LOGIN“Assalamu’alaikum,” ucap Amanda ketika memasuki rumah bersama Adi.
“Wa’alaikumsalam,” sahut suara dari dalam rumah. “Ini anak saya yang pertama, Amanda,” ujar Bapak memperkenalkan. Di ruang tamu, Amanda melihat Bapak, Ibu, Surya, dan tiga orang tamu yang belum pernah ia temui. Seorang wanita tua berusia sekitar enam puluh tahun duduk berdampingan dengan seorang wanita muda. Di kursi lainnya, duduk seorang pria muda. Cara berpakaian mereka menunjukkan bahwa mereka orang kota yang kaya—mewah, namun tetap elegan. “Nda, ayo salim,” suara Bapak membuyarkan perhatian Amanda. Ia segera mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan wanita tua itu. “Anakmu cantik, Wirjo,” puji wanita tersebut, membuat Amanda tersipu malu. “Bu Rosa bisa saja,” ujar Bapak sambil tertawa kecil. Ooh, jadi namanya Bu Rosa. Apa dia yang dipanggil Adi dengan sebutan Nenek? batin Amanda. “Itu cucuku, Daniel. Dan ini istrinya, Tamara,” Bu Rosa memperkenalkan dua tamu lainnya. Amanda menyalami mereka satu per satu. “Duduk sini di sebelah Nenek,” pinta Bu Rosa lembut. Amanda menurut. “Nenek ini teman Simbahmu. Dulu, sewaktu masih muda, Nenek juga tinggal di desa ini,” katanya. “Ibu Rosa asli sini?” tanya Amanda sopan. “Jangan panggil Ibu. Panggil saja Nenek.” “I-iya, Nek,” jawab Amanda canggung. “Nenek asli sini. Lalu orang tua Nenek membawa Nenek pindah ke Jakarta.” Bu Rosa tampak menerawang sejenak. “Sudah bertahun-tahun Nenek tidak pulang ke kampung halaman. Nenek baru dengar kabar kalau Simbahmu sudah meninggal. Sayang sekali, Nenek tidak sempat bertemu teman baik Nenek.” Tamara memegang bahu Bu Rosa, memberi semangat. Bu Rosa menoleh dan tersenyum tipis. “Maaf, Bu Rosa. Saya tidak mengabari Ibu soal meninggalnya Mak. Saya tidak tahu nomor telepon Ibu. Tidak tahu harus menghubungi ke mana,” ujar Bapak. “Tidak apa-apa, Wirjo.” “Nenek jangan sedih. Saya yakin teman Nenek senang melihat Nenek berkunjung ke sini,” ujar Daniel, mencoba menghibur. Semua mengangguk setuju. “Amanda kerja di mana?” tanya Tamara, mengalihkan suasana. “Di usaha rumahan cemilan, Mba.” “Bagian produksi?” “Iya.” “Usianya sekarang berapa?” “19 tahun.” “Beda enam tahun dengan Arman,” ujar Bu Rosa tiba-tiba. “Arman cucu bungsu Nenek,” jelas Tamara. “Arman masih di luar negeri. Setelah lulus SMA, dia kuliah di Amerika. Sekarang bekerja di sana,” tambah Bu Rosa. Nada suaranya penuh kebanggaan—jelas Arman adalah cucu kesayangannya. Pembicaraan kemudian mengalir. Mereka bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Bu Rosa bercerita tentang putranya, Hendra Hadiwijaya, dan menantunya, Andien. Dari pernikahan keduanya, Bu Rosa memiliki dua cucu: Daniel dan Arman. Daniel menikah dengan Tamara dan sudah memiliki tiga anak, sementara Arman belum menikah. Bu Rosa lalu menunjukkan foto Arman di ponselnya. “Ini Arman. Tampan, kan?” Mata Amanda terbelalak. Pemuda di foto itu tampak luar biasa tampan—wajah seperti pangeran, tubuh tinggi dan atletis, kulit putih bersih, rambut hitam legam, dan sorot mata yang tajam. Ia sama sekali tidak menemukan kekurangan. “Sepertinya Manda nggak bisa berkedip lihat foto Arman,” goda Tamara. Mereka menertawakan Amanda. Wajahnya merah padam, dan ia menunduk malu. Dasar Manda, jaga mata dong, ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Tak terasa hari mulai gelap. Bu Rosa dan keluarganya pamit pulang. Bapak dan Ibu Amanda menawarkan mereka menginap, tetapi Daniel menolak halus, mengatakan bahwa mereka sudah memesan hotel. Sebelum pergi, Bu Rosa meminta Daniel memotret dirinya