Share

Bab 2

Penulis: Soni
Nelly tertegun, matanya seketika berkaca-kaca.

"Nyonya?"

Aku memejamkan mata.

"Cepat pergi."

Malam harinya, setelah selesai berkemas, aku baru bersiap untuk tidur.

Gofar mendorong pintu dan melangkah masuk.

Meski dia berupaya keras menyembunyikannya, aku tetap bisa melihat binar bahagia di wajahnya.

"Malam ini kenapa tidak pergi menemani Nona Amel?"

"Dia belum punya status resmi."

Aku hanya ber-oh pelan.

Lalu memalingkan badan dan berbaring.

"Besok aku akan kasih tahu pelayan untuk menyiapkan tempat tinggalnya sesuai tingkatan selir saja."

"Baik."

Terdengar suara kasur berisik.

Dia menyusup ke dalam selimut dan berbaring di sampingku.

Tangannya melingkar di pinggangku.

"Listya."

Tubuhku seketika kaku.

Di dalam kegelapan, kami tidak bisa saling melihat wajah satu sama lain.

"Terima kasih."

"Iya."

Pihak kantor pemerintahan segera mengirimkan surat cerai itu.

Angin sepoi berembus di luar rumah, menyapu guguran daun kering yang menandakan musim hujan sudah dekat.

Pelayan menyerahkan sebuah buku catatan.

Berisi daftar barang-barang yang dibutuhkan untuk pesta pernikahan.

Nelly bertanya bingung.

"Nyonya, kenapa harus repot-repot menyerahkan Nona Amel ke sisi Tuan?"

"Tuan sangat menyayangi Nyonya. Kalau Nyonya tidak setuju, Nona Amel mungkin tidak akan masuk ke rumah ini ...."

Aku meletakkan buku catatan di tanganku, lalu menghela napas pelan.

"Hatinya saja sudah tidak padaku, buat apa mengikat orang yang sudah tidak mau bersamaku?"

Lagi pula hanya mengangkat selir, tata kramanya tidak perlu serumit itu.

Tapi, bagaimanapun Amel berbeda.

Aku menghabiskan waktu seharian untuk memeriksa buku catatan itu, sebelum akhirnya selesai memutuskannya.

Baru saja memegang cangkir teh.

Terdengar pelayan datang melapor.

"Nyonya, tuan yang mengawal perjalanan Kaisar disergap penjahat!"

Aku mendadak berdiri dengan gerakan yang sangat berlebihan.

Teko yang baru diseduh tidak sengaja tersenggol hingga tumpah.

Air teh panas menyiram tubuhku.

Kedua kakiku seketika terasa panas dan perih menyengat.

Nelly panik dan hendak memanggil tabib.

Tanpa berpikir panjang, aku menepis tangannya dan berlari ke pintu depan tanpa peduli rasa sakit.

Kebetulan embusan angin kencang menerpa.

Hujan yang tertahan seharian akhirnya tumpah dengan derasnya.

Nelly berlari di belakangku sambil membawa payung, mengingatkanku agar tidak berlari terlalu cepat.

Aku mengangkat ujung gaun, menerjang genangan air.

Melewati paviliun koridor.

Dari kejauhan, aku sudah melihat sosok Gofar yang digotong masuk di depan pintu.

Hatiku terasa sakit, aku baru saja mau melangkah maju.

Sosok tubuh lain mendahuluiku, menerobos tirai hujan.

Dia berlutut dan menungkupkan tubuh di samping Gofar.

Tetesan hujan menimpa tanah dengan riuh.

Amel memegang wajah Gofar sambil menangis sesenggukan.

"Kamu tahu tidak, betapa takutnya aku waktu dengar kabar kamu celaka?"

"Langit memberkati, aku bahkan rela menukar nyawaku asal kamu selamat."

"Gofar, waktu di Jakari aku sudah bilang, aku cuma punya kamu. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa, bagaimana aku bisa hidup sendirian?"

Mata Gofar ikut memerah, dia berusaha keras menggenggam tangan Amel.

"Maaf sudah bikin kamu khawatir. Jangan nangis lagi, ya. Nanti aku bakal jauh lebih hati-hati ...."

Itu adalah kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bahkan saat kami berdua sedang hangat-hangatnya saling mencintai, dia tidak pernah mengucapkan kata-kata menenangkan seperti itu padaku.

Pakaianku yang basah kuyup memancarkan rasa dingin.

Meresap perlahan sampai merasuk ke dalam tulang.

Aku menarik kembali kakiku yang sempat melangkah maju, lalu berbalik pergi.

Seolah-olah aku tidak pernah datang ke sana.

Orang bilang hujan di bulan September itu menenangkan.

Tapi, hujan malam ini justru mirip sekali dengan badai tropis.

