Mag-log inKarena pengakuan cinta dari Mas Bram, Manda tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ia terus memikirkan jawaban apa yang harus ia sampaikan. Di satu sisi, hatinya begitu bahagia mengetahui bahwa perasaannya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Manda lalu meminta pendapat Ayu. Mendengar cerita itu, Ayu langsung bersorak girang. Tanpa ragu ia menyuruh Manda menerima perasaan Mas Bram.
“Apa aku pantas untuk Mas Bram?” tanya Manda ragu-ragu.
“Ya ampun, Nda. Apanya yang nggak pantas? Kalau Mas Bram sudah bilang suka, berarti dia anggap kamu pantas,” balas Ayu mantap.
“Tapi….”
“Gak ada tapi-tapian! Terima, Nda. Atau nanti kamu menyesal,” desaknya.
Setelah berpikir panjang, Manda akhirnya memutuskan untuk menemui Mas Bram. Sehari sebelum pria itu kembali ke Yogya, mereka sepakat bertemu di alun-alun. Mereka duduk di bawah pohon beringin yang rindang, dan di sanalah Manda menerima cinta Mas Bram.
---
Dua minggu kemudian…
“Assalamu’alaikum,” sapa Manda ketika memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bapak dan Ibu hampir bersamaan dari ruang tamu.
“Kok pulangnya telat, Nda? Udah mau magrib,” tanya Ibu.
“Iya, Bu. Tadi diajak Ayu ke toko aksesoris,” jawab Manda sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“Nda, Bapak dan Ibu ada kabar baik buat kamu,” ujar Ibu dengan wajah berbinar.
“Kabar apa, Bu?” tanya Manda penasaran.
“Nanti saja, bentar lagi azan magrib. Habis salat kita baru bicara,” timpal Bapak.
Ada apa sebenarnya? Ibu tampak begitu gembira, tapi raut Bapak terlihat jauh lebih serius. Manda tak tahu apakah kabar itu baik atau buruk.
---
Saat Manda sedang merapikan mukena dan sajadahnya, Ibu masuk ke kamar dengan senyum penuh arti.
“Sudah salatnya?” tanya Ibu.
Manda mengangguk. Ibu lalu menggandeng tangannya menuju ruang tengah. Bapak sudah menunggu, duduk sambil mematikan puntung rokoknya ketika mereka tiba. Ibu mendorong Manda duduk di sampingnya.
“Ada yang mau Bapak dan Ibu sampaikan,” ujar Bapak, suaranya tenang tapi tegas. “Tadi Pak Hendra dan Mas Daniel datang ke rumah.”
“Pak Hendra?” Manda mengerutkan kening.
“Itu lho, anaknya Ibu Rosa,” jelas Ibu.
“Tujuan mereka ke sini karena ingin menjalin hubungan keluarga dengan kita,” lanjut Bapak.
“Hubungan keluarga? Maksudnya?” tanya Manda yang semakin bingung.
“Mereka ingin melamarmu.”
Manda terperanjat. Ia hampir tak percaya telinganya.
“Ibu dan Bapak juga kaget, Nda,” ujar Ibu dengan nada riang. “Alhamdulillah ada keluarga kaya raya yang menginginkanmu jadi mantunya.”
“Bu, jangan berlebihan. Kasih Manda kesempatan bicara,” tegur Bapak.
“Mau bicara apalagi? Manda pasti terima,” sahut Ibu yakin. “Iya kan, Nda?” Ia menatap putrinya penuh harap.
Manda justru makin bingung. Ibu terlihat bahagia, sedangkan Bapak… sulit ditebak apa yang ia pikirkan. Lidah Manda kelu, kata-kata tak mau keluar.
“Nda, kamu mau menerima lamaran ini?” tanya Bapak pelan.
“P… Pak, Manda… t-tidak bisa.”
“Apa!?” seru Ibu. Wajahnya seketika berubah.
“Pak… Bu… maaf. Manda tidak bisa menerima lamaran itu,” ucapnya terbata-bata.
“Kenapa tidak bisa?”
“Bu, tenang dulu. Biar Manda jelasin,” ujar Bapak dengan suara lembut.
“Nda, apa kamu menolak karena ada seseorang yang kamu suka?” tanya Bapak lagi.
Manda mengangguk, menunduk.
“Siapa?” tanya Bapak.
“Mas Bram, Pak.”
“Bram? Anaknya Pak Bambang Kades?” tanya Ibu memastikan.
Manda mengangguk pelan.
“Kalian berpacaran?” tanya Ibu tajam.
Manda kembali mengangguk.
“Sejak kapan?”
“Bu, tenang,” potong Bapak.
“Ibu nggak bisa tenang, Pak! Manda baru nolak lamaran keluarga Pak Hendra gara-gara Bram,” gerutu Ibu.
“Bu… Manda dan Mas Bram baru jadian dua minggu. Kami saling suka,” jawab Manda pelan.