bersama Amanda. Katanya, sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, mereka keluar rumah bersama-sama. Sopir pribadi mereka sudah menunggu di dekat mobil, membukakan pintu belakang untuk Bu Rosa dan Tamara. Daniel duduk di samping sopir. Perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah Amanda. --- Ketika Amanda baru saja melipat mukenanya setelah sholat Maghrib, suara notifikasi ponselnya berbunyi. Ia melirik layar yang menyala. Ayu. Pasti penasaran soal tamu tadi. “Ada apa, Yu?” tulis Amanda. “Siapa tamu tadi, Nda?” “Temen Simbahku dari Jakarta.” “Orang kaya ya? Kelihatan banget dari mobilnya. Tadi aku sempet ngintip dari jendela rumahku.” “Jangan suka ngintip. Ntar timbilan lho.” “Mereka mau ngapain?” “Silaturahmi.” “Silaturahmi atau silaturahmi?” “Beneran silaturahmi.” “Masa cuma silaturahmi? Pasti ada maksud lain. Firasatku bilang ada udang di balik bakwan.” “Iiihh, udah ah. Aku mau bantu Ibu nyiapin makan malam. Sambung besok lagi.” “Eehh, jangan dulu dong, Nda.” Amanda meletakkan ponselnya di ranjang. Jika dituruti, Ayu pasti akan menginterogasinya sampai pagi.Beberapa hari berlalu dengan tenang, sebelum badai kecil itu datang.Andien baru saja keluar dari kamar utamanya ketika ia melihat dua pelayan membawa seprai bersih dan rangkaian bunga segar.Para pelayan yang berpapasan dengannya segera menunduk hormat.“Selamat pagi, Nyonya.”Andien mengangguk singkat, tapi keningnya sudah berkerut.Kedua pelayan itu berjalan menuju kamar tamu di ujung lorong. Pintu kamar itu terbuka. Di dalamnya, Bibi Ningsih tampak mengawasi proses pembersihan dengan teliti.“Ningsih,” panggilnya tajam. “Kenapa kamar tamu dibersihkan?”Bibi Ningsih menoleh, sedikit terkejut. “Nyonya Manda yang menyuruh kami, Nyonya. Katanya keluarganya mau datang besok.”“Apa?” Suara Andien meninggi. “Keluarganya?”Ada jeda sepersekian detik sebelum amarahnya benar-benar menyala. “Di mana dia sekarang?”“Ada di bawah, Nyonya. Di ruang tengah.”Tanpa berkata apa-apa lagi, Andien berbalik dan melangkah cepat menuju tangga. Hak sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan bunyi
Lampu kamar Arman masih menyala meski malam sudah larut. Layar laptop memantulkan cahaya kebiruan di wajahnya yang lelah. Slide presentasi untuk besok pagi terbuka penuh grafik dan angka. Jemarinya bergerak cepat di keyboard, sesekali berhenti untuk mengusap pelipis.Ia menyandarkan punggung sebentar, menarik napas panjang.Tiba-tiba ponselnya bergetar. Video call dari Cyntia.Arman menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil tripod kecil di meja samping tempat tidur. Ia meletakkan ponselnya di samping laptop, lalu menerima panggilan.Wajah Cyntia muncul di layar, dengan latar kamar hotel yang asing.“Hey. What are you up to?” tanyanya ringan.(Hei. Kamu sedang apa?)“Working,” jawab Arman. “Big presentation tomorrow. Just wrapping things up.”(Kerja. Besok ada presentasi besar. Aku membereskan beberapa hal dulu)“Oof. Did I catch you at a bad time?”(Oh. Apa aku mengganggumu?)“Nah. I’m done anyway.”(Nggak. Aku sudah selesai)Cyntia menyipitkan mata. “Okay… so. What’s
