Home / Romansa / Janji yang Tak Sempat Usai / Bab 1: Undangan Makan Malam

Share

Janji yang Tak Sempat Usai
Janji yang Tak Sempat Usai
Author: NOBEL

Bab 1: Undangan Makan Malam

Author: NOBEL
last update Last Updated: 2025-04-13 19:33:08

“Nay, hari Sabtu nanti ikut Mama ya, kita ada undangan makan malam,” ucap Ibu sambil duduk di sebelahnya dan menyodorkan buah.

Nayla mengerutkan kening. “Makan malam di mana? Kok mendadak?”

“Di rumah sahabat lama Papa. Mereka baru pulang dari luar negeri dan ingin menjalin silaturahmi lagi,” jawab Ibu santai, seperti ini hal biasa.

“Oke…” Nayla mengangguk pelan, masih fokus pada layar TV. “Terus kenapa aku juga harus ikut?”

Ibu menatap Nayla dengan senyum yang terlalu manis senyum khas kalau beliau sedang menyembunyikan sesuatu. Senyum yang Nayla kenali sejak kecil, selalu muncul saat ada “kejutan” yang tak bisa ia tolak.

“Karena mereka ingin memperkenalkan cucunya,” jawabnya sambil menyuap sepotong melon.

Nayla menoleh cepat. “Perkenalkan cucunya? Buat apa?”

“Ya… siapa tahu berjodoh,” jawab Ibu santai, seolah yang dibicarakan bukan hal besar.

Deg. Nayla langsung duduk tegak, bantal pelukannya terjatuh ke lantai.

“Ma, jangan bilang ini semacam… perjodohan?” tanyanya pelan, nyaris tidak percaya dengan kata-katanya sendiri.

Ibunya hanya tersenyum, tidak menjawab. Tapi senyum itu sudah cukup jadi jawaban.

“Serius, Ma?” Nayla memutar tubuhnya, menatap ibunya lekat-lekat. “Ini tuh zaman modern. Siapa juga yang masih dijodohin segala…”

“Mereka keluarga baik, Nay. Kamu tahu sendiri Papa dulu punya sahabat dekat. Nah, cucunya sekarang kembali ke Indonesia dan mereka ingin mengenal kamu.”

“Aku bahkan nggak kenal orangnya…”

“Nanti juga kenal. Lagipula, tidak ada paksaan. Kita cuma makan malam kok. Anggap aja pertemuan keluarga biasa.”

Nayla memeluk bantal dan mengeluh. “Tapi kan canggung banget, Ma…”

“Canggung itu biasa. Daripada kamu nggak kenal-kenal siapa jodohmu nanti,” jawab Ibu sambil tertawa kecil.

“Lagian, aku juga nggak kepikiran nikah dalam waktu dekat,” gumam Nayla pelan.

Ibunya menepuk paha Nayla lembut. “Nggak harus langsung nikah juga, sayang. Tapi siapa tahu kamu suka. Kadang cinta datang dari hal-hal nggak terduga, lho.”

Nayla hanya mendengus kecil. “Aku lebih percaya cinta dari diskon bulanan online shop…”

“Terserah kamu deh. Yang penting kamu ikut. Mau nggak mau,” ujar Ibu sambil berdiri, membawa mangkuk buah yang hampir kosong kembali ke dapur.

Nayla menghela napas panjang. Dalam hati, ia bertanya-tanya kenapa hidupnya mendadak seperti cerita drama keluarga? Apa jangan-jangan Ibu sering nonton sinetron dan mulai terinspirasi?

Malam itu, setelah makan malam, Nayla duduk sendirian di kamar. Lampu kamar sengaja ia redupkan. Jendela terbuka, membiarkan angin malam masuk pelan. Dari kejauhan, suara kendaraan samar terdengar, bercampur suara jangkrik yang jarang ia perhatikan.

Ia menatap ponselnya. Tak ada notifikasi menarik, hanya grup kantor yang membicarakan project akhir bulan. Tapi pikirannya tidak di sana. Ia malah memikirkan makan malam hari Sabtu nanti.

