Share

Janji Lama yang Tertiup Angin
Janji Lama yang Tertiup Angin
Penulis: Soni

Bab 1

Penulis: Soni
Angin bertiup di koridor, alis dan mata pemuda yang masih tampak polos itu hadir di hadapanku.

Dia terus bercerita panjang lebar tentang kebaikan Amel Liana yang merawatnya saat Kota Jakari berada dalam bahaya.

Pada kehidupan sebelumnya, aku tidak paham kelembutan dan rasa sayang yang tersembunyi di matanya.

Pada kehidupan ini, saat menatap matanya yang penuh harapan.

Rasa amarah dan sifat keras kepala di dalam hatiku.

Tiba-tiba saja sirna.

Aku bersuara dengan pelan, suara itu begitu pelan seperti terpaan angin.

"Nona Amel itu baik sekali sifatnya, biarkan saja dia tinggal di sisimu buat melayanimu."

....

Halaman rumah menjadi hening sejenak.

Gofar Kasira menyembunyikan senyum di wajahnya, lalu berjalan perlahan mendekat ke sisiku.

Setelah sekian lama, dia tiba-tiba mengeluarkan sebuah tusuk konde giok putih dari balik bajunya.

Itu adalah bukti cinta yang dibuatnya untukku dari hasil mengumpulkan gajinya sewaktu muda.

"Listya, aku tidak berniat menikahinya. Apa kamu sudah lupa, aku pernah bilang cuma mau mendapatkan hati satu orang dan tidak akan berpisah sampai rambut kita memutih?"

Berharap mendapatkan hati satu orang.

Aku menundukkan pandangan, lalu sedikit menarik ujung bibirku.

Rasa pahit menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuh.

Pada kehidupan lalu, setelah aku mengancam dengan nyawa dan mengusir Amel pergi.

Gofar sudah berubah.

Dia menjadi makin pendiam dan irit bicara.

Di siang hari, dia sibuk mengurus urusan istana, malam hari dia sering berdiam di ruang kerja, atau berulang kali mencari alasan pergi ke luar daerah.

Tiap kali aku menanyakan alasannya, dia hanya berkata urusan pekerjaan sangat sibuk.

Dalam berbagai perjamuan, para wanita dari keluarga bangsawan memberikan selamat kepadaku.

Memuji suamiku yang sudah mengabdi sepenuh hati untuk negara, pasti punya masa depan yang cerah.

Waktu itu aku sangat polos dan bodoh, benar-benar mengira dia sepenuhnya berdedikasi untuk negara dan keluarga.

Aku tidak mengerti rasa kasihan dan simpati di balik pujian mereka.

Sampai aku selesai membaca tumpukan surat yang tebal itu.

Selesai membaca ungkapan isi hati antara dirinya dan Amel yang tidak pernah terputus selama bertahun-tahun.

Aku baru paham.

Dia tidak benar-benar ingin mendapatkan hati satu orang.

Dia hanya mengalah dan menerima nasib.

Sejak awal, cahaya di dalam hatinya memang bukan aku.

Pada kehidupan sebelumnya aku mengamuk, menangis, dan mengancam dengan nyawa, sampai sudah menghabiskan seluruh rasa cintanya kepadaku.

Dia tidak bisa menang melawan diriku yang keras kepala, tapi juga tidak tega mengabaikan ikatan cinta masa mudanya.

Makanya dia hanya bisa menahan rasa cintanya kepada Amel, lalu tinggal di sisiku dengan bijak.

Aku menundukkan pandangan dan berdiam diri cukup lama.

Tangan Gofar yang memegang tusuk konde makin erat, alis dan matanya memancarkan sedikit kepanikan.

Dulu kalau aku diam, itu selalu karena merasa sangat teraniaya.

Dia hanya perlu bersabar sedikit, lalu menciumku dengan suara lembut.

Tapi kali ini, aku terlalu tenang dan sangat tidak biasa.

Dia membungkukkan badan, lalu mencoba bertanya pelan.

"Listya, apa kamu marah? Kalau kamu tidak suka, aku bakal langsung suruh dia pergi kok. Di sisiku selamanya cuma ada kamu."

Suara pemuda itu terdengar penuh kesungguhan yang polos.

Kalau aku yang dulu, aku sudah pasti langsung memeluknya.

Tapi setelah terlahir kembali, saat menatap mata penuh kelembutan di hadapanku ini.

Aku hanya merasa hatiku sudah lelah sekali.

"Aku tidak marah kok. Aku benar-benar merasa Nona Amel itu baik. Berhubung ada dia yang menemanimu, aku juga bisa merasa lebih tenang."

Gofar tertegun.

"Listya, kamu beneran serius?"

Hati ini terasa hampa, seperti diterpa angin dingin.

Aku menatap matanya, mengingat perkataan tabib di kehidupan lalu.

"Tuan terlalu banyak beban pikiran, ini sudah menjadi penyakit hati yang tidak bisa disembuhkan lagi dengan obat."