“Ya ampun, Nda. Baru jadian saja sudah percaya. Kamu yakin Bram bakal melamarmu?” tekan Ibu.
“Soal itu… Manda belum tahu.”
“Nah, itu dia! Hubungan yang belum jelas mau kamu pertahankan, sementara yang pasti kamu tolak?”
“Bu… Manda mohon beri kesempatan Manda dan Mas Bram menjalani hubungan ini,” pinta Manda. Matanya mulai berkaca-kaca.
Bapak menarik napas panjang. “Nda, kamu percaya sama Bram?”
“Pak…?” Ibu tampak tidak setuju.
Bapak mengangkat telunjuk, memberi isyarat agar Ibu diam.
“Bapak kasih kamu kesempatan. Tanyakan pada Bram soal masa depan hubungan kalian. Kalau dia serius, minta dia melamarmu. Bapak kasih waktu dua hari, sama seperti waktu yang diminta Pak Hendra.”
“Ta-tapi, Pak…” Manda hampir putus asa.
“Kalau Bram serius, lamaran Arman Bapak batalkan. Tapi kalau tidak ada jawaban, kamu harus menerima lamaran itu.”
Tanpa memberi ruang untuk menolak, Bapak dan Ibu bangkit dari kursi dan meninggalkannya sendirian. Tangis Manda pecah. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana.
----
“Apa!? Dua hari?” pekik Ayu.
Di warung bakso tempat mereka biasa makan, Manda menceritakan semuanya—termasuk syarat berat dari Bapaknya.
“Susah, Nda. Baru jadian dua minggu, tapi sudah disuruh melamar,” ujar Ayu.
“Kata Bapak, kalau Mas Bram mencintaiku, dia pasti mau,” balas Manda lirih.
“Kalau nggak mau?”
Pertanyaan itu langsung merontokkan keyakinan Manda. Ia mendadak tak berani menanyakannya pada Mas Bram.
“Aku dulu nyuruh kamu terima Bram. Itu sebelum Arman melamar. Sekarang situasinya beda. Kamu harus pilih: Arman atau Bram,” kata Ayu serius.
“Aku nggak kenal Arman. Nggak tahu sifatnya seperti apa. Apa aku bisa mencintainya? Tapi Mas Bram… aku sudah kenal sejak sekolah. Aku suka dia. Hanya saja… aku juga belum tahu apa hubungan ini bisa sampai menikah,” ujarnya dengan suara gundah.
“Aku nggak bilang orang tuamu salah, Nda. Mereka memikirkan masa depanmu. Kalau ada yang jelas di depan mata, kenapa mengejar yang belum pasti?”
Manda terdiam lama. Meski berat, ia mengerti maksud Ayu—dan maksud orang tuanya. Ia tak ingin mengecewakan mereka. Jadi ia harus mengambil langkah.
“Aku akan menelepon Mas Bram,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, tapi mantap. “Nggak ada pilihan lain. Aku harus tahu jawabannya. Apa pun itu—menyenangkan atau menyakitkan—aku sudah siap.”
“Wah, anak itu kebangetan!” Daniel mendengus kesal. “Arman sama sekali nggak pernah menghubungi Manda?”Tamara mengangguk pelan sambil memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sejak tadi ia pendam.Malam sudah larut. Lampu kamar mereka menyala temaram. Daniel dan Tamara duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan piyama, berbincang di ruang paling privat mereka, tempat segala keluh kesah akhirnya terucap tanpa ditahan.“Biar aku telepon dia sekarang,” ujar Daniel tegas sambil meraih ponselnya.“Eh, jangan, Sayang.” Tamara buru-buru menahan tangannya. “Kasihan Manda. Kalau kamu marahi Arman, nanti Manda malah dituduh tukang ngadu. Dia bisa makin disudutkan.”Daniel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.“Tapi ini juga nggak bisa dibiarkan,” ujarnya kemudian, suaranya lebih rendah tapi sarat emosi. “Kasihan Manda kalau terus dicuekin seperti itu. Dia istrinya, bukan orang asing.”Tamara menghela napas, mengusap pelan lengan suaminya. “Iya… aku juga kepikir
Adelia pulang dari sekolah sore itu dengan tawa yang riuh. Ia menaiki anak tangga bersama beberapa teman perempuannya. Seragam internasional mereka tampak rapi dan modis. Langkah mereka ringan, penuh semangat remaja yang percaya diri.Di saat yang sama, Amanda sedang melintas di bawah tangga, hendak menuju ruang tengah.“Hei, kamu,” panggil Adelia dari atas anak tangga, nadanya tinggi dan sombong.Amanda berhenti melangkah, lalu mendongak. Tatapannya polos, nyaris tanpa perlawanan.“Bawakan minuman dan cemilan ke kamarku,” perintah Adelia singkat, seolah itu hal yang wajar.“Iya,” jawab Amanda lembut. Tak ada protes, tak ada ekspresi tersinggung. Hanya kepatuhan yang lahir dari kebiasaan menahan diri.Adelia kembali melangkah. Salah satu temannya mendekat, berbisik pelan namun cukup terdengar.“Siapa dia?”“Asisten baru,” jawab Adelia sambil tersenyum miring, senyum yang sengaja diperlihatkan.Kata itu sampai ke telinga Amanda. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia memilih diam. Ia me
