مشاركة

Bab 2

مؤلف: Aman
Aku tahu walaupun Toni tadi siang mengatakan akan pulang, tapi dia tidak akan kembali.

Hal ini sudah terlalu sering terjadi dalam enam bulan masa pernikahan kami.

Setelah selesai makan, aku tidak lagi menyisakan makanan untuk Toni seperti biasanya.

Sebaliknya, aku membuka kotak masuk email.

Di dalamnya berisi surat tawaran bergabung dari berbagai firma hukum di belasan negara.

Kursor tetikusku langsung mengarah ke surat undangan dari Peronas, dan tanpa ragu, aku langsung menerima tawaran tersebut.

Aku memesan penerbangan ke Piata untuk jadwal keberangkatan dua hari kemudian.

Keesokan paginya, aku mulai berkemas.

Di lemari pakaian kamar tidur utama, barisan pakaianku berada di sisi kiri, dan pakaian Toni di sisi kanan.

Melihat kemeja-kemeja berwarna cerah di sana, Toni tidak akan pernah sudi memakainya di masa lalu.

Tetapi setelah Cintia datang, dia mengatakan kalau gaya seperti itu membuatnya terkesan ramah dan lebih disukai oleh klien.

Jadi, setelan jas-jas mewah yang telah kupilihkan dengan cermat untuknya dulu, kini berdebu dan berakhir di dasar lemari.

Aku tersenyum getir dan memasukkan pakaianku ke dalam koper satu per satu.

Saat baru selesai setengah, Toni tiba-tiba pulang.

Pada kemeja merah mudanya, masih tercium aroma parfum favorit milik Cintia.

Melihatku, dia tertegun sejenak, dan langsung refleks memberi penjelasan.

"Cintia bersikeras minta ditemani pergi berbelanja tadi malam, dan kami pulang kemalaman. Jadi, aku memesan kamar hotel."

Aku mengangguk tanpa berkata apa pun.

Ini adalah pertama kalinya dia berinisiatif memberikan penjelasan dalam enam bulan pernikahan kami.

Dia berjalan dua langkah mendekatiku, pandangannya tertuju pada koper. "Apa kau mau pergi dinas ke luar kota?"

"Iya."

Entah mengapa, dia tampak menghela napas lega.

"Aku masih ada urusan hari ini, jadi pulang untuk mengambil sesuatu dan harus pergi lagi."

"Oke."

Aku tidak mendongak, dan terus melipat pakaian.

Awalnya aku berencana untuk memberitahunya tentang pengunduran diriku saat makan siang, tetapi sekarang rasanya hal itu sudah tidak perlu lagi.

Dia menyahut pelan, lalu mengeluarkan sebuah tas hadiah berwarna merah. Kemudian, dia langsung mengambil mantelnya di dekat pintu, dan bergegas pergi.

Saat pintu tertutup, bingkai foto yang telah tergantung di dinding selama enam bulan tiba-tiba terjatuh, membuat pecahan kaca berhamburan di lantai.

Itu adalah foto kami di hari pernikahan.

Dalam foto itu, dia mengenakan setelan jas yang telah kupilihkan, dan aku mengenakan gaun pengantin.

Dia berjanji kepadaku akan selalu mencintai, menyayangi, dan melindungiku.

Mataku tampak memerah, dan tersenyum dengan sangat bodoh.

Namun saat Cintia muncul, semua janji itu langsung terlupakan.

Aku menatap foto itu lama sekali sebelum akhirnya membersihkan pecahan kaca di lantai.

Kemudian, aku membuang foto yang tampak penuh kebahagiaan itu ke tempat sampah, bersama dengan sisa keraguan di hatiku.

Malam itu, tepat saat aku baru saja berbaring di ranjang, sahabatku menelepon.

"Sudah lihat postingan status WhatsApp? Sebenarnya ada apa antara Toni dan Cintia?"

Aku langsung memeriksa ponsel.

Cintia baru saja memperbarui statusnya.

Sebuah kolase sembilan foto, dengan gambar utama yang menampilkan lehernya dengan sebuah kalung baru.

Keterangan fotonya berbunyi. [Selamat ulang tahun ke dua puluh dua. Terima kasih atas hadiahnya, Pak.]

Di pojok kanan bawah foto itu, terlihat setengah bagian dari tas hadiah berwarna merah.

Ternyata Toni pulang tadi siang untuk mengambil hadiah ulang tahun Cintia.

Sahabatku masih berteriak di ujung telepon.

"Kalian baru menikah enam bulan, tapi Cintia sudah berani bersikap seperti itu? Apa Toni sudah gila?"