Mengingat usianya saat meninggal bahkan tidak sampai 30 tahun.

Aku pun merasa sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi.

"Gofar, aku sudah menikah denganmu selama dua tahun lebih, tapi belum melahirkan anak. Ini sudah bentuk tidak berbakti."

"Aku tidak mau kelak kamu tidak punya keturunan sama sekali di sisimu."

Mendengar itu, raut wajah Gofar menjadi campur aduk.

Ada kaget, kasihan, serta sedikit rasa gembira yang berusaha disembunyikan.

Dia sempat membuka mulutnya, tapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya menggenggam tanganku makin kuat.

Amel sudah berlutut di tanah sejak kalimat pertamaku.

Matanya memerah setelah mendengar semua perkataanku.

Dia menatap Gofar dengan raut wajah pilu.

Aku tidak tahan lagi berada di sana.

Aku mencari alasan, lalu berbalik pergi.

Belum keluar dari koridor, aku sudah mendengar suara gembira dua orang di belakangku.

"Gofar, aku akhirnya bisa menikah denganmu!"

"Aku benar-benar senang sekali ...."

Aku melangkah pergi terburu-buru seperti melarikan diri.

Begitu sampai di kediamanku, tubuhku lemas dan terduduk di tanah.

Aku datang ke Kota Kana waktu 10 tahun.

Di antara teman sebaya, aku hanya kenal Gofar.

Aku tidak tahu tata krama wanita bangsawan, sampai sering jadi bahan tertawaan di perjamuan.

Gofar yang selalu pasang badan membelaku.

Pada tahun saat usianya dewasa, dia keluar sebagai juara pertama perburuan musim hujan awal.

Kaisar bertanya apa hadiah yang dia inginkan.

Di hadapan seluruh pejabat dan wanita bangsawan, dia memberi hormat dengan sangat dalam.

Disaksikan langit dan bumi.

Dia menyatakan ingin menikahiku.

Saat itulah untuk pertama kalinya aku tidak peduli rasa malu, lalu langsung memeluknya di depan semua orang.

Aku masih ingat betul hari itu, semua orang tertawa gembira.

Kaisar mengibaskan tangan dengan penuh kemurahan hati.

Memberikan titah pernikahan resmi dari kerajaan.

Hidungku terasa perih, aku menyapu air mata di sudut mata.

Aku memanggil pelayan pribadiku.

"Nelly, ambil dokumenku, pergilah ke kantor pemerintahan. Katakan kalau aku tidak bisa memberikan keturunan selama bertahun-tahun, jadi tidak pantas menjadi seorang istri, lalu ajukan permohonan cerai atas kemauanku sendiri."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 17

    Kalimat yang diucapkannya ini bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kepastian.Seolah seluruh tenaganya sudah terkuras habis.Aku juga terkulai lemas di atas tempat tidur.Sinar lilin di kamar sudah padam.Kami saling bertatap mata.Begitu dekat hingga bisa melihat bayangan diri sendiri di mata masing-masing.Dia tidak salah ucap.Sebenarnya sejak awal, aku sudah tahu Gofar berpura-pura gila.Sewaktu muda dia sudah ikut ayah dan kakaknya ke medan perang.Adegan yang jauh lebih berdarah pun sudah pernah dia lihat.Umur sepuluh tahun, kepala ayah dan kakaknya dipenggal musuh di hadapan matanya.Esok harinya dia sudah bisa menyuruh orang membakar lumbung pangan musuh tanpa mengubah raut wajah.Dia pernah melihat adegan semengerikan itu.Bagaimana mungkin cuma karena Amel membohonginya, lalu dia bisa gangguan jiwa?Dia meraih kejayaan sewaktu muda, menanggung banyak penderitaan.Mengalami banyak kepahitan yang jarang dilihat orang lain.Kalau dihitung-hitung, aku seharusnya menjadi saksi s

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 16

    Aku tidak pernah mengira masalah ini akan sampai seperti ini.Semua orang bilang Gofar gangguan jiwa.Bahkan tabib istana utusan Kaisar sudah datang memeriksanya beberapa kali.Mereka hanya bilang, emosinya jangan dipancing dulu sekarang.Kalau didampingi orang dekat, masih ada kemungkinan untuk pulih.Tapi sewaktu dia masih muda, ayah dan kakaknya sudah gugur di medan perang.Ibunya bahkan sudah masuk ke kuil, sejak saat itu memutuskan hubungan duniawi sepenuhnya.Seketika itu juga, di dunia ini ternyata cuma aku yang paling dekat dengannya.Kaisar selalu mengingat jasa dan kontribusi Keluarga Gofar bagi negara.Sekarang kaisar hanya bisa memintaku mengalah untuk mendampingi di sisinya.Berputar-putar kembali, Kota Kana ini benar-benar menjadi sangkar yang mengurungku.Hanya saja, kali ini aku tidak menghadapinya seorang diri lagi.Reno dan Ibu yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke Kota Kana.Aku tidak menahannya.Gofar sebenarnya tidak gila sepenuhnya.Dia cuma tidak b