Gemericiknya menghantam tanah, membuat hati siapa pun jadi gelisah.

Aku kehujanan.

Malam harinya tubuhku mendadak panas tinggi.

Dalam samar, aku mendadak teringat kehidupan lalu.

Saat Gofar pergi ke Jakari untuk menangani banjir, dia mendadak hilang kontak di tengah jalan.

Waktu itu dia sukses di usia muda dan sedang disayang kaisar.

Dia sudah lama menjadi duri dalam daging bagi orang-orang di istana.

Selama hari-hari dia menghilang, aku sendirian di Kota Kana menjaga seluruh keluarga.

Setiap hari diliputi rasa cemas dan ketakutan.

Waktu itu aku juga berpikir, kalau dia benar-benar meninggal.

Bagaimana aku bisa bertahan hidup sendirian di Kota Kana yang begitu besar ini?

Tapi, surat-surat yang kubaca belakangan itu.

Saat dia mengungkit masa lalu itu.

Dia hanya menyalahkanku karena mengusir Amel, hingga membuatnya tidak bisa membalas budi penyelamat nyawanya.

Rasa takut, kesendirian, dan kerinduan siang-malamku.

Sama sekali tidak pernah disinggung sedikit pun olehnya.

Kalau dipikir-pikir sekarang, sejak dia membawa Amel pulang ke rumah.

Hubungan kami sebenarnya sudah berakhir.

Kebersamaan selama 30 tahun itu hanyalah kebodohanku yang berjuang sendirian.

Kalau memang begitu.

Di kehidupan ini, aku memilih melepaskannya.

Dan juga melepaskan diriku sendiri.

Kebetulan ada surat dari keluarga di perbatasan.

Adik bungsuku akan menikah dengan wanita dambaannya.

Pernikahan akan digelar dalam waktu dekat.

Aku pernah mengirim surat sebelumnya.

Menyebutkan bahwa aku ingin pulang sebentar ke rumah.

Kini balasan surat itu sudah kuterima.

Tulisan tangan ayah tampak tegas dan bertenaga.

[Listya, lima hari lagi Ayah akan suruh orang untuk menjemputmu.]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 17

    Kalimat yang diucapkannya ini bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah kepastian.Seolah seluruh tenaganya sudah terkuras habis.Aku juga terkulai lemas di atas tempat tidur.Sinar lilin di kamar sudah padam.Kami saling bertatap mata.Begitu dekat hingga bisa melihat bayangan diri sendiri di mata masing-masing.Dia tidak salah ucap.Sebenarnya sejak awal, aku sudah tahu Gofar berpura-pura gila.Sewaktu muda dia sudah ikut ayah dan kakaknya ke medan perang.Adegan yang jauh lebih berdarah pun sudah pernah dia lihat.Umur sepuluh tahun, kepala ayah dan kakaknya dipenggal musuh di hadapan matanya.Esok harinya dia sudah bisa menyuruh orang membakar lumbung pangan musuh tanpa mengubah raut wajah.Dia pernah melihat adegan semengerikan itu.Bagaimana mungkin cuma karena Amel membohonginya, lalu dia bisa gangguan jiwa?Dia meraih kejayaan sewaktu muda, menanggung banyak penderitaan.Mengalami banyak kepahitan yang jarang dilihat orang lain.Kalau dihitung-hitung, aku seharusnya menjadi saksi s

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 16

    Aku tidak pernah mengira masalah ini akan sampai seperti ini.Semua orang bilang Gofar gangguan jiwa.Bahkan tabib istana utusan Kaisar sudah datang memeriksanya beberapa kali.Mereka hanya bilang, emosinya jangan dipancing dulu sekarang.Kalau didampingi orang dekat, masih ada kemungkinan untuk pulih.Tapi sewaktu dia masih muda, ayah dan kakaknya sudah gugur di medan perang.Ibunya bahkan sudah masuk ke kuil, sejak saat itu memutuskan hubungan duniawi sepenuhnya.Seketika itu juga, di dunia ini ternyata cuma aku yang paling dekat dengannya.Kaisar selalu mengingat jasa dan kontribusi Keluarga Gofar bagi negara.Sekarang kaisar hanya bisa memintaku mengalah untuk mendampingi di sisinya.Berputar-putar kembali, Kota Kana ini benar-benar menjadi sangkar yang mengurungku.Hanya saja, kali ini aku tidak menghadapinya seorang diri lagi.Reno dan Ibu yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke Kota Kana.Aku tidak menahannya.Gofar sebenarnya tidak gila sepenuhnya.Dia cuma tidak b

