ログインRasa penasaran Ayu masih belum hilang. Sejak tadi ia terus “menginterogasi” Manda tentang Nenek Rosa dan keluarganya. Manda sudah menjelaskan segala yang ia ketahui, tetapi Ayu tetap saja merasa belum puas.
“Nda! Lihat ini!” seru Ayu tiba-tiba. Suaranya yang melengking membuat Manda tersedak es teh yang sedang ia minum. “Apa sih, Yu! Bajuku basah, nih,” gerutu Manda sambil melihat bercak teh di bajunya. Ayu tak menghiraukan protes itu. Ia menyodorkan ponselnya. “Ini lho. Kayaknya aku nemu. Ini kan orangnya?” Manda melihat foto pada artikel online yang ditampilkan. Di bawah foto itu tertulis nama Hendra Hadiwijaya, Presdir Wijaya Group. “Ini bukan?!” tanya Ayu penuh antusias. “Gak tahu,” jawab Manda santai sambil mengambil tisu untuk mengelap bajunya. “Lho, kok gak tahu?” “Gak tahu, Ayuu. Nenek Rosa gak nunjukin foto anaknya.” Ayu memanyunkan bibirnya, jelas kecewa. “Oh iya, nama cucunya Bu Rosa siapa? Yang kemarin datang itu?” “Daniel Hadiwijaya.” Ayu langsung mengetik nama itu di media sosial. Jari telunjuknya bergerak cepat di layar. “Ini bukan? Kemarin aku gak terlalu jelas lihat wajahnya,” katanya sambil menunjukkan layar lagi. Manda mengangguk. “Berarti betul, Nda! Dia ini anaknya Hendra Hadiwijaya di foto pertama tadi. Konglomerat itu, lho!” Manda hanya melanjutkan makan siangnya. Seperti biasa, ia dan Ayu istirahat di warung langganan dekat tempat kerjanya. Hari itu Manda memilih menu nasi dengan sayur sop, tempe-tahu goreng, dan sambal—menu sederhana yang sudah cukup membuatnya kenyang. “Nda, cucu keduanya yang di luar negeri itu siapa namanya?” tanya Ayu lagi. “Mau apa? Kan kamu udah tahu siapa Hendra Hadiwijaya.” “Kan belum komplit, Nda. Tadi baru bapaknya sama anak pertamanya.” “Ck,” desah Manda. “Namanya Arman.” Sekali lagi jari Ayu bergerak cepat di layar ponsel. “OMG!!!” teriaknya kencang sampai seluruh orang di warung menoleh. Manda langsung menunduk malu. “Yu, jangan teriak! Semua orang lihat kita,” bisiknya menegur. Ayu tak menggubris. Ia terus menatap layar dengan mata berbinar. “Ganteng banget, Nda! Ini sih level super model. Lihat deh!” Manda melirik. Seketika wajahnya memanas. Arman memang sangat tampan. Bahkan hanya melalui foto, pesonanya terasa kuat. “Kalau aku sih gak bakal nolak. Terima aja, Nda.” “Terima? Maksudmu apa?” “Ya perjodohanmu sama Arman, lah!” “Hustt, ngawur!” Manda memukul bahu Ayu pelan. “Gak ada yang dijodohkan, Yu. Tadi kan sudah kubilang, mereka cuma silaturahmi ke rumah.” “Cuma silaturahmi apanya? Kemarin kamu ditunjukin fotonya Arman, kan?” “Nenek Rosa cuma cerita sambil menunjukkan foto. Apa salahnya?” “Feeling-ku bilang ada maksud lain…” “Terserah, Yu. Capek ngomong sama kamu,” gumam Manda sambil kembali makan. --- Malam harinya, Manda berbaring santai di kamarnya sambil bermain ponsel. Ia membuka F******k, membaca status beberapa teman, lalu tiba-tiba wajah Arman muncul lagi di pikirannya. Entah kenapa ia sulit menghapus bayangan itu. Ia mengetik nama “Arman” di kolom pencarian. Banyak nama muncul, tetapi tidak ada yang cocok. Ia pun beralih ke I*******m. Kali ini lebih beruntung. Ia menemukan akun Arman—namun dikunci. “Kenapa mesti dikunci sih…” batinnya. Jempolnya menggantung di tombol follow request, ragu apakah harus menekan atau tidak. Namun sebelum sempat memutuskan, suara ketukan terdengar. “Mba, ada yang cari di luar,” ujar Surya sambil menyembulkan kepala. “Siapa?” “Mas Bram.” Manda langsung duduk tegak. Ia melirik jam dinding: sudah jam delapan malam. “Mas Bramnya di mana?” “Di teras depan sama Bapak.” “Ya sudah, bentar ya.” Setelah Surya pergi, Manda cepat-cepat merapikan rambutnya, mengikatnya dengan scrunchie, lalu keluar kamar. Dari kejauhan ia mendengar suara Bapak dan Bram mengobrol. “Mas Bram,” sapanya ketika tiba di teras. Bram segera berdiri. “Nda.” Begitu melihat Manda, Bapak bangkit. “Bapak masuk dulu, ya. Sudah