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 15

    Gofar terbangun di tengah malam.Di sisinya tidak ada bayanganku.Dia agak linglung. Semalam dia ingat betul dirinya memelukku.Tapi, sesaat kemudian dia mendadak sadar sepenuhnya.Dia ternyata salah mengenali orang.Rasa penyesalan menyelimutinya berlapis-lapis.Dia tidak sanggup menahan diri untuk menampar mukanya sendiri.Tapi, begitu teringat pada Amel, dia merasa agak bersalah.Makanya dia bangun hendak mencari Amel.Baru saja sampai di pekarangan, dia melihat Amel berdiri di sudut ruangan.Sebelum dia sempat bersuara.Suara lain terdengar dari balik bayangan."Sudah dicari tahu belum, apa Listya benar-benar sudah kembali?"Cahaya bulan yang terang memancarkan bayangan di wajah Amel.Membuat separuh wajahnya tenggelam dalam kegelapan.Malam makin pekat, dirinya juga tampak sedikit mengerikan seperti iblis."Sudah kembali dari dulu! Bagaimana sih caramu bekerja? Bukannya dulu kamu bilang dia sudah mati, kok bisa-bisanya sekarang pulang dengan baik-baik saja?"Bayangan hitam menekan

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 14

    Aku tersenyum."Gofar, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa hidup kalau kehilangan orang lain, tiga tahun ini bukannya sudah jadi bukti nyata?"Gofar tertegun."Kamu bilang tidak bisa hidup tanpa aku, bukan karena kamu sangat mencintaiku, tapi cuma karena aku bukan milikmu lagi.""Sikapmu padaku begini, pada Amel juga sama saja."Aku berhenti sejenak lalu kembali bersuara."Dulu kamu bilang cuma bakal mencintai aku seorang, lalu waktu pergi ke Jakari kamu bawa pulang Amel. Saat itu, matamu juga memancarkan rasa cinta padanya, jelas-jelas kami berdua ada di hadapanmu, tapi hatimu selalu condong padanya.""Soal masalah penjara waktu itu, apa kamu benar-benar tidak punya niat pribadi sama sekali? Kamu cuma ingin melihatku tunduk dan mengaku salah, cuma tidak menyangka aku bakal hampir kehilangan separuh nyawaku gara-gara itu."Wajah Gofar makin pucat.Dia ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka, tapi pada akhirnya tidak ada satu kata pun yang terucap."Kamu terus-menerus menemp

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 13

    Gofar mengenakan jubah panjang warna biru tua.Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebelumnya.Begitu melihatku, sudut matanya seketika memerah.Rika pernah memberitahuku, setelah aku pergi, Gofar berubah seperti orang yang berbeda, dia tidak pernah menunjukkan wajah ramah pada siapa pun, alhasil bertahun-tahun ini sudah menyinggung banyak orang.Berhubung keberadaanku sudah ketahuan, aku tidak perlu bersembunyi lagi.Pandangan kami bertabrakan, aku bersuara pelan."Sudah lama tidak bertemu."Suaranya sangat serak, seluruh tubuhnya gemetaran karena terlalu emosional."Aku sudah tahu, kamu tidak mati! Maafkan aku, waktu itu aku salah sangka, aku tidak seharusnya ambil keputusan secara gegabah hanya karena melihat liontin giok itu.""Listya, apa kamu masih benci aku? Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau mereka bakal lancang menyiksamu."Aku pernah memikirkan masalah ini sebelumnya.Soal apakah aku membenci Gofar atau tidak.Kalau bilang tidak benci itu terlalu munafik.Dua kehidupa

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 12

    Setelah tubuhku pulih total.Aku mulai membantu adikku, Reno Sukowati mengurus bisnis.Perbatasan terletak dekat dengan Barata, orang-orang di sana sangat menyukai rempah-rempah.Sejak kecil adikku tidak suka berlatih pedang atau tombak.Dia cuma tertarik pada uang.Keluarga kami tidak pernah mewajibkan semua anak laki-laki harus pergi ke medan perang.Makanya bisnis yang dijalankannya terbilang lumayan besar.Hanya saja, sewaktu awal aku mengusulkan untuk membantu mengurus bisnis Reno, ibu menentang keras.Hanya karena bisnis Reno menuntut untuk bepergian jauh ke utara dan selatan, Ibu mengkhawatirkan kondisi tubuhku.Belakangan setelah kakakku, Dimas, dan Reno membujuknya berulang kali.Barulah ibu menyetujuinya dengan berat hati.Hari saat berangkat.Ibu memasangkan jubah tebal warna merah padaku, matanya berkaca-kaca penuh air mata."Listya, kalau kamu lelah, kirim saja surat ke rumah, ibu akan suruh Dimas untuk jemput kamu."Melihatnya bicara sambil mau menangis lagi.Reno memasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status