เข้าสู่ระบบSepuluh tahun telah kuhabiskan untuk menemani Bagas Abimana, dari seorang pangeran yang hidup dalam keterpurukan hingga akhirnya naik ke takhta tertinggi. Namun, tepat setelah dia dinobatkan sebagai Raja, hal pertama yang kulakukan justru mengajukan permohonan untuk menghapus namaku dari daftar abdi istana dan meninggalkan istana. Sesuai peraturan istana, dayang biasa boleh meninggalkan istana pada usia 25 tahun. Tahun ini usiaku sudah 27 tahun, dua tahun lebih lambat dari seharusnya. Sudah waktunya aku keluar dan menikah. Setelah menyelesaikan pendaftaran di Biro Urusan Dalam Istana, sang kepala pengawas memberitahuku untuk kembali setengah bulan lagi guna mengambil surat jalan, dan saat itulah aku resmi boleh keluar istana. Mendengar jawabannya, aku menghela napas lega, seolah beban berat terangkat dari pundakku. Dalam perjalanan kembali ke kediaman, baru saja melangkah ke gerbang istana, aku melihat para dayang dan kasim berlutut di sepanjang jalan. Mata mereka sembab dan merah karena menangis, tubuh mereka gemetar ketakutan. Begitu melihatku, mereka seolah melihat penyelamat. "Bibi Maya! Anda akhirnya kembali!"
ดูเพิ่มเติมSatu jam kemudian, orang-orang dari istana datang dan menjemput Bagas.Belakangan, aku baru tahu bahwa para pembunuh yang datang pada hari itu adalah sisa-sisa pengikut Keluarga Pradipta.Ketika Bagas sadar, dia telah kehilangan ingatannya.Namun, semua orang di istana tahu, betapa pun sibuknya urusan negara, dia tetap rutin merawat bunga melati di Taman Kerajaan setiap hari.Hari-hari terus berlalu dengan tenang di kota kecil ini. Aku dan Novan tetap menjalani kehidupan kami yang damai. Suatu hari, saat aku sedang tekun menyulam gambar bunga peony di sebuah toko sulam, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu. Kuletakkan jarum sulam di tanganku, lalu bangkit untuk melihat ke luar. Kulihat sekelompok pengawal berpakaian megah mengelilingi sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di depan kedai sulam.Tirai kereta itu disingkap perlahan dan seorang wanita berparas anggun turun dengan perlahan.Saat kutatap lebih saksama, ternyata itu adalah Santi.Dia mengenakan gaun istana berwarn
Bagas berdiri di depan pintu, menatap sosok yang begitu familier itu. Beribu kata tertahan di tenggorokannya, seketika dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Dia perlahan melangkah masuk ke halaman dan memanggil dengan suara lirih, "Maya ...."Mendengar suara itu, aku sontak menoleh. Saat melihat Bagas, seluruh tubuhku seketika membeku. Novan secara naluriah melindungiku di belakangnya, menatap Bagas dengan waspada.Tatapan Bagas melewati sosok Novan dan langsung tertuju kepadaku. Matanya dipenuhi kasih sayang dan rasa bersalah. "Maya, aku sudah mencarimu begitu lama."Aku selalu mengira saat bertemu dengannya lagi, hatiku akan dipenuhi kebencian. Namun, tak kusangka, hatiku justru terasa begitu tenang. Melihat reaksiku, Bagas memelukku erat bagaikan orang yang kehilangan akal. "Maya, aku sangat merindukanmu. Kembalilah ke istana bersamaku, jadilah Ratuku, apa kamu mau?"Aku mendorongnya menjauh, raut wajahku datar tanpa ekspresi sedih maupun senang. "Yang Mulia, silakan pulang."
Pada saat yang sama, aku dan Novan di kota kecil ini juga tidak tinggal diam.Kami dengan saksama mempelajari kitab kuno pemberian sang tetua, berusaha mencari lebih banyak bukti pemberontakan Keluarga Pradipta.Suatu hari, di sela-sela halaman kitab kuno, aku menemukan selembar perkamen yang telah menguning, penuh dengan simbol dan tanda-tanda aneh."Novan, cepat lihat ini!" seruku dengan gembira.Novan mendekat, meneliti perkamen itu dengan saksama, dahinya berkerut. "Simbol-simbol ini sepertinya semacam sandi. Mungkin ada kaitannya dengan konspirasi Keluarga Pradipta."Kami mulai mencari referensi ke sana kemari dan berkonsultasi dengan beberapa cendekiawan di kota, hingga akhirnya berhasil memecahkan arti dari simbol-simbol tersebut.Ternyata, perkamen itu mencatat lokasi dan waktu rahasia Keluarga Pradipta untuk menghubungi berbagai faksi."Ini penemuan yang sangat penting!" seru Novan dengan penuh semangat. "Dengan informasi ini, kita bisa menelusuri jejaknya dan menangkap seluru
Tiba-tiba, pintu kamar tidur terbuka, dan Ratih melangkah masuk dengan anggun."Yang Mulia, sudah lama Yang Mulia tidak menemaniku."Belum selesai dia berbicara, lehernya sudah dicekik oleh Bagas."Kamu sungguh mengira aku tidak berani membunuhmu?"Rasa sesak yang hebat menyergap, wajah Ratih seketika pucat pasi."Yang Mulia, Yang Mulia menyakitiku!"Bagas mengabaikannya, cengkeraman di tangannya makin mengencang.Terdengar suara "krek", Ratih merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, secara naluriah dia menggigit tangan Bagas yang mencekiknya.Bagas mengerutkan kening, lalu membenturkan kepala Ratih ke tiang ranjang.Sekali ... Dua kali ....Darah segar mengalir turun dari dahi Ratih, pemandangan itu tampak cukup mengerikan.Mata Bagas merah padam, bagaikan binatang buas yang kehilangan akal.Tepat sebelum kehilangan kesadaran, Ratih mencabut tusuk konde dari rambutnya dan menusukkannya dengan keras ke arah dada Bagas."Pengawal! Lindungi Yang Mulia!"Sekelompok pengawal menyerbu m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.