Meja makan itu terlalu panjang untuk dua orang. Permukaannya berkilau, memantulkan cahaya lampu kristal di atasnya. Piring porselen tersusun rapi, sendok perak berderet sempurna. Semuanya tampak megah, tapi terasa hening.Amanda duduk di kursi tepat di sebelah Nenek Rosa.“Nenek senang akhirnya ada yang menemani makan siang,” ujar Nenek Rosa lembut, memandang Amanda dengan mata berbinar. “Biasanya Nenek duduk sendirian di meja sebesar ini. Putra Nenek, Hendra, sibuk dengan perusahaannya. Menantu Nenek sibuk dengan kehidupan sosialitanya. Adelia pulang sekolah sore.”Amanda tersenyum kecil, hatinya menghangat sekaligus terenyuh.“Nenek beruntung memilikimu di rumah ini, Manda.”Ucapan itu sederhana, tapi terasa tulus. Amanda menunduk sedikit, merasa dihargai.“Aku juga senang bisa menemani Nenek,” jawabnya pelan. Dan ia sungguh-sungguh.Nenek Rosa menyendok supnya perlahan, lalu tersenyum samar, seolah sedang melihat masa lalu yang jauh.“Kehidupan di ibu kota ini keras,” katanya pelan
Kafe kecil di sudut jalan itu tak terlalu ramai. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Arman duduk sendirian di meja dekat jendela, setelan kerjanya masih rapi meski wajahnya sedikit lelah karena kurang tidur.Ponselnya bergetar di atas meja.Nama Cyntia muncul di layar.Arman tersenyum kecil sebelum mengangkatnya.“Are you serious?” Suara Cyntia terdengar tajam begitu sambungan terhubung. Jelas ia sudah membaca pesan Arman sebelumnya.(Kamu serius?)“Yeah, last night she came to my apartment,” jawab Arman tenang, seolah itu bukan hal besar.(Ya, semalam dia datang ke apartemenku)Di seberang sana terdengar helaan napas tak percaya. “I can’t believe she’s back.”(Aku nggak percaya dia kembali)Arman menatap lalu-lalang orang di luar jendela. “You sound like you don’t want her to get better.”(Kamu kedengarannya nggak suka dia sembuh?)“Don’t twist my words,” balas Cyntia cepat. “Of course I’m glad she’s out of her coma. But… she’s here? In New York? In your apartment? I don’t l
Pintu lift terbuka dengan bunyi ding pelan. Arman melangkah keluar ke lorong lantai tiga apartemennya. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang mengilap. Jasnya masih tersampir rapi, tapi wajahnya menyiratkan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Ia berjalan menyusuri lorong yang sunyi, hanya terdengar gema langkah sepatunya sendiri. Namun langkah itu terhenti. Di depan pintu apartemennya, seorang wanita duduk bersandar pada dinding. Rambut pirangnya terurai jatuh di punggung, kulitnya pucat diterpa cahaya lampu lorong. Sebuah koper kecil terletak di sampingnya, seolah ia sudah menunggu cukup lama. Wanita itu menoleh ketika mendengar suara langkah Arman. Mata mereka bertemu. Wanita itu segera berdiri. Ada kilatan harap dan kerinduan yang tak tersamar di matanya. Bibirnya membentuk senyum yang hampir gemetar. “Melissa?” suara Arman tercekat. Nama itu meluncur begitu saja, antara terkejut dan tak percaya. Ia tak menyangka akan mel
Makan malam itu berlangsung hangat di ruang makan keluarga Daniel. Meja panjang tertata rapi, namun suasananya jauh dari kesan kaku.Tomy dan Widuri duduk berdampingan, sesekali sibuk dengan makanan mereka, sesekali saling berbisik kecil.Amanda duduk berhadapan dengan Tamara, sementara Daniel berada di ujung meja.Obrolan ringan mengalir begitu saja. Daniel beberapa kali melontarkan candaan, membuat Tamara tertawa, bahkan terkadang tersipu ketika suaminya melontarkan godaan kecil yang terlalu terang-terangan.“Kamu itu, ya… di depan anak-anak,” tegur Tamara setengah malu.“Biar mereka tahu,” jawab Daniel santai. “Papa mereka ini romantis sejak muda.”Tomy dan Widuri terkikik, sementara Amanda hanya tersenyum, hatinya terasa hangat melihat kemesraan itu. Ada rasa kagum yang tak bisa ia sembunyikan.“Kalian mengingatkanku pada orang tuaku,” ujar Amanda akhirnya. “Pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, tapi masih seperti orang pacaran.”Daniel terkekeh. “Benarkah? Wah, berarti kami