Bayangan tentang “cucu sahabat Papa” membuatnya gelisah. Apalagi jika orang itu benar-benar akan menjadi pasangan yang dijodohkan dengannya.

“Aku bahkan nggak tahu namanya,” gumam Nayla sambil memeluk bantal.

Matanya menatap ke arah langit yang terlihat dari celah jendela. Malam itu langit terlihat jernih. Angin menyusup masuk, membawa hawa dingin yang anehnya membuat hatinya berdebar.

Ia tak tahu siapa yang akan ia temui. Tapi satu hal yang pasti, malam Sabtu nanti bukan sekadar makan malam biasa.

Entah kenapa, hatinya terasa tak tenang.

Entah karena cemas... atau karena perasaan asing yang samar:

Seolah ia akan bertemu dengan seseorang yang pernah mengisi lembar masa kecilnya. Seseorang… yang dulu hampir ia lupakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 12: Rasa yang Mulai Terasa

    Udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya Nayla saja yang merasakannya. Ia duduk di balik meja kerjanya, jari-jarinya gemetar saat mencoba menyalakan komputer. Meski wajahnya dipulas dengan riasan tipis, matanya tetap tak bisa menyembunyikan kelelahan semalaman. Pikirannya masih terjebak di malam itu tatapan mata Keane yang terlalu lekat, kalimat-kalimatnya yang menggantung, dan bagaimana jantungnya berdetak terlalu kencang.“Pagi, Nayla!”Suaranya terlalu ceria untuk jam kerja pertama. Rena, rekan satu tim sekaligus sahabatnya di kantor, menjulurkan wajahnya dari balik partisi, menatap Nayla dengan senyum penuh selidik. “Kamu kenapa? Muka kamu kayak abis lari marathon tengah malam.”Nayla tersenyum kaku. “Kurang tidur aja.”Rena tidak langsung percaya. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong sebelah Nayla, sambil memandangi layar komputer yang belum menyala. “Jangan bilang kamu kepikiran… calon suami kamu itu?”Nayla menoleh cepat. “Hah?”Rena mengan

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 11: Rasa yang Kembali Menyiksa

    Malam itu, Nayla duduk termenung di kamar apartemennya. Lampu kuning redup menyinari tumpukan dokumen di meja, tapi pikirannya jauh dari urusan kantor. Perkataan Keane di restoran sore tadi terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang masa lalu. Tentang orangtua mereka. Tentang sesuatu yang belum pernah ia ketahui bahwa keluarganya punya sejarah yang menyakitkan dengan keluarga pria itu. Nayla menggenggam cangkir teh hangat yang mulai dingin. Sejak kapan hidupnya yang biasa saja ini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia dan luka yang tak disangka? Rasanya, langkahnya semakin berat setiap hari. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Keane: "Aku tahu kamu belum bisa tidur. Kalau kamu butuh bicara, aku di bawah." Nayla terkesiap. Ia berjalan pelan ke jendela, dan benar saja mobil Keane terparkir di sisi jalan apartemennya. Lampu dalam kabin menyala, siluet pria itu terlihat duduk dengan bahu menunduk, menunggu. Ia bimbang. Haruskah ia turun? Bertemu lagi setelah semua percakapan emo

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 10: Ucapan yang Tak Tersampaikan

    Pagi di kantor kembali berjalan seperti biasa. Hening, sibuk, dan penuh dengan dokumen yang menumpuk di meja Nayla. Tapi, yang tidak biasa adalah detak jantungnya yang berdegup lebih cepat setiap kali ponselnya berbunyi dan ya, itu selalu dari satu nama Keane Alvaro. "Selamat pagi. Sudah sarapan belum?" pesan dari Keane muncul di layar. Nayla menghela napas, tersenyum tanpa sadar, lalu mengetik, “Sudah. Roti tawar dan kopi. Standar pegawai tangguh.” Balasan dari Keane langsung muncul, “Kopi? Harusnya teh manis, biar senyum kamu makin manis juga.” Nayla menahan tawa kecil. Siapa sangka, pria yang dulu menghilang tanpa jejak itu sekarang bisa menggoda semanis ini? Tapi dalam lubuk hatinya, Nayla tahu… belum semuanya baik-baik saja. Hatinya belum benar-benar pulih, dan Keane pun belum benar-benar membuka luka yang ia simpan sendiri. Di tengah kekalutan pikirannya, pintu ruangan terbuka. Ibu Ratri, asisten senior direktur, masuk sambil membawa map tebal. “Nayla, kamu ditugaskan mend