Aku menjawabnya lirih, "Kami belum mendaftarkan pernikahan."

Tiba-tiba suasana di ujung sana menjadi hening.

Setelah beberapa lama, suaranya yang penuh rasa tak percaya kembali terdengar. "Apa maksudnya?"

"Kami memang sudah menggelar pesta pernikahan, tapi belum mendaftarkan pernikahan ini."

Aku mengulanginya dengan nada suara datar.

Keheningan panjang kembali melanda, lalu pada akhirnya, suara sahabatku merendah dan diwarnai rasa sedih untukku.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Aku melirik koperku yang sudah terkemas rapi dan tersenyum.

"Aku akan terbang ke Piata besok. Firma hukum di sana sudah mengirimkan tawaran untuk bergabung."

"Dia tidak menghentikanmu?"

"Dia tidak tahu."

Dia juga tidak akan peduli.

Setelah menutup telepon, aku kembali melirik status Cintia.

Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk memberinya tanda suka.

Anggap saja itu sebagai restu untuk mereka sebelum aku pergi.

Jam sepuluh malam itu, Toni akhirnya pulang.

Setelah melangkah masuk, dia hendak menggantung mantelnya seperti biasa, tetapi tiba-tiba saja tangannya terhenti.

"Di mana foto kita yang ada di balik pintu?"

Dia berjalan masuk ke kamar tidur tanpa meletakkan mantelnya, nada suaranya terdengar panik.

"Sayang, di mana foto pernikahan kita?"

Aku bersandar di kepala ranjang dan menjawabnya dengan tenang, "Foto itu tadi jatuh dan pecah."

Mendengar penjelasanku, dia melirik ke arah pecahan kaca di tempat sampah, dan ekspresi wajahnya menjadi rileks kembali.

Kemudian, dia mengeluarkan sebuah tas belanja dari merek LW dan memberikannya kepadaku.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 8

    Aku tidak memberikan respon apa pun."Aku tahu, apa pun yang kukatakan sekarang sudah tidak berguna."Toni menyeka air matanya."Tapi aku benar-benar sudah berubah. Aku sudah memindahkan Cintia, dan tidak lagi berhubungan dengannya.""Aku selalu memikirkanmu setiap hari, bagaimana kau makan, kau tidur, dan bagaimana kau bekerja. Aku ingin meneleponmu, tapi takut mengganggumu. Aku ingin datang menemuimu, tapi takut kau akan jadi kesal padaku."Dia mendongak, matanya memerah."Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu."Aku menatap lurus ke dalam matanya.Di dalamnya, ada kilatan rasa takut, permohonan, ketulusan, dan rasa bersalah."Tapi, aku sudah tidak mencintaimu lagi."Ruangan itu langsung menjadi sunyi.Setelah sekian lama, dia kembali bicara dengan suara serak dan parau."Apa aku ... sudah tidak punya kesempatan?"Aku tidak menjawab.Dia menatap lekat mataku, seolah mencoba menemukan jawaban di dalamnya.Akhirnya, dia menundukkan kepala dan meng

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 7

    Aku mendongak menatapnya.“Tapi hari itu, hanya itu yang kau katakan.”Dia terdiam.“Kau tidak pernah berkata ingin menikah denganku.”Wajahnya tiba-tiba berubah drastis.“Kau bilang akan melindungiku seumur hidup, kau bilang akan mencintaiku selamanya, kau juga bilang banyak hal, tapi kau tidak pernah bilang akan menikahiku.’”Aku menarik tangan dari genggamannya.“Aku tidak menyadarinya saat itu. Kupikir kau terlalu gugup dan lupa. Tapi kemudian aku baru berpikir, itu mungkin karena kau memang tidak pernah berniat menikah denganku.”“Aku berniat!” Suaranya tiba-tiba meninggi, “Aku sangat menginginkannya! Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama ....”“Lalu, kenapa kau tidak pernah datang mendaftarkan pernikahan kita?”Dia membuka mulut, tetapi tidak bisa berbicara apa pun.“Karena di hatimu, kau sudah merasa aku menjadi milikmu. Jadi, apakah kita mendaftarkannya atau tidak, tetap saja tidak akan mengubah fakta tersebut.”“Tapi kau lupa satu hal, secara hukum, kita sama sekali buka