Malam itu, New York diselimuti cahaya lampu kota yang berkilau. Di sebuah ballroom hotel bintang lima di Manhattan, pesta pernikahan berlangsung megah dan elegan. Langit-langit tinggi dihiasi kristal chandelier yang memantulkan cahaya keemasan. Meja-meja bundar tertata rapi dengan taplak putih gading, rangkaian bunga segar, serta lilin-lilin kecil yang menyala lembut. Alunan musik jazz mengalir pelan, bercampur dengan tawa para tamu undangan yang berdansa dan berbincang penuh sukacita.Pengantin baru baru saja menyelesaikan dansa pertama mereka. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan, disusul iringan musik yang kembali mengalun ceria.Di salah satu meja bundar, Arman duduk bersama teman-teman kuliahnya. Cyntia seorang wanita berkulit putih dengan rambut pirang tergerai rapi, Donny seorang pria berkulit putih dengan senyum usil khasnya, dan Chris seorang pria Afrika-Amerika bertubuh tinggi dengan tawa lepas yang selalu menular. Malam itu menjadi semacam reuni kecil di tengah kesibukan
Mobil berhenti di halaman rumah Hadiwijaya menjelang sore. Amanda turun paling akhir, langkahnya tertahan sejenak sebelum menapaki lantai marmer teras depan. Andien dan Adelia sudah lebih dulu turun, wajah mereka tampak puas setelah seharian berbelanja.Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah, Andien tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Amanda, sorot matanya tajam dan dingin.“Kamu dengarkan baik-baik,” ucapnya lirih namun penuh tekanan. “Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini dengan tenang, jangan pernah mengadu pada Ibu tentang acara perkenalan yang batal.”Amanda menunduk dan mengangguk pelan. “I-iya, Ma.”Tidak ada bantahan. Tidak ada pertanyaan. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan, tidak sekarang, tidak di rumah yang bahkan belum benar-benar terasa seperti miliknya.Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menyusul dari belakang, membawa tas-tas belanjaan milik Andien dan Adelia. Suara langkah mereka bergema pelan di lantai yang mengilap.Bibi
Dua hari telah berlalu sejak kepergian Arman. Rumah Hadiwijaya kembali terasa tenang, terlalu tenang bagi Amanda. Pagi itu, mereka berkumpul di ruang keluarga. Nenek Rosa duduk di sofa utama, ditemani Amanda. Sementara Andien dan Adelia duduk di sisi lainnya.Setelah beberapa saat berbincang ringan, Nenek Rosa menoleh ke arah Andien.“Andien,” ujarnya, “kapan kita akan mengadakan pesta perkenalan untuk Amanda?”Andien tersenyum sopan, senyum yang terlatih dan tenang. “Menurutku… tidak perlu mengadakan pesta, Bu,” jawabnya hati-hati. Di dalam hatinya ia sama sekali tidak ingin memperkenalkan Amanda sebagai menantu keluarga Hadiwijaya.“Tidak perlu?” Nenek Rosa mengernyit. “Kenapa tidak? Kerabat dan teman-teman kita harus mengenal Amanda sebagai istri Arman.”Andien tampak berpikir, mencari alasan lain yang terdengar masuk akal. Namun sebelum ia sempat bicara, Adelia mendahului.“Nenek,” katanya dengan nada manis, “Nenek kan akhir-akhir ini kurang enak badan. Kalau mengadakan pesta di
Amanda membuka pintu kamar perlahan. Pandangannya menyapu ruangan, namun kamar itu kosong. Tidak ada Arman. Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti ketika telinganya menangkap suara air yang mengalir dari arah kamar mandi.Arman sedang mandi.Amanda menghela napas kecil, antara lega dan gugup. Ia menutup pintu kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di atas paha, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Ia menatap lantai sesaat, lalu ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat."Apa yang harus kukatakan nanti?Haruskah aku bertanya? Atau diam saja seperti biasa?" batinnya.Suara air itu terus mengalir, seolah memberi Amanda waktu untuk menata pikirannya. Waktu yang justru membuat dadanya semakin sesak.Tiba-tiba, ponselnya bergetar.Amanda terkejut kecil. Ia segera meraih ponsel di atas nakas. Nama Ibu tertera di layar. Dadanya menghangat seketika.“Ibu…” gumamnya lirih sebelum mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum, Nak,” suara ibunya terdengar dari seberang,