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 15

    Gofar terbangun di tengah malam.Di sisinya tidak ada bayanganku.Dia agak linglung. Semalam dia ingat betul dirinya memelukku.Tapi, sesaat kemudian dia mendadak sadar sepenuhnya.Dia ternyata salah mengenali orang.Rasa penyesalan menyelimutinya berlapis-lapis.Dia tidak sanggup menahan diri untuk menampar mukanya sendiri.Tapi, begitu teringat pada Amel, dia merasa agak bersalah.Makanya dia bangun hendak mencari Amel.Baru saja sampai di pekarangan, dia melihat Amel berdiri di sudut ruangan.Sebelum dia sempat bersuara.Suara lain terdengar dari balik bayangan."Sudah dicari tahu belum, apa Listya benar-benar sudah kembali?"Cahaya bulan yang terang memancarkan bayangan di wajah Amel.Membuat separuh wajahnya tenggelam dalam kegelapan.Malam makin pekat, dirinya juga tampak sedikit mengerikan seperti iblis."Sudah kembali dari dulu! Bagaimana sih caramu bekerja? Bukannya dulu kamu bilang dia sudah mati, kok bisa-bisanya sekarang pulang dengan baik-baik saja?"Bayangan hitam menekan

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 14

    Aku tersenyum."Gofar, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa hidup kalau kehilangan orang lain, tiga tahun ini bukannya sudah jadi bukti nyata?"Gofar tertegun."Kamu bilang tidak bisa hidup tanpa aku, bukan karena kamu sangat mencintaiku, tapi cuma karena aku bukan milikmu lagi.""Sikapmu padaku begini, pada Amel juga sama saja."Aku berhenti sejenak lalu kembali bersuara."Dulu kamu bilang cuma bakal mencintai aku seorang, lalu waktu pergi ke Jakari kamu bawa pulang Amel. Saat itu, matamu juga memancarkan rasa cinta padanya, jelas-jelas kami berdua ada di hadapanmu, tapi hatimu selalu condong padanya.""Soal masalah penjara waktu itu, apa kamu benar-benar tidak punya niat pribadi sama sekali? Kamu cuma ingin melihatku tunduk dan mengaku salah, cuma tidak menyangka aku bakal hampir kehilangan separuh nyawaku gara-gara itu."Wajah Gofar makin pucat.Dia ingin mengatakan sesuatu, bibirnya terbuka, tapi pada akhirnya tidak ada satu kata pun yang terucap."Kamu terus-menerus menemp

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 13

    Gofar mengenakan jubah panjang warna biru tua.Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebelumnya.Begitu melihatku, sudut matanya seketika memerah.Rika pernah memberitahuku, setelah aku pergi, Gofar berubah seperti orang yang berbeda, dia tidak pernah menunjukkan wajah ramah pada siapa pun, alhasil bertahun-tahun ini sudah menyinggung banyak orang.Berhubung keberadaanku sudah ketahuan, aku tidak perlu bersembunyi lagi.Pandangan kami bertabrakan, aku bersuara pelan."Sudah lama tidak bertemu."Suaranya sangat serak, seluruh tubuhnya gemetaran karena terlalu emosional."Aku sudah tahu, kamu tidak mati! Maafkan aku, waktu itu aku salah sangka, aku tidak seharusnya ambil keputusan secara gegabah hanya karena melihat liontin giok itu.""Listya, apa kamu masih benci aku? Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau mereka bakal lancang menyiksamu."Aku pernah memikirkan masalah ini sebelumnya.Soal apakah aku membenci Gofar atau tidak.Kalau bilang tidak benci itu terlalu munafik.Dua kehidupa

  • Janji Lama yang Tertiup Angin   Bab 12

    Setelah tubuhku pulih total.Aku mulai membantu adikku, Reno Sukowati mengurus bisnis.Perbatasan terletak dekat dengan Barata, orang-orang di sana sangat menyukai rempah-rempah.Sejak kecil adikku tidak suka berlatih pedang atau tombak.Dia cuma tertarik pada uang.Keluarga kami tidak pernah mewajibkan semua anak laki-laki harus pergi ke medan perang.Makanya bisnis yang dijalankannya terbilang lumayan besar.Hanya saja, sewaktu awal aku mengusulkan untuk membantu mengurus bisnis Reno, ibu menentang keras.Hanya karena bisnis Reno menuntut untuk bepergian jauh ke utara dan selatan, Ibu mengkhawatirkan kondisi tubuhku.Belakangan setelah kakakku, Dimas, dan Reno membujuknya berulang kali.Barulah ibu menyetujuinya dengan berat hati.Hari saat berangkat.Ibu memasangkan jubah tebal warna merah padaku, matanya berkaca-kaca penuh air mata."Listya, kalau kamu lelah, kirim saja surat ke rumah, ibu akan suruh Dimas untuk jemput kamu."Melihatnya bicara sambil mau menangis lagi.Reno memasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status