali lagi. Kemudian, ia menggeleng.

“Nggak perlu, Kak,” tolaknya halus.

Kavian mengernyit tipis.

“Ambil saja, Thea.”

“Aku bilang nggak perlu.”

Thea mundur selangkah.

Diberi uang oleh Kavian membuatnya merasa seperti kembali menjadi gadis kecil yang dulu selalu mengejar pria itu ke mana-mana.

Gadis yang bisa dibuat pergi hanya dengan beberapa lembar uang, tetapi sekarang ia sudah tidak seperti itu lagi.

Sayangnya, Kavian sepertinya masih menganggapnya seperti itu.

Pria bertubuh tinggi itu berhasil membuat luka lama yang ia kira sudah sembuh kembali terasa perih hanya dengan beberapa lembar uang.

“Aku bukan anak kecil lagi yang bisa disuap agar menjauh, Kak Kavian!” tegas Thea dengan mata berkaca-kaca. “Permisi.”

Tanpa menunggu jawaban, Thea membuka pintu dan pergi dengan perasaan terluka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 7

    Dalam beberapa detik, Thea hanya diam. Giginya bahkan sampai bergemeletuk menahan geram. Ia masih tidak habis pikir kalau mulut Kavian ternyata tetap setajam dulu.Delapan tahun berlalu tanpa pertemuan. Thea sempat berpikir waktu akan mengubah banyak hal dalam diri pria itu. Mungkin membuatnya lebih dewasa, lebih lembut. Setidaknya sedikit lebih mudah diajak bicara.Ternyata, ia terlalu banyak berharap.“Kak Kav, kamu ini memang nggak bisa, ya, bicara yang baik sedikit?” balas Thea. Nadanya terdengar lebih ketus dari yang ia inginkan. “Kalau nggak bisa, sebaiknya diam saja.”Tatapan mereka bertemu.Rahang Kavian tampak mengeras. Entah karena tersinggung atau sekadar tidak suka dibantah, namun Thea sama sekali tidak peduli. Kali ini ia tidak akan mundur hanya karena pria itu menatapnya seperti itu.Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa sempit. Untungnya, ketegangan di antara mereka belum sempat berkembang ketika terdengar langkah kaki dari arah dapur.“Lho, kenapa pada berdiri di s

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 6

    Ketika kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan Thea adalah sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, entah apa. Sensasi itu hanya terasa sesaat sebelum dadanya kembali ditekan beberapa kali. Tubuhnya tersentak. Air yang memenuhi tenggorokannya pun terdorong keluar, membuat Thea terbatuk keras. “Uhuk! Uhuk!” Napasnya terasa sesak. Tenggorokannya perih. Thea membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi perlahan ia bisa melihat sosok yang berada di dekatnya. Kavian, pria itu sedang menopang kepalanya. Bajunya basah kuyup, begitu pula rambutnya yang masih meneteskan air ke wajah. “Thea!” Suara ibunya terdengar panik. Laras yang berjongkok di sisi lain segera mengusap wajah putrinya yang basah. “Kamu sudah sadar, Nak?” “Aduh, Thea Sayang. Kamu nggak apa-apa?” Vania ikut bertanya cemas. Thea masih berusaha mengatur napas. Tangannya menekan dada yang naik turun dengan cepat. Beberapa detik berikutnya ia baru menyadari bahwa sudah bany

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 5

    Thea masih menatap Kavian di hadapannya.Entah kenapa, jantungnya justru berdetak lebih cepat hanya karena menunggu jawaban pria itu. Padahal, ia sendiri tidak tahu mengapa harus peduli dengan tanggapan Kavian tentang dirinya.Mungkin karena sejak kembali ke kampung halaman ini, terlalu banyak hal dari masa lalu yang kembali muncul tanpa diminta.Atau mungkin karena, jauh di dalam hatinya, masih ada bagian kecil yang ingin tahu apakah Kavian juga melihat perubahan dalam dirinya.Kavian terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih dari Rivan kepada Thea. Kemudian, dengan wajah datarnya, pria itu menjawab tenang.“Biasa saja. Dia masih sama seperti dulu.”Thea terdiam. Rivan bahkan sampai mengerutkan kening, seolah tak percaya dengan respons kakaknya. “Hah?”“Nggak banyak yang berubah.”Thea menahan napas sejenak.Ucapan Kavian yang sebetulnya sederhana itu terasa lebih menusuk daripada yang seharusnya.Ia sempat menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai mengepal. Kuku-kukunya

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 4

    Begitu sampai rumah, Thea langsung membuka pintu agak keras. Sisa kekesalannya dari rumah sebelah masih belum juga reda.Kejadian saat Kavian memberinya uang tadi terus berputar di kepalanya.Dadanya sesak setiap kali mengingatnya. Bukan karena jumlah uang yang diberikan pria itu, melainkan karena apa yang tersirat di baliknya. Seolah setelah bertahun-tahun berusaha berubah, di mata Kavian ia tetaplah Thea yang sama.Gadis kecil yang dulu selalu menuntut perhatian pria itu.“Thea, sudah pulang, Nak?” Suara ibunya membuat Thea menoleh sejenak. Ia mengangguk sambil melepaskan sandal. “Iya, Bu.”Laras yang sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian segera menghentikan pekerjaannya. Tatapannya mengamati Thea beberapa saat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putrinya.“Kamu ketemu kakak di sebelah?” tanyanya dengan alis sedikit terangkat.Thea terdiam sesaat. Lalu ia mengalihkan pandangan dan berjalan menuju dapur.“Aku sempat ketemu Kak Kavian.”Mendengar jawaban itu

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 3

    Setelah pintu kamar tertutup, Kavian langsung melepaskan Thea, begitu pula Thea yang sontak menjauh dari pria itu. “Kak Kavian, apa yang kamu lakukan?” tanya Thea masih setengah panik. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tetap berusaha mengontrol keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi. “Jangan teriak sembarangan. Orang bisa salah paham,” balas Kavian sedikit ketus. Thea hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Seketika itu ia kembali sadar bahwa Kavian masih berdiri di sana hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya. Wajah Thea mendadak panas, sebelum buru-buru memalingkan wajah, berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Sementara itu, Kavian tetap terlihat santai, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan penampilannya. “Tante Vania minta tolong aku membersihkan kamarmu,” kata Thea akhirnya. Bibirnya sedikit maju karena merasa dongkol. “Aku kira nggak ada orang di sini.” Kavian tak menjawab. Ia kini sudah berjalan

  • Jangan Terlena Godaan Cinta Pertama!   Bab 2

    Tubuh Thea sempat mematung di tempatnya. Mendengar suara itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu akhirnya menoleh, Thea langsung mendapati Kavian berdiri tidak jauh darinya. Suara itu benar-benar milik Kavian. Pria yang selama bertahun-tahun berusaha ia hindari. Thea menelan ludah. Setelah sekian lama menghindarinya, kenapa saat kembali justru harus bertemu dengannya lagi? “Ka—” Ucapannya terhenti, karena Thea buru-buru memalingkan wajah. “Permisi.” Tanpa basa-basi, ia segera berlalu masuk ke rumah, meninggalkan Kavian yang masih berdiri di halaman. Begitu pintu tertutup, Thea mengembuskan napas panjang. Malu, ia sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan Kavian. Terlebih setelah bertahun-tahun berusaha mengubur kenangan malam itu. Dulu, ia memang terlalu tidak tahu diri. Berkali-kali ditolak, tetapi tetap saja mengejar pria itu ke mana-mana. Ia selalu menganggap perasaannya sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk terus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status