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 6

    Bahasa Peronasku semakin lancar, dan pekerjaanku pun berjalan lebih mulus.Peter berkata bahwa musim semi mendatang, dia akan membiarkanku menangani sebuah kasus secara mandiri.Malam itu, setelah selesai bekerja lembur, aku kembali ke apartemen dan melihat sosok yang sangat kukenal di lantai bawah.Dia mengenakan mantel hitam panjang, berdiri di bawah lampu jalan, sambil memegang buket bunga.Begitu melihatku, dia langsung bergegas menghampiri.“Linda.”Itu adalah Toni.Penampilannya sangat berubah, tubuhnya kurus kering, matanya cekung, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah, seolah-olah dia belum makan atau tidur dengan baik selama sebulan.Aku berdiri mematung, tidak bergerak sama sekali.“Kenapa kau ke sini?”“Aku datang untuk menemuimu.” Suaranya serak. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”“Menunggu apa?”“Menunggu kau pulang,” katanya. “Kau tidak membalas pesanku, ataupun menjawab teleponku, jadi aku tidak punya pilihan selain datang ke sini.”Aku menatap bunga

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 5

    “Linda!”“Toni, lepaskan aku.”Aku menutup telepon dan mematikan ponsel.Rekan kerja yang menjemputku tampak berlari-lari kecil dan meminta maaf dalam bahasa Peronas karena datang terlambat.Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu mengikutinya keluar dari terminal bandara.Malam di Piata terasa lebih dingin daripada di rumah, angin yang berhembus membawa aroma asing.Aku menarik napas dalam-dalam, seolah sedang membuang seluruh kenangan selama lima tahun terakhir.Satu bulan kemudian.Di kawasan elit Kota Piata, di sebuah kafe kecil bernama Lovata.Aku duduk di dekat jendela, dengan kroisan dan secangkir kopi susu di depanku.Di luar jendela, terlihat pejalan kaki tampak bergegas di sepanjang jalan, beberapa sedang berjalan-jalan dengan anjing mereka, beberapa mendorong kereta bayi, dan beberapa sedang berhenti di kios buku pinggir jalan.“Linda?”Aku mendongak. Seorang pria berambut pirang dan bermata biru tampak berdiri di depan mejaku, memegang sebuah dokumen.“Peter.” Aku berd

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 4

    Tepat saat pesawat menembus awan, aku mematikan ponsel.Hamparan cahaya putih dari luar jendela menyilaukan mataku.Aku menutup mata, lalu potongan-potongan kenangan selama lima tahun terakhir ini mendadak melintas di benakku.Pertama kali aku bertemu Toni di firma hukum, dia mengenakan setelan jas abu-abu tua, sedang berpidato dengan penuh semangat dalam simulasi persidangan.Pada kencan pertama kami, dia membawaku makan di warung pinggir jalan, lalu mengatakan bahwa inilah yang disebut dengan cita rasa kehidupan yang sesungguhnya.Pertama kali aku bertemu orang tuanya, dia menggenggam tanganku dan berkata, "Jangan takut, ada aku."Dan pada hari pernikahan kami, dia minum hingga mabuk, lalu memelukku erat dan berkata, "Linda, bisa menikahimu adalah berkah terbesar dalam hidupku."Berkah.Aku membuka mata dan tersenyum getir.Berkah pun sepertinya memiliki tanggal kadaluarsa.Setelah penerbangan selama dua belas jam, aku mendarat di Bandara Chari Diamo di Kota Piata pada jam tujuh mala

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 3

    “Aku sudah bilang akan membelikanmu hadiah kemarin, tapi belum sempat. Jadi, hari ini … aku akan menebusnya.”Aku tertegun sejenak.Lalu, aku teringat pada ucapannya kemarin sebelum dia pergi keluar.“Aku akan membawakanmu hadiah saat pulang nanti malam.”Aku tidak menyangka kalau dia akan mengingatnya.Akan tetapi, dilihat dari tanggal di notanya, itu tertulis setengah jam yang lalu.Dia mungkin merasa tidak enak melihat aku memberikan tanda suka pada unggahan Cintia di status WhatsApp.Sepertinya dia mampir di toko pinggir jalan dan membeli sebuah tas sebagai bentuk kompensasi.Aku tidak menerimanya, dan juga tidak mengatakan apa pun.Toni meletakkan tas itu di atas ranjang, dia tampak ragu sejenak.“Ngomong-ngomong, untuk pemilihan karyawan berprestasi di kantor bulan depan, apa kau bisa .…”“Memberikannya ke Cintia?”Dia tidak menyangka kalau aku akan bicara seperti itu, dia kemudian mengangguk canggung.“Dia masih baru, jadi sangat membutuhkan pengakuan seperti itu. Kau kan sudah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status