ada Manda.” Kini hanya mereka berdua. Mereka duduk, tetapi suasana mendadak canggung. Beberapa kali saling melirik lalu tersenyum malu. “Mas Bram dari mana?” tanya Manda akhirnya. “Dari rumah. Memang mau main ke sini. Mas ganggu ya?” “Enggak kok. Tadi Manda cuma santai di kamar.” Percakapan pun mengalir perlahan. Bram bercerita soal kuliahnya di Yogya, teman-teman kos, hingga jarak tempat tinggal ke kampus. Manda menanggapinya dengan ramah. Hening kembali menyergap. “Nda…” Bram menarik napas dalam. “Mas mau ngomong sesuatu.” “Mau ngomong apa, Mas?” “Mas… bingung mulainya.” Bram mengusap kedua telapak tangannya di celana jeans, gelisah. “Mas… suka sama Manda.” Manda terkejut. Pipinya memanas. Badannya terasa dingin, namun anehnya juga hangat. Lidahnya mendadak ikut kelu. “Mas suka sama Manda sejak kita sekolah bareng,” lanjut Bram dengan suara pelan. “Mas cuma gak berani bilang. Takut ditolak. Sekarang… Mas memberanikan diri datang ke sini. Mas cuma mau tanya… Manda mau menerima perasaan Mas?” Manda menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya. Ia tak siap. Ini pertama kalinya ia ditodong pernyataan cinta secara langsung. Melihat itu, Bram menambahkan dengan lembut, “Nda gak perlu jawab sekarang. Mas bisa nunggu. Jawab kalau Manda sudah siap.” “I… iya, Mas. Maaf…” suara Manda hampir tak terdengar. “Gak usah minta maaf. Mas yang tiba-tiba ngomong kayak gini.” Manda hanya tersenyum malu. “Mas pulang dulu, ya. Sudah malam.” “Iya, Mas. Makasih sudah mampir.” “Titip salam buat Bapak dan Ibu.” “In syaa Allah.” “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.”“Wah, anak itu kebangetan!” Daniel mendengus kesal. “Arman sama sekali nggak pernah menghubungi Manda?”Tamara mengangguk pelan sambil memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sejak tadi ia pendam.Malam sudah larut. Lampu kamar mereka menyala temaram. Daniel dan Tamara duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan piyama, berbincang di ruang paling privat mereka, tempat segala keluh kesah akhirnya terucap tanpa ditahan.“Biar aku telepon dia sekarang,” ujar Daniel tegas sambil meraih ponselnya.“Eh, jangan, Sayang.” Tamara buru-buru menahan tangannya. “Kasihan Manda. Kalau kamu marahi Arman, nanti Manda malah dituduh tukang ngadu. Dia bisa makin disudutkan.”Daniel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.“Tapi ini juga nggak bisa dibiarkan,” ujarnya kemudian, suaranya lebih rendah tapi sarat emosi. “Kasihan Manda kalau terus dicuekin seperti itu. Dia istrinya, bukan orang asing.”Tamara menghela napas, mengusap pelan lengan suaminya. “Iya… aku juga kepikir
Adelia pulang dari sekolah sore itu dengan tawa yang riuh. Ia menaiki anak tangga bersama beberapa teman perempuannya. Seragam internasional mereka tampak rapi dan modis. Langkah mereka ringan, penuh semangat remaja yang percaya diri.Di saat yang sama, Amanda sedang melintas di bawah tangga, hendak menuju ruang tengah.“Hei, kamu,” panggil Adelia dari atas anak tangga, nadanya tinggi dan sombong.Amanda berhenti melangkah, lalu mendongak. Tatapannya polos, nyaris tanpa perlawanan.“Bawakan minuman dan cemilan ke kamarku,” perintah Adelia singkat, seolah itu hal yang wajar.“Iya,” jawab Amanda lembut. Tak ada protes, tak ada ekspresi tersinggung. Hanya kepatuhan yang lahir dari kebiasaan menahan diri.Adelia kembali melangkah. Salah satu temannya mendekat, berbisik pelan namun cukup terdengar.“Siapa dia?”“Asisten baru,” jawab Adelia sambil tersenyum miring, senyum yang sengaja diperlihatkan.Kata itu sampai ke telinga Amanda. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia memilih diam. Ia me