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 9: Rahasia yang Terlalu Lama Tertahan

    Sore itu, langit Jakarta mulai berwarna oranye keemasan. Suara deru kendaraan berlalu-lalang dari kejauhan, namun terasa seperti gema samar di telinga Nayla. Di dalam mobil yang melaju pelan, suasana justru terasa hening. Keane duduk di kursi kemudi, sekali-sekali melirik Nayla yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak mencoba mengisi keheningan itu, seolah keduanya tahu masing-masing sedang bergulat dengan rasa yang sulit diberi nama. “Maaf,” Keane akhirnya membuka suara. “Aku nggak bermaksud bikin semuanya jadi serumit ini.” Nayla menghela napas. “Kamu tahu... aku nggak butuh penjelasan panjang lebar. Aku cuma butuh kejujuran, Keane.” Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan kecil. Tempatnya sederhana tapi punya suasana hangat. Keane memarkir mobil dan menoleh. “Kalau kamu siap, aku bakal cerita semuanya. Tentang kenapa aku pergi waktu itu... dan kenapa aku balik sekarang.” Mereka turun dari mobil, duduk di sudut yang agak sepi. Pelayan datang, mencatat pesana

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 8: Pertemuan Ulang

    Kafe di sudut kota itu tampak hangat sore itu. Lampu-lampu gantung dengan cahaya kekuningan menciptakan suasana nyaman, berbeda jauh dengan degup jantung Nayla yang tak kunjung tenang. Ia duduk di sudut dekat jendela, menggenggam gelas kopinya yang sudah dingin sejak lima belas menit lalu. Ia menoleh saat bel pintu berbunyi. Keane masuk, mengenakan jaket gelap dan syal tipis yang membuat penampilannya terlihat santai, tapi tetap elegan. Matanya langsung menemukan Nayla, dan senyum tipis muncul di wajahnya. “Maaf aku telat. Lalu lintas,” ucap Keane sembari menarik kursi di depannya. Nayla hanya mengangguk pelan. “Aku hampir pulang.” “Aku bersyukur kamu belum pulang,” sahutnya ringan, mencoba mencairkan suasana. Beberapa detik hening. “Jadi?” tanya Nayla, menatap langsung ke matanya. “Apa yang mau kamu ceritakan?” Keane menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, lalu kembali pada Nayla. “Dulu, waktu kita masih remaja, aku... bukan hanya menghilang tanpa kabar. Aku

  • Janji yang Tak Sempat Usai   Bab 7: Rencana yang Tak Terucap

    Dua hari berlalu sejak percakapan canggung antara Nayla dan Keane di ruang rapat. Sejak saat itu, Keane tak lagi muncul di lantai tempat Nayla bekerja. Entah sibuk dengan jadwal direksi, atau memang sengaja menjaga jarak. Tapi Nayla bersyukur. Ia butuh waktu untuk bernapas, mencerna semua perasaannya yang berantakan. Namun, di balik kesunyian itu, Keane justru semakin sering muncul di media sosial perusahaan. Wajahnya terpampang di unggahan foto meeting, kunjungan lapangan, dan pernyataan resmi sebagai calon penerus bisnis keluarga. Nayla menontonnya diam-diam, antara kagum dan... waspada. “Lo masih mikirin Keane, ya?” Santi bertanya sambil menyeruput es kopi di meja pantry. Nayla hanya mengangkat bahu. “Sulit buat nggak mikirin.” Santi tersenyum simpul. “Gue ngerti. Tapi Nay, gue punya feeling... cowok itu balik bukan cuma buat jadi penerus perusahaan.” “Apa maksud lo?” “Lo inget dulu pas SMA? Keane tiba-tiba menghilang. Lo nangis seminggu penuh waktu itu.” Nayla menegang. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status