Malam itu, New York diselimuti cahaya lampu kota yang berkilau. Di sebuah ballroom hotel bintang lima di Manhattan, pesta pernikahan berlangsung megah dan elegan. Langit-langit tinggi dihiasi kristal chandelier yang memantulkan cahaya keemasan. Meja-meja bundar tertata rapi dengan taplak putih gading, rangkaian bunga segar, serta lilin-lilin kecil yang menyala lembut. Alunan musik jazz mengalir pelan, bercampur dengan tawa para tamu undangan yang berdansa dan berbincang penuh sukacita.Pengantin baru baru saja menyelesaikan dansa pertama mereka. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan, disusul iringan musik yang kembali mengalun ceria.Di salah satu meja bundar, Arman duduk bersama teman-teman kuliahnya. Cyntia seorang wanita berkulit putih dengan rambut pirang tergerai rapi, Donny seorang pria berkulit putih dengan senyum usil khasnya, dan Chris seorang pria Afrika-Amerika bertubuh tinggi dengan tawa lepas yang selalu menular. Malam itu menjadi semacam reuni kecil di tengah kesibukan
Mobil berhenti di halaman rumah Hadiwijaya menjelang sore. Amanda turun paling akhir, langkahnya tertahan sejenak sebelum menapaki lantai marmer teras depan. Andien dan Adelia sudah lebih dulu turun, wajah mereka tampak puas setelah seharian berbelanja.Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, Andien tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Amanda, sorot matanya tajam dan dingin.“Kamu dengarkan baik-baik,” ucapnya lirih namun penuh tekanan. “Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini dengan tenang, jangan pernah mengadu pada Ibu tentang acara perkenalan yang batal.”Amanda menunduk dan mengangguk pelan. “I-iya, Ma.”Tidak ada bantahan. Tidak ada pertanyaan. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan, tidak sekarang, tidak di rumah yang bahkan belum benar-benar terasa seperti miliknya.Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menyusul dari belakang, membawa tas-tas belanjaan milik Andien dan Adelia. Suara langkah mereka bergema pelan di lantai yang mengilap.Bibi
Dua hari telah berlalu sejak kepergian Arman. Rumah Hadiwijaya kembali terasa tenang, terlalu tenang bagi Amanda. Pagi itu, mereka berkumpul di ruang keluarga. Nenek Rosa duduk di sofa utama, ditemani Amanda. Sementara Andien dan Adelia duduk di sisi lainnya.Setelah beberapa saat berbincang ringan, Nenek Rosa menoleh ke arah Andien.“Andien,” ujarnya, “kapan kita akan mengadakan pesta perkenalan untuk Amanda?”Andien tersenyum sopan, senyum yang terlatih dan tenang. “Menurutku… tidak perlu mengadakan pesta, Bu,” jawabnya hati-hati. Di dalam hatinya ia sama sekali tidak ingin memperkenalkan Amanda sebagai menantu keluarga Hadiwijaya.“Tidak perlu?” Nenek Rosa mengernyit. “Kenapa tidak? Kerabat dan teman-teman kita harus mengenal Amanda sebagai istri Arman.”Andien tampak berpikir, mencari alasan lain yang terdengar masuk akal. Namun sebelum ia sempat bicara, Adelia mendahului.“Nenek,” katanya dengan nada manis, “Nenek kan akhir-akhir ini kurang enak badan. Kalau mengadakan pesta di
Amanda membuka pintu kamar perlahan. Pandangannya menyapu ruangan, namun kamar itu kosong. Tidak ada Arman. Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti ketika telinganya menangkap suara air yang mengalir dari arah kamar mandi.Arman sedang mandi.Amanda menghela napas kecil, antara lega dan gugup. Ia menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di atas paha, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Ia menatap lantai sesaat, lalu ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat."Apa yang harus kukatakan nanti?Haruskah aku bertanya? Atau diam saja seperti biasa?" batinnya.Suara air itu terus mengalir, seolah memberi Amanda waktu untuk menata pikirannya. Waktu yang justru membuat dadanya semakin sesak.Tiba-tiba, ponselnya bergetar.Amanda terkejut kecil. Ia segera meraih ponsel di atas nakas. Nama Ibu tertera di layar. Dadanya menghangat seketika.“Ibu…” gumamnya lirih sebelum mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum, Nak,” suara ibunya terdengar dari seberang,







